Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 115


__ADS_3

Latifa duduk di meja kerja dengan mata yang fokus menatap komputer. Sudah dua bulan ia bekerja di dalam perusahaan yang sama dengan Faiq. Harapannya yang besar berangsur-angsur roboh melihat sikap Faiq yang tidak pernah memandangnya apalagi terlibat percakapan padanya.


Faiq seperti membangun dinding yang kokoh diantara mereka. Ia hanya dapat bertegur sapa saat rapat bulanan saja, itu pun ia yang terlebih dahulu menyapa yang dibalas Faiq dengan anggukkan seperti yang ditujukan pada pegawai yang lain.


Ia berusaha mencari informasi tentang perubahan Faiq yang tidak seperti awal mereka bersama di sekolah. Sangat kentara kalau Faiq tidak ingin terlibat obrolan bersamanya, apalagi segala urusan kerjaan yang harusnya tanggung jawab langsung kepada Faiq tapi malah dialihkan pada Handoko.


Jadilah segala urusan pekerjaan membuat ia menjadi lebih dekat pada Handoko yang sifatnya tidak berbeda jauh dengan Faiq. Ia berusaha lebih dekat dengan Handoko untuk mendapatkan informasi tentang keluarga Faiq. Namun rencananya juga tidak membuahkan hasil. Handoko juga menutup informasi tentang keluarga bosnya itu.


“Malam nanti aku akan menjemputmu,” ujar Handoko santai sambil meletakkan berkas di atas meja di hadapannya, “Jam delapan kita berangkat.


Latifa mengangguk dengan lemah. Ia tidak bersemangat untuk menghadiri ulang tahun perusahaan yang ke 30, karena satu pun tidak ada yang menarik minatnya. Dan ia bukan lah tipe perempuan yang menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi. Ia cukup sadar diri dengan kondisinya saat ini.


Faiq menggandeng tangan Hani memasuki ballroom hotel. Hanya ketiga anaknya yang paling besar mereka bawa pada malam ini. Hani tidak ingin Fatih, Khaira serta Junior terganggu akan keramaian hiruk-pikuk pesta ulang tahun perusahaan.


Setelah acara sambutan oleh ketua penyelenggara selanjutnya Faiq sebagai tuan rumah mulai menyampaikan pidatonya, sebagian besar adalah ucapan terima kasih kepada jajaran direksi hingga pegawai yang tetap setia bekerja sama untuk mewujudkan keinginan dan cita-citanya.


Faiq juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada rekan bisnis yang telah hadir dan turut mendukungnya dalam upaya perubahan status manajemen perhotelan yang kini ia dan tim lakukan. Ungkapan terakhir ia sampaikan spesial pada sang istri yang selalu mendukung segala usahanya dan tetap setia hingga saat ini.


“… kepada pendamping terhebatku saat ini, ku dedikasikan hidupku hanya untuk kamu dan anak-anak kita. Semoga Allah selalu membimbing kita menjadi lebih baik dan selalu bersama hingga akhir.”  Faiq mengakhiri pidato panjangnya.


Di bawah sorotan lampu Faiq membawa buket bunga mawar merah menuju kursi VVIP yang berisikan Hani dan ketiga anaknya beserta Marisa dan Darmawan.


Mata Hani berkaca-kaca melihat Faiq yang kini berdiri di hadapannya dengan buket mawar sambil menyunggingkan senyum terbaiknya.


Faiq merengkuh istri dan ketiga anak-anaknya dengan sepenuh hati. Ia tidak akan menolerir apa pun yang akan membahayakan keluarganya. Ia telah berjanji dalam hati untuk berjuang demi istri dan anak-anaknya.


Faiq dan Hani masih bercengkrama dengan para tamu undangan serta klien mereka di acara yang mengusung tema religi. Para undangan merasa antusias dengan suasana pesta yang diisi dengan nyanyian religi.


Malam semakin larut dengan tamu yang mulai meninggalkan undangan satu demi satu. Faiq pun  meminta kedua orangtuanya untuk membawa ketiga anaknya pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


Malam ini ia berniat untuk mengungkapkan rahasia yang ia sembunyikan tentang kepergian Tama kepada Hani. Apa pun tanggapan dan reaksi  Hani akan ia terima. Dan ia siap dengan resiko terburuk sekali pun.


Hani terkejut saat Faiq menggiringnya memasuki kamar president suite di lantai paling atas. Selama ini sudah lama mereka tidak meluangkan waktu khusus untuk bersama. Dan ia benar-benar tidak menyangka bahwa Faiq memberikan kejutan malam ini terhadapnya.


Saat berjalan menuju balkon hotel, Hani terkesima melihat makan malam yang sudah terhidang dengan lilin aroma yang membuat suasana terkesan romantis. Ia memandang wajah Faiq yang tersenyum mesra padanya.


Faiq menarik kursi dan membimbing Hani duduk di kursi yang telah ia sediakan. Keduanya menikmati makan malam tanpa banyak berbicara. Hingga makan malam romantis berakhir Faiq membawa Hani kembali ke kamar.


“Mas, bagaimana anak-anak di rumah?” nada kekhawatiran tergambar jelas saat Hani bertanya pada suaminya.


“Ibu telah mengatur semuanya. Malam ini hanya milik kita berdua,” ujar Faiq lembut.


Ia berjongkok di depan Hani yang kini duduk di sofa. Tangannya meraih jemari Hani dan mengecupnya dengan mesra. Tatapan Faiq begitu dalam memandang wajah istrinya.


