
Siang itu di sebuah hotel bintang lima, Hani Mawar serta beberapa karyawannya sedang mempersiapkan dekorasi untuk persiapan pernikahan Ammar dan Cici yang rencananya akan di gelar esok hari.
Akhirnya setelah 3 tahun bertunangan, keduanya siap untuk melangsungkan pernikahan besok pagi. Dan dengan senang hati Hani siap turun tangan dengan beberapa karyawannya untuk membuat dekorasi yang sesuai keinginan kedua belah pihak.
Saat mengatur penataan bunga, tanpa sengaja Hani bersenggolan dengan seorang perempuan yang berpenampilan seperti sosialita.
“Maaf, bu…” Hani cepat-cepat memohon maaf.
Perempuan itu memandangnya dan langsung tersenyum sinis, “Kurang ajar, kamu harusnya tau diri. Perempuan miskin sepertimu tidak pantas berada di tempat seperti ini.”
Hani terkejut saat mendengar makian kasar perempuan yang tak lain adalah Helen istri mantan suaminya.
“Sudahlah Helen. Kenapa kamu harus buang energi untuk hal sepele?” cetus Sisi teman sosialitanya. Rupanya mereka sedang mengadakan arisan bersama geng sosialita mereka yang berjumlah delapan orang.
Helen menatapnya dengan pandangan meremehkan, “Syukurlah mas Adi telah menceraikanmu. Karena kamu memang tak sepadan dengannya.”
Hani hanya terdiam mendengar hinaan Helen. Untuk apa ia melawannya, toh sama saja ia tak waras. Hani tersenyum tipis mendengar ucapan Helen. Ia tak ada hubungan apapun dengan mereka. Hani tak menghiraukan Helen dan temannya, ia kembali melanjutkan kerjanya. Melihat Hani yang acuh membuat Helen semakin dongkol.
“Nasibmu berubah karena mendapat harta dari orangtua mas Adi. Kalau tidak kamu hanya seorang janda miskin.” Mulut Helen semakin menjadi, karena ia tidak suka melihat perubahan yang terjadi pada Hani yang tentu saja lebih segar karena usia Hani lebih muda darinya.
Hani mencengkeram jemarinya, berusaha menahan kemarahan yang sudah sampai ke ubun-ubun. Ia mengucap istighfar dalam hati agar tidak terpengaruh omongan Helen. Giginya menggerutuk menahan emosi.
“Hei, kalau orang ngomong didengar. Apa situ nggak ada telinga?” Helen menarik jilbab Hani dengan kuat membuatnya meringis kesakitan. Perasaan Helen semakin kesal melihat Hani yang berusaha mempertahankan jilbabnya agar tidak lepas.
Kebetulan saat ini Faiq mengunjungi hotel karena Darmawan ingin memperkenalkannya pada jajaran Direksi perusahaan. Mereka sudah selesai mengadakan pertemuan. Saat keluar dari lift dan menuju ballroom, ia terkejut ketika mendengar ada keributan kecil. Tanpa menghiraukan keheranan papanya, Faiq melangkah mendekati kerumunan beberapa orang yang masih berdiri di sana. Ia melihat perbuatan kasar Helen terhadap Hani, dan melihat bagaimana Hani berusaha menahan jilbabnya agar tidak terlepas dari kepala.
“Apa yang anda lakukan, nyonya?” Faiq membentak Helen, membuatnya melepaskan jilbab Hani yang ia cengkeram dengan kuat.
Helen terkejut melihat lelaki muda yang membentaknya, nyalinya menjadi ciut, karena merasa bersalah. Tapi ia pura-pura acuh, “Perempuan ini tidak sopan.” Ia berdalih.
“Maafkan kami tuan Faiq. Mbak ini tidak bersalah. Tapi nyonya itulah yang menabraknya.” Seorang pegawai hotel yang melihat kejadian sebenarnya mengadukan kepada bossnya.
Helen menjadi malu sendiri. Tapi ia belum berputus asa. Percaya dirinya muncul kembali saat melihat Aditama yang kebetulan sedang berjalan bersama Darmawan, karena akan melakukan kerjasama untuk pembangunan mall mewah di Bandung.
“Sayang…” ia melambaikan tangan ke arah Adi yang langsung berjalan menghampirinya. Perasaan Helen membuncah bahagia. “Aku dan teman-teman ada arisan di restoran sini.” Helen menunjukkan beberapa geng sosialitanya yang masih setia menemaninya.
__ADS_1
Adi tak menyangka melihat istrinya Helen berada di hotel yang sama dengannya. Karena ia melarang Helen untuk keluar rumah untuk pemulihan rahimnya. Ia berharap program yang sedang dijalankan Helen akan segera memberikan hasil terbaik bagi rumah tangga ideal mereka. Apalagi Linda yang benar-benar mengharapkan cucu secepatnya dari Helen.
