Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 116


__ADS_3

Siang itu Faiq dan Hani bersama keenam anaknya berkunjung ke restoran A2H yang semakin berkembang dengan playgroundnya yang  menjadi tempat pilihan keluarga di akhir pekan. Hani asyik mengobrol dengan Mawar dan Sari di ruang kerjanya yang tidak mengalami perubahan. Sedangkan Fandi berbincang dengan Faiq sambil mengawasi anak-anaknya yang bermain dengan babysitternya.


“Aku sangat senang kalian berkunjung kemari.” Mawar tak bisa menutupi kebahagiaannya sejak awal menyambut kedatangan Hani sekeluarga.


“Aku merindukan kalian,” Hani berkata dengan jujur, “Sudah lama juga tidak bawa anak-anak main yang berhubungan dengan alam.”


“Terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan pada kami.” Mawar berkata dengan tulus.


Sari masuk sambil membawakan minuman dan camilan langsung meletakkannya di atas meja di hadapan keduanya.


“Saya ke depan dulu ya. Silakan lanjutkan obrolan kalian.” Sari pamit pada keduanya.


Hani dan Mawar menganggukkan kepala berbarengan. Keduanya kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat terputus.


Setelah anak-anak merasa puas bermain bersama Faiq segera menemui Hani untuk mengajaknya kembali. Junior juga sudah tertidur dalam gendongannya.


Dalam perjalanan pulang, Ariq dan Ali merasa senang saat diajak bermain dayung di sungai buatan yang tidak terlalu dalam. Sedangkan Hasya belajar berkebun bersama Irma putri Mawar yang usianya lebih muda dari pada Hasya. Si kembar Fatih dan Khaira yang tetap dalam pantauan Faiq saat keduanya mandi bola bersama Rendi putra semata wayang Sari yang baru berumur 2 tahun.


Hani dan Faiq saling berpandangan turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan putra-putri mereka. Ia meremas jemari Hani dengan lembut menyalurkan kehangatan di hatinya. Ke depannya ia akan menjadwalkan untuk terus membawa anak-anaknya melihat dan bersosialisasi dengan lingkungan luar, sehingga mereka bisa menjadi pribadi yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.


Keluarga besar Darmawan baru selesai makan malam ketika ponsel Faiq terus berbunyi tanpa henti. Faiq memang tidak pernah mengaktifkan ponsel di malam hari sesudah ia kembali dari kantor. Baginya saat sudah di rumah ia akan fokus bersama anak dan istri. Tetapi jika ada masalah yang mendesak, ia minta Rudi yang mengurus dan menghubunginya.


“Andre ….” gumam Faiq begitu melihat nama panggilan yang tertera di layar ponselnya.


“Siapa mas?” Hani menatap suaminya yang tertegun melihat nama di layar ponsel.


Faiq memandang istrinya sesaat, “Aneh, kenapa Andre jam segini menghubungi. Sudah lama juga tidak berkomunikasi dengannya.”


Darmawan dan Marisa saling melempar pandangan. Keduanya yakin, kalau Andre yang dimaksud Faiq adalah saudara Hesti. Yang mereka heran, ada keperluan apa lagi mereka menghubungi di jam segini.


“Hubungi kembali saja, mas. Mungkin ada hal mendesak yang harus mas ketahui.” Hani menyarankan suaminya untuk menghubungi balik.


Tak lama ponsel Faiq berdering kembali. Dengan cepat ia mengangkatnya dengan membunyikan speaker agar semua yang berada di ruang makan mendengar.


“Assalamu’alaikum ….” ujar Faiq memberi salam.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Mas bisa datang ke rumah sakit UKI sekarang, kami mohon ….” pinta Andre dengan nada menghiba.


“Untuk apa keluarga mereka menghubungi kita lagi?” Marisa kelihatan tidak senang.


“Bukankah ayah sudah mengingatkanmu, jangan pernah melibatkan diri dengan keluarga mereka!” Darwin berkata dengan nada ketus.


Hani heran melihat pemandangan di depannya. Ia asing mendengar nama yang barusan disebut suaminya, dan Hani tidak berani bertanya melihat suasana yang terasa mencekam.


“Mas Faiq, kami mohon. Hanya kali ini saya mohon dengan penuh harap.” Suara itu terdengar lagi.

__ADS_1


Darmawan dan Marisa sudah memasang wajah permusuhan. Faiq terdiam tidak membuka suara. Pandangannya  mengarah pada Hani yang menatapnya dengan kening berkerut. Keheningan terjadi lagi.


