
Keluar dari kamar mandi Ivan langsung berganti pakaian kasual yang sudah disiapkan Roni untuk dibawanya pulang ke rumah oma Marisa. Ia menatap sekeliling kamar sangat luas. Ivan mengagumi interior kamar yang kini ia dan Khaira tempati. Walau pun baru kali ini ia menginap di rumah ini, tapi Ivan tau bahwa perabotan yang berada di kamarnya serba deluxe, dan harganya bukan kaleng-kaleng.
Setelah mengetahui silsilah keluarga besar Khaira, Ivan benar-benar merasa kagum dengan keluarga istrinya tersebut. Mereka mampu menyembunyikan identitas diri, sehingga tidak mudah untuk melacak anggota keluarga yang lain, dan mereka tetap membaur dalam masyarakat tanpa memandang miskin atau kaya, malahan mereka selalu menderma untuk kaum yang tidak mampu.
“Kamu sudah makan malam?” Ariq memandang Ivan yang kini sudah duduk bersama mereka di ruang keluarga.
“Kebetulan sudah bersama klien sore tadi,” jawab Ivan cepat.
“Bagaimana rencanamu selanjutnya?” tanpa basa-basi Ariq langsung menuju topik pembicaraan yang akan mereka sampaikan pada Ivan.
“Saya sudah menyiapkan rumah di Gading Serpong untuk tempat tinggal bersama Rara. Tiga hari lagi sudah bisa ditempati.”
Ariq berpikir sejenak. Ia tau perumahan di sana. Walau agak jauh dengan tempat tinggal mereka sekarang. Tetapi ia tidak masalah, yang penting Ivan bisa bertanggung jawab dan memberikan kehidupan yang layak bagi adiknya.
“Van, ada beberapa hal yang ingin oma sampaikan padamu,” oma Marisa mulai mengatur nafas, banyak hal yang ingin ia sampaikan pada cucu menantunya ini.
“Ya Oma …. “
Marisa memandang Ivan dengan lekat. Dari pandangannya secara pribadi ia tau Ivan lelaki yang baik, bertanggung jawab. Hanya pergaulan luar yang membuatnya telah salah langkah, dan membuatnya jauh dari nilai-nilai religius. Tapi Marisa tidak menyesali yang telah terjadi, apalagi ia tau, bahwa Laras mama Ivan adalah teman baik menantunya yang telah tiada. Jadi ia tidak mengkhawatirkan masa depan Khaira.
“Sekarang kamu memiliki tanggung jawab yang besar. Sekarang hidup bukan hanya tentang dirimu, ada istri bahkan anak yang kini terus tumbuh di rahim istrimu.”
Ivan menatap oma Marisa dengan takjim. Selama ini tidak pernah ada seorang pun yang menasehati dan menyampaikan pesan moral yang sangat berarti untuk bekal kehidupan di masa yang akan datang. Ia haus akan sentuhan rohani.
“Rara adalah cucu kesayanganku, seluruh keluarga menyayangi dan melindunginya seperti kristal yang rapuh. Dia putri kesayangan almarhum anakku. Siapa pun tidak boleh menyakitinya….” Mata oma Marisa berkaca-kaca saat mengucapkan itu.
Bayangan almarhum Faiq yang sangat melindungi Khaira di masa kecil membuatnya meneteskan air mata.
Hasya menepuk pundak oma Marisa dengan lembut. Ia pun turut merasakan apa yang dirasakan oma Marisa. Ia merindukan sosok papanya yang sangat melindungi mereka di masa kecil hingga mereka tumbuh remaja bersama.
“Rara sangat awam dalam berhubungan dengan seorang lelaki. Abbaslah orang pertama yang dekat dengannya. Hubungan keduanya pun sudah terjalin 7 tahun lebih sejak Khaira mulai kuliah hingga ia selesai dan mulai mengikuti oma mengelola Kara Jewellery ….”
Kembali Marisa menghela nafas membuang segala kesedihan yang sempat muncul mengingat putra tunggalnya yang telah dipanggil Yang Kuasa mendahului mereka.
“Usia Rara kini 26 tahun. Oma tau, kamu lah laki-laki pertama yang menyentuhnya … dan mungkin ini memang sudah takdir kalian untuk berjodoh … “
__ADS_1
Tidak ada yang berani memotong pembicaraan oma. Valdo membawa Babby A yang mulai rewel. Ia membiarkan istrinya mendampingi oma Marisa yang masih memberi wejangan pada cucu mantu barunya, seperti ia juga mengalami seperti ini.
