
Sudah empat hari Faiq kembali berkutat dengan pekerjaan kantornya. Untuk sementara ia ditempatkan Darmawan di Hotel Horisson, sebagai manajer pemasaran. Sugiyanto yang merupakan manajer pemasaran lama telah dimutasi ke Surabaya dengan jabatan yang sama.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Faiq baru menyelesaikan menandatangani laporan bulanan yang telah tertata dengan rapi di meja kerja. Ia sudah berjanji dengan Hani untuk mengantarnya membawa Fatih dan Khaira imunisasi di rumkit Asih.
Faiq merapikan jasnya dan segera berjalan ke luar dari ruang kerja. Ia menghubungi Hani untuk segera mempersiapkan si kembar.
Saat ia melewati ballroom hotel, suara perempuan terdengar samar-samar memanggilnya. Faiq masih asyik melihat chat yang masuk di ponselnya.
“Tuan Al Fareza….” Suara itu makin terdengar dekat.
Faiq menghentikan langkahnya dan menatap seorang perempuan muda yang sudah berdiri di hadapannya.
“Apa kabar tuan?”
“Dr. Valerie…” ujar Faiq tenang.
Ia menatapnya dengan heran tak menyangka bertemu dengan psikiater yang direkomendasikan dr. thomas.
“Bagaimana kabar istri anda? Kenapa tidak melanjutkan konselingnya?” Valerie bertanya dengan penuh perhatian.
“Saya rasa kami tidak memerlukan itu.” Faiq tersenyum tipis.
Ia melihat beberapa orang menyapa dr. Valerie yang masih tegak tak bergeming di sampingnya.
“Apa yang anda lakukan di sini, tuan Al Fareza?”
“Saya bekerja di sini dokter.”
“Panggil saja Tasya…” dr. Valerie berusaha mengakrabkan diri.
Dengan terpaksa Faiq menerima jabat tangan Valerie dan cepat melepasnya. Melihat penampilan Faiq, Valerie yakin, bahwa lelaki muda di depannya ini bukan karyawan biasa. Dan ia merasa beruntung bertemu untuk kedua kalinya.
“Kami di sini karena ada Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PIT PDSKJI).” Valerie menjelaskan dengan gamblang. “Kegiatannya berlangsung mulai hari ini sampai dua hari ke depan.”
__ADS_1
Faiq tidak menanggapi ia hanya tersenyum.
Valerie tidak ingin Faiq menyalah artikan keberadaannya di hotel karena sesuatu dan lain hal. Walaupun pada kenyataanya Valerie sudah terbiasa melakukan hubungan dengan rekan seprofesinya yang masih lajang, karena saling membutuhkan.
Valerie dapat melihat beberapa karyawan hotel yang berpapasan dengan mereka tampak menunduk dengan hormat ketika bertatapan dengan Faiq.
“Apa anda tidak ingin mentraktir saya minum tuan Al Fareza? Kebetulan kami sedang coffebreak…” tanpa sungkan Valerie menawarkan diri pada Faiq yang masih berdiri sambil melihat ponselnya.
“Ya, saya rasa bukan ide yang buruk.” Faiq mengangguk menyetujui saran Valerie.
Keduanya berjalan menuju kafetaria yang letaknya tidak jauh dari ballroom tempat dr. Valerie mengikuti kegiatan.
Dr. Valerie mulai berbincang banyak hal tentang profesi yang digelutinya sebagai psikiater. Ia juga mempromosikan diri agar Faiq mau menerima jasanya untuk membantu proses pemulihan istrinya.
Faiq sesekali menanggapi perkataan dr. Valerie. Ia mengakui bahwa dr. Valerie memang sangat menyenangkan untuk menjadi teman bicara.
Ponselnya berbunyi dalam mode video call.
“Maafkan saya …” Faiq memandang dr. Valerie seketika.
“Assalamu’alaikum … “ Faiq langsung mengucap salam begitu wajah Marisa terpampang di layar ponselnya.
“Maafkan ibu yang sudah membawa Hani dan si kembar untuk imunisasi.” Ujar Marisa sambil tersenyum, “Kebetulan Hanif juga membawa Wulan kontrol. Jadi kami pergi bersama mereka, karena besok mereka akan kembali ke Medan.”
“Baiklah bu.” Faiq menjawab sekilas, “Mana Rara?”
Faiq tidak melihat istrinya berada dekat Marisa, ia hanya melihat Wulan dan Hanif yang menggendong si kembar.
