Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 256 S2 (Hidupku Bukan Milikku Lagi)


__ADS_3

“Alex, maafkan aku .... “ wajah Claudia pias saat Ivan menatapnya tajam dan menghempaskan tangannya yang ia cengkeram dengan kuat.


“Apa aku harus menjebloskanmu ke penjara karena semua perbuatan yang telah kau lakukan selama ini?”  tatapan Ivan semerah saga membuat Claudia semakin takut.


Ia tau Ivan adalah lelaki yang tidak bisa ditebak. Seperti Edward yang bisa melakukan apa pun yang menurutnya benar begitupun Ivan, tidak akan berpikir rasional jika menyangkut kepemilikan.


“Kau salah paham dengan yang terjadi....” Claudia masih berupaya membujuk Ivan yang sudah emosi, “Bagaimana kau bisa dikelabui perempuan sok suci itu?”


“Dia memang satu-satunya perempuan suci yang pernah berhubungan denganku. Selama ini aku terlalu memberimu kelonggaran,” Ivan menggelengkan kepala atas semua kelakuan Claudia, “Bahkan aku membelamu di depan ipar-iparku. Tak kusangka kau bukanlah Claudia yang dulu. Aku menyesal pernah mengenalmu.”


Ivan teringat beberapa kali ia selalu membela Claudia saat masih bersama Khaira, dimana saat itu semua meyakini bahwa Claudia menginginkan posisi Khaira untuk kembali bersama Ivan dengan Bryan sebagai keluarga kecil. Tapi Ivan menyangksikan pendapat saudaranya. Kini ia menyadari sudah terlalu banyak kekeliruan yang ia lakukan, dan itu membuat dirinya terpisah dengan Khaira dan kedua darah dagingnya.


“Itu tidak benar Alex. Aku masih sama seperti yang dulu, yang selalu mencintaimu .... “ melihat Ivan yang mulai melemah membuat Claudia bersemangat.


“Aku terlalu lemah sehingga keluargaku tercerai berai. Dan itu tak akan ku ulangi lagi,” suara Ivan penuh penekanan.


“Bagaimana dengan mudahnya kau mengakui anak perempuan itu darah dagingmu?” Claudia masih berupaya melunakkan hati Ivan, “Apakah semuanya tetap sama jika Bryan masih bersama kita?”


“Itulah kesalahan terbesar yang ku lakukan,” Ivan seolah berbicara pada dirinya sendiri. Tangannya terkepal kuat. Penyesalan yang tak akan pernah habis, sebelum ia bisa memulai kembali dari awal, “Seharusnya aku tidak melibatkan diri terlampau jauh dalam urusanmu dan Bryan. Maafkan aku, karena kepercayaanku telah hilang. Bahkan aku tidak mengetahui bahwa aku telah memiliki sepasang anak kembar. Itulah kesalahan yang akan ku perbaiki mulai saat ini.”


“Bukankah mamamu sendiri yang mengatakan bahwa istrimu mandul? Ayolah Alex, kita bisa memulainya dari awal ....”


Ivan tersinggung mendengar perkataan Claudia yang menuduh Khaira mandul. Ia tidak ingin mendengar siapa pun yang menghina Khaira dan anak-anaknya, apalagi di hadapannya.


“Sekali lagi kau mengatakan Rara mandul, jangan salahkan aku jika melakukan kekerasan padamu,” rahang Ivan kembali mengeras mendengar ucapan Claudia.


“Alex, kenapa bisa begini?”  Claudia melotot tak percaya saat dua orang petugas pengaman datang  dan  langsung menariknya  dengan kasar.


Tanpa sepengetahuan Claudia saat ia berbicara dan menghina Khaira, Ivan langsung menghubungi pihak pengamanan mall megah itu. Ia geram atas kelakuan Claudia. Ia tidak ingin mentolerir semua perbuatan perempuan masa lalu yang telah menghancurkan rumah tangganya bahkan membuatnya terpisah dan tidak diakui sebagai ayah dari darah dagingnya sendiri.


“Maafkan aku Claudia. Mulai saat ini aku tidak ingin membahayakan nyawa orang-orang yang sangat aku cintai,” Ivan menatap Claudia sinis yang meronta berusaha membebaskan diri dari cengkeraman dua lelaki tegap yang menahannya.


“Kau tidak bisa melakukan ini padaku Alex!” Claudia meronta-ronta saat kedua petugas keamanan membawanya berlalu dari hadapan Ivan.


