
“Ada apa pagi-pagi sudah di ruanganku. Mengganggu saja.” Dengus Adi tak senang melihat Faiq sudah duduk santai di hadapannya.
“Aku ingin mengetahui keberadaan Hani dan anak-anak.” Sahut Faiq santai. Ia tak mengacuhkan kekesalan Adi yang begitu nampak di matanya.
“Memangnya aku detektif yang kau bayar?” Adi meletakkan ponselnya dengan kesal.
Sampai hari ini Adi masih menunggu informasi dari tim IT nya. Sudah seminggu mereka bekerja keras mencari Hani. Tapi sosoknya bagai hilang di telan bumi. Mereka mencoba menelusuri ponsel Hanif, tapi tetap saja keberuntungan belum berpihak pada mereka.
“Pulanglah, usahamu akan sia-sia. Biarpun aku menemukan mereka. Aku tak akan memberitahumu. Menyusahkan saja ….” Adi tak mempedulikan keberadaan Faiq.
Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, tanpa menghiraukan Faiq yang tetap santai duduk di hadapannya.
Faiq memainkan ponselnya, berusaha mencari lewat aplikasi pertemanan, mungkin saja ada yang berteman dengan salah satu keluarga Hani. Tapi harapannya pupus, karena tidak ada yang bisa dijadikan titik terang untuk mencari keberadaan keluarga kecilnya.
“Aku akan menemui klien di luar. Kalau kau tetap di sini terserah.” Adi bangkit dari kursi dan merapikan jasnya. Tanpa menatap Faiq ia melangkah ke luar dari ruangannya.
Dengan menghela nafas, Faiq bangkit dari kursinya. Pikirannya benar-benar kosong. Ia melangkah meninggalkan ruang kerja Aditama. Rudi sudah menunggunya di mobil yang terparkir di depan gedung megah itu.
Sudah hampir dua bulan ia mencari informasi tentang Hani dan keluarga kecilnya. Tapi lagi-lagi usahanya tak membuahkan hasil. Faiq tetap menyemangati dirinya untuk mencari anak dan istrinya yang kini pergi entah kemana.
“Tuan Aditama sedang pergi ke Medan.” Ujar Rudi pagi itu, saat ia memasuki ruang kerja Faiq. Kini ia sudah resmi menjadi asisten pribadi Faiq, karena Handoko kini menjadi wakil direktur untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan perusahaan. Begitupun pak Arman yang sudah naik jabatan menjadi bagian direksi perusahaan.
“Kapan dia kembali?”
“Tiga hari lagi.”
“Apa lagi yang kau dapat selama mengikutinya?” Faiq sudah tidak sabar menunggu kabar Rudi.
“Menurut info orang dalam tuan Tama ke Medan bukan urusan perusahaan, tapi urusan keluarga.”
Faiq duduk dengan gelisah. Sampai detik ini ia belum mendapat informasi apapun tentang Hani dan anak-anaknya. Rasa rindu yang ia tahan sudah hampir memecahkan kepala.
Rudi memberikan berkas di dalam amplop besar warna kuning, “Baru ini yang saya dapat, bos.”
Dengan cepat Faiq membuka amplop biru, dan segera melihat isinya. Tampak foto-foto Adi yang baru turun dari pesawat. Kemudian Adi memasuki JW Marriot Hotel Medan.
__ADS_1
Faiq menatap foto itu satu demi satu. Tidak tampak ada keanehan. Ia kembali membolak-balik foto yang terdiri atas 6 lembar.
“Ku rasa mbak Hani dan anak-anak berada di Medan.” Rudi berkata dengan serius.
“Dari mana tiba-tiba kau membuat kesimpulan seperti itu?” Mata Faiq tetap tertuju pada foto di tangannya.
“Bos tentu bisa lihat, tidak ada foto yang menunjukkan tuan Tama menemui kliennya. Yang ada hanya ia berwisata ke tempat-tempat terkenal di Medan.”
“Apa lagi yang dapat kau terawangi?” Faiq mengagumi cara berpikir logis Rudi. Tak masalah ia membayar mahal untuk ketajaman intuisinya dalam menyimpulkan sesuatu.
“Memang aku mbah dukun.” Ujar Rudi sewot.
Faiq tersenyum tipis, “Nggak rugi aku bayar kamu mahal. Lanjutkan….”
“Bisa jadi tuan Tama mengetahui bahwa mbak Hani dan anak-anak ikut penerbangan ke Medan. Kemudian ia memutuskan untuk mencari sendiri, karena mau curi start dari bos.”
Faiq manggut-manggut mendengar penjelasan Rudi. Ia memandang foto pernikahan mereka yang terletak berjejer dengan foto Hani dan anak-anak. Wajahnya sendu, dan Rudi dapat melihat kegundahan di wajah bosnya.
“Yang sabar, bos. Jika mbak Hani memang jodohmu, pasti kalian akan bertemu, apapun kondisinya.” Rudi berusaha menghiburnya.
