
Khaira merasa senang karena hari ini ia dan Hasya akan membawa Babby A berjalan-jalan ke mall untuk shopping. Ini pertama kali ia lakukan semenjak kepergian Abbas. Hasya sengaja mengajak Khaira, karena sudah lama ia tidak melihat adiknya belanja pakaian baru, apalagi sekarang aktivitasnya mulai kembali normal. Hasya ingin merubah penampilan Khaira yang selama ini klasik dan terkesan kuno agar lebih stylis tapi tetap dalam koridor syariat.
Kesedihan akan kesendirian karena ditinggal pergi perlahan mulai sirna di hati Khaira, walau pun di saat malam tiba ketika naik ke peraduan kerinduan akan sosok Abbas tetap terasa mendera. Hanya di sujud terakhir di saat semua sudah terlelap Khaira akan mengadu pada sang Khalik akan kerinduan pada sosok yang telah mendahuluinya.
Karena merasa lelah mengikuti langkah Hasya yang sibuk memilih pakaian di butik terkenal membuat Khaira duduk sambil memangku Babby A yang tampak tenang sambil memegang mainan bayi di tangannya.
Roni yang sedang mampir mencuri waktu berbelanja bulanan untuk stok di apartemennya berhenti sesaat saat melewati food court. Ia melihat sesosok perempuan muda sambil memangku bayi mungil yang tampak menggemaskan.
Hari ini Ivan membebaskan dirinya untuk tidak mendampingi kegiatannya bersama Arya salah satu klien yang akan mengunjungi lokasi pemotretan yang akan dijadikan tempat pre weding untuk pernikahannya dengan anak pejabat kepolisian.
Untuk menghilangkan rasa penasaran ia membatalkan niatnya untuk memasuki lorong makanan instan. Dengan santai Roni berjalan menghampiri perempuan muda yang tampak asyik dengan bayi di pangkuannya.
“Selamat siang .... “ sapa Roni pelan, “Boleh saya duduk di sini?”
Khaira terkejut, tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang selama ini banyak membantu almarhum suaminya.
“Tuan Roni .... kebetulan kita bertemu di sini.” Khaira tersenyum dengan perasaan lega, sudah lama ia menginginkan momen seperti ini.
Roni menatap dengan lekat bayi mungil yang kini mulai kelihatan mengantuk. Ia teringat perkataan Ivan, tatapannya beralih pada Khaira.
Rengekan halus mulai terdengar dari bibir imut sang bayi mungil. Dengan cepat Khaira mengeluarkan botol susu yang sudah tersedia di dalam tas.
“Sebentar sayang, bunda siapkan mimi-nya ya .... “ sambil tersenyum pada sang bayi Khaira langsung mengarahkan dot pada mulut mungil Babby A yang langsung disambut dengan semangat hingga bayi mungil itu mulai memejamkan mata.
Mendengar ucapan Khaira, akhirnya Roni yakin bahwa ucapan Ivan seratus persen benar. Ia menatap Khaira dan sang bayi dengan penuh perhatian.
“Bayinya sudah besar sekarang, dan sehat lagi,” Roni berkata dengan tulus.
“Alhamdulillah, dengan kehadiran Babby A membuat saya lebih terhibur sekarang,” Khaira berkata pelan sambil membelai rambut si mungil yang kini tertidur pulas.
Keduanya terdiam beberapa saat hingga akhirnya Khaira ingat untuk mengucapkan terima kasih pada Roni atas bantuan yang telah ia berikan selama proses kepergian Abbas.
“Saya dan ibu sangat berterima kasih atas segala yang tuan Roni lakukan untuk aa Abbas dan kami kemaren.”
“Cukup panggil Roni saja. Saya dan almarhum lumayan dekat,” Roni berusaha mengakrabkan diri dengan. Kapan lagi bisa bertemu dan berbicara sedekat ini, syukur-syukur bisa dapat nomor ponsel, pikirnya dalam hati.
