Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 170 S2 (Pertemuan Dua Keluarga)


__ADS_3

Ivan merasa kesal, keinginannya  untuk bertemu calon istrinya terhalang karena ada permasalahan dengan proposal yang diajukan bagian advertising. Perusahaan produsen makanan dan minuman yang menggunakan jasa mereka keberatan dengan biaya yang terlalu besar.


“Dasar tidak profesional!” maki Ivan kesal sambil bercekak pinggang saat Gisel membawakan email penundaan kontrak kerja sama.


Gisel bersembunyi di belakang Hari yang baru masuk. Ia khawatir menjadi pelampiasan kemarahan harimau yang tak pandang bulu saat sedang emosi.


“Sekarang kita terbang ke Surabaya. Aku tidak ingin menundanya sampai besok kalau bisa diselesaikan sore ini.”


“Baik bos.” Hari mengangguk cepat.


Tanpa menunggu penjelasan Ivan lebih lanjut ia segera mengurus tiket eksekutif untuk kepergian mereka berdua ke Surabaya.


Ivan meminta Roni mengurus semua seserahan yang akan dibawa ke kediaman Khaira malam ini sebelum keberangkatannya bersama Hari.


Laras terkejut melihat lima mobil beriringan memasuki halam rumahnya. Ia hanya melihat Roni yang turun dari mobil membawa berbagai jenis barang perlengkapan untuk seserahan tapi tidak melihat Ivan.


“Apaan ini Ron?” Laras langsung menghadang langkah Roni yang mengiringi para pegawai yang membawa semua barang belanjaan pesanan Ivan.


“Untuk seserahan nanti malam nyonya,” Roni menjawab santai sambil mengarahkan anak buahnya untuk menyimpan semua barang dengan hati-hati.


Laras melongo mendengar jawaban asisten putranya itu. Perasaan Ivan bilang kemaren hanya pertemuan dua keluarga. Ini sih bukan bertemu lagi tapi langsung melamar karena semua seserahan telah lengkap.


“Mana bosmu itu?” tak ayal Laras menanyakan keberadaan Ivan yang saat ini belum nampak batang hidungnya.


“Barusan terbang ke Surabaya nyonya.”


Laras mengeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban Roni. Bos dan asisten sama sableng pikirnya. Akhirnya Laras meminta Roni membawa semua barang seserahan di simpan di ruang kerja yang cukup luas di rumahnya.


Rheina memandang Khaira yang tampak tidak bersemangat ketika semua saudaranya telah berkumpul di rumah oma menunggu kedatangan pihak keluarga Ivan.


“Nggak nyangka ya de, akhirnya kamu berhasil menaklukkan Ceo New Star Corps itu ….” Rheina menatapnya dengan penuh kekaguman.


Khaira hanya diam mendengar celotehan Rheina yang terus memberondongnya dengan pertanyaan tentang awal kedekatannya dengan Ivan. Ia sendiri malas membahas tentang ayah bayi yang ia kandung.


Saat Ali menceritakan peristiwa yang terjadi antara Khaira dan Ivan,  Rheina langsung melongo. Ia termasuk pengagum Ivan, lelaki yang menjadi idola di kampusnya dulu. Dan ia selalu mengikuti perkembangan cerita sang idola yang terkenal dengan kekayaan dan perempuan yang pernah ada di sisinya.


“Kamu ini,” Ira istri Ariq menepuk pundak Rheina, “Jodoh itu semua sudah di atur Yang Kuasa. Semoga pernikahan ade kali ini berjalan lancar.”


“Terima kasih mba,” Khaira tersenyum mendengar  perkataan Ira.

__ADS_1


Taklama kemudian 4 mobil beriringan memasuki pekarangan rumah Marisa. Ariq sebagai tuan rumah segera menyambut kedatangan tamu. Ia tersenyum melihat om Sadewo sebagai tetua dari pihak laki-laki.


Ia terkejut melihat perempuan sebaya tante Wulan istri om Hanif datang membawa parcel yang berisi aneka buah-buahan dan brownies bermacan jenis.