Tatapan Faiq menerawang jauh, “Kau tau, Rud. Aku telah melewatkan ulang tahun Hani. Dan selama pernikahan kami, aku belum pernah memberikan nafkah satu sen pun padanya.”
“Selama sebulan ia tinggal di rumah, aku tidak pernah menghitung berapa rupiah yang telah kuhabiskan saat membawa ia dan ibunya pergi belanja ke Mall…”
“Apa mbak Hani nggak protes?”
Faiq memejamkan mata teringat raut sedih Hani, saat ia memberitahukan bahwa mereka akan mengantar Hesti kontrol sekaligus belanja keperluan Hesti. Sementara untuk keperluan Hani dan anak-anak ia belum pernah sekali pun membelanjakan mereka.
Di ulang tahun Hesti, ia menyempatkan diri untuk mentraktir mereka makan malam di restoran mewah, bahkan memberikan hadiah jam tangan mewah seharga 10 juta. Sedangkan hari jadi istrinya sendiri, Faiq bahkan melupakannya.
“Ternyata sihir yang mereka gunakan sangat kuat, sehingga bos berubah menjadi orang lain saat bersama keluarga kalian.” Rudi merasa kesal sekaligus geram mendengar curhat Faiq yang seperti orang putus asa.
Faiq mengeluarkan kertas coretan tangan Hani yang ia temukan di meja rias di kamar mereka. Kertas itu ia simpan di dalam dompetnya, dan selalu ia bawa kemana pun.
“Saat menemukan ini dan membacanya aku seperti orang linglung.” Mata Faiq menerawang jauh membayangkan wajah Hani dan ketiga malaikat kecil mereka.
__ADS_1
Rudi membacanya sekilas kemudian mengembalikan ke tangan Faiq. Ia terdiam sesaat sambil berpikir. Dari goresan Hani yang tertulis di sana, dapat ia bayangkan rasa kecewa Hani atas sikap Faiq sehingga ia lebih memilih pergi dari pada bertahan.
“Aku tak rela jika Rara dan anak-anak kembali bersama bang Tama. Aku sangat mencintai Rara. Mereka semua adalah sumber kebahagiaanku…” Mata Faiq berkabut saat mengungkapkan perasaannya pada Rudi.
“Mbak Hani tipe perempuan yang suka menyembunyikan perasaan. Dia lebih memilih diam saat merasakan kesakitan. Aku dapat merasakan bagaimana ia berusaha bertahan saat Hesti tinggal bersama kalian di rumah.”
“Aku tau.” Faiq mengingat sendiri bagaimana perlakuannya pada Hani dan anak-anak berbeda begitu Hesti tinggal bersama di rumah mereka.
“Mungkin perempuan lain bisa bertahan karena cinta. Tetapi mbak Hani, dia tidak ingin anak-anaknya terluka karena perselisihan yang diciptakan Hesti dan ibunya. Dan ia memilih pergi.”
“Aku tidak menyangka ucapanku telah menyakiti hatinya.” Wajah Faiq semakin muram mengingat Hani menulisnya di dalam pesan yang tertinggal. “Sudah hampir dua bulan ia dan anak-anak pergi. Entah bagaimana ia melalui kehamilan seorang diri, apa yang ia makan, apa yang ia inginkan…Aku memang suami yang bodoh.” Faiq mengutuk dirinya sendiri.
“Semoga Allah segera memberikan petunjuk untuk bos. Insya Allah, bos hanya perlu bersabar dan tetap usaha. Aku yakin, Allah akan segera mempertemukan bos dengan mbak Hani dan anak-anak.”
Setelah menemui beberapa klien yang ingin memesan super car yang harganya di atas 2 m, Faiq masih duduk termangu di restoran mewah itu. Rudi dan Handoko barusan ia suruh pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Mas Faiq…”
Faiq menoleh sumber suara. Hesti berjalan bersama dengan dua orang perempuan yang tidak dikenalnya.
“Apa kabarmu, Hes?” Dengan cepat Faiq bangkit dari kursinya. Ia tak ingin terjebak lagi dengan Hesti, Rudi telah memperingatinya.
“Ini mantan suami tajirmu itu, ya?” salah seorang teman Hesti berbisik yang dibalas Hesti dengan anggukkan.
“Perfecto.” Bisiknya pada Hesti. Matanya menatap Faiq dengan penuh damba. “Aku suka yang ginian.”
“Aku sudah ditunggu supir. Maafkan aku harus pergi.” Tanpa menunggu persetujuan ketiganya, Faiq melangkah dengan cepat.
Hesti menatap kepergian Faiq dengan perasaan gundah. Tak ada lagi harapan mereka untuk bersama. Dinding yang dibangun Faiq begitu kokoh, sulit buat ia merobohkannya. Hesti menghela nafas berusaha membuang sosok Faiq dari hatinya.
Faiq kembali ke rumah. Dengan langkah lunglai ia menuju kamar. Tiada lagi kehangatan yang ia rasa saat berada di rumah megah itu. Karman, Ningsih dan art yang lain dapat merasakan hawa dingin di rumah itu.
__ADS_1