Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 201 S2 (Sendiri Tanpamu)


__ADS_3

Ivan menggandeng tangan Khaira berjalan bersama menemui Roni dan mamanya yang hampir setengah jam menunggu keduanya di ruang tamu. Jam telah menunjukkan  pukul 16 tepat.


Berat bagi Ivan untuk pergi. Tapi janji harus ditepati. Ia meminta Roni langsung ke mobil untuk meninggalkan mereka.


“Selamat sore nyonya, mbak Rara …. “ sebelum berlalu Roni sempat pamit pada Laras dan Rara, perempuan yang sempat mencuri hatinya.


Khaira tersenyum tipis, “Selamat sore juga tuan Roni….”


Mata Ivan mulai melotot melihat Roni yang memandang istrinya cukup lama. Dengan isyarat mata ia meminta Roni segera berlalu dari hadapannya.


Kini tinggal mereka bertiga di dalam ruangan tamu tersebut. Laras menatap Ivan yang masih berdiri bersama Khaira.


“Ma, aku titip Khaira,” Ivan berkata dengan perasaan berat hati.


“Kamu itu, mentang-mentang sudah menikah. Kelihatan berat meninggalkan istri,” Laras mencibirnya, “Udah sana, berangkat saja. Mama akan jaga mantu mama dengan baik.”


Entah kenapa perasaan Khaira jadi melow. Rasanya ia berat ditinggal Ivan. Apakah perasaannya sudah kuat sehingga hatinya mulai terikat?


Pelukan erat Ivan terasa menghangatkan hati dan perasaannya. Kecupan mendarat sekilas di bibir dan keningnya.


“Jaga dirimu, secepatnya aku akan kembali.” Ivan melepaskan pelukan dan menatapnya dengan lekat.


Khaira menganggukkan kepala. Ia merasa tidak nyaman Laras masih berada di hadapan mereka dan melihat semua tingkah laku mereka.


Laras dan Khaira berjalan mengantarkan Ivan hingga ke teras rumah. Senyum hangat Ivan saat sudah di dalam mobil meninggalkan kesan yang mendalam di hati Khaira. Laras segera menggandeng tangan mantunya begitu mobil telah berlalu meninggalkan pekarangan rumah mereka.


Sepeninggal Ivan, kini keduanya duduk dengan santai di taman belakang menikmati suasana sore yang sangat nyaman dengan aroma kesegaran mawar yang sedang berkembang. Matahari mulai beranjak memasuki peraduan meninggalkan temaram senja yang tampak indah dan memberikan keteduhan.


“Mama harap pernikahan kalian selalu kekal dan penuh keberkahan,” Laras berkata dengan penuh harap, “Entah apa jadinya Ivan jika tidak bertemu denganmu.”


“Saya juga senang bisa menjadi mantu mama,” Khaira meraih tangan Laras dan menggenggamnya dengan erat, “Melihat mama mengingatkan saya akan almarhumah bunda ….”


Laras tersenyum penuh kasih sayang, “Bundamu perempuan shaleha. Dan itu telah ditularkan pada kalian anak-anaknya. Sampai sekarang mama nggak bisa melupakan sosoknya. Perempuan lembut penuh kasih sayang.Semoga kamu dan Ivan juga segera dianugerahi momongan sebagai penguat dan penerus keluarga kita.”

__ADS_1


“Aamiin, terima kasih Ma.”


Keduanya masih terlibat perbincangan hangat menceritakan masa-masa lalu Khaira yang masih ada dalam ingatan Raras saat kedua orangtua menantunya masih hidup.


“Dulu, saat mama dan bundamu masih hidup kami sempat membicarakan perjodohanmu dengan Ivan,” Laras berkata sambil menatapnya lekat, “Saat itu Ivan berumur sembilan tahun. Perasaan mama waktu itu kamu baru berusia sekitar dua tahun.”


Khaira baru menyadari kalau usia suaminya sebaya mbak Hasya dan mbak Rheina. Selama ini ia tidak pernah ingin mengetahui apa pun yang berkaitan dengan Ivan. Tapi saat bercerita masa kecil mereka membuatnya merasa tertarik.


“Satu minggu lagi tepatnya tanggal 20 Mei, usia Ivan sudah 34 tahun. Mama harap kalian tidak terlalu lama menunda untuk memiliki anak.”


Khaira menatap wajah mertuanya dengan wajah merona. Ia malu, karena sampai saat ini belum melayani kebutuhan suaminya yang satu itu.


“Insya Allah ma, semoga Allah segera memberikan gantinya.”


“Yok masuk. Sebentar lagi azan Magrib berkumandang.” Laras bangkit dari kursi, “Beristirahatlah, besok supir mama yang akan mengantarmu ke gerai.”