Hani menghela nafas pelan, “Baiklah mas, aku akan mendampingimu ke sana. Kita tidak mungkin mengecewakan orang yang mengharapkan pertolongan kita bukan?”


Faiq terkejut mendengar ucapan istrinya. Ia mengalihkan pandangan pada kedua orangtuanya yang memandang Hani dengan mata membulat.


“Yang, Andre adalah saudara laki-laki Hesti yang telah menabrak kita,” ujar Faiq lirih.


Dia sudah berikrar pada dirinya sendiri tidak akan menyembunyikan hal sekecil apa pun terhadap istrinya. Dan jika Hani melarangnya pergi dia tidak akan pergi menuruti keinginan keluarga besar Andre dan Hesti.


Hani tertegun. Apakah ia telah mengambil keputusan yang salah karena mengijinkan kepergian Faiq dan ikut mendampinginya? Tapi Hani berpikir positif. Ia harus siap melihat dan mendengar apa pun  yang akan terjadi di sana nanti.


“Yok, aku juga ingin tau apa yang menyebabkan mereka menghubungi mas di jam segini. Aku akan bersiap,” ujar Hani tegas.


Ia segera meninggalkan meja makan menuju kamar untuk berganti pakaian dan mengambil jaket buat suaminya.


Sementara di ruang makan masih tercipta keheningan diantara ketiganya. Darmawan dan Marisa tidak menyangka Hani bisa mengambil keputusan secepat ini. Faiq tetap terdiam, bermain dengan pikiran dan keputusan yang harus ia ambil jika posisinya dalam zona merah.


“Ayah, ibu … kami pergi dulu. Mudahan tidak akan ada kejadian buruk. Kita harus berpikiran positif, sehingga hasilnya juga baik,” ujar Hani pelan penuh keyakinan.


Faiq menerima jaket yang diulurkan istrinya. Keduanya segera berpamitan dengan Marisa dan Darmawan yang menatap mereka dengan perasaan cemas.


“Ayah dan ibu tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja,” Faiq berkata dengan tenang.


Ia memastikan semua akan dapat ia kendalikan. Dengan merangkul bahu Hani dan berjalan beriringan keduanya memasuki mobil. Di dalam perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Andre segera keluar menyambut kedatangan Faiq. Ia terkejut melihat Faiq yang tidak datang sendiri tetapi ditemani istrinya. Andre meminta Faiq seorang yang masuk ke dalam ruangan dengan menerapkan protokol kesehatan saat memasuki ruang ICU.


Faiq menolak karena tidak diijinkan masuk ditemani istrinya. Tapi Andre bersikeras bahwa semua pengunjung yang ingin memasuki ruang ICU dibatasi.


“Aku nggak apa-apa di sini, mas.” Hani mengusap lengan Faiq yang emosi karena Hani tidak diijinkan mendampinginya, “Semua akan baik-baik saja.”


Dengan berat hati Faiq mengikuti langkah Andre. Ia terpaku melihat  sosok yang terbujur kaku di bed pasien dengan alat bantu penopang kehidupan yang memenuhi tubuhnya. Faiq tak mempercayai penglihatannya, Hesti lah sosok itu. Ia melihat sekelilingnya. Dewi dengan mata yang membengkak, Thamrin serta seorang lelaki dengan berpeci dan berjas lengkap serta Andre yang kini berdiri di samping bed Hesti menatap kakaknya dengan penuh kecemasan.


“Maafkan kami nak Faiq, terpaksa mengganggu ketentramanmu lagi.” Thamrin berkata pelan sambil menjabat tangannya.


Faiq tak berkata sepatah kata pun, masih mereka-reka apa yang bakal terjadi. Ia menatap Hesti dari jarak 3 meter. Ia melihat mata Hesti yang sudah semakin redup, dengan nafas yang mulai tersengal.


“Kami hanya ingin mewujudkan keinginan Hesti, saat meninggal ia sudah berstatus menjadi seorang  istri,” ujar Thamrin lirih, “Bersediakah nak Faiq mengabulkan keinginan terakhir Hesti? Kami semua sudah pasrah. Hanya nak Faiq lah yang mampu melakukan itu.”


Faiq terkejut mendengar perkataan Thamrin. Ia menggelengkan kepala seketika. Tak ingin jatuh ke lubang yang sama. Dan ingatannya akan almarhum Tama membuat ia memutuskan dengan cepat.


“Saya tidak akan melakukan itu. Siapa pun yang bersedia menikahi Hesti akan saya bayar!” tegas Faiq membuat semua mata mengarahnya.


