Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 297 S2 (Kamulah Superioritasku)


__ADS_3

Tatapan Laura nyalang memandang Ivan dan Khaira yang memisahkan diri dari mereka.  Ia tidak menyangka, tak seorang pun yang memandangnya. Ivan lelaki yang sempat ia targetkan sebagai lelaki masa depannya bahkan tak menganggap ia ada.


Ia akhirnya mengakui perkataan mamanya yang mengatakan bahwa Ivan hanya mencintai istrinya. Semenjak menikah dia tidak pernah terlibat hubungan dengan perempuan mana pun. Laura menyesal, kenapa tidak sejak awal ia bertemu Ivan. Jika itu terjadi, maka dirinyalah yang akan menjadi perempuan paling bahagia sejagat raya.


“Apa yang kamu tunggu?” Berli bertanya dengan heran pada Laura yang belum juga memasuki mobil.


Ia masih terlibat percakapan ringan dengan ustadz Hanan dan ustadz Helmi di ujung parkiran. Padahal kunci mobil telah ia serahkan pada Laura. Hingga  berjalan menuju mobilnya yang terparkir paling ujung ia mengerutkan dahi melihat Laura yang diam tak bergeming berdiri di sisi mobil.


“Aku menunggumu,” Laura menjawab dengan kesal.


“Hm ....” Berli tersenyum sinis, “Bukannya aku tak tau apa yang ada di pikiranmu. Tuan Ivan terlalu jauh dari jangkauanmu. Dia mencintai keluarganya. Jangan pernah berharap sesuatu yang bukan milikmu.”


Laura mendengus tak senang mendengar perkataan Berli yang langsung menghempaskan hasratnya tentang Ivan.


Sementara itu ustadz Hanan dan ustadz Helmi sekilas melihat Ivan yang menggandeng Khaira terburu-buru menuju meja resepsionis hotel saat ia dan Berli masih terlibat percakapan menuju pintu keluar.


Tapi hingga Berli memisahkan diri darinya, ustadz Hanan tidak melihat keberadaan Ivan dan istrinya. Senyumnya langsung terbit menyadari apa yang ada di pikiran Ivan saat ini.


“Mentang-mentang pengantin baru .... “ ustadz Hanan berkata pelan tapi masih tertangkap pendengaran ustadz Helmi.


“Siapa yang pengantin baru?” ustadz Helmi penasaran dengan ucapan ustadz Hanan.


“Ivan dan ustadzah Aisya,” jawab ustadz Hanan seketika.


Ustadz Helmi terhenyak. Rasa penasarannya terjawab sudah. Saat pertemuan mereka tadi malam ia sudah mencurigai adanya hubungan yang terjadi antara relasi bosnya dengan ustadzah Aisya, lelaki mapan yang kini menjadi tetangga baru mereka di pondok.


“Sejak kapan?” ustadz Helmi tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Ustadz Hanan memandang asistennya dengan dahi berkerut. Ia tau kalau ustadz Helmi pernah tertarik dengan ustadzah Aisya, jauh sebelum ia curhat tentang perasaannya pada bundanya si kembar. Sebagai sesama lelaki, ia paham arti tatapan ustadz Helmi.


“Ivan dan ustadzah Aisya pernah menikah. Si kembar adalah anak Ivan. Ujian pernikahan telah membuat keduanya terpisah,” Ustadz Hanan terpaksa menceritakan kebenaran tentang Ivan dan ustadzah Aisya.


Ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang menyebabkan terjadinya fitnah. Sedini mungkin ia akan mengungkapkan pada ustadz Helmi hubungan yang terjadi antara Ivan dan ustadzah Aisya.

__ADS_1


“Mereka menikah hampir dua minggu saat tante Laras sedang sakaratul maut. Abahlah yang menikahkan keduanya,” ustadz Hanan melanjutkan ceritanya.


“Bagaimana  Ustadz mengetahui ini semua?” ustadz Helmi tak bisa menahan rasa ingin taunya mendengar cerita bosnya itu.


“Aku dan Ivan berteman dekat saat SMA. Aku  mengetahui semua sepak terjangnya,” ustadz Hanan tersenyum membayangkan masa muda Ivan yang penuh warna, “Banyak ujian yang telah keduanya lalui selama pernikahan mereka, hingga takdir Allah menyatukan mereka kembali.”


Ustadz Helmi terdiam mendengar semua perkataan ustadz Hanan tentang kehidupan ustadzah Aisya dan Ivan. Hingga akhirnya ustadz Hanan memintanya turut mendoakan kebahagiaan dalam pernikahan yang sudah terjadi diantara keduanya.


Begitu memasuki pintu kamar hotel yang telah dipesannya, Ivan langsung mengurung Khaira dalam rengkuhannya.


“Mas, kenapa kita ke sini?” Khaira berusaha menahan jemari Ivan yang mulai melepas hijab dan niqab yang menutupi wajahnya.


Tapi semua usahanya percuma. Rambutnya sudah tergerai karena tindakan Ivan begitu halus dan cepat.