“Jadi serepot ini?” Ira menyambut tante Laras dan Indah sambil menyalami keduanya dengan penuh hormat.


“Kerjaan yang punya gawe,” Laras berkata dengan penuh semangat, “nampaknya udah nggak sabar pengen kawin.”


Oma Marisa tersenyum mendengar ucapan tante Laras. Ia merasa senang karena Khaira akhirnya menerima semua keputusan keluarga untuk segera menerima pinangan Ivan.


Ariq, om Hanif dan om Sadewo segera terlibat percakapan serius sehingga semua yang berada di dalam ruangan tamu terdiam untuk mendengar yang diperbincangkan.


Om Sadewo langsung menceritakan maksud kedatangan mereka serombongan. Ia juga sempat menceritakan perihal kejadian di rumah Laras yang sudah siap dengan barang hantaran yang akan diserahkan kepada calon pengantin perempuan.


“Sepertinya calon pengantin lelaki tidak menunda-tunda lagi …. “ sambungnya.


Ariq tersenyum  mendengar perkataan om Sadewo mewakili keluarga Ivan. Ia pun ingin secepatnya pernikahan terjadi.


“Saya dan saudara serta Rara telah menerima dengan tangan terbuka niat baik Ivan untuk meminang Rara dan menjadikan istrinya. Sekarang tinggal kita sepakati tanggal lamaran dan pelaksanaan pernikahannya.”


“Lebih cepat lebih baik,” sela Laras, “Bagaimana kalau malam Minggu?”


“Semua sudah siap. Kenapa harus ditunda-tunda lagi,” kilah Laras.


Ariq terpaku, lusa sudah hari Sabtu. Berarti lamaran tinggal dua hari lagi. Ia memandang pamn Hanif serta saudaranya yang lain yang menunggu dengan perasaan tidak menentu.


Tatapan Ariq beralih pada Khaira yang duduk diapit oma Marisa dan bu Ila. Kini ia merasa lega, wajah adiknya sudah tidak terlalu mendung seperti hari-hari kemarin.


“Bagaimana de, apa kamu setuju?” Ariq memandang Khaira dengan lekat. Ia khawatir masih ada penolakan dari adik kesayangan mereka.


Ruangan hening sejenak, semua menunggu keputusan yang akan diambil Khaira untuk menentukan masa depannya.


Khaira memandang bu Ila yang duduk di sampingnya yang mengangguk padanya begitupun oma Marisa menganggukkan kepala membuat Khaira menguatkan hati untuk menjawab.


“Apapun yang terbaik menurut keluarga saya menyetujuinya,” Khaira berkata dengan lirih. Suaranya terasa nyangkut di tenggorokan.


“Alhamdulillah,” ujar om Sadewo dan Ariq bersamaan. Mereka lega mendengar perkataan Khaira.


“Walau pun nak Rara nggak jadi menantu saya, tapi masih jadi mantu ponakan,” senyum om Sadewo mengembang saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


“Lantas kapan pelaksanaan pernikahannya?” kembali Laras mengajukan pertanyaan membuat Ali heran dengan sikap tak sabaran mamanya Ivan.


“Pantas saja anaknya senekad itu, sudah turunan sifatnya,” batin Ali sambil melirik Khaira yang terdiam dengan raut sedih.


“Kalau minggu depannya bagaimana? Kita pilih hari Jum’at pernikahannya,” saran om Sadewo cepat.


Ia ingat, sebelum ke Surabaya siang tadi Ivan sempat mampir ke kantornya. Ia yang bekerja sebagai ASN di sebuah BUMN terkejut atas kehadiran ponakannya yang super tajir. Ivan memintanya untuk mengurus pernikahan paling lama 2 minggu dari sekarang.


Bagaimana mungkin Sadewo tidak pusing, yang dihadapi bukan keluarga di dalam rumah tangganya sendiri, tetapi melibatkan keluarga lain, yaitu pihak calon mempelai perempuan yang belum tentu menerima keinginan mereka.


“Lebih cepat lebih baik,” akhirnya paman Hanif mengeluarkan suaranya.


