
Belum sempat Hanif beranjak dari kursi kerjanya, Joko sudah duduk menghempaskan tubuh di hadapannya dengan wajah penasaran.
“Siapa laki-laki yang barusan keluar menggendong si imut?” Joko langsung memberondong Hanif dengan pertanyaan yang sudah menggantung di kepalanya sejak pagi.
“Suaminya mbak Hani.” Jawab Hanif lugas.
“Sudah ku duga.” Joko menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, “Patah hati lagi Ucok mamak.”
Hanif tersenyum mendengar ucapan Joko. “Ku kira kamu hanya bercanda saat ingin mendekati mbak Hani…”
“Tentu saja aku serius.” Joko menampakkan raut sedih, “Ku pikir Hani berpisah dengan suaminya.”
“Nggaklah, biasalah dalam rumah tangga ada riak-riak, yang bikin ikatan makin kuat.” Hanif memandang Joko dengan serius. “Bagaimana kasus jaksa yang digugat cerai istrinya? Tetap pake jasa kita kan?”
Joko mengangguk, “Kasian juga ya, udah menikah punya anak. Tapi masih juga berselingkuh. Apa lagi sih yang dicari?”
“Namanya ujian berumah tangga itu banyak. Makanya kalo lo nikah, jangan pernah untuk selingkuh, kasian anak-anak. Merekalah yang jadi korban.”
“Kaya lo pernah ngalamin?” Joko memperoloknya.
Hanif tersenyum masam. “Berat juga kasus klien kita, pihak istri minta hak asuh putri tunggal mereka.” Ia mengalihkan topik pembicaraan, karena tidak ingin Joko bertanya lebih dalam kehidupan keluarga mereka.
“Sebenarnya kans pak Irwan untuk memenangkan hak asuh sangat besar, karena istrinya meninggalkan rumah dan pergi dengan selingkuhannya.” Tutur Joko serius.
“Dari mana kau dapat info itu?”
“Meli adikku yang bekerja sebagai perawat di RS tempat istrinya bekerja menceritakan hal ini padaku.”
“Jadi lelaki selingkuhan istrinya juga berprofesi sebagai dokter?” Hanif semakin penasaran dengan kehidupan pribadi kliennya.
“Betul. Tetapi menurut Meli, pak Irwan juga sudah lama menjalin hubungan akrab dengan perempuan di kantornya. Walau belum pernah tertangkap basah sih. Yang jelas istrinya sering melihat nota belanja barang branded di saku baju dinas pak Irwan.”
__ADS_1
“Astaga, kenapa kehidupan orang kaya selalu seperti itu. Nggak bisa jauh dari perselingkuhan, pelakor dan pebinor…” Hanif mengusap wajahnya prihatin.
“Apa hal itu juga yang membuat Hani dan suaminya berpisah?” Rasa penasaran tentang kehidupan Hani membuat Joko menanyakan hal itu pada Hanif.
Dengan cepat Hanif menggelengkan kepala, “Antara mbak Hani dan suaminya hanya kesalahpahaman. Tidak ada orang ketiga. Mereka berdua saling mencintai.”
Akhirnya kedua lelaki muda itu melanjutkan perbincangan mereka membahasa kasus yang dihadapi klien tentang perebutan hak asuh anak.
Hani memasuki rumah tepat jam 3 sore. Ia melihat suasana rumah yang tampak adem dan tenang. Biasanya di jam segini, si Kembar asyik bermain bola di lantai dua. Kalau Hasya udah pasti masih terlena bobok siang. Dengan pelan ia melangkah menuju lantai dua.
Hani mengerutkan keningnya saat melihat Hasya dan Ali asyik memilih mainan di dalam sebuah kardus besar yang belum pernah dilihatnya, sedangkan Ariq tak peduli. Si sulung menonton film kartun kesayangannya, tetapi berkali-kali matanya menatap mainan yang sangat menggodanya.
“Eh, anak bunda lagi apa?” Hani menghenyakkan tubuhnya di samping Ariq. Ia membelai rambut si sulung sambil mencium aroma wangi sampo.
“Bunda, tadi kita pulang sekolahnya di jemput papa.” Ali langsung duduk di samping Hani sambil membawa mainan mobil robotnya.
Jantung Hani terasa berhenti berdetak. Ia menatap Ariq dan Ali bergantian berharap yang ia dengar tadi tidak benar.
Hani terhenyak. Detak jantungnya berlari dengan cepat. Ia menatap Ariq yang mengacuhkan Ali yang ingin mengulurkan mainan helikopter.
“Tadi papa bawa kita jalan-jalan dan beli mainan. Tapi mas Ariq nggak mau ikut pilih mainan.”
Perasaan Hani berkecamuk. Ia tak menyangka secepat ini Faiq menemukan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menyiapkan segala alasan jika Faiq menginginkan jawaban atas kepergian mereka.
Saat makan malam, Hanif dan Wulan berkumpul di rumah Hani. Ketiganya membicarakan kedatangan Faiq. Si kembar dan Hasya sudah dibawa Lina dan Mbah Darmi ke kamar atas.
“Apa mas Faiq sudah menemui mbak Hani?” Hanif langsung memberondongnya setelah mereka menyelesaikan makan malam.
Hani menggelengkan kepala. Lebih baik ia diam. Dengan demikian Hanif tidak akan berani mengusiknya. Ia hanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Hanif paham dengan kebisuan saudara kembarnya.
