
Khaira cemberut saat sudah di dalam mobil. Ia masih kesal dengan perbuatan Ivan saat di dalam gedung bioskop tadi. Kalau saja lampu di dalam gedung tidak segera menyala, entah apa yang bakal terjadi. Bisa-bisa keduanya digiring ke pos pengaman terdekat karena berbuat asusila di area publik.
Ivan senyam-senyum sambil melirik wajah kesal istrinya. Hampir saja ia kebablasan. Adegan romantis di layar bioskop membuatnya pengen mempraktekkan apa yang ia lihat. Wajar kan, ia seorang laki-laki dewasa dan sudah lama tidak melakukannya. Suasana yang mendukung, apalagi bersama istri sendiri.
“Sayang ….” Ivan berusaha membujuk Khaira yang masih bungkam tidak mau berbicara.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga siang. Jam lima ia akan langsung ke bandara. Sampai sekarang ia belum menceritakan bahwa ia akan pergi ke Singapura untuk membereskan kekacauan karena keinginan nyeleneh temannya.
Khaira terkejut karena Ivan tidak mengantarnya ke gerai, malah memutarkan mobilnya memasuki kawasan elit perumahan Bintaro. Ia menegakkan tubuhnya mulai melihat perumahan megah yang satu demi satu dilewati mobil mereke, hingga akhirnya di sebuah rumah bergaya eropa dengan pilar penyangga besar mobil Ivan berhenti.
Saat Ivan membukakan pintu mobil untuknya Khaira masih diam tak bergeming. Matanya melotot kesal saat sang suami menyunggingkan senyum mautnya.
“Apaan sihhh!” Khaira semakin kesal karena Ivan mulai memainkan pintu dengan membuka kemudian menutupnya dengan pandangan tak teralihkan dari mata bening istrinya yang semakin membulat atas ulahnya.
Khaira semakin merajuk. Sudah dadanya sakit akibat perbuatan Ivan di dalam gedung bioskop, serta bibirnya udah terasa dower, tapi sang pelaku tetap santai dengan wajah tak berdosa. Rasanya Khaira ingin menangis atas keisengan Ivan.
Kenapa ia harus mendapatkan suami dengan sikap yang sangat pemaksa sekaligus mengesalkan. Satu paket komplit pada diri Ivan yang membuatnya jadi kesal pada diri sendiri. Kenapa harus menjatuhkan hatinya pada suaminya secepat ini?
Jatuh hati? Cinta? Jatuh cinta?
Khaira menggelengkan kepala dengan cepat. Nggak mungkin ia bisa jatuh cinta dengan gaya arogan suaminya. Tapi, ia selalu merindukan sentuhan-sentuhan serta kiss mautnya yang membuat ia melayang di udara.
Ivan menatap Khaira yang masih asyik dengan lamunannya. Kencan dadakan yang baru saja berakhir membuatnya semakin bersemangat untuk mendapatkah hati istrinya. Ia yakin Khaira mulai ada rasa terhadapnya. Setiap sentuhan yang ia berikan, Khaira mulai merespon dan membalasnya tanpa ada penolakan berarti.
Keduanya masih asyik dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya suara perempuan dengan lembut mengejutkan keduanya.
“Lho … lho … mimpi apa mama kedatangan cah ayu ini?” Laras dengan perasaan bahagia menghampiri keduanya yang masih di posisi masing-masing.
“Mama …. “ Khaira terkejut melihat mertuanya sudah berada di hadapannya dengan wajah bahagia.
“Akhirnya sampai juga kamu di kediaman mama,” ujar Laras sambil tersenyum lebar.
Laras segera memeluknya begitu Khaira keluar dari mobil. Ia melayangkan tatapan kesal pada Ivan yang membuka pintu mobil dengan lebar sambil mengedipkan mata.
Laras merangkul menantunya dengan penuh kasih saat keduanya mulai memasuki rumah megah tersebut. Ia bercerita tentang keinginannya untukk mengunjungi anak dan menantunya, ehh ternyata panjang umur keduanya sudah berada di hadapan.
“Menginap di sinikan?” Laras langsung mengajaknya mereka untuk menginap di rumahnya saat mereka sudah duduk bersama di sofa ruang keluarga.
“Maaf Ma, kebetulan aku ada keperluan mendadak ke Singapura sore ini. Jadi aku mengantar Rara untuk menginap di sini,” ujar Ivan sambil menatap istrinya lekat.
Ia tersenyum melihat mata bening itu kini menatapnya dengan raut kesal, karena sejak awal ia belum membicarakan kepergiannya ke Singapura.
