
Sepeninggal bidan Ratna Ivan menggenggam jemari Khaira dengan erat. Kebahagiaan terasa penuh mengisi relung hatinya. Dalam hati ia bertekad tidak akan membiarkan sang istri terlepas dari pandangan mata. Kali ini ia harus mendampingi kemana pun Khaira berada, kalau perlu Khaira selalu disampingnya. Ia ingin selama proses kehamilan kali ini mengikuti hingga sang jabang bayi terlahir ke dunia.
Khaira menatap Ivan dengan perasaan kesal. Tapi ia malas untuk berbicara. Tubuhnya masih terasa lemas, karena belum ada satupun kalori yang masuk. Ia menahan diri untuk tidak makan apa pun karena teringat janji dengan sang suami yang mengajaknya makan di luar.
“Sayang .... terima kasih karena telah memberikan kebahagiaan terbesar untukku,” Ivan berkata dengan tatapan memuja pada wajah ayu istrinya.
Khaira tidak menjawab. Ia memejamkan mata menghindari tatapan lekat sang suami. Genggaman jemari Ivan begitu kuat memberikan kehangatan tersendiri baginya. Tapi ia enggan untuk berbicara.
“Sayang apa yang kamu rasakan sekarang?” Ivan masih berusaha mengajak istrinya berkomunikasi, “Apa ada yang sakit?”
Ia melihat Khaira dengan perasaan khawatir, karena sejak awal istrinya kelihatan acuh dan tidak mengajaknya berbicara sama sekali. Ia tau, semua adalah kesalahannya karena mengingkari janji untuk makan di luar, malah ia memenuhi keinginan Intan yang telah membuang waktunya dengan sia-sia.
Ketukan di pintu kamar mengejutkan mereka berdua yang terdiam dalam keheningan. Bidan Ratna kembali dengan senyum ramahnya.
“Bundanya boleh pulang sekarang. Besok pagi bisa datang kembali untuk kontrol sekaligus USG dengan dr. Indra untuk memastikan berapa minggu usia kandungan bunda .... “
“Terima kasih Bu,” Khaira berkata dengan perasaan lega. Ia tidak ingin menginap di puskesmas. Ia trauma dengan kehamilan si kembar yang membuatnya merasakan bedrest selama tiga bulan di awal.
“Apa kondisi istri saya stabil dan tidak ada hal lain yang mengkhawatirkan ?” Ivan masih sanksi dengan perkataan bidan Ratna.
“Bundanya saya kira belum ada keluhan apa pun,” bidan Ratna menatap Khaira lekat yang dibalas Khaira dengan anggukkan.
“Tapi saya khawatir Sus .... “ Ivan menatap Khaira dengan cemas, karena sikap Khaira yang masih acuh padanya.
“Jangan khawatir Ayah, Bunda hanya kecapean karena di trimester awal memang seperti itu .... “ bidan Ratna berusaha menjelaskan pada Ivan yang memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi.
Sepeninggal bidan Ratna, Khaira bangun dari pembaringan. Ia harus menguatkan diri sendiri, toh ini bukan kehamilannya yang pertama. Ia sudah paham apa yang harus ia lakukan.
“Sayang .... “ Ivan berkata dengan nada keras.
Dengan cepat ia menahan tubuh Khaira yang sudah turun dari brankar. Tangannya merengkuh tubuh ramping istrinya. Dan memeluknya erat. Ia benar-benar merasa berdosa atas kelalaiannya.
Sejenak perasaan nyaman dan hangat melingkupi perasaan Khaira. Ia menyandarkan kepala pada dada bidang suaminya. Aroma parfum yang selama ini sudah akrab dengannya tiba-tiba mengganggu penciumannya. Dengan cepat Khaira mendorong tubuh Ivan begitu rasa mual sudah tak mampu ia tahan.
Ivan terkejut dengan sikap kasar Khaira yang mendorongnya. Ia terpaku melihat Khaira yang berjalan cepat menuju wastafel dan langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
“Hoek ... hoek .... “ Khaira memegang perutnya yang terasa perih.
Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Tangannya berpegang erat pada sisi wastafel untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Ivan berjalan cepat menghampiri istrinya. Dengan sigap ia menahan tubuh Khaira dari belakang, dan merangkul dengan erat.
“Sayang .... “ Ivan berkata dengan cemas.
__ADS_1
Tangan sebelah kanannya memeluk tubuh ramping Khaira sementara tangan kirinya mengusap punggung istrinya yang masih tampak mengeluarkan semua isi perutnya.
Karena belum ada terisi makanan saat jam makan siang, yang dikeluarkan Khaira hanya cairan kuning yang rasanya sangat pahit.
“Wah, Bunda merasa mual dan muntah-muntah?” tiba-tiba bidan Ratna muncul dengan membawa kursi roda.
Khaira hanya menganggukkan kepala dengan lemah. Ia menyandarkan tubuhnya pada Ivan yang masih posisi memeluknya dari belakang. Tangan kirinya memegang lengan suaminya untuk menahan tubuhnya.
“Bunda sudah makan siang?” bidan Ratna bertanya dengan lembut.
Gelengan kepala Khaira terlihat dengan jelas di mata Ivan, membuat rasa sesak menyergap dan hatinya langsung berdenyut sakit.
Rasanya ia ingin mengulang kembali waktu sepagian ini agar bisa mendampingi sang istri dan makan siang bersama. Apalagi sekarang ia telah mengetahui bahwa telah ada calon juniornya yang bersemayam di rahim Khaira.
Setelah rasa mual mulai berkurang, Khaira melepaskan pegangan tangannya di lengan Ivan. Dengan pelan ia berjalan menuju kursi roda yang telah disiapkan bunda Ratna.
“Sayang, aku bisa menggendongmu .... “ Ivan berkata dengan cepat.
Khaira menggelengkan kepala dan menghenyakkan tubuhnya di kursi roda yang masih dipegang bidan Ratna.
Bidan Ratna memandang pasangan itu dengan kening berkerut. Ia tau ada percikan ringan yang melingkupi keduanya.
“Bunda kenapa?” bidan Ratna seketika bertanya pada Khaira.
Ia tak bisa menahan rasa penasaran karena melihat Khaira yang menutup hidung saat berdekatan dengan sang suami.
“Bunda mual lagi?” bidan Ratna bertanya dengan penuh perhatian.
Di samping Khaira ia juga terhirup aroma parfum Ivan yang menurutnya nyaman dan membuat jadi sesuatu ....
Bidan Ratna tersenyum membayangkan dirinya seusia pasangan muda di hadapannya. Eh, jangan bilang tua lho ya .... Walaupun dirinya sudah terlalu matang, tapi kehangatan rumah tangga bersama suami tetap terjaga. Dan ia dapat melihat perasaan cinta dan sayang yang tergambar jelas di wajah suami pasiennya.
“Ayah harusnya tau, banyak lho bunda yang ngidam gak mau cium aroma yang menyengat termasuk juga parfum.”
Ivan mengalihkan pandangannya pada bidan Ratna tidak yakin dengan apa yang barusan diucapkan bidan senior itu.
“Istri saya sangat menyukai aroma saya .... “ Ivan berkata dengan yakin bahkan kini dengan percaya diri memeluk Khaira.
“Hoek .... “
Kembali rasa mual menyerang Khaira. Ia mendorong tubuh Ivan menjauh dari hadapannya.
“Astaga .... “ Ivan menggelengkan kepala tak percaya dengan tingkah istrinya yang tak mau ia dekati.
__ADS_1
“Mestinya ayah harus paham, toh ini bukan kehamilan bunda yang pertama kali .... “ bidan Ratna mengulas senyum dengan ucapan ringan yang keluar dari bibirnya.
Tatapan Ivan lekat memandang wajah istrinya. Ia harus mencari tau apa yang diucapkan bidan Ratna, karena ini pengalaman pertamanya mendampingi bumil, walau pun ini bukan untuk pertama kalinya menjadi seorang ayah.
Melihat Khaira yang tetap diam tanpa memandang wajahnya, ia yakin Khaira marah karena ia mengingkari janji makan siang. Tapi ia yakin, semuanya akan kembali normal. Ia sudah hafal dan sangat mengenal watak sang istri.