Faiq menghampiri Hani, “Kamu tidak apa-apa?” ia bertanya penuh perhatian. Karena perbuatan Helen, jilbab Hani menjadi kusut dan tidak rapi.
Hani menganggukkan kepala lirih, “Terima kasih atas bantuan anda, Tuan Faiq.” Ia tersenyum tipis yang dibalas Faiq anggukan.
Adi terkejut melihat Hani yang berdiri bersama dengan rekan kerjanya. Perpisahan mereka selama 2 tahun lebih telah membawa perubahan banyak pada perempuan yang pernah menjadi istrinya itu. Terus terang ia merindukan mata bening dan sayu, yang mulai mengisi hatinya, walau ia berusaha mengingkarinya, tapi perasaan itu begitu kuat. Penampilannya semakin anggun dan dewasa.
“Mas, perempuan itu yang telah berbuat kasar padaku.” Helen langsung mengadu pada Adi, terus terang ia merasa sudah dipermalukan pelayan hotel. Apalagi beberapa orang yang berada di lokasi itu mengetahui dengan pasti kejadian sebenarnya. Tapi ia berusaha untuk menjaga nama baiknya di depan semua yang ada di sana.
Hani membuang muka saat tatapannya bertemu dengan Adi. Ia telah melupakan kesakitan dan kepahitan yang telah ditorehkan lelaki itu. Karena itu ia menganggap Adi hanyalah orang asing yang tidak pernah ia kenal. Tapi pertemuan kali ini membuat Hani menjadi jengkel. Sikap Helen tidak berubah, selalu berusaha menjelek-jelekkan dan menjatuhkannya di depan Adi.
“Apa yang terjadi?” Adi berusaha berpikir jernih untuk tidak sembarangan menuduh orang. Tatapannya tidak bergeser sedikitpun dari Hani. Ini pertemuan pertama kali mereka sejak kepergian Hani dari rumah.
“Bukankah aku sudah berkata sebenarnya, mas.” Helen tidak senang mendengar pertanyaan Adi yang seolah-olah tidak percaya padanya. Ia kesal karena tatapan Adi masih terarah pada Hani yang tidak mempedulikan keberadaan mereka.
Mawar yang tidak tau siapa yang berada di depannya langsung berkata, “Maafkan kami, tuan. Boss kami tidak melakukan apapun. Istri andalah yang menabraknya. Kami sedang melakukan pekerjaan kami, hingga istri anda datang dan langsung memaki boss kami.” Mawar berkata dengan berapi-api. Ia sendiri merasa kesal mendengar perkataan Helen yang telah meremehkan Hani.
“Sudahlah, mbak. Biarkan saja.” Hani menahan Mawar yang masih emosi. Ia mengelus pundak Mawar berusaha menenangkannya.
Manajer Hotel menghampiri mereka, “Maafkan saya tuan Faiq, tuan Aditama. Beliau ini pimpinan WO A2H yang sedang menjalankan tugas mereka. Ruangan ini lusa akan digunakan untuk pernikahan salah satu klien kita. Jadi mohon, untuk membiarkan mereka melanjutkan tugasnya.”
Adi dan Helen tekejut sesaat. Faiq tersenyum puas, karena tanpa membela diri, Hani telah berhasil mempermalukan mereka yang telah memandang rendah padanya.
“Maafkan saya, karena telah membuang waktu anda. Terimakasih tuan Faiq atas bantuannya.” Hani segera undur diri dari pandangan mereka, dan melanjutkan kerjanya. Dengan santai ia berjalan sambil memberi perintah pada Mawar untuk melengkapi dan menambah bunga yang masih kurang pada beberapa titik.
Adi tertegun, sedikitpun Hani tidak memandang padanya, seolah-olah mereka tidak kenal. “Apakah dia sudah menikah dengan selingkuhannya? Penampilannya jauh berbeda.” batin Adi. Matanya terus mengikuti langkah kaki Hani yang menjauh meninggalkan mereka. Debaran halus terasa di dadanya. Sang mantan kini mengganggu pikirannya.
Ia menghela nafas. Dua tahun perpisahan mereka telah banyak merubah perempuan muda itu. Selama ini Adi melihatnya sebagai ibu rumah tangga biasa, yang selalu kerepotan mengurus bocah kembarnya, sehingga tidak pernah mengurus penampilan. Pekerjaannya hanya berkutat di dapur dan mengasuh bayi kembar mereka, sedangkan Adi sedikitpun tidak pernah memperhatikan penampilan istrinya. Apakah ia sudah makan atau belum, apalagi mengajaknya shopping seperti yang selalu ia lakukan bersama Helen.
Dengan gontai Adi berjalan diikuti Helen, saat melewati Hani dan timnya ia berhenti sejenak. Baru kali ini ia melihat sosok Hani sebagai seorang yang berbeda. Penampilannya begitu dewasa dan berkelas.