Ivan menarik nafas lega melihat Claudia  berlalu dari hadapannya dengan segala umpatan dan makiannya membuat pengunjung mall geleng-geleng kepala dengan sikapnya. Ia berharap dengan penahanan Claudia membuatnya jera.


Ivan  melanjutkan langkah berusaha mencari bayangan Khaira dan putrinya yang sudah hilang beberapa saat yang lalu. Ia tidak putus asa,  langkahnya membawa Ivan memasuki Food Republik. Ia yakin siapa pun yang mengunjungi Vivocity pasti akan singgah di restoran yang menyiapkan aneka menu kuliner apalagi sekarang tepat jam makan siang.


Tatapannya nanar melihat Anwar  dan Khaira beserta si kembar yang duduk menghadapi hidangan. Khaira masih menenangkan Embun yang terdengar isaknya dari posisi duduk Ivan yang terhalang beberapa meja.


“Kenapa dede Embun menangis?” Anwar bertanya penuh perhatian sambil membelai kepala si mungil yang berada di pangkuan Khaira.


“Tadi ada yang iseng gangguin dede,”  Khaira menjawab cepat. Ia malas mengingat  peristiwa yang telah terjadi yang membuatnya bertemu kembali dengan Claudia dan Ivan.


Hati Ivan merasa nyeri menyaksikan keakraban yang terjadi antara Anwar dan keluarga yang telah ia lepas dan akan ia perjuangkan kembali. Kini ia tidak akan mundur  akan berjuang untuk anak-anak yang telah ia miliki bersama Khaira.


“Jadi pulang esok pagi?”  Anwar menatap Khaira lekat saat menanyakan kepulangan mereka.


Dari balik kaca mata hitam dan jaket hoddy yang menutupinya, Ivan menggeram menyaksikan sikap Anwar yang berusaha menarik simpati Khaira.


“Tentu saja. Nggak enak juga kelamaan ninggalin tugas di pondok. Kasian sama mbak Fatimah,” Khaira tersenyum manis.


Ivan merasakan hatinya luka tapi tidak berdarah melihat senyum yang selama ini selalu menenangkan dan menyejukkan hatinya tapi dinikmati lelaki lain.


“Mbak Fatimah apa ustadz Hanan?” Anwar menggoda Khaira membuat Ivan menekan emosinya yang turun naik, “Si kembar sangat dekat dengan ustadz Hanan. Ku pikir ada baiknya kamu menerima lamaran ustadz Hanan. Dia lelaki yang baik, agamanya bagus, dan masa lalunya juga dapat dipertanggungjawabkan.”


Ivan geleng-geleng kepala mendengar perkataan Anwar. Ia yakin Anwar mengetahui semua permasalahan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka, karena Anwar adalah satu-satunya teman terdekat Khaira.


“Iya sih, ustadz Hanan paling sempurna untuk jadi suami dan ayah si kembar,” Khaira membalas godaan Anwar.


Ia tidak menyadari bahwa perkataannya membuat hati seseorang yang berada di pojokan merasa ketar-ketir dengan jawaban yang ia berikan.


“Kenapa kamu menolak lamaran ustadz Hanan, padahal ustadzah Fatimah yang menginginkan beliau untuk berpoligami dan memilih kamu sebagai madunya?” Anwar masih penasaran dengan sikap Khaira yang tampak tenang.


Khaira tersenyum tipis sambil membelai kepala Embun yang mulai mengantuk di pangkuannya karena kekenyangan sesudah menikmati makan siang. Anwar dengan sigap meraih Fajar yang juga mulai goyang karena turut mengantuk.


“Aku tidak memerlukan siapa pun, si kembar adalah segalanya bagiku. Mereka tidak kekurangan kasih sayang. Banyak yang sayang sama si kembar,” jawab Khaira diplomatis.


“Atau kamu masih mengharapkan ayah biologis si kembar?” pancing Anwar tiba-tiba.


“Aku akan membencimu jika menyebut nama itu,” Khaira mendelik tidak suka mendengar ucapan Anwar.


“Wah, kata orang ada rasa benci karena masih ada rasa yang tersisa .... “ Anwar mencibir Khaira, kapan lagi mereka berbincang seperti masa lalu saat masih kuliah, “Kamu tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa si kembar masih  memiliki seorang ayah.”

__ADS_1


Telinga Ivan langsung berdiri mendengar percakapan keduanya yang masih duduk santai tapi serius dengan si kembar yang kini sudah terlelap di pangkuan masing-masing.