Hani merasa heran dengan sikap Faiq yang tampak berbeda. Tapi ia tetap mengikuti apa pun rencana yang telah dibuatnya untuk mereka berdua malam ini.


“Mas, apa ada sesuatu yang mengganjal dipikiranmu?” Hani bertanya dengan hati-hati. Ia yakin Faiq mengajaknya menginap karena ada masalah yang harus mereka hadapi bersama.


Mata keduanya tetap saling memandang. Dan Faiq dapat melihat bayangan Tama dalam sorot mata Hani yang memandangnya dengan lekat.


“Bang Tama telah mengorbankan dirinya demi keselamatan kita berdua.” Faiq berkata dengan lirih.  Lidahnya terasa berat saat mengucapkan itu.


Hani tersentak mendengar perkataan Faiq. Matanya membulat, ia menggeleng-gelengkan kepala tak ingin mempercayai apa yang ia dengar.


“Hesti berusaha menabrakkan mobilnya  pada kita, tapi bang Tama yang mengetahui  niat Hesti langsung menubrukkan mobilnya menghadang mobil Hesti ….”


“Astaghfirullahaladjim …. “ Hani menutup mulutnya tak percaya mendengar cerita Faiq.


Faiq menghentikan ceritanya sesaat. Tenggorokannya terasa sangkut untuk menceritakan kelanjutan kisah Tama. Ia masih melihat reaksi Hani yang tampak terpukul mendengar ucapannya. Tapi ia tak mungkin menghentikan ceritanya. Hani wajib mengetahui semuanya.

__ADS_1


“Bang Tama meninggal dunia tepat 10 jam sebelum kamu operasi mata. Almarhumlah yang telah menyumbangkan kornea matanya untukmu.”


“Ya Allah ….”  Hani tak mampu menahan air matanya yang langsung jatuh berderai tanpa terbendung.


Ia menepuk dadanya yang terasa sesak tak bisa bernafas. Pantas saja akhir-akhir ini ia sering memimpikan Adi yang selalu hadir dengan senyum tulus di wajahnya. Ia tidak bisa mendekat, tetapi ia bisa melihat sosok Adi yang menemani ketiga buah hatinya bermain.


Kenapa hatinya terasa sakit lagi? Begitu besar pengorbanan yang diberikan Adi untuk mereka. Hani benar-benar shock mendengar semua cerita suaminya. Bibirnya terasa kelu, terasa ada yang sangkut di tenggorokan sehingga ia tak mampu mengucap sepatah kata pun.


“Sayang …. “ Faiq menggenggam jemari Hani yang terasa dingin.


Ia langsung merengkuh Hani ke dalam pelukan. Tubuh Hani terasa dingin dalam pelukannya. Faiq menepuk punggung Hani berulang-ulang. Yang dapat ia lakukan hanya menguatkan istrinya. Dadanya terasa plong setelah mengungkapkan semua, walau sebagian hatinya merasakan sakit seperti apa yang dirasakan Hani.


Akhirnya Faiq merasakan kemejanya yang terasa basah penuh air mata. Tubuh Hani bergetar di dalam pelukannya. Ia membelai punggung Hani berulang-ulang, membiarkan Hani menumpahkan segala kesedihan yang ia punya beserta segenap rasa yang tersisa untuk mantan suaminya. Ia ingin setelah malam ini tidak ada kesedihan yang akan mereka hadapi lagi.


Setelah merasa tenang Hani melepaskan diri dari pelukan Faiq. Mata dan hidungnya memerah akibat terlalu banyak menangis. Ia tak mampu menahan air mata mengenang pengorbanan yang telah dilakukan mantan suaminya. Tapi ia harus menatap ke depan. Adi hanyalah masa lalu, walau pun bayangannya tak mungkin bisa ia hapus begitu saja karena ada anak-anak diantara mereka.


“Maafkan aku.” Hani berkata lirih merasa tidak enak hati melihat tatapan Faiq yang lekat padanya.


Faiq menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyumnya. Ia harus berbesar hati dan mempersiapkan diri mendengar perkataan Hani selanjutnya.


“Aku terlalu emosional sehingga tidak memikirkan perasaanmu mas.” Hani menatap Faiq dengan perasaan tidak nyaman.


Faiq menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Dengan lembut ia mengecup kening Hani. Dengan jemarinya ia menghapus genangan air mata yang masih menetes di pipi tirus istrinya.


“Setelah hari ini mas tidak ingin ada air mata kesedihan lagi dalam kehidupan rumah tangga kita, kecuali air mata bahagia.”


Hani menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. Cukup baginya menangisi kepergian Adi.  Ia harus menatap ke depan bersama dengan Faiq dan anak-anak mereka. Masa depan masih panjang. Dan ia harus lebih kuat untuk menjalani hidup di masa yang akan datang.


Faiq benar-benar memanfaatkan momen malam itu dengan saling memanjakan satu sama lain. Ia tak ingin melewatkan malam begitu saja. Sesudah ada badai, pelangi pasti akan datang menjelang.

__ADS_1


Hani menerima semua perlakuan lembut suaminya. Momen kebersamaan yang jarang mereka lalui bersama karena kesibukan masing-masing. Walau pun intensitas hubungan mereka teratur, tapi hanya sekedar melepaskan kebutuhan biologis semata. Dan malam ini semuanya terlewati dengan penuh kemesraan dan kasih sayang yang tercurah satu sama lain.


__ADS_2