“Ustadzah Ainur dan anak-anak akan bersama saya pulangnya. Kami akan makan siang sekalian,” ujar ustadz Helmi pelan saat berjalan bersama Ivan dengan ustadzah Ainur dan santriwati yang mengikuti di belakang mereka, “Apa pak Ivan juga ikut bersama kami?”
“Alhamdulillah .... “ celetukan santriwati di belakang mereka terdengar gembira di telinga Ivan.
“Terima kasih Ustadz,” mewakili santriwatinya ustadzah Ainur mengungkapkan rasa senang atas tawaran ustadz Helmi.
Ivan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia merasa ucapan ustadz Helmi tidak masuk akal. Saat ia melirik jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan hampir jam tiga sore.
Ia melayangkan pandangan pada Khaira yang berjarak dua meter di depan mereka bersama dengan bidan Ratna dan perawat yang mendorong kursi rodanya.
“Ini bukan jam untuk makan siang lagi Ustadz ....” jawab Ivan enteng.
“Pak Ivan, bunda Aisya belum makan siang sejak tadi,” ustadzah Ainur langsung menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Khaira.
Ivan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ustadzah Ainur yang langsung tertunduk memandang ke tanah. Ia segera mengalihkan pandangannya pada sang istri yang kini sudah sampai di aula.
“Bunda tadi meminta saya untuk mengantar ke kantor Bapak saat saya mengajaknya makan siang bersama. Beliau bilang udah janji dan menunggu Bapak jemput untuk makan di luar. Saat kami sampai di sana, Bapak sudah masuk mobil dan berlalu. Pas kebetulan sudah masuk waktu Zuhur, kami langsung balik dan salat di masjid ....”
Hati Ivan terasa dicubit mendengar ucapan ustadzah Ainur. Bagaimana tidak, ia membiarkan istrinya yang sedang mengandung buah hatinya dalam keadaan kelaparan, sedangkan ia tanpa rasa bersalah berusaha menyenangkan perempuan lain yang tidak ada hubungan apa pun dengannnya.
“Terima kasih Ustadzah atas informasinya. Assalamu’alaikum,” bergegas Ivan meninggalkan rekan kerja istrinya.
Perasaan bersalah semakin kuat menghampiri Ivan. Kini ia yakin, keacuhan Khaira karena melihatnya pergi bersama Intan dan Danu dengan melupakan janji yang telah ia buat sendiri.
Dengan memejamkan mata dan menahan nafas, Khaira membiarkan Ivan mengangkatnya dari kursi roda begitu mobil suaminya sudah berada di hadapannya yang masih menunggu ditemani bidan Ratna dan asistennya.
“Aku duduk di belakang saja Mas ....” akhirnya keluar juga suara Khaira yang sangat ditunggu Ivan.
“Kenapa?” Ivan sengaja mengeratkan pegangannya untuk menghirup aroma wangi tubuh sang istri yang berada dalam gendongannya.
Mata Khaira menatap tajam Ivan yang juga memandangnya dengan raut teduh. Bibirnya langsung mengerucut enggan menjawab.
“Mungkin bunda pengen rebahan .... “ bidan Ratna yang mendengar percakapan keduanya segera menjadi penengah.
Dengan cepat ia membuka pintu belakang kemudi. Dan memandang Ivan penuh arti sambil mengangguk.
Ivan paham arti tatapan bidan Ratna. Ia tidak ingin membuat Khaira lebih kesal padanya. Begitu Khaira sudah bersandar dengan nyaman di jok belakangnya, Ivan langsung mengecup kening istrinya dan membelai rambutnya sekilas.
__ADS_1
“Bunda hamil itu harus dijaga dan diperhatikan. Moodnya akan selalu berubah, jangan sampai bikin bunda kesal, karena akan berdampak juga pada calon debaynya .... “ nasehat berharga dari bidan Ratna membuat Ivan terpaku.
***Hayooo .... siapa yang pernah ngidam seperti itu\, Maunya reader ngidam yang gimana biar seru .... Otor tunggu komennya ya .... ***