Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 131 S2 (Merelakan)


__ADS_3

Bu Ila langsung memeluk Khaira yang terpaku melihat jasad Abbas terbujur kaku di atas tempat tidur. Perasaan bahagia yang sempat membuncah karena telah berhasil menikah dengan Abbas kini langsung terhempas, menyadari bahwa kini Abbas telah pergi mendahuluinya. Hatinya terasa terbang, jiwanya telah dibawa Abbas pergi dan tak akan pernah kembali.


Roni berpikir dengan cepat. Ia harus segera mengambil keputusan. Ia sadar tidak mungkin bu Ila melakukan semuanya sendirian, apalagi melihat istri Abbas yang sudah menyandang status janda di saat usia perkawinannya baru berjalan satu jam.


“Sangat menyedihkan … “ Roni membatin dalam hati. Ia memandang Khaira yang masih tenggelam dalam pelukan bu Ila yang sama-sama menangis merasakan kehilangan orang yang paling mereka kasihi.


“Bu Ila …. “ pak Hasan menepuk pundak bu Ila yang masih memeluk Khaira.


“Kita akan membawa jenazah pulang ke rumahnya. Bapak duluan saja untuk mempersiapkan prosesi pemakaman. Saya yang akan mengurus semuanya,” Roni berkata dengan cepat. Harus ada yang mengambil keputusan. Tidak boleh membiarkan jenazah terlalu lama, harus segera di urus  untuk dimakamkan.


Roni memandang bu Ila dan Khaira dengan perasaan prihatin. Ia berjalan mendekati keduanya.


“Bu, mbak Rara kita harus pulang membawa jenazah almarhum. Saya yang akan membantu mengurus semuanya.”


Bu Ila mengangguk lemah, “Terima kasih nak.”


Junior tidak tau harus berbuat apa. Ponselnya  berdering, membuat Junior berjalan ke luar ruangan. Ia terkejut melihat nama Hasya terpampang di sana.


“Assalamu’alaikum mbak ….”


“Ngapain kamu bawa Rara keluar. Pamali tau, udah mau nikah juga …. “ omelan Hasya mulai memenuhi daun telinga Junior, “Mana Rara?”


“Mas Abbas kecelakaan dan telah meninggal dunia ….” tak terasa air mata Junior menetes lagi saat mengatakan hal itu.


Tiada jawaban yang didengar Junior.  Ia langsung mematikan ponselnya melihat  beberapa petugas mulai mendorong brankar membawa jenazah Abbas menuju mobil ambulans yang akan mengantar mereka pulang.

__ADS_1


Ivan terkejut melihat pak Hasan  dan kedua lelaki asing yang berjalan beriringan bersama perawat membawa brankar yang sudah ditutupi kain putih. Ia menghadang Roni yang berjalan di belakang rombongan.


“Ron ... “ Ivan memanggil Roni yang berjalan berbeda arah dengan rombongan pak Hasan.


“Aku akan membantu mengurus jenazah almarhum Abbas. Apa bos ingin pulang sekarang?” Roni berhenti menunggu Ivan yang berjalan menghampirinya, “Kasian bu Ila dan jandanya Abbas.”


“Lakukanlah. Aku akan menanggung semua biayanya,” ujar Ivan sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore, “Aku akan pulang. Semua ku serahkan padamu.”


Roni menganggukkan kepala. Ia mengamati kepergian Ivan hingga hilang di simpangan rumah sakit. Ia tidak menyalahkan Ivan yang tidak bisa mengantar almarhum Abbas hingga ke tempat peristirahatan terakhir. Ia cukup bersyukur Ivan menanggung semua pembiayaan di rumah sakit.


Sesampai di rumah bu Ila, para tetangga sudah datang bertakziyah memenuhi rumah sederhana itu.  Roni merasa bersyukur pak Hasan bekerja dengan cepat. Setelah salat Magrib jenazah langsung diantar ke pemakaman umum.


“Terima kasih nak, semoga Allah membalas segala kebaikanmu.” Bu Ila matanya berkaca-kaca-kaca mengatakan rasa terima kasihnya saat Roni berpamitan untuk pulang begitu rombongan kembali ke rumah.


“Ibu jangan merasa sungkan untuk minta bantuan pada kami,” Roni berkata dengan pelan sambil melirik Khaira yang masih tampak terpukul di samping bu Ila.