Ariq dan Ira tidak beranjak dari tempat duduknya. Malam ini ia dan Ira sudah sepakat untuk mendampingi oma Marisa berbicara dengan Ivan. Putri mereka sudah dibawa babby sitternya sejak makan malam telah selesai. Marisa kembali memandang Ivan dengan lekat.
“Kamu sekarang adalah kepala rumah tangga, pemimpin dan seorang imam bagi istrimu. Usahakan selalu salat berjamaah bersama istri dan anak-anak kalian kelak. Tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya di dunia tetapi di akhirat kelak.”
Ivan tercenung mendengarkan perkataan oma Marisa. Saat pulang dari kantor pun ia sempat menghubungi pak Marthak, dan ia sangat bersyukur beliau bersedia membimbingnya untuk menekuni agama yang sempat hilang dari kehidupannya. Ivan yakin, jika ia memperbaiki diri dan terus belajar, akan mudah baginya untuk menyentuh hati istrinya.
“Mungkin saat ini Rara masih belum bisa membuka hati padamu …. “ suara oma terdengar pelan, “Tapi yakinlah dan memohon pada Allah, karena Allah lah Maha pembolak-balik hati … Sekarang Rara masih mengingat Abbas dan menyimpannya dengan kuat di hatinya, tapi mungkin besok dia mulai menerimamu … Apalagi kamu mempunyai hak atas dirinya … Kamu suaminya … Perlakukan dia dengan sebaik-baiknya ….”
Ruangan hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Ivan memandang satu demi satu saudara Khaira yang berada di hadapannya. Ia dapat melihat kekompakan dan rasa kasih sayang yang kuat satu sama lain pada keluarga istrinya.
Ivan merasa bersyukur, karena keluarga besar Khaira menerima dirinya dengan segala kekurangan yang ada. Ia berjanji dalam hati akan menjaga kepercayaan yang telah diberikan padanya, terutama untuk menjaga dan membahagiakan Khaira mulai saat ini, esok dan selamanya.
“Dan … “ suara oma Marisa mulai terdengar sendu, “Jika suatu saat kamu mulai merasa tidak nyaman atau kamu merasa bosan dengan Rara, jangan sampai kamu menduakannya… Antarkan ia kembali pulang dengan baik-baik, sebagaimana engkau memintanya dengan baik ….”
Semua terkejut mendengar perkataan oma Marisa yang sangat di luar dugaan. Padahal baru saja terjadi pernikahan dan pesta meriah, kenapa oma malah membicarakan tentang perpisahan?
“Oma …. “ Ariq memandang oma Marisa dengan raut tegang.
“Nak … zaman terus berubah … begitupun hati dan perasaan manusia. Allah Maha pembolak-balik hati… Siapa pun ingin menikah sekali seumur hidup, tetapi kita tidak tau apa yang bakal kita hadapi ke depannya.”
“Saya paham oma,” jawab Ivan serius, “Saya akan terus berusaha untuk membuat Rara menerima saya. Saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi saya yakin, Rara lah perempuan satu-satunya yang akan menjadi istri saya selamanya.”
Percakapan terus berlanjut, hingga akhirnya oma sudah merasa lelah. Bu Ila segera mendampingi oma menuju kamarnya untuk beristirahat. Ariq dan Ivan bersama Valdo yang telah kembali dari menidurkan Babby A berkumpul bersama dan mulai terlibat percakapan ringan seputar pekerjaan.
Pukul 11 malam Ivan kembali ke kamar. Suasana kamar terasa hening. Ia yang sudah terbiasa tidur lewat tengah malam akhirnya mulai membaringkan diri di samping Khaira yang tertidur sangat pulas.
Tak bosan Ivan memandang wajah istrinya yang semakin cantik setiap dipandang. Aroma wangi menguar dari rambut dan tubuh Khaira. Dengan pelan Ivan mengangkat kepala Khaira untuk ia letakkan di lengannya.
Dari jarak yang dekat, dengan jemari kanannya Ivan mulai membelai wajah ayu yang kini berada dalam pelukan. Tak dapat ia ungkapkan perasaan bahagia membuncah ketika perempuan impian sudah menjadi miliknya. Ia berjanji tidak akan pernah untuk menduakan Khaira, bukan hanya pada keluarga besar Khaira, pada Abbas, tapi untuk dirinya sendiri. Akan ia jaga permata langka yang sudah susah payah ia miliki dengan berbagai drama yang awalnya sangat menyedihkan.
Mengingat apa yang telah disampaikan oma padanya membuat Ivan menggelengkan kepala, ia tak mungkin menduakan Khaira apalagi sampai mengembalikan pada keluarganya. Sesuatu yang tak pernah terpikir dalam benaknya. Ia akan berjuang untuk mendapatkan hati Khaira dan berusaha agar Khaira bisa menerima dirinya dengan segala kekurangan yang ia miliki.
