
Faiq memandang batu nisan yang tertulis nama istrinya. Perasaannya berat untuk beranjak meninggalkan gundukkan tanah yang kini bersemayam tubuh Hani. Tak terasa setitik air mata lolos dari pipinya.
“Tunggulah aku sayang ….” gumam Faiq dengan perasaan getir.
Berat hatinya untuk sekedar melangkahkan kaki meninggalkan gundukkan tanah yang masih segar. Ingin rasanya ia ikut berbaring menemani kesendirian istrinya. Perempuan satu-satunya yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama serta yang pertama kali dalam hidupnya.
“Kamu adalah istri sholeha, surgalah tempatmu. Aku ikhlas, aku ridho …. Di surga-Nya Allah kita akan bertemu nanti …. “ Faiq memejamkan mata berusaha menahan sesak di dada.
“Pa, ayo kita pulang. Kasian opa dan opa yang sudah menunggu, adik-adik juga …. “ Ali berdiri di sampingnya.
Faiq membuka mata. Ia mengamati sekelilingnya, memang hanya tinggal ia bersama Ariq dan Ali yang tersisa. Ia merangkul bahu Ariq yang masih khusu’ berdo’a untuk sang bunda. Sedangkan Ali sudah berdiri menunggu mereka berdua.
“Mari kita pulang, besok kita bisa mengunjungi bunda lagi,” ujar Faiq pelan.
Dengan berat Faiq mengiring kedua putranya menuju mobil keluarga yang sudah menunggu hampir setengah jam, hari pun menjelang sore. Rombongan mobil segera berlalu meninggalkan kompleks pemakaman yang kini sepi, sesepi hati Faiq.
Menjadi seorang duda dengan anak yang masih berusia tanggung bukanlah keinginan Faiq. Tetapi nasib sudah berkata lain. Ia pasrah dengan takdir Yang Kuasa. Dan ia yakin semua yang digariskan adalah yang terbaik yang harus ia terima.
Sudah 40 hari semenjak kepergian Hani. Faiq berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia harus kuat demi anak-anak yang masih perlu pengawasan dan kasih sayangnya. Pada saat sendirian di kamar, ia tak mampu menahan air mata karena bayangan Hani masih terasa kuat menghampirinya. Tapi begitu keluar kamar, ia harus tegar untuk memberi kekuatan bagi anak-anaknya yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang.
“Apa kamu tidak ingin menikah lagi? Kasian anak-anak, mereka masih memerlukan kasih sayang seorang ibu,” ujar Marisa pelan saat mereka sudah selesai makan malam.
Anak-anak sudah kembali ke kamar masing-masing. Kini tinggal Darmawan, Marisa dan Faiq yang tersisa. Sudah beberapa hari ini Faiq memang jarang pulang ke rumah. Ia lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor, karena itulah satu-satunya yang membuat ia bisa melupakan kesedihan atas kepergian Hani.
Faiq menatap gelas kosong di hadapannya. Perasaannya seperti gelas itu, kosong tak bersisa. Segenap hatinya sudah pergi dibawa sang empunya yang kini telah kembali ke pemilik sesungguhnya.
“Rara telah pergi. Allah telah mengatur sesuia kehendak-Nya, kita harus ikhlas menjalaninya,” Marisa masih meneruskan perkataannya karena melihat Faiq tak bergeming.
“Aku belum memikirkan itu, bu. Kalau aku menikah lagi, yang ku khawatirkan aku nggak bisa membagi kasih sayang dengan anak-anak,” ujar Faiq pelan, “Belum tentu perempuan yang akan menjadi istriku bisa menerima anak-anak.”
__ADS_1
Marisa dan Darmawan berpandangan sejenak. Selama ini mereka tau, bahwa Latifa teman semasa sekolah Faiq bahkan sekarang menjadi rekan di kantornya berusaha mendekatkan diri dengan anak-anak. Semenjak kepergian Hani, ia sering datang untuk mengunjungi anak-anak bahkan membawakan mereka makanan.
“Ayah dan ibu tidak keberatan jika kamu ingin menikah lagi. Ifa perempuan yang baik. Dia juga sangat perhatian pada anak-anak,” ujar Marisa sambil mengerling Darmawan agar membantunya meyakinkan Faiq untuk mulai membuka hatinya kembali.
“Aku yakin ibu dan ayah menginginkan yang terbaik bagi kami. Tapi cukup Rara sebagai istriku satu-satunya. Aku tak ingin memulai berumah tangga lagi. Aku akan menyaksikan anak-anak tumbuh dengan baik. Hingga saat Allah memanggil ku kelak, aku bisa membanggakan pada Rara, bahwa aku berhasil mengantarkan anak-anak menjadi soleh sholeha.” Faiq berkata dengan yakin.
“Apa pun yang kamu lakukan ayah akan selalu mendukungmu,” ujar Darmawan sambil menepuk pundaknya.
Faiq masih termangu di meja makan merenungi kesendiriannya. Ia merasa Hani selalu ada mendampinginya dan membantunya dalam mengawasi anak-anak. Untunglah anak-anak sudah semakin mandiri. Kini mereka sudah bisa melepas kepergian bundanya dengan ikhlas. Faiq selalu meluangkan waktu untuk mengajak anak-anaknya ziarah ke makam bundanya.
Faiq melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kesibukan dalam memperluas jaringan hotel berbasis syariah membuatnya lupa waktu. Ia menyandarkan kepala ke kursi kebesarannya.
Penciuman Faiq mengendus aroma parfum yang biasa dipakai Hani. Ia mengernyitkan dahi. Sebuah sentuhan lembut membelai punggung tangannya. Faiq membuka mata. Ia terkejut melihat Latifa berdiri di sampingnya dengan tangan yang masih di atas tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Faiq kesal.
