Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 109


__ADS_3

Dengan perasaan berdebar, Faiq dan Hanif  menunggu Hani di depan ruang operasi. Sudah satu jam  mereka menunggu dr. Arief  Prakoso, Sp. M  yang bertanggung jawab atas operasi Hani.


Operasi mulai dilakukan jam 7 pagi. Tepat jam 8 lampu di depan ruangan operasi telah padam, yang mengindikasikan operasi telah selesai dilaksanakan. Tak lama kemudian dr. Arief keluar diikuti  asistennya.


Faiq menunggu dengan perasaan berdebar,  Hanif masih menerima telpon dari Wulan yang menanyakan kondisi Hani. Ia langsung berdiri begitu kemunculan dr. Arief.


“Bagaimana keadaan istri saya dok?”


Dr. Arief tersenyum ramah, “Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Enam hari ke depan, perbannya bisa kita lepas. Tetapi masih dalam masa observasi, kami tetap akan memantau nyonya Hani.”


“Terima kasih, dok.” Faiq merasa agak tenang mendengar jawaban dr. Arief.


“Lusa nyonya Hani boleh  pulang ke rumah.”


Mendengar ucapan dr. Arief, Faiq merasa senang. Ia sudah merindukan suasana rumah serta celotehan anak-anak yang selalu membuat keceriaan di rumah. Ia melihat beberapa perawat mendorong brankar Hani untuk kembali ke dalam ruang inap mereka.


“Mas Adi telah banyak berkorban untuk keluarga mas Faiq dan mbak Hani.” Hanif berkata dengan lugas, “Jangan pernah menyia-nyiakan pengorbanan mas Adi.”


“Aku tau, Nif. Setiap teringat bang Tama, aku merasa sedih.” Ujar Faiq lirih.


Ia langsung memeluk Hanif dengan erat. Teringat pengorbanan yang telah dilakukan Adi membuat matanya berkabut menahan haru. PR ke depannya tinggal memberitahu Hani dan anak-anak tentang kepergian Adi yang telah menghadap ilahi.


“Nak Faiq …. “ suara perempuan terdengar lemah di telinganya.


Faiq melepaskan pelukannya dari Hanif. Ia terkejut melihat Dewi yang berjalan dengan lesu ke arahnya. Ia sudah bersikap waspada untuk menghadapi Dewi yang termasuk dalam kelompok yang harus dijauhkan dari keluarganya.


“Tolong temui Hesti. Ia ingin berbicara padamu …. “ ujar Dewi dengan wajah memelas.

__ADS_1


Wajah Faiq menegang. Ia menatap Dewi dengan kesal, “Maafkan saya bu. Sampai kapan pun saya tidak akan menemui Hesti. Istri saya lebih membutuhkan saya dibanding siapa pun.”


Tanpa menoleh ke belakang  Faiq berjalan meninggalkan Dewi yang menatap kepergiannya dengan nanar.


Hanif menghampiri Dewi dan berdiri dengan sikap dingin. Ia merasa kesal dengan keluarga Hesti yang selalu mengusik ketenangan Hani dan Faiq.


“Saya minta ibu jangan mengganggu keluarga mas Faiq lagi. Sudah berkali-kali kalian mencoba merusak keluarga mereka. Saya sebagai saudara mbak Hani akan menuntut ibu sekeluarga jika kalian terus-terusan merongrong keluarga mas Faiq. Dan  sebagai pengacara tuan Aditama akan menuntut tabrakan maut yang disengaja putri anda nona Hesti Handayani hingga menyebabkan tuan Aditama meninggal dunia.”


Sekujur tubuh Dewi langsung menggigil mendengar ancaman Hanif. Dengan nafas memburu ia berjalan dengan cepat. Sebenarnya saat Hesti meminta ia menghubungi Faiq, Dewi sudah merasa keberatan mengabulkan keinginan putrinya. Tapi melihat Hesti yang tak memiliki semangat dengan kondisi tubuhnya yang semakin kritis dengan nafasnya yang mulai melemah membuat Dewi tidak tega.


Malam itu Rudi dan Hanif duduk dengan tegang di depan kamar inap Hani. Faiq masih duduk di samping tempat tidur Hani yang  terlelap dengan tenang karena masih dibawah pengaruh obat. Ia membelai pipi mulus istrinya dengan berbagai perasaan. Ia masih tak bisa membayangkan kalau saja Adi tidak menabrakkan mobilnya tentu ceritanya akan berbeda. Air mata tak terasa keluar dan Faiq tak bisa menahannya  mengingat pengorbanan  Adi yang begitu besar untuk keluarga mereka.