“Sedang berbicara dengan teman lamanya.” Marisa berkata dengan santai.
“Teman lamanya ?” telinga Faiq langsung berdiri mendengar perkataan ibunya.
“Benar. Kamu tau, dokter anak yang menangani si kembar adalah tetangga Rara saat masih kecil. Ia sangat telaten memeriksa si kembar.” Dengan santai Marisa mengarahkan ponselnya pada Hani dan Fahmi yang sedang mengobrol tentang pertumbuhan si kembar.
__ADS_1
Emosi Faiq langsung naik ke kepala. Ia merasa kesal karena membiarkan Hani pergi tanpa ia yang mendampingi. Dari awal ia sudah tidak menyukai dr. Fahmi. Tetapi ia tidak ingin menanyakan sesuatu yang belum tentu benar. Tapi mendengar perkataan ibunya tentang perhatian dr. Fahmi terhadap anak-anaknya bisa saja dokter itu mempunyai niat terselubung pada istrinya.
“Maafkan saya, karena harus menjemput istri dan anak-anak saya di rumah sakit Asih.” Faiq berkata dengan cepat.
Tanpa mengharap persetujuan dr. Valerie, Faiq melangkah dengan cepat. Ia tidak ingin membiarkan Hani berlama-lama di dekat dr. Fahmi. Hani berada dekat mantan suaminya saja Faiq tidak rela, apalagi dengan sahabat lamanya.
Dr. Valerie merasa kesal karena Faiq berlalu dari hadapannya tanpa memberikan kesan yang baik pada pertemuan kali ini. Tapi ia tak berkecil hati, masih banyak kesempatan untuk masa yang akan datang. Dan ia berharap pada saat itu, Faiq lebih bersikap bersahabat padanya.
Marisa dan Wulan serta Hani masih berbincang-bincang di kafetaria rumah sakit dengan si kembar yang sudah tertidur pulas. Dr. Fahmi dengan setia menemani mereka mengobrol. Hanif masih menunggu resep untuk istrinya dan si kembar.
Setelah mengambil resep dan membayar di kasir, Hanif kembali ke kafetaria. Di tengah perjalanan ia bertemu Faiq yang berjalan dengan tergesa-gesa.
“Mas Faiq…” Hanif memanggil iparnya yang tidak melihat padanya.
Faiq menghentikan langkah. Ia menghampiri Hanif yang akan berbelok ke persimpangan rumah sakit.
“Mana yang lain?” suara Faiq terdengar memburu karena ia tidak melihat siapa pun kecuali Hanif yang berjalan seorang diri.
“Aku baru menebus obat. Dr. Fahmi mentraktir kami semua di kafetaria.” Jawab Hanif santai tanpa dosa.
Raut kekesalan langsung tergambar di wajah Faiq mendengar ucapan Hanif. “Kenapa kau mengizinkan lelaki asing membawa mereka?”
“Fahmi bukanlah orang asing. Dia sudah seperti keluarga bagi kami walau…” Hanif menghentikan perkataannya melihat wajah Faiq sudah menegang.
“Apa dokter itu mantan pacar Hani?” Faiq ingin memastikan kecurigaannya.
“Mereka tidak pernah pacaran, karena orang tua Fahmi tidak ingin mempunyai menantu miskin. Walau ku tau, Fahmi sangat menyukai mbak Hani sejak awal. Hingga ia kuliah kedokteran di Surabaya selalu menanyakan mbak Hani.”
“Apa Rara menyukainya?” rasa penasaran terus menggelitik di benak Faiq.
“Mereka memang pernah dekat. Tapi semenjak tante Tari ibunya Fahmi melabrak mbak Hani di rumah, hingga mengirim Fahmi kuliah ke Singapura, sejak itulah aku tidak pernah mendengar mbak Hani membicarakan Fahmi lagi.”
Rasa marah kembali bergolak di dada Faiq. Ia tidak ingin siapa pun menyimpan perasaan pada istrinya. Rara hanya miliknya seorang. Lelaki mana pun tidak boleh dekat dengan istrinya apalagi orang di masa lalu yang pernah hadir mengisi hatinya.
__ADS_1
“Sayang…” suara Faiq mengejutkan Hani.
Ia segera menoleh ke sampingnya. Dengan santai Faiq duduk dan mengambil jus lemon milik Hani yang sudah tinggal separo.