“Maafkan saya, mas. Saya tau mas Faiq kesepian. Ijinkan saya menggantikan mbak Hani untuk mengisi kekosongan hati mas Faiq.” Latifa kembali meraih tangan Faiq.
Faiq menepiskan tangannya. Ia memandang Latifa dengan raut kesal. Keasyikannya terganggu karena kehadiran perempuan itu.
“Sampai kapan pun tidak akan ada yang mampu menggantikan sosok Rara,” Faiq berkata tegas, “Dia satu-satunya perempuan yang ku inginkan dalam hidupku.”
“Mas, aku sudah mencintaimu sejak lama. Dan aku telah mengunci hatiku untuk siapa pun sejak aku jatuh cinta padamu. Tak bisakah kau membuka hatimu untukku?” Latifa berjalan mendekati Faiq, “Aku sudah menunggumu selama lima tahun ini agar selalu bisa di dekatmu. Ijinkan aku menjadi milikmu, mas ….”
Tanpa diduga Faiq, Latifa memeluknya dengan erat. Ia masih bertahan dengan kesendiriannya hanya ingin menunggu Faiq membuka hati untuknya. Setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya malam ini Latifa mengumpulkan seluruh keberaniannya.
__ADS_1
“Hei, apa yang kau lakukan.” Faiq berusaha mendorong tubuh Latifa yang masih mencengkeram kemejanya.
“Mas, aku rela menyerahkan semuanya untukmu. Biarkan aku menjadi milikmu walau hanya malam ini …. “ Latifa menatapnya dengan sendu.
Dengan cepat Faiq melepaskan cengkeraman tangan Latifa di kemejanya. Ia menepisnya dengan keras sehingga Latifa meringis menahan sakit. Ia tidak pernah melakukan kekerasan fisik kepada siapa pun apalagi terhadap seorang perempuan. Tapi keberanian Latifa membuatnya bereaksi keras.
“Sebagai perempuan kamu harus menjaga marwahmu Ifa. Masih banyak lelaki baik di luar sana. Aku tidak bisa membagi hatiku untuk siapa pun. Hatiku hanya milik Rara. Dia lah milikku satu-satunya di dunia hingga di surga-Nya Allah nanti.” Faiq menatapnya tajam, “Sekarang tolong keluar dari ruanganku!”
“Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku. Apa kelebihan almarhum istrimu dibanding aku. Dia hanya seorang janda ….”
“Astagfirullahaladjim. Ifa, tidak sadarkah kau dengan apa yang kau katakan?” Faiq memandangnya dengan marah, “Orang yang telah meninggal sudah habis perkaranya di dunia ini. Demi Allah aku bersumpah, Rara adalah perempuan mulia. Sebagai suami aku ridho atas segala perbuatannya di dunia. Istri yang mulia dan mendapat keridhaan suami, surgalah tempatnya. Mulai detik ini aku tidak mau melihatmu berkeliaran di dalam ruanganku.” Faiq berdiri dengan bercekak pinggang di depan Latifa yang tidak menyangka akan reaksi Faiq yang diluar perkiraannya.
Dengan perasaan malu karena ditolak akhirnya Latifa keluar dari ruangan Faiq. Padahal ia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Ia sampai mendekati Marisa untuk mendukung hubungannya dengan Faiq, bahkan meminta parfum yang biasa digunakan Hani agar Faiq memandangnya walau hanya sekejab.
Sesampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Faiq membersihkan diri dan segera beranjak ke pembaringan. Kejadian di kantor masih melintas di benaknya. Ia tidak menyangka Latifa nekad mendekatinya.
Sejak awal Latifa bergabung di perusahaan, Faiq sudah merasa bahwa Latifa memiliki perasaan khusus padanya. Setelah delapan tahun ia pikir perasaannya akan berubah, tapi nyatanya tidak. Dengan kepergian Hani, keagresifan Latifa semakin nampak. Ia tak segan datang ke rumah dan mendekati kedua orangtunya bahkan anak-anaknya.
Faiq memandang Foto pernikahan mereka yang terpajang di atas nakas. Ia meraih pigura tersebut. Jemarinya membelai wajah ayu istrinya yang tersenyum manis.
“Ya, Allah … sesakit ini aku merindukannya …. “ Faiq berkata dengan lirih.
Ia jadi teringat dengan almarhum Tama. Bagaimana Tama merindukan Rara disaat ia sudah menjadi istrinya. Pengakuan tulus Tama membuat Faiq merasa sedih. Kini ia merasakan sendiri sakitnya menahan kerinduan dengan orang yang telah tiada.
Faiq bangkit menuju kamar mandi. Dengan cepat ia mengambil wudhu. Hanya kepada sang Pencipta lah ia dapat mengadukan semua beban yang terasa menyesakkan dada dan melumpuhkan ingatannya.
Dengan khusu’ Faiq memanjatkan do’a kepada sang Khalik. Ia menumpahkan segala beban yang ia rasakan dengan berurai air mata. Tiada tempat untuk mengadu selain sang pemilik hati. Ia juga mendo’akan kebaikan untuk almarhum Tama. Khusus untuk istri tercinta ia selalu berdo’a agar selalu disatukan di akhirat nanti.
Setelah puas mengadu dengan sang empunya jiwa dan raganya, akhirnya Faiq merasakan kelelahan. Ia segera naik ke pembaringan dan memeluk piyama yang biasa digunakan Hani karena masih ada aroma wangi lembut istrinya. Akhirnya Faiq dapat memejamkan mata di penghujung malam.
__ADS_1