
Dada Khaira terasa sesak saat tante Laras menggenggam jemarinya di hadapan Ivan yang menatapnya dengan lekat. Ia tak mampu mengangkat wajah menyadari kedekatan yang terjadi antara dirinya dan Ivan.
Ketika pemasangan cincin pengikat antara ia dan Ivan baru Khaira tersadar bahwa tidak ada Abbas diantara mereka. Senyum dan tatapan teduh Ivan yang berdiri tepat di sampingnya tidak membuat Khaira merasa tenang.
Laras bingung melihat kedua jari manis Khaira masih ada cincinnya. Di jari manis sebelah kiri masih ada cincin belah rotan saat ia bertunangan dengan Abbas. Di jari sebelah kanan cincin berlian pernikahan singkat yang terjadi antara ia dan Abbas masih melingkar dengan kuat.
“Tidak apa-apa ma, pasang saja di jari manis sebelah kiri,” bisik Ivan pada mamanya.
Tanpa sengaja Khaira memandang Ivan yang kini kembali menatapnya dengan lekat sambil menyunggingkan senyum.
Laras segera memasang cincin berlian di jari manis sebelah kiri Khaira. Ia kini merasa lega mengetahui bahwa gadis yang ia idamkan akan segera menjadi menantunya. Setelah pemasangan cincin selesai ia langsung memeluk Khaira dan mencium keningnya dengan lembut.
Tak terasa air mata Khaira menetes. Ingin rasanya ia berteriak memanggil nama Abbas dan berharap apa yang ia alami sekarang hanya mimpi.
Ivan dapat melihat butiran mutiara yang mulai menetes mengalir di pipi mulus yang berdiri di sampingnya. Rasanya ia ingin menghapus semua kedukaan yang tergambar di mata bening itu. Memeluk tubuh itu dengan erat dan memberikan kehangatan seperti yang sekarang ia rasakan. Ia berharap setelah malam ini tidak ada lagi air mata yang tampak di wajah ayu bermata bening itu, ia akan memberikan dunianya demi kebahagiaan Khaira dan calon anaknya kelak.
“Tenanglah semua akan baik-baik,” Ivan berbisik di telinganya sambil mengulurkan sapu tangan.
Khaira terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Dengan spontan Ivan langsung menghapus air mata nya yang masih menetes di pipi tirus itu. Khaira terkejut, tidak menyangka Ivan akan melakukannya. Ia menahan jari telunjuk Ivan yang kini mengusap sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
“Maaf …. “ Khaira langsung melepas pegangan tangannya di jemari Ivan yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Ivan merasakan kebahagiaan luar biasa saat Khaira memegang tangannya, walau pun itu terjadi hanya dalam sepersekian detik. Ia berharap hubungan mereka akan semakin baik ke depannya.
“Foto dulu dong,” Junior meminta keduanya berdiri berdampingan.
Dengan perasaan tidak nyaman, Khaira mengikuti keinginan Junior yang sejak tadi sudah mengkoordinir bagian dokumentasi.
Khaira terkejut saat sebuah tangan merangkul pinggangnya. Ia bengong, pikirannya benar-benar kacau. Ingin protes tidak nyaman dengan semua saudara yang sudah mengacungi jempol pada keduanya.
Rasanya Ivan ingin menahan lebih lama pinggang ramping yang kini berhasil ia peluk. Tapi waktu masih belum berpihak padanya. Kini ia hanya memandang saat Khaira pergi tanpa kata hanya menganggukkan kepala padanya.
“Nemu di mana perempuan itu?” Hendri langsung merecokinya dengan pertanyaan nyeleneh begitu Ivan kembali bergabung dengan saudara sepupunya.
“Kau tau Hen, Ivan telah menikungku. Akulah yang pertama menemukannya,” Denis kembali mengungkapkan isi hatinya.
Ivan tersenyum miring pada Denis. Tinggal mereka bertiga yang masih terlibat obrolan ringan, karena para tamu undangan mulai menikmati hidangan yang disediakan.
