
Di sinilah Faiq, Hani dan ketiga anaknya. Setelah insiden kedatangan Bimo di pagi hari dengan drama yang terjadi, akhirnya Faiq menelpon Rudi untuk menceritakan bahwa dirinya tidak datang ke kantor karena akan membawa keluarganya mengunjungi makam Tama.
Dengan khusu’ Faiq memimpin do’a bagi arwah Tama yang kini telah menyatu di dalam tanah. Ia berikrar di dalam hati akan berusaha menjaga amanat yang telah diserahkan Tama padanya, yaitu menjaga Hani dan anak-anaknya serta memberikan kebahagiaan pada mereka.
Kembali Faiq tak mampu menahan setitik air mata yang terjun bebas, saat membayangkan perkataan terakhir yang Tama ucapkan tentang perasaan mendalam yang ia miliki terhadap Hani. Faiq merengkuh pundak Hani yang masih memanjatkan do’a untuk mantan suami yang sempat singgah di hatinya.
Tatapannya beralih pada Ariq yang tampak terpukul atas kepergian sang ayah. Ali juga meneteskan air mata saat mereka telah sampai di kuburan Aditama. Bahkan Hasya yang biasanya ceriwis juga turut meneteskan air mata saat Faiq menceritakan kepergian ayah mereka.
Setelah berkunjung ke makam Aditama, Faiq membawa keluarganya mengunjungi kediaman Linda, yang tampak lebih ramai dari biasa.
Linda merasa senang karena dikunjungi cucu-cucunya. Ia memeluk dan mencium cucunya satu demi satu. Hani memeluk mantan mertuanya dengan erat. Keduanya berusaha saling menguatkan.
Linda menceritakan bahwa semenjak kepergian Tama, ia mengajak ponakan jauhnya tinggal bersama. Keduanya adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai ASN di salah satu instansi pemerintahan.
Hani merasa terharu saat memeluk mantan mertuanya yang kini tampak sudah tenang, dan mulai menerima kenyataan bahwa Adi telah pergi untuk selama-lamanya.
“Semoga tante selalu sehat. Anak-anak masih membutuhkan eyangnya,” ujar Hani tulus saat membalas pelukan Linda.
“Mama juga bersyukur memiliki kamu dan anak-anak. Marisa juga selalu mendukung mama. Sekarang pun mama sudah tidak kesepian lagi. Ada Gusti dan Ira ponakan mama dari Surabaya yang tinggal di sini menemani,” Linda tersenyum dengan perasaan bahagia, “Apalagi kalau kamu dan anak-anak sering berkunjung, mama lebih senang.”
“Akan kami usahakan tante.” Faiq berkata sambil mengusap kepala Hasya yang duduk di pangkuannya.
Sudah seminggu persiapan ulang tahun perusahaan Darmawan. Malam ini akan diadakan perayaan sekaligus perpindahan pengelolaan hotel secara syariah yang akan dilaksanakan di hotel Horisson.
Faiq masih menandatangani berkas-berkas di dalam ruangannya. Handoko duduk dengan tenang menunggu di hadapannya.
“Rekanan kita sangat semangat bekerja. Aku kagum padanya,” ujar Handoko santai.
“Aku mendukung kalau kamu ingin mendekatinya. Dia masih jomblo,” sahut Faiq santai tanpa beban.
“Tapi tatapannya terhadapmu lain bro ….”
Faiq tersenyum tipis, “Aku sedang berjuang untuk keluargaku. Kenangan almarhum bang Tama sangat kuat mengikat. Aku merasa selalu diawasi dalam setiap langkahku. Aku harus menggenggam dengan erat agar tidak terlepas apa yang sudah diwasiatkan almarhum.”
“Apa menurutmu aku pantas memperjuangkannya?” Handoko bertanya sebagai seorang lelaki terhadap Faiq teman, sekaligus bosnya.
“Yang penting jangan sampai ia berada di wilayahku. Selanjutnya terserah kamu.”
Handoko merasa puas mendengar jawaban Faiq. Ia segera merapikan berkas yang telah ditandatangani Faiq, sambil menganggukkan kepala ia tersenyum dan membawa berkas kembali ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Tepat jam satu siang, selesai menjemput Ariq dan Ali beserta Hasya dari sekolah, Hani di dampingi Faiq menuju perusahaan almarhum mantan suaminya yang kini telah menjadi milik anak-anaknya.
Semua mata tertuju pada mereka begitu memasuki lobi perusahaan multi nasional tersebut. Johan sudah menyambut dengan sigap. Sebelumnya Hani telah menghubungi Johan bahwa ia dan ketiga anaknya akan datang memenuhi permintaan para direksi.
“Mari saya antar ke ruang pimpinan,” Johan berkata dengan sopan.
Faiq mengaitkan jemarinya di tangan Hani dengan erat, sementara ketiga putra-putrinya berjalan di depan mereka mengikuti Johan yang sibuk meladeni pertanyaan Hasya yang ceriwis. Setiap pasang mata yang dilewati memandang penuh tanda tanya saat mereka mulai memasuki lift.
Di depan sebuah ruangan megah yang pintunya mengkilap kokoh Johan membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
“Di sinilah ruangan bos selama ini,” ujar Johan sambil berjalan membawa mereka mengelilingi ruangan yang sangat luas dan mengagumkan.
Faiq merasa kagum dengan ruangan kerja yang ia masuki sekarang, benar-benar menunjukkan kualitas premium. Pilihan Tama dalam desain interior ruangan memang menunjukkan kelasnya sebagai pengusaha nomor satu.