“Terima kasih ma.” Khaira tersenyum sambil menganggukkan kepala pada mertuanya.


Laras merasa tenang. Sekarang hidupnya terasa lebih berarti karena putra semata wayangnya sudah memiliki pendamping yang sangat sesuai dengan yang ia idam-idamkan. Dan ia berdoa penuh harap, semoga Yang Kuasa selalu melindungi anak dan menantunya dan dijauhkan dari cobaan yang berat.


“Assalamu’alaikum….” Khaira yang masih menggunakan mukena langsung menjawab vc suaminya.


“Wa’alaikumussalam,” Ivan tersenyum penuh kehangatan.


Wajah tampannya memenuhi ponsel yang berada dalam genggaman Khaira. Ia merasa malu dan mengarahkan layar ponsel pada sisi lain.


“Belum tiga jam aku sudah sangat merindukanmu …. “ ujar Ivan lesu.


Khaira tak bisa menahan senyum. Ia pun merasakan yang sama. Tapi nggak mungkinlah ia mengungkapkan apa yang terasa di hati, cukup ia dan Tuhan yang tau.


“Kok wajahnya tidak kelihatan?” Ivan mulai memprotes.


Ia ingin memandang wajah ayu dengan sorot bening yang selalu membuatnya merasa tenang saat menatapnya.

__ADS_1


“Lagi sholat …. “ jawab Khaira dengan perasaan berdebar. Ia merasa malu menatap wajah Ivan.


Senyum mengembang di wajah Ivan mendengar suara lembut istrinya. Ia yakin sekarang wajah Khaira pasti merona merah.


“Sholat kok bisa terima telpon? Nanti bisa batal ….” Ivan mulai membaringkan diri di tempat tidur yang sangat nyaman itu. “Aku ingin lihat wajah istriku …. “


Dengan terpaksa Khaira kembali mengarahkan wajahnya ke layar ponsel. Wajah tampan suaminya tersenyum mengembang.


“Malam ini aku akan kedinginan  sendiri ….” Ivan menatapnya dengan lekat, “Seandainya kamu ada bersamaku di sini, kita akan berbagi kehangatan satu sama lain.”


“Apaan sihhh!” pipi Khaira semakin merona mendengar ucapan Ivan.


Melihat wajah dengan pipi yang semakin merona membuat perasaan Ivan menghangat. Ia merasa tersiksa jauh dari istrinya. Tapi ia yakin, saat kembali nanti semua akan berubah.


Dapat ia lihat sorot kesedihan dari mata bening Khaira saat ia pamitan akan berangkat. Pelukan erat Khaira  membuat ia tak tega meninggalkannya.


“Aku mencintaimu,” Ivan menatapnya dengan lekat saat wajah keduanya saling berhadapan di layar.


Khaira tersenyum membuat lesung pipit yang tersembunyi di pipinya tercetak membuat Ivan tak bisa mengalihkan tatapan dari wajah ayu yang akan selalu terpatri di otaknya.


“Secepatnya aku akan kembali,” senyum tipis kembali tercetak di wajah Ivan.


Walaupun Khaira tidak berkata, tapi ia tau perasaan istrinya telah berubah. Tidak ada lagi sorot kesedihan yang tergambar  di wajah ayu Khaira. Senyum malu dan perasaan canggung saat kedekatan mereka kini mulai menghilang secara perlahan.


Setelah puas menumpahkan segala isi hatinya, Ivan segera menutup telpon bersamaan dengan suara azan Isya yang terdengar dari ponsel Khaira.


Khaira berbaring sambil menggenggam ponsel ke dadanya yang sempat berlari saat harus bertatapan dengan wajah suaminya.


Dalam salatnya tak  lupa Khaira memohon ampunan kepada sang Khalik. Ia berdoa agar suaminya selalu diberi perlindungan dan dijauhkan dari segala hal yang mendatangkan mudarat padanya. Tak lupa ia mendoakan kedua orang tua serta Abbas agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt.


Khaira mulai membaringkan dirinya di pembaringan. Ia membolak-balik tubuhnya, merasa ada yang kurang yang membuat pikirannya tidak tenang. Ia membaui aroma bantal dan guling sambil membayangkan wajah suaminya.


Khaira jadi malu sendiri dan menutup mukanya dengan selimut. Pesona Ivan kini mulai merasuki pikirannya. Seperti Ivan, ia juga telah terbiasa dengan kehadiran sang suami. Dan ia sekarang merasakan sepi tanpa sang suami di sisi malam ini.

__ADS_1


 


***Apa kabar readerku tersayang? Author usahain up hari ini. Dukung terus ya\, krikit\, like\, saran dan vote-nya jangan lupa ya\, biar author tambah semangat. Sayang semua ....***


__ADS_2