“Maafkan aku,” kini Ivan berkata dengan tulus pada Denis sambil menepuk bahunya, “Aku tidak penah menyangka kita jatuh cinta pada perempuan yang sama. Ku harap kamu segera menemukan jodoh yang terbaik.”
__ADS_1
“Entah di bumi bagian mana lagi aku bisa menemukan perempuan istimewa seperti Rara.” Kini tatapan Denis mengarah pada Khaira yang terlibat obrolan dengan tante Laras, oma Marisa dan bu Ila.
“Jodoh pasti bertemu,” akhirnya Hendri ikut menyemati Denis yang kelihatan tidak bersemangat, “Toh kamu tidak sendiri, masih ada Fahmi juga.”
Kini tatapan ketiganya beralih pada Fahmi yang terlibat obrolan serius dengan Ariq dan saudara Khaira yang lain.
“Untung si Rara sudah kamu ikat, coba kalo belum …. “ jiwa profokasi Hendri timbul lagi.
Ivan tidak mengerti arah pembicaraan Hendri. Matanya kini fokus pada satu arah. Ia yakin Khaira kelelahan, dan mungkin belum makan sama sekali.
Tanpa berbicara pada Hendri dan Denis, Ivan bangkit dari kursi menuju meja prasmanan melihat menu hidangan yang tersedia. Ia merasa senang melihat menu sate yang tersedia sangat menggugah selera.
Dengan cepat Ivan mengisi beberapa tusuk sate ayam lengkap dengan ketupat lontong beserta kuah. Padahal baru kali ini ia melihatnya selain di hari raya. Entah kenapa ia merasa ingin mencicipinya. Sesudah menambah kecap, Ivan mengambil air putih. Ia tak menghiraukan siulan Hendri.
“Makanlah, aku yakin kamu belum makan malam,” dengan lembut Ivan meletakkan apa yang barusan ia ambil di hadapan Khaira yang terkejut melihat kedatangannya.
Khaira menggelengkan kepala berusaha menolak pemberian Ivan. Ia tidak nyaman, padahal sejak tadi ia memang kelaparan. Bawaan hamil ia terbiasa makan tepat waktu malahan dengan porsi dobel.
Mencium aroma sate di hadapannya membuat Khaira menelan salivanya. Ia gengsi untuk menikmati menu yang sudah ada di hadapan karena Ivan yang mengambilkan.
“Pikirkan anakku yang ada di kandunganmu,” Ivan kini berkata dengan tegas, “Aku akan pergi asal kamu menghabiskan semuanya.”
“Jika kau tidak memakannya aku akan melakukan hal yang akan membuatmu merasa malu,” ancaman Ivan semakin menjadi membuat Khaira bergidik.
“Baiklah, aku akan memakannya. Silakan pergi tuan Ivan yang terhormat,” akhirnya Khaira membalas tatapan Ivan dengan tajam.
Ia tidak nyaman kini tatapan Rheina dan semua saudaranya mengarah pada ia dan Ivan. Dan Khaira tidak ingin berlama-lama bersama dengan lelaki batu itu membuat moodnya buruk.
Senyum lebar terbit di wajah Ivan, melihat rona permusuhan itu kini sudah kembali di wajah calon ibu dari anaknya.
“Benar-benar perempuan menarik. Dan tak lama lagi akulah pemiliknya,” monolog Ivan dengan perasaan bangga.
Akhirnya ia melangkahkan kaki bergabung dengan Ariq, Ali serta paman Hanif yang kini terlibat obrolan santai dengan Fahri yang masih berada di sana.
Ivan segera menyalami satu demi satu yang berada di hadapannya kecuali Fahri. Ia segera duduk di samping Ariq, karena ia merasa nyaman dengan kedewasaan Ariq.
“Aku ingin mengetahui rencanamu setelah pernikahan nanti,” tembak Ariq langsung. Ia merasa perlu tau akan dibawa kemana adik kesayangannya setelah pernikahan nanti.
“Saya telah mempersiapkan sebuah rumah untuk kami tinggal nanti,” jawab Ivan tegas.
__ADS_1
Ia akan membuktikan ucapannya bahwa setelah bersamanya Khaira tidak akan kekurangan apapun. Ia akan memenuhi semua kebutuhan Khaira dan anak-anak mereka kelak yang akan lahir.