Khaira menghela nafas perlahan. Ia sama sekali tidak menyangka Anwar akan mengungkapnya. Ia pun belum sempat menceritakan pada Anwar bahwa ia sudah kesekian kali bertemu Ivan.


“Aku melihat Ivan berada di puskesmas saat Fajar di bawa ke sana. Ku kira ia sudah tau bahwa kamu melahirkan anak-anaknya,” tatapan Anwar begitu lekat, “Kamu dan saudaramu tak bisa selamanya menutupi semua ini.”


Khaira tertegun. Ia mengingat perkataan Ivan pada Claudia yang mengakui bahwa Embun adalah putrinya. Ia tak habis pikir dari mana Ivan mengetahui keberadaan si kembar yang berhasil ia tutupi selama ini bahkan mereka harus bersembunyi di tempat terpencil untuk menjauhi Ivan dan keluarganya.


“Kecuali kamu menerima lamaranku, maka aku akan melindungimu dan anak-anak hingga Ivan tidak berani mendekati kalian.”


Ivan mengepalkan tangannya mendengar perkataan Anwar.  Emosi yang berusaha ia redam kini meningkat lagi. Tapi ia berusaha menekan lebih keras. Ia benar-benar harus kuat menahan kesabaran.


“Mendingan aku sama ustadz Hanan dari pada kamu,” kini giliran Khaira mencibir Ivan, “Jangan rusak persahabatan yang terjadi antara kita.”


“Jadi kamu ada feeling juga sama ustadz kharismatik itu?” senyum Anwar mengembang mendengar perkataan Khaira.


“Aku nggak pernah bisa bohong padamu,” Khaira berkata pelan, “Seminggu yang lalu beliau kembali menyampaikan keinginannya padaku di masjid .... “


Dada Ivan bergemuruh mendengar perkataan Khaira. Ia tidak menyangka ustadz Hanan kembali mengungkapkan perasaannya pada Khaira.


“Perempuan mana yang tidak tersanjung mendengar perkataan ustadz Hanan.”


“Beliau merayumu?”


“Nggaklah,” Khaira menjawab cepat, “Beliau menahanku di masjid setelah salat Asar ....”


“Lantas apa yang beliau katakan?” Anwar jadi penasaran.


“Beliau dengan tulus meminta aku menerima lamarannya .... “ mata Khaira mulai berkaca-kaca saat bercerita, “Seperti perkataanmu, ustadz Hanan ingin melindungiku serta si kembar.”


“Wah, kalau aku jadi dirimu pasti akan menerima lamarannya. Kehidupanmu dan si kembar akan tenang karena ustadz Hanan laki-laki yang paling tepat untuk mendampingimu.”


“Jika hanya memikirkan ego, mungkin aku akan menerima lamaran beliau. Terus terang dengan sikapnya terhadap si kembar aku pun simpatik padanya.”


Jantung Ivan berdetak cepat. Ia tidak percaya Khaira mengatakan bahwa ia pun bersimpati terhadap ustadz Hanan.


“Simpatik? Waw!” Anwar tak percaya mendengar ucapan Khaira, “Tak ku sangka bertambah lagi satu pria yang kau sukai. Lantas kenapa kamu menolaknya?”


“Aku bertanya dengan ustadz Hanan niat beliau ingin menikahiku.”


Khaira tersenyum tipis mendengar ucapan Anwar, “Itu sih maunya kamu. Aku nya ngga.”


“Serius aku, kenapa kamu menolak laki-laki yang mungkin saja jodoh yang dikirim Allah buat melindungi kamu dan si kembar.”


“Jika aku menerima lamaran beliau, akan ada hati yang terluka,” Khaira berkata lirih.


“Ustadzah Fatimah kan sudah siap jadi madumu?”


“Aku nggak bisa nyakitin mbak Fatimah. Beliau sangat baik, dan melebihi saudara bagiku. Bagaimana mungkin aku menyakitinya, apalagi niat ustadz Hanan menikahiku karena ingin mendapat keturunan,” Khaira menggelengkan kepala ingat percakapan yang terjadi antara dirinya dan ustadz Hanan.


“Beliau paham agama, pasti akan mampu berbuat adil untuk kalian berdua.”