Matanya terpaku pada foto yang terpajang besar menjadi hiasan di belakang sopa tamu yang berada di dalam ruangan yang sama. Faiq teringat foto tersebut diambil pada saat aqiqahan si kembar Fatih dan Khaira. Di dalam foto ada Tama dan Linda serta ketiga buah hatinya. Wajah Tama sangat tampan. Senyum yang menghias di bibirnya sangat tulus dengan Hasya yang duduk manis dalam pangkuannya.
“Itu ada gambarku sama ayah.” Hasya berseru dengan gembira saat melihat foto yang kini jadi pusat perhatian mereka semua.
Hani tertegun melihat foto tersebut. Ia dapat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Adi dari mata hitamnya yang tampak berbinar.
“Yang …. “
“Bang Tama seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Aku mengaguminya, dan akan memikul amanah yang telah ia berikan,” ujar Faiq lirih di telinganya.
“Maafkan aku sudah membuat kalian lama menunggu.” Suara bariton mengejutkan mereka semua hingga mengalihkan pandangan pada asal suara.
“Selamat siang tuan Bimo,” ujar Faiq sambil mengulurkan tangannya begitu Bimo berdiri di hadapannya.
Bimo menyambut salam Faiq dengan wajahnya yang tetap dingin.
“Anak-anak, salim dulu sama om Bimo ya …. “ Hani berkata lembut pada ketiganya.
Hati Bimo merasa tersentuh melihat ketiga anak almarhum Tama yang menyalaminya sambil mencium tangan.
“Sekarang nyonya Hani dan ketiga anaknya sudah ditunggu di ruang pertemuan.” Johan berkata pelan melihat kesunyian yang terjadi di dalam ruangan.
Hani dan ketiga anaknya mengikuti langkah Johan memasuki ruang pertemuan yang lebih luas dari ruang kerja utama. Di sana ia melihat Rusdi pengacara perusahaan bersama Hanif berada di dalam ruangan yang sama dengan beberapa orang yang memandang mereka penasaran.
Dengan cepat Rusdi segera memperkenalkan Hani dan ketiga anaknya kepada segenap direksi yang selama ini bekerja bersama Adi untuk mewujudkan perusahaan menjadi yang terbaik di negeri ini.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruangan Faiq dan Bimo yang kini berhadapan di sofa saling menatap berusaha menguji kekuatan masing-masing. Akhirnya Bimo menghela nafas sambil mengalihkan tatapannya pada pigura besar yang terpajang di dinding.
“Aku tidak menyangka kehidupan Tama berakhir dengan tragis,” ujar Bimo seolah bergumam sendiri tapi cukup terdengar di telinga Faiq.
“Semua orang menjalani takdirnya masing-masing,” jawab Faiq diplomatis membuat Bimo menatapnya tajam.
“Aku heran, hanya demi seorang perempuan yang berpenampilan tidak menarik membuatnya menjadi lelaki bodoh!” perkataan Bimo lebih seperti umpatan.
Faiq merasa geram mendengarnya. Ia yakin bahwa Bimo membicarakan Hani yang tentu saja membuat ia tersinggung.
“Saya tidak terima anda merendahkan istri saya,” rutuk Faiq kesal.
“Hm…” Bimo menatap Faiq seolah meremehkan, “Hidup berumah tangga hanya merepotkan. Perhatian tidak akan fokus. Itu sungguh merepotkan. Aku heran dengan kalian yang sangat berkomitmen dalam sebuah rumah tangga ….”
Faiq memandang Bimo datar. Sedikit banyak ia mengetahui latar belakang kehidupan Bimo dari Hanif yang sudah mengikuti Tama selama 2 tahun. Bagaimana petualangan Bimo dalam menghabiskan hartanya hingga hutang budinya pada almarhum Tama.
“Itulah seninya berumah tangga. Masalah pasti ada, tinggal bagaimana kita menjalaninya. Seperti kita menjalankan perusahaan. Indikator keberhasilan seorang pemimpin dilihat bagaimana ia memanajemen rumah tangganya.”
Bimo tertawa sinis, “Itu ungkapan yang sudah tidak relevan. Banyak ceo yang berhasil memimpin perusahaan walau tanpa terikat dengan suatu hubungan yang kompleks.”
Faiq menggelengkan kepala mendengar sanggahan Bimo. Ia yakin pemikiran Bimo terlalu berkiblat dengan barat, sehingga tidak ada nilai religi yang tercermin dari sikap dan perbuatannya, dan Faiq tidak ingin melanjutkan perdebatan yang hanya membuatnya membuang waktu.
Ketukan di pintu memangkas kesunyian yang terjadi selama beberapa menit diantara keduanya. Hani dan Johan berjalan berdampingan memasuki ruangan.
“Kemana anak-anak?” Faiq bertanya dengan perasaan heran karena melihat hanya ada Hani dan Johan.
“Hanif yang mengantar mereka pulang. Kebetulan ia sudah lama tidak mampir ke rumah,” ujar Hani sambil menyunggingkan senyum pada Faiq.
“Apa urusannya sudah selesai?” tanya Faiq penuh perhatian.
Hani menganggukkan kepala pelan, “Kita bisa pulang sekarang. Kasihan sama Junior sudah lewat jam tidurnya.”
Bimo melihat interaksi pasangan di depannya sambil tersenyum meremehkan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia bangkit dari sopa.
“Terima kasih tuan Bimo atas bantuan anda.” Hani berkata pelan membuat Bimo menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Hani dan Faiq, “Kami permisi pulang. Jika ada hal yang urgent, saya akan siap untuk datang ke perusahaan.”
Bimo menghenyakkan tubuhnya di kursi kebesaran yang kini menjadi tanggung jawabnya untuk mengelola perusahaan. Ia kembali menenggelamkan diri di dalam berkas-berkas yang harus ia tandatangani dan beberapa berkas perpanjangan kontrak dengan beberapa perusahaan lain yang baru sempat ia pelajari.
__ADS_1