“Ada beberapa hal yang perlu kamu tau tentang Rara,” ujar Ariq sambil meraih gelas kopi di hadapannya dan langsung meminumnya sekali teguk.
Ivan mulai menajamkan telinga. Ia tau dari gesturnya apa yang akan diucapkan Ariq tampaknya serius dan ia harus mendengarnya dengan baik.
“Rara adalah putri kesayangan almarhum papa. Dia begitu memanjakan Rara dan menjaganya dari pergaulan luar, temannya juga tidak banyak saat kuliah. Almarhum papa membatasi pergaulan Rara,” Ariq menghentikan pembicaraan sebentar.
“Dia adik kami yang paling manja. Selama ini hanya Abbas yang paling mengerti dirinya. Karena itu ketergantungan Rara terhadap almarhum begitu besar.”
Ivan menganggukkan kepala berusaha mencerna perkataan Ariq. Sedikit banyak ia mulai memahami sifat asli Khaira yang acuh, tapi perhatian dengan orang terdekatnya.
“Ku harap kamu dapat memahami Rara, dan mendampinginya serta membimbingnya di masa depan,” tandas Ariq, “Jangan pernah berkata kasar padanya, apa lagi sampai menyakitinya dan terjadi kekerasan dalam rumah tangga.”
“Saya akan mengingatnya,” Ivan membalas tatapan Ariq. Ia tau makna yang tersirat dari perkataan Ariq.
“Jika kamu menyakiti Rara, aku tidak akan segan mengambilnya kembali darimu. Ingat itu!” nada Ariq kini lebih seperti ancaman, “Aku tidak akan menolerir jika itu sampai terjadi.”
“Saya paham mas. Dan saya berjanji akan menjaga dan membahagiakan Rara serta menyintainya seumur hidup saya.”
“Jangan berjanji!” Ali memotong cepat ucapannya.
“Hanya itu yang dapat saya lakukan atas kesediaan mas sekeluarga yang telah menerima saya untuk menjadi bagian dari keluarga ini dan menjadikan perempuan teristimewa Khaira Althafunnisa menjadi calon istri saya dan kini telah mengandung anak saya.”
Bu Ila merasa terharu sekaligus sedih mendengar curahan hati Ivan. Ia mengingat Abbas yang juga sering menyebut Ivan dan mengenang jasa dan kebaikan Ivan yang telah membantunya memberi modal usaha yang kini telah berdiri dan menjadi kebanggaan almarhum Abbas.
Jam 10 malam Khaira sudah mengantuk. Ia melihat para tamu masih asyik bercengkrama. Setelah menikmati menu makan malam yang diambilkan Ivan, ia benar-benar merasa kenyang. Sebelumnya Khaira memang ingin menikmati sate, tapi semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, akhirnya ia menahan keinginannya sambil menunggu orang yang akan ia mintai bantuan.
Rupanya insting janin yang berada di kandungannya sangat kuat, sehingga sang ayah lah jadi malaikat penyelamat membawakan makanan yang sangat ia dan janinnya inginkan.
“Bu, Oma … aku ingin istirahat sekarang,” Khaira berbisik pada oma yang kini terlibat percakapan dengan bu Ila, tante Laras dan tante Indah.
Pandangan Ivan fokus pada tangga melingkar menuju lantai atas, mengikuti pergerakan perempuan teristimewanya yang kini melangkah dengan pelan menaiki satu demi satu anak tangga. Kalau saja tidak ada orang lain di dalam ruangan ini, ingin rasanya Ivan turut bersamanya.
“Sabar Ivan …. “ batinnya pelan.
Ariq tersenyum melihat kelakuan calon adik iparnya yang kelihatan sudah tidak sabar menunggu hari H pernikahan mereka.
***Jangan lupa menjelang hari H siapkan kartu vaksin untuk terbang bersama menghadiri resepsi pernikahan Khaira dan Ivan ya...***
__ADS_1
Dukung terus kekhilafan author ya. Kritik dan saran serta like selalu author tunggu. Salam dan sayang semua ....