Suasana hening di rumah sederhana itu tiba-tiba mendadak riuh, terdengar suara tamu berdatangan di sambut pak Hasan dan istrinya juga warga sekitarnya yang masih tersisa beberapa orang mewakili bu Ila sebagai tuan rumah.


Junior yang masih duduk mendampingi Khaira terkejut melihat semua saudara dan iparnya sudah berada di ruang tamu sederhana itu.


“Mas Ariq …. “ Junior menyalami saudara tertuanya begitu Ariq berdiri di hadapannya. Ia melihat semua saudara dan iparnya juga berdatangan di rumah bu Ila.


Hasya langsung memeluk Khaira yang diam tak bergeming menekuri lantai. Ia sangat memahami perasaan adik perempuannya itu.


“Yang sabar ya. Kami semua mendukungmu. Kita akan saling menguatkan,” tak terasa air mata Hasya menetes di pipinya saat mengatakan itu. Ia merasakan pundak Khaira yang bergetar menumpahkan kesedihan di hatinya.

__ADS_1


Sementara Junior segera menceritakan kronologis kejadian di rumah sakit hingga pernikahan singkat yang dilakukan kakaknya dan almarhum Abbas.


Ariq menghela nafas berat. Ia tidak tau harus berkata apa. Musibah yang menimpa adik kesayangan mereka benar-benar di luar dugaan. Ia tidak menyangka kisah cinta Khaira akan berakhir setragis ini.


Ariq beranjak mendekati Khaira yang masih terisak di pelukan Hasya. Ia duduk di samping keduanya sambil menepuk-nepuk pundak Hasya berusaha menguatkan.


“Manusia hanya berencana. Allah lah yang menentukan semua. Kamu harus kuat. Di sebalik ini mungkin ada rahasia lain yang telah Allah siapkan buat kamu,” ujar Ariq pelan.


Bu Ila merasa terkejut sekaligus terharu melihat saudara Khaira yang datang mengunjungi mereka di kediamannya.


“Bu, kami turut berduka cita atas wafatnya putra ibu sekaligus saudara ipar kami. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya dan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.” Ariq berkata dengan pelan mewakili saudaranya yang lain.


Bu Ila mengangguk perlahan. Ia memandangi saudara menantunya yang semuanya duduk beralaskan tikar di ruangan yang tidak terlalu besar.


“Maafkan  putra ibu, jika selama hidupnya melakukan kesalahan yang mungkin membuat kalian tersinggung ….” bu Ila berkata sambil berurai air mata.


Ariq menggeleng pelan, “Abbas orang baik. Allah lebih sayang padanya. Dia telah kembali kepada Sang pemilik. Semoga ibu sabar menjalani semua ini.”


Saat mengucapkan hal itu, hati Ariq turut merasakan kepedihan yang mendalam. Ia paling tidak bisa melihat saudaranya terluka, ia pun turut berduka.


Khaira melepaskan pelukannya dari Hasya. Ia duduk dikelilingi saudara dan iparnya.  Hatinya merasa tersentuh melihat semua saudaranya duduk bersama menguatkannya.


“Oma nggak bisa datang. Tapi beliau menyampaikan turut berbela sungkawa,” Ariq memandang bu Ila yang kini tampak lebih tegar, karena ia tidak merasa sendirian, ada menantunya serta saudaranya yang lain yang turut mendukungnya.


“Kita harus merelakan kepergian Abbas. Kita semua menyayanginya. Tapi Allah lebih sayang padanya.” Fatih akhirnya berkata di saat semuanya terhanyut dalam kenangan bersama Abbas, “Almarhum  akan merasa tenang di sana jika kita bisa melepasnya dengan ikhlas.”

__ADS_1


Khaira tercenung mendengar ucapan Fatih. Ia sadar apa yang diucapkan Fatih sangat benar. Tapi mampukah ia merelakannya dengan ikhlas? Ia akan mengukir nama Abbas di lubuk hatinya yang terdalam dan tidak akan menggantikannya dengan siapa pun. Abbaslah lelaki satu-satunya yang namanya akan selalu tersimpan di hati dan akan selalu abadi.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat akhirnya Ariq beserta rombongan pamit untuk pulang. Ia meminta Junior tetap menemani Khaira di rumah bu Ila. Ia tidak ingin membiarkan Khaira hanya tinggal berdua dengan bu Ila di rumah sederhana itu.


__ADS_2