“Apa kamu yakin beliau bisa berbuat adil? Beliau hanyalah seorang manusia, para istri baginda Rasulullah saja masih ada rasa cemburu satu sama lain,”  Khaira menggelengkan kepala tidak percaya, “Aku yakin, jika kami menikah dan mempunyai keturunan, perasaan ustadz Hanan perlahan akan berubah. Apa lagi telah ada anak diantara kami. Aku ngga bisa bayangin itu semua. Perempuan mana yang sanggup dimadu dan melihat perhatian sang suami mulai terbagi.”


Ivan terkejut mendengar perkataan Khaira. Ia tak mempedulikan makanan yang tadinya hangat kini telah dingin, karena ia lebih peduli dengan percakapan yang terjadi di belakangnya.


“Apa kau masih trauma dan mengingat ucapan sang mantan?”


“Sudahlah, antara aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa pun. Kami berdua hanya orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain.”


“Deg!” Ivan merasakan ribuan jarum menusuk jantungnya mendengar ucapan Khaira.


Ia menyesali semua ucapan-ucapan yang pernah terlontar pada Khaira. Dan kini semuanya telah kembali pada dirinya. Ia menelan pil pahit semua perbuatan dan perkataan yang sangat menyakitkan di masa lalu terhadap Khaira.


Kini ia termangu menunggu penerbangan yang akan membawanya kembali ke Indonesia. Edward duduk menemaninya menunggu pesawat komersil yang akan ia tumpangi. Dua jam yang lalu ia telah melihat Ariq dan Khaira bersama si kembar, babby sitter serta dua body guard mengiringi mereka.


“Selamat berjuang kembali,” Edward menepuk bahunya saat Ivan mulai bangkit dari kursi karena pesawat yang ia tumpangi akan segera take off.


“Terima kasih Bro.”


“Kali ini perjuanganmu akan lebih sulit,” Edward tersenyum menatap Ivan yang memandang sejenak pada penumpang yang mulai berjalan untuk checking tiket.


“Aku tak peduli, karena hidupku bukan milikku lagi. Sepenuhnya aku berjuang untuk mereka,” Ivan berkata serius.

__ADS_1


“Semoga kalian segera bersatu kembali.”


Ivan menjabat tangan Edward sebelum melangkah meninggalkan ruang tunggu bandara menuju pintu keberangkatan.


Perasaan lega menghampiri Ivan begitu pesawat landing dengan selamat di bandara Internasional Soetta. Ia tersenyum menyemangati diri sendiri, karena akan memulai perjuangannya untuk menyatukan keluarga yang telah tercerai berai.


Rusli sudah menunggu saat Ivan keluar dari  pintu sambil menyeret travel bag yang berisi pakaian selama ia bepergian.


Selama perjalanan menuju kediaman mamanya, Ivan teringat percakapan yang terjadi antara Anwar dan Khaira. Ia harus menceritakan semua pada ustadz Hanan. Ia tak bisa menyembunyikan terlalu lama. Mengingat omongan Khaira, ternyata sudah dua kali temannya itu melamar Khaira. Ivan khawatir jika ketiga kalinya ustadz Hanan menemui Khaira bisa jadi perasaannya tersentuh dan menerima semua niat baik ustadz Hanan.


“Ini tak bisa dibiarkan .... “ Ivan membatin dalam hati.


Alunan lagu dari radio tape yang diputar Rusli membuat perasaan Ivan semakin tak menentu. Lagu lawas yang kini populer mencerminkan apa yang tergambar di hati Ivan.


Dinginnya angin malam ini


Menyapa tubuhku


Namun tidak dapat dinginkan panasnya


Hatiku ini


Terasa terhempasnya kelakian ku ini


Dengan sikapmu


Apakah karena aku


Insan kekurangan


Mudahnya kau mainkan


Oh mungkinkah diri ini


Dapat merubah buih


Yang memutih


Menjadi permadani


Seperti pinta


Yang kau ucap


Dalam janji cinta


Juga mustahil bagiku


Menggapai bintang dilangit


Siapalah diriku


Hanya insan biasa


Semua itu


Sungguh aku


Tiada mampu


Salah aku juga


Karena jatuh cinta


Insan seperti dirimu seanggun bidadari


Seharusnya aku


Cerminkan diriku


Sebelum tirai hati


Aku buka

__ADS_1


***Dukung terus ya\, jangan lupa votenya kritik serta saran selalu ku tunggu untuk melanjutkan perjuangan Ivan membuka hati Khaira Sang Bidadari yang sangat ia rindukan .... ***


__ADS_2