“Kamu itu kalau ada maunya baru kemari,” Laras mulai memarahi Ivan, “Mama sangat merindukan kalian.”
__ADS_1
Laras bangkit dari kursi. Ia memandang Ivan dan Khaira bergantian.
“Mama akan menyiapkan makan malam. Bawalah istrimu ke kamar, mungkin ia kelelahan,” Raras menatap Khaira dengan lembut, “Semua keperluanmu sudah mama siapkan di lemari pakaian. Pergilah beristirahat. Jika makanan telah siap, mama akan memanggil kalian.”
Khaira tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merasa nyaman saat bersama mama mertuanya. Kerinduan akan almarhum bunda dapat ia curahkan saat bersama Laras.
Ivan merangkul pinggang Khaira saat membawanya menaiki tangga menuju lantai atas untuk ke kamarnya.
Khaira melihat kamar yang sangat luas dengan penataan berkelas. Aroma maskulin menyeruak saat pintu kamar dibuka. Interior ruangan dengan warna hitam dan perak begitu mendominasi kamar.
“Mas, kenapa mau pergi nggak bilang-bilang?” Khaira mulai memprotes sikap Ivan yang tidak berterus-terang dari awal bahwa ia akan berangkat hari ini.
Ivan tersenyum tipis. Ia menarik tangan Khaira dan membawanya duduk di tempat tidur. Ivan menatap istrinya dengan lekat.
“Aku baru saja di telpon Jhony jam 10 tadi. Dan ini sangat mendadak sekali,” Ivan berkata dengan lembut, “Apa kamu ingin pergi bersamaku? Kita sekalian berbulan madu.”
Khaira terkejut mendengar perkataan Ivan barusan. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. Bagaimana mungkin ia bisa bepergian dalam keadaan mendadak seperti ini. Banyak yang harus ia kerjakan.
Ivan tersenyum menenangkan tanpa mengalihkan tatapan dari mata bening istrinya yang tertunduk. Ia meraih kedua tangan Khaira dan mulai mengecupnya dengan lembut. Tatapannya beralih pada Khaira yang masih terpaku melihatnya.
“Maafkan aku tidak memberitahumu dari awal. Secepatnya aku akan kembali,” Ivan tersenyum tipis, “Udah nggak bisa jauh dari suami ya?”
Cubitan kecil langsung mendarat di lengan Ivan membuatnya tertawa lirih. Khaira memang ekspresif sekali dalam mengungkapkan perasaannya.
Panggilan azan Asar bergema di masjid yang berada di dalam kompleks perumahan. Ivan melepaskan genggaman tangannya. Ia menatap Khaira dengan mesra.
Saat mulai membersihkan diri, Khaira teringat kembali perkataan Ivan barusan. Ia merasa sedih. Betapa Ivan telah banyak berubah untuknya, sedangkan sebagai istri ia belum mampu memberikan pelayanan seutuhnya pada sang suami.
Khaira berjalan menuju walk-in closet. Ia melihat susunan lemari kaca berisi pakaian perempuan yang masih utuh bersegel. Ia tersenyum tipis. Mertuanya sangat memahami gaya berpakaiannya. Khaira langsung mengambil gamis bermotip garis kecil yang sangat manis dan elegan. Ia merasa puas saat memakainya. Memang harga tidak bisa bohong, pilihan mertuanya memang patut diacungi jempol.
Khaira baru selesai melaksanakan salat Asar ketika ketukan di pintu kamar terdengar. Ia berjalan menuju pintu. Senyum Laras terkembang melihat menantunya telah menggunakan pakaian yang sengaja ia belikan untuknya.
“Wah, pilihan mama sangat tepat. Kamu sangat cantik dengan gamis yang kamu pakai.”
“Memang pilihan mama yang paling cantik. Saya senang dengan hadiah yang mama berikan,” Khaira berkata dengan tulus.
Laras memeluknya, “Terima kasih sayang, karena telah menjadi menantu mama. Dan mampu merubah putra mama menjadi lebih baik.”
Khaira membalas pelukan mertuanya dengan perasaan terharu. Ia merasakan menemukan kembali kehangatan seorang ibu saat bersama mertuanya. Dan ia bersyukur karena diterima dengan baik di keluarga besar Laras walau pun dengan berbagai drama kesedihan yang sempat terjadi.
“Kita makannya sekarang aja ya, berhubung suamimu belum berangkat ke Singapura.”
“Jam berapa mas Ivan berangkat ma?” Khaira langsung mengajukan pertanyaan mengingat suaminya akan pergi sore ini.
__ADS_1
“Jam lima sore ini. Ia pergi bersama Roni,” Laras menatapnya lekat, “Kamu jangan khawatir. Ivan telah berubah.”