“Aku sangat menginginkanmu,” nafas Ivan memburu cepat saat mulai menjatuhkan bibirnya di telaga madu yang jadi fokusnya sejak awal.


“Ini masih siang, Mass!” Khaira menggelengkan kepala menghadapi sikap Ivan yang sudah tidak mampu menguasai dirinya.


“Astagfirullah .... “ Khaira jadi malu sendiri mendengar ucapan Ivan yang berkata dengan santai.


Seharusnya ia bersikap biasa saja saat menghadapi Laura. Karena ia tau, Ivan  selalu menjaga kesetiaan pada dirinya sejak awal, walau pun pada kenyataannya kehadiran Bryan mendatangkan permasalahan yang berbeda.


“Tapi aku suka,” ujar  Ivan santai.


Tangannya mulai bergerilya mencari spot favoritnya. Khaira sudah mengeluarkan suara dan berbicara padanya, membuat semua menjadi lebih mudah, dan ia tidak akan melewatkan kebersamaan mereka saat ini mumpung si kembar pun bersama Ira.


“Mas, badanku terasa gerah. Apa tidak sebaiknya mandi dulu?” Khaira masih berusaha menghindari keinginan Ivan.


“Mandinya bisa belakangan. Kamu harus mengakhiri semua yang kamu mulai sejak tadi.”


“Maksud mas Ivan?” Khaira mulai terpancing dengan sentuhan-sentuhan memabukkan suaminya.


“Kamu telah membangunkan Singa tidur, saatnya kamu menidurkannya kembali,” Ivan tersenyum smirk membuat Khaira bergidik menyadari maksud tersembunyi Ivan.

__ADS_1


“Salah Mas sendiri tidak menjalankan amanat dengan baik,” Khaira mencibir dengan raut sinis teringat perbuatan Ivan tadi malam.


Ia memasang wajah datar dan menjauhkan diri dari Ivan, padahal pakaian yang ia kenakan sudah tak berbentuk, perbuatan siapa lagi kalau bukan Ivan si pemaksa.


Ivan tersenyum mendengar sindiran sang istri. Memang ini permasalahan yang sesungguhnya membuat ia melewatkan kehangatan di malam panjang mereka. Dan ia bertekad mulai detik ini tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan sang istri.


“Mas mohon maaf. Itu tidak akan terjadi lagi Sayang... Mas janji!” Ivan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah dengan wajah memelas.


“Gak ngaruh!” Khaira melengos semakin menjauhi Ivan dan mulai merapikan pakaiannya kembali, “Janji mulu, tapi selalu ingkar. Aku sudah kenyang dengan janji yang mas Ivan  ucapkan.”


Ivan tertegun mendengar sindiran Khaira yang telak membuatnya tak bisa berkata apa pun. Kali ini Khaira tidak menahan dirinya untuk mengatakan kekecewaan  yang selama ini ia tahan dengan semua janji dan omongan Ivan.


Dengan cepat Khaira memungut hijab dan niqab ingin memasangnya kembali di depan kaca besar di dalam kamar president suit tersebut. Ia tak mempedulikan tatapan penuh gairah yang terpancar jelas di wajah suaminya.


“Walaupun tak ku katakan, harusnya mas tau prioritas kita adalah si kembar,” Khaira meneruskan unek-unek yang tersimpan di hatinya, “Atau bisa jadi ada superioritas yang lebih penting dari Fajar dan Embun.”


“Maksudmu?” Ivan menatap Khaira yang berjalan menuju pintu kamar.


Khaira melengos dengan bibir manyun ketika matanya bersirobak dengan suaminya. Rasa kesalnya belum hilang karena kelalaian Ivan dalam mengawasi Fajar dan Embun.


Ivan merasa gemas melihat Khaira yang semakin memancing gairahnya. Dengan cepat ia menghadang langkah Khaira yang berjalan di depannya langsung memanggulnya dan menghempaskan istrinya ke tempat tidur.


Khaira tak menyangka dengan gerak cepat suaminya. Ia tidak bisa bergerak, Ivan langsung mengurungnya penuh kepuasan.


“Apa yang akan mas lakukan?” Khaira  menahan wajah Ivan yang semakin dekat padanya.


“Superioritasku sekarang adalah kamu,” Ivan langsung menjatuhkan bibirnya di telaga madu yang kini terdiam dengan serangan mendadaknya.


Ia tak memberikan kesempatan pada Khaira untuk berkata. Keahliannya dalam memanjakan sang istri membuat Khaira tak bisa berbuat apa pun. Menghindarpun percuma saja. Ivan tak akan membiarkannya lolos begitu saja.


Akhirnya Khaira terhanyut dengan permainan sang suami. Senyum kepuasan terbit di wajah Ivan karena keinginannya terpenuhi. Beberapa jam yang lalu ia berusaha menahan hasrat akibat Khaira yang menempel padanya saat Laura mulai mencari perhatian.


Siapa pun yang mencoba mengalihkan perhatiannya dari sang istri tidak akan memberikan pengaruh apa pun. Hatinya semakin terikat kuat. Dan ia yakin semuanya tak akan pernah berubah.

__ADS_1


__ADS_2