Khaira menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, “Saya tetap menghargai dan menghormati tuan Roni sebagai orang yang paling berjasa dalam hidup kami. Dan sampai kapan pun saya tak ingin merubahnya .... “
Roni memandang perempuan muda di depannya dengan lekat. Ia tau diri, dari ucapan Khaira barusan telah membuat kuncup yang sempat tumbuh di hatinya layu sebelum berkembang. Janda Abbas telah membuat benteng yang tidak bisa ia masuki.
“Baiklah mbak Rara, saya permisi.” Roni pamit undur diri.
Kesedihan tiba-tiba merayap di palung hatinya terdalam. Cinta pertamanya telah layu sebelum berkembang. Ia menghirup nafas dalam-dalam, berusaha mengusir kesedihan yang datang tanpa di undang. Kalah sebelum berperang, perasaan itulah yang kini membuat Roni melangkah tanpa semangat.
“Kamu sangat beruntung Abbas, dicintai perempuan yang memiliki sifat seperti bidadari surga,” batin Roni dengan menghembuskan nafas kuat untuk mengurangi kepedihan yang mendera.
Khaira masih menunggu Hasya yang tidak ingat waktu saat berburu pakaian. Pingin marah tapi kasian juga, ia sadar selama kehamilan saudaranya itu Hasya tidak bisa jalan-jalan ke luar. Mas Valdo over protektif menjaga kehamilan sang istri. Kini Hasya membayarnya dengan memuaskan diri memborong pakaian bermerk yang sejak hamil sudah ia idamkan.
Senyum lebar terbit di wajah Hasya saat di tangan kiri dan kanannya membawa paper bag lebih dari delapan pcs. Khaira terperangah, ternyata Hasya tidak sendirian, ada suaminya yang juga membawa beberapa paper bag di sebelah kiri dan kanannya.
“Astagfirullahaladjim .... “ Khaira mengelus dada melihat wajah saudari perempuannya yang tampak bahagia.
“Lihat kelakuan mbakmu, untung cinta,” Valdo tersenyum tipis walau perasaannya agak dongkol di telpon saat baru kembali dari rumah sakit karena ada pasien yang mendadak di operasi usus buntu. Dengan cepat ia mandi untuk menuruti titah sang ratu. Kalau tidak dituruti, bisa-bisa ia tidur di ruang tamu selama seminggu.
“Kalau mas capek langsung pulang saja. Aku dan ade masih mau cari barang lain.” Hasya mengerling Khaira memberi isyarat untuk menganggukkan kepala menyetujui ucapannya.
“Cari apa lagi mbak?” Khaira bertanya dengan raut bingung.
Valdo langsung tertawa mengetahui sandiwara yang dibuat istrinya yang belum mau pulang ke rumah.
__ADS_1
“Mas belum mau pulang. Ada janji sama temen lama skalian mau makan siang juga di restoran lantai dua.”
“Arsitek dari Jepang itu?” Hasya cemberut, ia tau kalau suaminya udah ngobrol di telpon bisa berjam-jam dengan teman SMAnya dulu.
“Maaf yang, mas janji hanya makan siang saja.” Valdo menatap istrinya dengan lekat sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab, “Kemaren mas membatalkan janji karena ada jadwal operasi mendadak, dr. Edwin sedang dinas keluar kota.”
“Janji nggak ngalor ngidul kayak di telpon. Kaya orang pacaran saja.” Hasya memanyunkan bibirnya. Ia paling kesal kalau melihat kelakuan suaminya saat telponan dengan sobatnya itu bisa lupa waktu.
Valdo merasa gemes dengan sifat istrinya yang terkadang lebih manja dari putri sulungnya yang kini mulai bersekolah di PAUD. Tapi itulah hiburan terbaik saat dirinya merasakan kepenatan dan suntuk setelah seharian bekerja.