Dengan pelan Faiq mengecup kening istrinya. Kedua mata Hani masih diperban. Setelah menaikkan letak selimut Hani, Faiq segera melangkah ke luar kamar menemui Rudi dan Hanif yang sudah menunggunya satu jam yang lalu.


“Aku benar-benar tidak membayangkan Hesti nekat menabrakkan dirinya menggunakan mobil pemberianmu bos.”  Rudi langsung bersuara begitu Faiq menghenyakkan tubuhnya di antara mereka.


Keheningan terjadi sesaat, hanya pikiran  mereka yang masing-masing bekerja mengingat begitu banyaknya kejadian yang di luar perkiraan tapi membuat masalah besar yang harus diselesaikan.


“Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Hesti. Kenapa dia senekat itu?” Faiq berguman seolah pada dirinya sendiri, “Selama ini aku tidak pernah memberikan harapan apa pun padanya.”


“Itu menurutmu, bos.” Rudi menyela cepat.


“Dengan mas Faiq yang membantu mereka memberi peluang pada Hesti, hingga ia salah menafsirkan pertolongan mas pada mereka.” Hanif kesal dengan Faiq yang tidak tegas dalam bertindak, yang akhirnya menyusahkan banyak orang.


“Aku benar-benar tidak menyangka, ku pikir setelah tiga tahun tidak bertemu akan membuat perasaan Hesti berubah.” Faiq menatap kejauhan.


“Dia mungkin punya gangguan mental karena terobsesi dengan bos.” Jawab Rudi santai, “Saat kita masih ngantor bersama Hesti sudah menunjukkan ketertarikan pada bos.”

__ADS_1


Faiq menatap Rudi dengan kening berkerut. Ia tidak pernah mengamati perilaku rekan sekantornya. Jika sudah di kantor apalagi berada di dalam ruangan, ia lebih fokus melahap buku referensi untuk menambah wawasannya sehingga menjadi ASN yang profesional sesuai dengan sumpah jabatan yang ia emban.


“Apa bos tidak menyadari hal itu?” tembak Rudi seketika.


Faiq menggelengkan kepala seketika, “Aku jatuh cinta pertama kali saat melihat seorang perempuan muda yang tampak rapuh dengan mata bening sayu ….”


“Itu sih nggak usah diomongin lagi, udah tau juga.” Potong Rudi cepat.


“Apa tindakan mas Faiq terhadap Hesti, apa perlu mengajukan tuntutan?” Hanif langsung mencecarnya tanpa memberikan kesempatan Faiq untuk berpikir.


“Semuanya ku serahkan padamu. Aku tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga mereka. Kamu bisa berkolaborasi dengan Rizwar untuk mengajukan tuntutan.” Faiq berkata dengan pelan, “Aku hanya ingin hidup tenang dengan Rara dan anak-anak.”


Rudi hanya terdiam mendengar percakapan keduanya. Ia paham dengan sikap Faiq. Mungkin sebagian beranggapan bahwa Faiq terlalu lemah sehingga mudah kecolongan dengan perilaku Hesti dan Dewi yang terus memanfaatkan kelemahan Faiq.


Tapi disebalik itu, ia tau bahwa Faiq sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Walau tak dapat dipungkiri kebaikannya yang menganggap setiap orang sama membuat ia berulangkali membuat keputusan yang salah hingga merugikan dirinya serta keluarganya.


Ketiganya terus berbicara membahas kepergian Adi serta pemindahan aset-aset atas nama putra-putri yang ia tinggalkan.


Rudi menyimak pembicaraan keduanya tanpa memberikan komentar, tapi ia akan menjawab seperlunya jika Hanif maupun Faiq meminta pendapatnya.


“Baiklah, hari sudah larut. Kalian bisa pulang.” Faiq melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Rudi dan Hanif berjalan beriringan meninggalkan Faiq yang langsung masuk ke dalam ruang inap Hani.


Faiq membaringkan tubuhnya di bed samping istrinya. Ia memiringkan tubuhnya dan langsung melingkarkan lengannya ke tubuh ramping Hani yang lelap dalam tidurnya. Ia membelai rambut Hani yang semakin panjang.


Ia berharap tidak akan terjadi masalah lagi dalam kehidupan rumah tangga mereka di masa yang akan datang, ia berjanji akan membesarkan anak-anak mereka tanpa  membeda-bedakan satu sama lainnya, karena berkat anak-anak lah sekarang ia memiliki keluarga besar, yang akan selalu ia jaga selama Yang Kuasa masih memberinya umur.

__ADS_1


__ADS_2