“Tapi nak Faiq tidak mungkin menafkahi nak Hesti, tolonglah kami nak Faiq. Hanya inilah pertolongan nak Faiq yang sangat kami harapkan ….” Thamrin masih berusaha menbujuknya.

__ADS_1


Faiq tetap menggeleng tegas, “Saya sudah menjatuhkan talak tiga, dan sudah hukumnya saya tidak boleh menikahi Hesti walau apa pun yang terjadi di dunia hingga ke surga hanya Rara lah satu-satunya istri saya.”


“Dit … dit ….” suara monitor berpacu dengan cepat.


Seorang dokter dan perawat yang terus memantau perkembangan Hesti mulai saling memberi kode satu sama lain.


“Nak Faiq, kita hanya ikhtiar untuk mempermudah perjalanan nak Hesti. Selama 4 bulan ini, dia sudah tersiksa dengan alat bantu yang menopang hidupnya,” Thamrin masih keukeuh dengan usahanya agar Faiq berubah pikiran.


“Maafkan saya, kalian salah memilih orang,” tegas  Faiq.  Ia sudah memantapkan pendirian, tidak akan pernah terlibat dengan keluarga Linda.


“Maafkan saya tuan Faiq Al Fareza, sudah saatnya kita menolong orang yang sudah kesusahan. Karena menolong itu sudah kewajiban sebagai sesama muslim.” Laki-laki yang berpakaian jas lengkap mulai mendekati Faiq, “Perkenalkan saya Suhendra, penghulu yang sudah dipanggil keluarga pak Thamrin sejak jam 5 sore tadi.”


Faiq menyambut uluran tangan penghulu tersebut. Ia masih menggelengkan kepada dengan tegas, “Maafkan saya untuk kali ini saya tidak bisa membantu.”


“Saya siap menikahi Hesti!” suara bariton terdengar memasuki ruangan yang diikuti Hani di belakangnya.


“Mas Widodo ….” Andre terperangah melihat lelaki tegap masih menggunakan seragam hijau lorengnya yang menerobos masuk.


“Sayang ….” Faiq langsung merangkul Hani dengan cepat.


Ia merasa lega melihat kedatangan lelaki berseragam itu. Perasaannya benar-benar plong, karena terlepas dari tanggung jawab yang akan melilit kehidupannya seperti masa lalu.


Akhirnya Faiq bersedia menjadi saksi pernikahan bersama Thamrin dengan Andre sebagai wali Hesti yang akan menikahkan kedua belah pihak.


“Saya terima nikah dan kawinnya Hesti Handayani binti Bambang Kusuma dengan mas kawin sebentuk cincin emas dibayar tunai.”  Widodo berkata dengan tegas sambil menjabat tangan Andre yang telah menyerahkan kakaknya.


“Bagaimana hadirin sekalian?” Suhendra menatap sekelilingnya.


“Sah.” Thamrin membuka suara cepat.


Dokter mulai mendekati Thamrin dan Andre untuk menjelaskan kondisi  Hesti yang semakin menurun seperti nafas spontan, detak jantung semakin melemah yang terlihat pada layar monitor.


Andre sudah pasrah. Ia menghampiri Dewi untuk mendekati Hesti yang semakin kesusahan bernafas.


Widodo mendekati Hesti yang matanya melotot ke atas. Ia menggenggam tangan Hesti dan membelainya dengan lembut. Widodo mengarahkan bibirnya ke telinga Hesti.


“Aku mencintaimu. Dan telah menjadikanmu istriku. Tunggulah aku di sana nanti,” bisik Widodo lirih.


Hatinya merasakan kesedihan yang tak terhingga, menyaksikan teman masa kecilnya yang berada di kondisi terburuk. Ia tidak berhak menyalahkan siapa pun atas kasus yang menimpa Hesti.


Andre mendekat dan menggenggam jemari Hesti sambil menuntunnya membaca talqin untuk mempermudah perjalanan kakaknya.


Dengan pelan Hesti menutup mata. Terlihat genangan air di sudut matanya. Tiada senyum yang tersungging di wajah cantiknya.


Widodo mencium kening Hesti yang kini telah meninggalkan sepenggal kisah di ujung hidupnya.

__ADS_1


“Innalillahi wainnailaihi roji’un.” Suhendra segera menutup wajah Hesti dengan selimut di atas tubuhnya.


Dewi pingsan dalam pelukan Andre mengetahui bahwa Hesti telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


__ADS_2