Khaira hanya tersenyum melihat drama suami istri di depannya. Ia sama sekali tidak menyangka, mbak Hasya begitu manja dan kolokan di depan suaminya. Namun jika di dalam keluarga mereka, sikap dewasa dan keibuan begitu nampak dengan jelas saat ia menyikapi setiap permasalahan yang terjadi di dalam keluarga besar mereka.
Khaira singgah ke toilet saat Valdo mengajak mereka naik ke lantai dua menuju restoran ternama untuk menemui temannya yang sudah janjian satu jam sebelumnya. Ia membersihkan mukanya yang tampak kusam dan menyapukan bedak tipis serta lip gloss untuk menghilangkan kesan pucat di wajahnya.
“Mana mbak dan Babby A?” Khaira menghenyakkan tubuhnya di samping Valdo yang sedang asyik memainkan ponselnya.
“Di ruang inisiasi. Sudah saatnya Babby A mimi ASI,” Valdo menjawab dengan santai. Matanya kembali tertuju pada ponsel.
“Selamat siang, maaf terlambat.” Sebuah suara bariton mengejutkan Khaira dan Valdo yang asyik bermain ponsel masing-masing.
Dengan cepat Valdo berdiri dan langsung memeluk sobat lamanya itu. Temannya yang dari awal sudah berjuang bersama meraih cita-cita masa depan mereka.
“Wah, bos besar sudah lama tidak bertemu.” Valdo menepuk pundaknya dengan keras, “Gimana Den, sudah bertemu yang kamu cari?”
Denis tersenyum mendengar perkataan Valdo, “Masih proses, kali ini harus lebih selektif. Satu kali seumur hidup, man.”
Khaira tersenyum sambil menangkupkan kedua tangan saat Denis mengulurkan tangan padanya.
“Siapa?” Denis berbisik pelan pada Valdo tapi masih kedengaran di pendengaran Khaira. Ia memandang lelaki di depannya yang menatapnya dengan lekat.
“Adikku,” jawab Valdo santai.
Khaira merasa tidak enak di tatap seintens itu, seperti hendak menguliti. Dengan cepat ia membereskan ponsel yang masih tergeletak di meja. Ia memandang Valdo yang masih berbicara dengan temannya yang sesekali mencuri pandang menatap Khaira.
“Mas, tolong sampaikan pada mbak. Aku pulang duluan, masih ada kerjaan di rumah.” Tanpa mengharap persetujuan Valdo, Khaira bergegas tanpa senyum ia hanya menganggukkan kepala pada Denis yang tidak mengalihkan tatapan darinya.
“Adikmu Renata aku mengenalnya.” Denis berusaha mengulik Valdo untuk menceritakan perempuan muda yang membuat hatinya tergetar saat melihatnya pertama kali.
“Adik ipar.” Valdo kembali duduk di kursi dan memesan makanan begitu pegawai restoran menghampiri mereka.
“Sangat menarik. Kalau kamu mengizinkan aku siap menjadi iparmu.” Denis berkata langsung, ia termasuk tipe pria yang to the point.
“Sudah sold-out,” Valdo mulai menyimpan ponselnya di saku.
“Hatiku langsung patah,” Denis berkata sambil memegang dadanya. Ia benar-benar tidak menyangka dengan yang diucapkan sobatnya itu.
“Sang Cassanova sudah kehilangan powernya. Apa kamu sudah kehabisan stock perempuan?” Valdo mencibir Denis yang masih memandang pintu tempat keluarnya Khaira.
“Aku ingin mencari perempuan sederhana, dan membuatku nyaman. Kriterianya ada pada iparmu. Sayang sudah ada yang punya.”
Valdo tercenung sesaat. Haruskah ia menceritakan kehidupan pribadi adik ipar kesayangan keluarga besar mereka? Tapi toh, semua sudah dewasa dan tidak akan berdampak apa pun jika hanya bercerita sekilas. Ia tau, walau pun masa muda Denis terkenal dengan julukan player, ia yakin setiap orang bisa berubah. Apa lagi ia sudah kenal sifat Denis luar dalam. Tak ada salahnya ia menceritakan kisah adik iparnya, siapa tau mereka bisa berjodoh. Dan Khaira bisa keluar dari zona aman dan hidupnya terbebas dari bayangan Abbas.