Mendengar perkataan om Hanif, Ariq pun tak berani menyanggah. Ia sadar orang dewasa lebih paham dengan kondisi yang terjadi. Ia pun tak ingin membiarkan janin yang dikandung adiknya semakin membesar hingga mengundang omongan tidak enak para tetangga maupun rekan kerjanya.


“Berarti kita harus segera mempersiapkan undangan, tempat resepsi, menu serta gaun untuk pernikahan dan resepsinya.  Jangan lupa jumlah tamu yang akan diundang,” tante Indah merasa bingung mendengar waktu pelaksanaan yang sangat mendadak.


Ia baru saja selesai menikahkan putrinya dan ia tau betapa repotnya mengurus itu semua. Padahal pernikahan hingga resepsi Afifah sudah direncanakan empat bulan sebelumnya.


Lha ini, semua harus terlaksana sebelum dua minggu. Indah merasa pusing memikirkan waktu yang diberikan Ivan.


“Untuk semua yang tante sebutkan barusan pihak kami siap meng-handle-nya,” Fatih berkata dengan cepat, “Kami hanya meminta nama-nama dari pihak keluarga calon mempelai laki-laki yang akan diundang.”


Indah melongo mendengar jawaban Fatih. Ia tidak menyangka  bahwa saudara menantunya bisa menangani semua yang ia sebut.


Laras tersenyum kecil mendengar percakapan yang terjadi antara Indah dan Fatih. Sejak lama ia dan Indah memang tidak pernah satu haluan. Indah terlalu mengagungkan keluarganya yang rata-rata ASN dan pejabat negara. Sedangkan Laras tipe santai. Ia tak ambil pusing saat mendengarkan kekecewaan Indah ketika mengetahui Afifah akan menikah dengan Junior yang hanya memiliki paman seorang pengacara perusahaan besar.


Indah memang tidak pergaulan seperti Laras. Hidupnya monoton dengan menjadi seorang Kepala Cabang di sebuah bank milik negara. Dari pagi hingga sore bahkan malam hari ia masih berjibaku di tempatnya bekerja, sehingga tidak mengetahui dunia perkembangan dunia luar.


Tapi saat mengetahui bahwa Junior adalah cucu seorang pemilik gerai perhiasan berlian terpandang baru senyumnya melebar kemana-mana. Laras hanya mencibir saat Indah menunjukkan barang hantaran yang terdiri atas satu set perhiasan berlian dan barang-barang branded lainnya yang jumlahnya memenuhi kamar pengantin.


“Dasar mak-mak matre ….” ledek Laras saat itu.


Sebelum berangkat ke kediaman Marisa, semua mampir ke rumah Laras. Dengan senang hati ia memperlihatkan semua yang telah dipersiapkan Ivan pada acara lamaran. Saat Indah dan saudara yang lain melihat barang hantaran yang akan diserahkan pada calon mempelai perempuan ia merasa keberatan, karena menurutnya tak pantas seorang janda mendapatkan seserahan barang yang sangat berkualitas.


Laras kembali mencibir melihat kelakuan sepupu matrenya itu. Mereka berdua memang jarang ketemu. Yang Raras tidak suka dari sifat Indah adalah suka membanding-bandingkan kehidupan orang lain yang tidak sederajat dengan mereka. Dengan jabatan suaminya di BUMN dan posisinya di bank BUMN membuat Indah menjadi pribadi yang selalu ingin menonjol dari semua saudara mereka yang lain.


Tapi kini fakta berkata lain. Indah hanya melongo mendengar saudara ipar Khaira mulai menyampaikan ide-ide dari tempat, menu, hingga gaun yang akan digunakan kedua mempelai di hari H. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa menantunya seorang lelaki tajir yang tinggal menerima keuntungan dari saham perusahaan yang dikelola saudara-saudaranya yang lain.


 

__ADS_1


Moga author khilaf dan otaknya encer bisa lancar up di hari ini.  Tunggu terus ya, banyakin komen. Reader senang baca Ivan dan Khaira. Author senang banget baca komen dari readerku tersayang ...


__ADS_2