Khaira merasa tidak enak hati dengan mertuanya. Ia akui suaminya memang telah banyak berubah, hanya dirinya yang belum mampu ….
“Sayang …. “ Ivan sudah duduk di meja makan saat ia berjalan berdampingan bersama Laras.
Khaira meraih tangan Ivan dan menciumnya. Ia langsung duduk di samping Ivan yang masih menatapnya dengan lekat.
“Mas mau makan sekarang?” Khaira menatap Ivan yang dari tadi tidak memalingkan wajah darinya.
Ivan tersenyum tipis, “Apa saja yang kamu hidangkan, mas akan habiskan.”
Laras tersenyum melihat interaksi anak dan mantunya. Ia sangat bersyukur melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Menantu yang salehah telah merubah putranya yang selama ini hidup tanpa arah. Benar-benar keluarga idaman yang tidak bisa ditukar dengan apapun.
Sebelum makan malam di waktu sore selesai, Laras langsung mengajukan pertanyaan yang sudah ia siapkan saat bertemu dengan anak dan menantunya.
“Apa kalian sudah memulai program setelah kehilangan kemaren?”
Laras tak sabar ingin menanyakan masalah yang bagi Khaira sangat sensitif. Wajah Khaira langsung merona sambil menatap Ivan yang sudah mengakhiri makan dan meraih air putih yang sudah disiapkan Khaira di sampingnya.
Ivan menatap wajah Khaira yang merona. Ia membelai pundak istrinya berusaha menenangkan.
“Saya ingin Rara pulih dari traumanya. Setelah itu baru kita akan memulai program kehamilan kembali. Mama nggak usah khawatir,” Ivan berkata pelan sambil matanya menatap Khaira dengan lekat.
Khaira merasa tidak enak hati mendengar jawaban suaminya. Kini hatinya benar-benar tersentuh atas ketulusan dan perhatian yang Ivan berikan. Memang ia akui di awal pernikahan gaya arogan dan pemaksa Ivan selalu mendominasi pernikahan mereka. Tetapi sekarang perlahan semuanya berubah. Ketulusan dan kesabaran Ivan dalam menghadapi sikap tertutupnya membuat Khaira merasa bahwa Ivan memang dikirim Yang Kuasa untuk menggantikan sosok almarhum Abbas dalam hidupnya.
Khaira mengikuti langkah suaminya ke kamar. Ia merasa berkewajiban untuk mempersiapkan segala keperluan yang akan digunakan suaminya saat bepergian ke Singapura. Ia masih berdiri melihat pemandangan jalan raya yang tampak padat merayap dari jendela kamar.
Sebuah tangan kokoh melingkari pinggangnya. Harum aroma sabun mandi dan shampo memanjakan indera penciuman Khaira. Ia tersenyum menyadari pemilik tangan kokoh yang kini memeluk pinggangnya.
“Mas, mau berangkat sekarang. Aku akan mempersiapkan semuanya,” Khaira mulai membalik tubuhnya.
Ia terkejut menyadari suaminya hanya menggunakan handuk dengan rambut yang masih basah. Khaira berusaha menahan debaran jantungnya.
“Semua sudah dipersiapkan Roni. Aku tidak ingin kamu mengerjakan hal yang tidak penting,” Ivan berkata dengan cepat.
Dengan tak sabar Ivan langsung melu*** telaga madu yang sejak di meja makan telah membuatnya merasakan kebahagiaan. Membawa Khaira berkunjung ke rumah mamanya membawa keberkahan sendiri bagi Ivan. Kini ia dapat melihat bahwa ketulusannya telah berbuah manis.
Keduanya saling mencurahkan segenap perasaan lewat ciuman panjang yang begitu menghanyutkan. Khaira merasakan sesuatu yang mulai menegang di bawah sana. Jemari Ivan mulai bergerilya untuk menemukan spot favoritnya, hingga ketukan di pintu menghentikan aktivitas keduanya.
*** Happy Tuesday.
Smoga readerku tersayang selalu dalam keadaan sehat. Dukung terus ya, jangan lupa komennya dipanjangin. Author pengen tau gimana pendapat kalian sampai saat ini dengan kisah cinta Ivan dan Khaira, apakah membosankan dan terlalu bertele-tele?
__ADS_1
Jawab dengan jujur ya. Author selalu menunggu saran, kritik, likenya dengan penuh semangat. Dan kalau ada kelebihan vote nya kasi author dong sebagai suplemen author agar selalu UP dengan penuh KERELAAN DAN SENANG HATI.
Salam sayang untuk readerku semua ... ****