Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 277 S2 (Masihkah Ada Harapan?)


__ADS_3

Ivan merasakan kakinya tidak mampu digerakkan saat matanya menatap tiga sosok yang terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia terpaku tak percaya.


“Van, Ivan …. “ Ali merangkul bahunya, “Kita harus menangani secepatnya. Fatih sudah menghubungi pihak berwajib. Si penabrak sudah diamankan pihak kepolisian.”


“Mama …. “ Ivan mengangkat tubuh Laras yang bersimbah darah ke atas brankar yang telah disediakan pihak rumah sakit, “Tolong tangani mama saya secepatnya ….”


Kini ia beralih pada Khaira yang juga tak kalah memprihatinkan. Ivan tak mampu berkata apa-apa melihat Khaira yang tidak sadarkan diri diangkat Ali. Tatapannya beralih pada  Fajar yang mulai menangis.


“Bunda …. “ suara Fajar menyadarkan Ivan.


“Fajar sama ayah ya …. “ dengan cepat  ia meraih Fajar dan menggendongnya mengikuti brankar yang membawa Khaira dan Laras.


Pikiran Ivan benar-benar kalut. Orang-orang yang ia cintai kini berada dalam keadaan kritis. Ia mengusar rambutnya di depan ruang IGD.


“Apa yang terjadi?” Ariq yang baru datang bersama Valdo langsung menghubungi keduanya yang masih menunggu di depan ruang IGD.


Tak lama Fatih muncul bersama dengan seorang petugas  kepolisian. Wajah Fatih tampak tegang. Sorot kemarahan tergambar di wajahnya. Ia langsung menarik kerah kaos yang dipakai Ivan.


“Apa yang kau lakukan?” Ariq menahan tangan Fatih yang hampir mencapai wajah Ivan.


“Aku tidak menyangka  ja****mu di masa lalu yang telah melakukan perbuatan keji ini\,” suara Fatih menggema penuh kemarahan.


“Maaf   tuan Alex, anda mengenal perempuan ini?”  polisi yang bernama Bahri menunjukkan tanda pengenal yang ia temukan di TKP.


Ivan terpaku saat melihat foto Claudia yang berada di tangan polisi tersebut. Ia menganggukkan kepala dengan lemah.


“Apa ku bilang!  Bersamamu selalu mendatangkan masalah buat Rara,” Fatih menatap Ivan dengan kesal.


“Anda bisa ikut kami ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah ini.” Bahri menatap Ivan dengan serius.


“Saya tidak bisa meninggalkan rumah sakit ini,” Ivan berkata dengan lemah, “Saya minta berikan hukuman yang seberat-beratnya.”


“Aku yang akan ke kantor Polisi,” Ali bangkit dari kursi dan menghampiri Bahri, “Aku yang akan membuat tuntutan untuk penabrak adik dan ponakanku.”


Seorang  dokter yang bername tag  Rustam keluar dari ruang observasi. Ia berjalan dengan wajah tegang.


“Siapa kerabat dari nyonya Laras?” dr. Rustam memandang ketiganya dengan seksama.


“Saya putranya dokter,” Ivan menjawab dengan cepat.

__ADS_1


Dokter Rustam meminta Ivan untuk menandatangi surat persetujuan untuk dilakukan tindakan medis karena kondisi Laras yang sangat mengkhawatirkan.


Setelah menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi pada mamanya, Ivan melangkah memasuki ruang inap Khaira  yang sengaja disatukan dalam satu kamar.


Kesedihan menghinggapi Ivan saat melihat Khaira masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia memandang wajah tirus yang kini memejamkan mata. Air matanya mengalir tak mampu ia bendung. Tampak perban menutupi dahi Khaira yang memar karena benturan keras pada aspal. Lengannya dipasang perban karena terdapat memar dan cidera.


“Maafkan aku tidak bisa menjaga kalian …. “ gumannya lirih.


Ia menyesal karena tidak mendampingi Khaira dan mamanya hingga sampai ke parkiran. Kalau ia berada di sana, mungkin semua peristiwa ini tidak terjadi. Tatapannya beralih pada Fajar yang mulai tenang karena  Ira sudah berada di sana menggendongnya.


"Mas Fajar tenang ya, bunda hanya bobok .... " Ira membujuk Fajar yang masih  menangis.


“Terima kasih mbak,” Ivan berkata dengan nada lemah.


Ia membelai kepala Fajar yang masih terdengar isaknya karena masih shock atas kejadian yang menimpa ia dan bundanya.


“Yang sabar ya. Semua ini  ujian dari Allah …. “  Ira berkata sambil mengulas senyum berusaha menguatkan Ivan yang kini terpuruk dengan kondisi yang membuatnya seperti orang kehilangan pegangan, “Fajar dan Embun akan baik-baik saja bersama kami. Kamu fokus saja sama tante Laras.”


Ali tiba di rumah sakit jam lima sore bersama Rheina. Ia membawakan makanan lengkap serta pakaian ganti untuk Ivan yang sudah tidak menyadari penampilannya lagi. Ia  tau Ivan serta saudaranya yang lain belum sempat menikmati makan siang karena kecelakaan yang terjadi menimpa Laras, Khaira dan Fajar yang membuat mereka semua terkejut.