Faiq mengikuti arah pandangan kliennya. Ia menyadari tatapan Adi yang mengarah pada Hani yang tidak menyadari kehadiran mereka, “Apa tuan Aditama masih ada keperluan lain?”
Aditama terkejut menyadari bahwa Faiq masih mendampinginya, “Oh, tuan Al Fareza. Saya akan segera meninggalkan tempat ini. Terima kasih atas kerja samanya.”
__ADS_1
Faiq hanya mengganggukkan kepala membalas jabat tangan Adi. Setelah melepas kepergian keduanya, ia menghampiri Hani yang masih mendampingi pegawainya sambil mengecek kekurangan dalam penataan mereka.
“Maafkan atas ketidaknyamanan yang terjadi di sini.” Faiq berkata dengan lembut, membuat Hani yang masih menyusun bunga plastik di dekat tempat pelaminan menghentikan kegiatannya.
Ia menyunggingkan senyum tipisnya, “Tidak apa-apa, tuan. Terima kasih atas perhatian anda.” Hani kembali menyibukkan diri. Ia berharap lelaki muda itu segera berlalu dari hadapannya, karena kehadirannya cukup mengganggu Hani, membuat konsentrasinya dalam bekerja menjadi buyar.
“Tidak usah terlalu kaku. Aku bukan bossmu…”
Hani menundukkan wajahnya. Ia merasa tidak nyaman hanya berdua dengan laki-laki yang tidak ada hubungan apapun dengannya. Ia berusaha menyibukkan diri, tetapi Faiq tetap mengikuti kemana pun langkahnya.
“Bagaimana kabar si mungil? Aku sangat merindukannya…” Faiq berkata terus terang, ia tidak ingin berlama-lama menahan perasaannya.
Hani menatap Faiq sesaat, “Saya mohon, anda tidak usah terlalu berlebihan. Saya khawatir Sasya akan terikat terlalu jauh dengan anda.”
“Itulah yang ku harapkan.” Faiq terus mengikuti langkah Hani yang kini naik ke pelaminan sambil menceklist semua point yang sudah rampung dikerjakan.
Hani menghentikan langkahnya dan menghadapkan posisinya pada Faiq, “Tuan Al Fareza, saya serius. Ini tidak baik buat anda. Saya harap, anda tidak perlu lagi berkunjung dan mengirimkan mainan untuk anak-anak.”
Faiq tersenyum hingga lesung pipi muncul di wajah tampannya, “Memangnya kenapa, apa kamu terganggu dengan pemberianku? Anak-anak bahkan sangat menyukainya.”
Hani menghela nafas kesal. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Laki-laki di depannya sangat keras kepala. Selama ini Faiq selalu datang ke rumahnya untuk mengunjungi anak-anak tanpa sepengetahuan Hani. Ia ingin protes dan melarangnya, tapi Hani tidak mempunyai nomor ponselnya. Dan kebetulan hari ini situasi telah mempertemukan mereka membuat Hani akan menyampaikan keberatannya secara langsung.
“Tuan Faiq Al Fareza yang terhormat, apa anda bisa menolong saya?” Hani memandang wajah Faiq dengan tajam, sorot mata beningnya tampak serius. Ia tidak ingin laki-laki itu membuang waktunya, karena ia tidak ingin terlibat dalam hubungan yang mengikat. Hani tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Faiq membalas tatapan Hani, dengan santai ia menghenyakkan tubuhnya di kursi pelaminan. “Aku siap membantumu dengan menjadikanmu mempelaiku, dan melindungi anak-anak kita.” Ujar Faiq serius.
Hani terhenyak, “Saya tidak bercanda. Mohon jauhi kami, saya tidak ingin anak-anak terlibat terlalu jauh dengan anda. Dan itu akan menyakiti mereka jika suatu saat anda menemukan pasangan yang sesuai, dan memiliki keluarga sendiri.”
“Itu tidak akan terjadi.” Faiq tersenyum misterius, “Aku telah menemukan pasangan dan telah memiliki keluarga sendiri, yaitu kamu dan anak-anak. Secepatnya aku akan datang ke rumahmu bersama kedua orangtuaku.”
Hani menelan ludah dengan getir. Inilah yang ia takutkan. Ia belum siap untuk kembali berkomitmen dalam sebuah rumah tangga. Ia telah merasa nyaman dengan kondisinya sekarang ini. Ia berlalu meninggalkan Faiq yang masih duduk dengan santai di kursi pelaminan.
“Tunggulah aku bidadariku…” Faiq membatin dalam hati begitu Hani meninggalkannya sendirian, sementara ia masih duduk di kursi pelaminan. “Ya, Allah kabulkan doa hamba-Mu agar segera membawa perempuan itu dalam ikatan suci pernikahan. Amiin ya Rabbal ‘alamiin…”
__ADS_1