“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan anak-anak. Apalagi Ali dan Sasya sangat bahagia saat bertemu dengan mas Faiq.” Hanif mengode Wulan untuk segera kembali ke rumah mereka begitu selesai makan malam bersama.
__ADS_1
Semalam-malaman Hani tidak bisa memejamkan mata. Ia juga merasakan kerinduan terhadap Faiq. Apalagi ia sedang mengandung benihnya, tapi ia harus menjaga perasaan anak-anaknya khususnya Ariq. Ia tau, Ariq memiliki karakter yang sama dengannya. Tidak mudah melupakan perbuatan orang yang pernah menyakiti hatinya. Hani membelai rambut Hasya yang sudah tertidur lelap di sampingnya.
Sementara itu di kamar hotel tempatnya menginap Faiq juga merasakan yang sama seperti dialami Hani. Ia sudah tidak mampu menahan perasaannya. Ia menghubungi Hanif untuk segera menjemputnya. Faiq tak ingin berlama-lama jauh dari keluarganya, bagaimanapun perlakuan Hani terhadapnya akan ia terima, karena konsekuensi atas perlakuannya selama ini.
Tepat jam dua malam Faiq tiba di rumah Hani. Hanif dan Wulan membawa Faiq memasuki rumah yang penghuninya sudah tertidur lelap. Hanif mengantarkan Faiq ke kamar si kembar sambil memberitahu Lia dan Mbah Darmi yang kebetulan terbangun karena mendengar suara mengobrol.
Faiq mulai membaringkan tubuhnya di kasur lipat yang dibawakan Hanif dari rumah sebelah. Ia yang sudah terbiasa tidur di tempat tidur nyaman dan mewah, tidak terlalu memikirkannya. Walaupun belum sempurna, tapi perasaan bahagia mulai menghampiri dirinya. Faiq bahagia berkumpul di tengah keluarga kecilnya.
Karena merasa haus Faiq turun ke lantai bawah untuk minum. Ruangan yang tidak terlalu besar memudahkan Faiq untuk mencari dapur. Dengan pelan ia mencurahkan air putih ke dalam gelas. Ia menghenyakkan tubuh di kursi makan. Pandangan Faiq menatap dapur yang tidak terlalu luas. Ia merasa sedih melihat rumah yang ditinggali istri dan anak-anaknya sangat sederhana bagi Faiq yang seorang pengusaha dan tinggal di rumah megah dan mewah.
Kakinya melangkah menuju kamar yang letaknya bersebelahan dengan dapur, yang ia yakini kamar tidur Hani. Faiq mencoba membuka handle pintu. Ternyata pintu tidak dikunci Hani dari dalam. Faiq kesenangan karena keinginannya untuk melihat istrinya kesampaian.
Dengan pelan Faiq melangkah memasuki kamar yang tidak seberapa luas. Tatapannya langsung tertuju pada Hani yang berbaring miring membelakanginya menghadap Hasya yang tidur telentang dengan gaya imutnya. Faiq melihat istrinya yang tidur di atas springbed standar tanpa kaki. Perasaan sedih kembali menghinggapi Faiq. Ia berjongkok di samping Hani. Tangannya membelai rambut istrinya dengan berbagai perasaan campur aduk jadi satu.
Wajah ayu Hani begitu menyejukkan pemandangan, tangannya terulur membelai perut Hani yang kini tampak menonjol. Ia memperkirakan kehamilan Hani memasuki bulan keempat. Keinginan memeluk istrinya begitu besar, tapi Faiq khawatir Hani terbangun. Setelah memberikan kecupan lembut di kening istrinya, Faiq bergegas keluar dari kamar, dan kembali ke atas menuju kamar si kembar.
Pagi itu keributan terjadi di kamar si kembar, ketika keduanya terbangun melihat Faiq yang tertidur di kasur kecil samping tempat tidur mereka. Faiq baru dapat memejamkan mata setelah menunaikan salat Subuh. Dalam doa ia meminta agar keluarganya selalu utuh dan dalam perlindungan Yang Kuasa, dan tak lupa ia memohon agar janin yang dikandung Hani selalu dalam keadaan sehat dan sempurna tanpa kekurangan sesuatu apapun.
“Papa tidur di sini. Kapan papa datang?” Ali merasa senang melihat Faiq berada bersama mereka.
Faiq terbangun dari tidurnya mendengar suara Ali yang duduk di sampingnya. Ia melihat keduanya sudah menggunakan pakaian seragam sekolah.
“Maafkan papa, tidak membangunkan kalian. Tadi malam papa kemari diantar paman Hanif.” Sambil menutup mulut karena menguap, Faiq akhirnya bangkit dari pembaringan. Ia memandang wajah Ariq yang tetap dingin tak bersahabat.
Ali menggandeng tangan Faiq saat menuju ruang makan. Tatapan Faiq terpaku melihat Hani dengan baju katun selutut tanpa lengan, rambutnya hanya dicepol ke atas sehingga lehernya yang putih dan jenjang membuat Faiq menelan ludah.
“Tuan sudah bangun?” pertanyaan Lina membuat Hani yang sedang membuat telur dadar sontak membalikkan badannya.
Tatapan keduanya bersirobak. Faiq tak melepaskan tatapan dari pemandangan indah yang sangat ia rindukan selama ini. Sementara Hani merasa gelagapan. Lia dan Mbah Darmi sengaja membiarkan keluarga kecil itu menikmati sarapan pagi bersama.
__ADS_1