“Dia sudah janda,” akhirnya kalimat sakti keluar dari bibir Valdo membuat jiwa penakluk Denis membuncah kesenangan.
“Ini berita terbaik yang pernah ku dengar seumur hidupku. Akan ku kejar hingga ke pelaminan.” Tampak Denis penuh semangat saat mengucapkan itu. “Mendengar ucapanmu barusan, seolah aku baru memenangkan lotre.”
Valdo tersenyum sinis, “Tidak akan mudah bagimu untuk menaklukkannya. Banyak palang pintu yang harus dilewati.”
Denis menatap Valdo dengan mengerutkan jidatnya, “Apa kau melupakan siapa sobatmu ini?” Denis menepuk dadanya dengan jumawa.
__ADS_1
“Empat malaikat pengiring, ditambah satu bidadari yang melindungi. Dan ku rasa benteng yang ia bangun cukup tebal, sehingga tidak mudah untuk menaklukkannya. Dia permata istimewa yang tersembunyi.” Valdo membayangkan bagaimana istrinya serta ipar-iparnya melindungi Khaira dari mata-mata penggoda di luaran demi untuk mencari pendamping yang cocok bagi saudari mereka, “Kamu tau kan latar belakang keluarga istriku?”
Denis terpana mendengar perkataan Valdo, “Permata langka. Inilah yang aku cari. Mohon dukunganmu, aku tidak akan menyia-nyiakannya.” Denis menatap Valdo dengan penuh harap.
Ia tau banyak kisah Valdo saat menaklukkan Hasya, dua keluarga pengusaha terkuat jika disatukan tidak akan mampu dilawan siapapun. Tapi Valdo berhasil mendapatkan kepercayaan kakak tertua yang menjadi pengambil keputusan dalam dua keluarga besar Aditama dan Al Fareza.
Denis sangat percaya diri akan kemampuan dan jati diri maupun latar belakang keluarga besarnya, bukan masalah berat baginya untuk menemui kakak tertua keluarga itu, yang memegang segala kebijakan, dan kata-katanya adalah titah yang tak bisa diubah.Denis tersenyum menatap Valdo. Ia yakin untuk berjuang setelah mendengar cerita Valdo tentang gadis yang telah memikat hatinya saat pandangan pertama.
“Semoga aku berhasil membawanya ke pelaminan di akhir tahun ini. Aku akan berjuang. Tak peduli masa lalunya. Masa depan yang terbaik akan ku persiapkan untuk my future wife.”
“Hei, kita kemari untuk membicarakan pembangunan rumah sakit. Kenapa jadi beralih topik?” Valdo baru tersadar, ketika Hasya sudah kembali dengan wajah cemberut melihat Khaira sudah tidak berada di sana.
“Mas, dede mana?”
“Barusan pergi. Masih ada urusan katanya,” Valdo melirik Denis sambil mengangkat alisnya untuk menghentikan pembicaraan mereka tentang Khaira.
Hasya menatap suaminya dengan kesal. Ia yakin keduanya asyik mengobrol sehingga membuat Khaira seperti obat nyamuk di antara keduanya.
“Aduh sayang papi.” Dengan cepat Valdo mengambil Babby A dari gendongan Hasya yang tampak keringatan, karena bobot Babby A lumayan berat untuk ukuran tubuh rampingnya.
Denis memandang drama rumah tangga di depannya sambil meng*lum senyum, membayangkan masa depan yang bakal ia jalani ke depannya bersama gambaran future wife yang sudah ia klik.
Sementara itu Khaira yang membawa mobil sendiri segera membelokkan mobilnya ke kafe. Teman-teman kampus yang cukup akrab saat di BEM UI yang kini sudah menyebar hingga ke luar negeri bermaksud mengunjunginya setelah sekian lama tidak bertemu. Mereka hanya saling menyapa lewat medsos. Kini ada 3 orang diantaranya datang menyempatkan diri saat mengetahui kepergian Abbas yang mendadak.