“Aku sudah mengajukan tuntutan untuknya. Dia juga akan dideportasi dan diblacklist tidak boleh mengunjungi negara kita untuk selamanya,” ujar Ali sambil  menyerahkan berkas tuntutan di atas meja di hadapan Ivan dan Ariq.


“Tapi …. “ Ali menghentikan ucapannya dan memandang Ivan.


“Kenapa mas?” Fatih penasaran karena Ali menggantung ucapannya.


“Kondisinya juga dalam keadaan tidak baik. Benturan keras membuatnya gegar otak dan kakinya mengalami cidera fatal yang bisa berakibat lumpuh.”


“Syukurin …. “ suara Hasya menginterupsi keheningan ruangan mendengarkan ucapan Ali yang menceritakan kondisi terkini Claudia.


Ia baru tiba  dari tugasnya di rumah sakit ketika mendengar kecelakaan yang menimpa Khaira dan Fajar.  Untung saja ia telah menyelesaikan room visit, sehingga bisa  izin meninggalkan tugas.


“Yang …. “ Valdo cepat merangkulnya yang sudah merangsek maju hendak memukul Ivan.


“Kenapa ade harus menghadapi musibah bertubi-tubi seperti ini semenjak berhubungan denganmu?” kesal Hasya masih tidak terima dengan kecelakaan yang menimpa Khaira.


“Semua ini bukan hanya kesalahan Ivan, kami juga tidak waspada,” Ali menjawab tuduhan Khaira karena saat itu ia dan Fatih berada di tempat kejadian perkara.


“Kalau dia tidak mempunyai masa lalu dengan perempuan itu, tidak mungkin ada kejadian seperti ini.” Hasya masih keukeuh dengan ucapannya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Hasya membuat  Ivan semakin berkecil hati untuk mengharapkan berkumpul kembali bersama Khaira. Ia mulai menerima takdir, mungkin memang ia harus mengikhlaskan Khaira dan tidak mengharapkannya lagi untuk bersama.


“Van, ini pakaian gantimu.” Ali mengulurkan paper bag yang berada di tangannya pada Ivan. Ia merasa iba atas kesedihan yang menimpa mantan adik iparnya itu. Ia pun turut membenarkan apa yang dikatakan Hasya, dan ia tidak mampu berbuat apa pun dengan semua yang telah terjadi.


Ivan menyambut paper bag dari Ali dan segera membawanya ke kamar mandi ruang inap Khaira. Ia benar-benar tak menyangka mereka masih harus bertahan di rumah sakit karena kecelakaan yang menimpa Khaira dan mamanya akibat dendam pribadi Claudia terhadap Khaira.


“Ade …. “  tepukan lembut di pipinya membuat Khaira membuka mata secara perlahan.


Ia memandang satu persatu saudara dan iparnya yang berada di dalam ruangan yang tampak putih bersih. Tatapan mereka penuh kekhawatiran.  Ivan menatapnya dengan lekat.


“Fa … jar …. “ Khaira menyebut namanya putranya dengan lemah, karena mulutnya sulit untuk membuka.


Jarum infus yang berada di tangannya membuatnya sulit untuk bergerak, apalagi dengan kondisi luka di tangan dan kakinya yang ia rasakan nyeri dan mulai terasa perihnya.


Hasya mengkhawatirkan  keadaan Khaira.  Ia melihat  jidat  Khaira yang kini terpasang perban.  Lengannya dan kakinya mengalami memar dan diperban sehingga Khaira tidak bisa bergerak dengan leluasa.


“Fajar nggak pa-pa. Kamu gak usah berpikir macam-macam,”  Hasya berkata dengan pelan, “Apakah penglihatanmu baik-baik saja?”


“Bunda …. “ terdengar rengekan Fajar.


Ira mendekatkan Fajar pada Khaira. Dengan mata berkaca-kaca, Khaira menatap lekat Fajar yang mulai diam karena sudah berada di sisinya.


“Sayang bunda nggak boleh nangis ya ….” Khaira berkata dengan lirih.


“Seharian ini Fajar belum makan,” Rheina berusaha membujuk Fajar untuk ikut bersamanya.


“Sini sama ayah saja,” Ivan mendekati Fajar dan mengambil piring yang berada di tangan Rheina, “Ma’am sama ayah ya …. “


Fajar langsung membuka mulut begitu sendok terulur dari tangan Ivan. Semua terdiam melihat  keakraban yang terjadi antara  Fajar dan ayahnya.


“Bunda makan juga ya …. “  Ivan berkata dengan lembut saat matanya bertemu dan menatap Khaira dengan lekat.


Khaira menggelengkan kepala. Kepalanya terasa berat dan matanya masih berkunang-kunang saat memandang.  Tapi ia merasa tenang karena kondisi Fajar baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


“Fajar akan kami bawa pulang ke rumah,” ujar  Fatih pelan. Ia memandang Fajar yang baru selesai makan dan menghabiskan semua yang diambilkan Rheina, “Dia harus banyak beristirahat, tidak boleh capek. Untung saja Embun tidak rewel bermain bersama Khansa di rumah.”


“Iya mas …. “ Khaira berkata  dengan pasrah.


Ariq sudah mengingatkan agar tidak menceritakan apa pun pada Khaira tentang kejadian sebenarnya. Ia tidak ingin membebani pikiran Khaira yang kondisinya masih belum stabil. Apalagi dokter mengatakan bahwa ia harus banyak beristirahat dan jangan dibebani pemikiran yang berat.

__ADS_1


__ADS_2