Ivan mulai mendekatkan wajahnya pada telaga madu yang selalu mengundang dirinya untuk menjelajah ke sana. Mumpung empunya tidur dengan lelap, perlahan Ivan mulai menjatuhkan bibirnya. Debaran jantungnya terasa kuat, khawatir Khaira terbangun dari tidur dan langsung mendorongnya.
__ADS_1
Tampaknya Khaira tidak terganggu dengan ulah Ivan. Dalam tidurnya ia merasa berjalan ke suatu tempat yang sangat indah.
“Rara …. “ suara yang sangat ia kenal begitu lembut memanggilnya.
Khaira segera menoleh, tampak Abbas berjalan dengan wajah cerah. Khaira merasa Abbas tidak sendiri tetapi seperti ada bayangan perempuan yang mengikutinya.
Abbas tidak menggandeng tangannya seperti biasa, tetapi keduanya berjalan bersisian hingga sampai di suatu tempat yang ada telaga yang tenang dengan bunga-bunga yang indah di atasnya.
Khaira merasa Abbas telah berubah, tatapan cinta yang selama ini selalu ia lihat sudah tidak tergambar di sana.
“Aku masih merindukan aa …. “ desahnya tertahan dengan air mata yang ingin tumpah.
Khaira sedih, karena pada pertemuan kali ini sikap Abbas mulai berubah. Tiada lagi kehangatan yang selalu ditampakkan Abbas setiap pertemuan mereka.
Abbas tersenyum, ia meraih tangan Khaira yang mulai menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Jangan bersedih, kamu akan bahagia. Yakinlah itu …. “ tatapan mata Abbas membuat perasaan Khair tak menentu.
“Bagaimana aa begitu yakin aku akan bahagia. Perasaanku kacau, hatiku hancur …. “ Khaira mengadukan kesedihannya pada Abbas.
Abbas langsung merengkuh tubuh Khaira ke dalam pelukannya. Khaira mencurahkan segala kerinduan dan kesedihannya di dada Abbas. Ia menangis terisak-isak. Belaian tangan Abbas di punggungnya memberikan ketenangan pada Khaira.
Setelah puas menumpahkan segala beban yang ia tanggung, akhirnya Khaira melepaskan pelukannya. Keduanya bertatapan dengan rasa yang berbeda.
Abbas menangkup kedua wajah Khaira dan mendaratkan ciuman di kening perempuan yang kini bukan miliknya lagi. Dari kening ciuman Abbas berpindah ke hidung bangir milik Khaira. Pipi kiri dan kanannya tak luput dari ciuman Abbas.
Saat bibir Abbas mulai menjelajah di bibirnya\, Khaira dengan penuh semangat membalas ciuman Abbas. Keduanya saling mencurahkan kerinduan yang telah lama terpendam. Entah berapa lama waktu berlalu\, keduanya terus terhanyut dengan permainan bibir dan lidah yang saling menghi*** dan mel**** satu sama lain.
Dalam tidurnya Khaira merasa seolah nyata. Suhu tubuhnya menghangat. Ia merasa ciuman Abbas semakin menuntut, membuatnya tersengal-sengal susah bernafas. Hingga akhirnya Khaira membuka mata ….
Khaira tak percaya ia berciuman dengan Ivan bahkan di tempat tidurnya sendiri. Dengan cepat ia menjauhkan wajahnya dari suaminya yang kini memandangnya dengan raut bingung. Wajah Khaira langsung memerah menyadari apa yang telah ia lakukan. Dengan cepat ia membalik badan dan menutup wajahnya dengan selimut.
Ivan menatap semua gerak-gerik Khaira dengan menahan senyum. Ia merasa senang Khaira membalas ciumannya dan ia benar-benar puas keinginannya terbalas. Walau pun perjalanan untuk mendaki puncak masih perlu perjuangan panjang, tapi Ivan yakin suatu saat ia akan sampai ke tujuan.
Tanpa mempedulikan penolakan Khaira, Ivan menyusup ke dalam selimut. Tangannya yang kokoh langsung memeluk tubuh ramping wangi yang mulai melakukan perlawanan.
__ADS_1
“Jangan berisik, aku ingin memeluk anakku,” suara Ivan terdengar penuh ancaman membuat yang dipeluk diam tak berkutik. Ia akhirnya memejamkan mata dengan senyuman terbit di sudut bibirnya.
Salam sayang tuk reader semua. Mana kritik dan sarannya biar author lebih semangat. Like, vote jangan lupa ya... biar author khilaf sampe malam .... Ha ha ha ....