Khaira tak ingin membuang waktu begitu melihat gruf chat tentang keberadaan ketiganya yang kini sudah stay di kafe. Senyum terukir di bibirnya mengingat kebersamaan mereka selama aktif di BEM UI. Sudah lama ia tidak bertemu dengan teman-teman seperjuangan saat di kampus.
Anwar, Agnes dan Beno sudah duduk dengan santai di ruangan kafe yang tampak mulai ramai dengan pengunjung lain. Minuman segar sudah tersaji di hadapan ketiganya.
Senyum cerah terbit di wajah Khaira melihat ketiganya menyambut dirinya dengan penuh suka cita. Agnes memeluknya dengan erat saat Khaira sudah berdiri di hadapannya.
“Maafkan kami karena tidak bisa mendampingi di saat-saat terberat dalam hidupmu,” Agnes berkata dengan penuh penyesalan saat keduanya sudah duduk berdampingan.
Khaira menggelengkan kepala dengan cepat, “Aku memahami kesibukan kalian. Melihat kalian bertiga ada di sini saat ini membuat kesedihanku berkurang sebagian.”
“Bagaimana rencanamu ke depan?” Anwar bertanya dengan penuh perhatian. Ia dulu sempat tertarik dengan Khaira, tapi Abbas memang yang terbaik. Tiada cela sedikit pun dari kesehariannya, wajar saja Khaira melabuhkan hatinya.
“Hidup akan terus berjalan bukan? Setiaku tetap akan bertahan.” Khaira berrbicara sambil memainkan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya.
“Berlian bro .... “ Beno memanasi Anwar yang masih menatap Khaira dengan lekat.
“Hei!” Agnes menepuk bahu Anwar yang terkesiap karena ketauan Agnes memandang Khaira tanpa memalingkan wajah sejak awal pertemuan mereka.
“Eh .... “ Anwar buru-buru meraih gelas di hadapannya dan meminumnya dengan cepat membuat Agnes tersenyum mencibirnya.
“Kalian sudah menikah?” Khaira menatap Agnes dan Beno bergantian. Ia tau, keduanya pacaran sejak lama.
“Kita datang kemari sekaligus untuk mengundang eyu datang ke pemberkatan kami bulan depan di Paris.” Agnes berkata dengan raut bahagia.
Senyum terkembang di wajah Khaira melihat kebahagiaan di wajah temannya itu. Ia turut berbahagia untuk mereka.
Ivan yang kebetulan mampir di kafe karena itulah tempat terdekat dari lokasi yang mereka kunjungi, berhubung sudah jam makan siang akhirnya ia membawa Arya, Iqbal sang asisten serta tak ketinggalan Gisel yang sengaja mengikuti dengan alasan untuk mengatur jadwal yang tiba-tiba berubah tidak sesuai dengan yang telah ia susun.
Ivan terpaku melihat senyum dengan mata berbinar membuat dunianya seakan berhenti. Ia menghentikan langkahnya menikmati senyuman indah tersaji sempurna, sementara yang diperhatikan tidak menyadari sosok tegap menjulang yang menatapnya lekat.
“Tuan Ivan?” teguran Arya membuat Ivan tersadar posisinya.
Khaira terkejut melihat empat orang tamu yang diantaranya sudah tidak asing datang ke tempatnya, dengan cepat Khaira tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala pada Ivan dan rombongannya, dan melanjutkan kembali obrolan dengan temannya tanpa menghiraukan keberadaan mereka.
Ivan meraba jantungnya yang berdetak dengan cepat. Apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa hatinya merasa bahagia? Ada apa dengan hatinya?
__ADS_1
Dukung aku terus ya, mohon tulis dong saran dan kritiknya biar aku makin semangat up-date. Sayang semua ....