
Sudah 4 minggu pernikahan Faiq dan Hani berjalan. Keduanya selalu menunjukkan sikap mesra dalam keseharian. Atas permintaan Darmawan dan Marisa, Faiq memboyong keluarganya tinggal di rumah megah orangtuanya. Bukan karena Faiq tidak mampu memberikan rumah kepada keluarga barunya, tetapi Marisa dan Darmawan sudah terlalu lama merasa sepi tinggal berdua di rumah megah itu.
Setiap hari Sabtu, Faiq dan Hani selalu menyempatkan diri untuk menjemput si kembar ke sekolah, kemudian membawa mereka refreshing dengan bermain di taman, atau tempat permainan anak di pusat perbelanjaan.
Sebelum menjemput si kembar, Hani mempersiapkan baju ganti keduanya. Ia tidak ingin anak-anaknya merasa gerah karena memakai seragam sekolah di arena bermain. Dengan penuh suka cita ketiganya memasuki mobil yang sudah tersedia di garasi.
Melihat papa dan bunda yang menjemputnya Ariq dan Ali merasa senang. Selama ini hanya sopir yang selalu mengantar jemput mereka ke sekolah. Apalagi mendengar kata-kata Faiq yang akan mengajak mereka bermain di mall, keduanya serentak berteriak kesenangan.
Faiq merasakan kebahagiaan melihat keluarga kecilnya berkumpul bersama seperti ini. Dan ia sangat bersyukur akan apa yang ia peroleh. Si kembar langsung mengganti seragam mereka begitu mobil sudah memasuki basement mall megah tersebut. Memasuki mall mewah tersebut, jam telah menunjukkan pukul 11.30 Wib. Faiq langsung mengajak keluarga kecilnya menuju mushola yang tersedia di lantai dua.
Ia tidak ingin keasyikan bermain membuat anak-anaknya melupakan waktu beribadah. Setelah berdoa demi keutuhan rumah tangganya, Faiq bersama istri dan ketiga anaknya mampir ke restoran Italia. Si kembar sudah lama tidak makan pasta. Kesibukan kedua orang tuanya membuat mereka belum sempat meluangkan waktu bersama.
Saat memasuki restoran ketiganya harus bertemu kembali dengan Adi dan Johan yang juga menginginkan makan siang di restoran bercita rasa italiano tersebut. Hani masih membawa Hasya untuk mencuci tangan di wastafel, begitu ia kembali Adi dan Johan turut bergabung di meja makan bersama mereka.
“Mas yang mengundang mereka.” Faiq berkata pelan pada Hani sambil menarik kursi untuk tempat duduk istrinya yang dibalas Hani dengan anggukkan.
“Bagaimana kabar anda tuan Adi?” Faiq mencoba bersikap ramah pada Aditama. Walau bagaimanapun ia sadar, tak selamanya ia akan menabuh genderang permusuhan pada ayah kandung ketiga malaikat kecilnya.
“Baik-baik saja.” Aditama asyik memandang si kembar yang makan dengan lahap. “Aku akan membatalkan tuntutan tentang hak asuh mereka.”
Hani menajamkan pendengarannya, tak percaya dengan apa yang baru diucapkan mantan suaminya itu. Ia menatap Adi dengan seksama, takut kalau apa yang dikatakan Adi hanya angin lalu. “Aku akan berdamai dengan kalian. Aku hanya minta waktu berkunjung untuk mengakrabkan diri dengan anak-anak.”
“Bagaimana menurutmu, yang…?” Faiq menggenggam tangan Hani yang berada di pangkuannya.”
Tatapan Adi bersirobak dengan Hani. Kini Adi melihat tidak ada lagi permusuhan yang tergambar di sorot mata bening itu. Secercah kebahagiaan terbit di hati Adi. Ia tersenyum pada Hani. “Aku hanya minta waktu untuk mengunjungi mereka setiap Sabtu.”
Faiq menyentuh bahu Hani yang masih menyimak arah pembicaraan Adi, “Apa kamu nggak keberatan jika tuan Aditama meminta waktu setiap Sabtu untuk menemui anak-anak?”
Tatapan Hani teralihkan pada Ariq dan Ali yang menikmati makanan mereka tanpa terganggu dengan perbincangan orang tua mereka. Ia menganggukkan kepala pelan, “Aku tak bisa selamanya menceritakan kebohongan kepada mereka.” Jawab Hani lirih.
__ADS_1
“Papa atu mau itu…” jemari lentik Hasya menunjuk es krim yang mengundang selera.
“Biar paman yang ambil.” Johan beranjak sambil mengulurkan tangannya ke arah Hasya. “Ayo ikut paman…”
Hasya memandang Faiq, langsung dibalas Faiq dengan anggukkan kepala. Ia menyambut uluran tangan Johan dan naik dalam gendongan Johan.
Faiq mengusap bahu Hani dengan lembut, “Kita harus membiasakan anak-anak dengan situasi ini. Walau bagaimanapun mereka harus tau bahwa masih ada ayah kandungnya yang menyayangi mereka.”
Adi merasa terharu mendengar perkataan Faiq. Walau ada kecemburuan yang berusaha ia sembunyikan saat melihat pemandangan di depannya. Lelaki muda itu menampakkan perlakuan mesranya pada sang mantan tanpa ragu-ragu, hal yang tidak pernah Adi lakukan selama 4 tahun pernikahan mereka.
Pada saat selesai makan malam, Darmawan dan Marisa belum meninggalkan meja makan. Keduanya ingin membicarakan sesuatu yang agak serius pada keduanya. Setelah mengantar ketiga putra-putrinya ke kamar dengan ditemani Sari dan Lina, Hani kembali menghampiri mereka di ruang makan.
“Dua minggu lagi ayah dan ibu akan berangkat ke Perancis.” Ujar Marisa memulai percakapan, “Mungkin kami agak lama tinggal di sana.”
Faiq memandang ibunya dengan kening berkerut, “Apa ini berkaitan dengan pameran berlian yang akan ibu ikuti?”
“Benar. Ternyata banyak peminat setelah brosur terbaru ibu keluarkan minggu lalu.”
Hani memandang keduanya dengan raut sendu. Rasanya belum puas ia menikmati kasih sayang mereka sebagai orang tua, kini keduanya akan pergi lama.
Marisa menyadari kegundahan menantunya. “Ibu tau kamu bersedih. Kalau Ariq dan Ali liburan sekolah, kalian bisa boyong ke sana.”
“Benar, sayang. Nanti kita akan bawa anak-anak liburan, jika perusahaan yang ku pegang mulai stabil.” Faiq berusaha menenangkan Hani.
“Kapan Hanif akan menikahi Wulan?” Marisa tiba-tiba teringat janjinya untuk segera melamarkan Wulan kepada kedua orangtuanya.
Hani memandang Marisa, “Hanif bilang tidak perlu, bu. Wulan sudah tidak memiliki keluarga. Ia hanya tinggal dengan ibunya saja.”
“Baiklah kalau begitu. Ayah akan mendukung apapun keputusan kalian.” Darmawan berkata dengan bijak. “Dan kamu Faiq, waktumu sebagai ASN tinggal dua minggu lagi. Gunakan kesempatan itu untuk mengakhiri semuanya, sehingga saaat pergantian jabatan tidak ada yang mengeluh karena pekerjaanmu yang tidak bertanggung jawab.”
__ADS_1
“Semua nasehat ayah akan selalu kuingat.”
Marisan dan Darmawan merasa tenang sekarang, karena anaknya sudah menikah, dan menantu yang mereka miliki sangat sesuai dengan kriteria mereka. Sudah agamanya baik, akhlaknya bagus dan dicintai putra mereka.
“Ra, besok aku akan mengikuti kegiatan kantor untuk terakhir kali. Padahal aku sudah meminta kepada pak Suwardi untuk mencari pengganti. Tapi beliau beralasan namaku sudah terdaftar sejak 3 bulan yang lalu.” Ujar Faiq malam itu ketika mereka sudah di peraduan.”
“Lokasinya di mana, mas?” Hani menatap Faiq yang kini mulai berbaring di sampingnya.
“Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah Bekasi. Kegiatannya 3 hari. Aku pergi bersama Hesti dan Rudi.”
Hani terdiam. Setiap mendengar nama itu, hatinya mencelos. Ia tidak tau, apakah ia mencemburui perempuan yang sangat dekat dengan suaminya itu.
Faiq merapatkan tubuhnya sambil memeluk Hani yang masih termenung dan berkutat dengan pemikiran tentang perempuan yang akan pergi bersama suaminya.
“Kamu harus percaya padaku. Tidak ada perempuan lain yang bisa mengalihkan duniaku. Hanya kamu dan Hasya, serta dua jagoan kita.” Nampaknya Faiq memahami kegundahan istrinya. Ia sangat paham bagaimana Hesti makin berani menunjukkan perasaannya saat di kantor maupun kegiatan di luar kantor.
“Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak, mas.” Hani menatap Faiq dengan sendu. Kekhawatiran akan pengkhianatan tiba-tiba muncul di hatinya.
Faiq mulai melancarkan serangannya. Kecupan-kecupan kecil ia lakukan ke bibir Hani yang masih menatap wajahnya dengan mata bening yang menghanyutkan.
“Aku berjanji pada Sang pemilik hati, agar tidak menggoyahkan perasaanku. Aku mencintaimu karena Allah. Jadi jangan pernah memikirkan hal yang buruk. Yakinlah dengan Allah, Dia akan selalu menjaga keluarga kita.” Serangan Faiq semakin gencar. Akhirnya Hani pasrah mengikuti permainan suaminya yang sedang hot-hotnya menikmati suasana pengantin baru mereka.
Desahan Hani mulai terdengar merdu di telinga Faiq, membuatnya semakin bersemangat untuk menanam benihnya dan berharap semoga Yang Kuasa segera memberikan hasil terbaik atas segala usahanya.
“Aku akan mengambil jatah di muka, karena 3 hari ke depan kita akan tinggal terpisah.” Faiq menatap Hani dengan senyuman yang lebar.
“Apa?” Hani melongo mendengar ucapan absurd suaminya. Tapi ia tetap melayani Faiq dengan penuh cinta dan ketaatan semata-mata mengharapkan ridha Allah.
__ADS_1