Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 234 S2 (Bangkit Kembali)


__ADS_3

Dengan bantuan Edward, Ivan telah tiba di Jerman untuk memulai proses perawatan  Bryan. Sudah seminggu ini ia merasakan keanehan pada tubuhnya. Ia sering merasa lelah dan tidak bernafsu untuk menikmati makanan. Karena sibuk mengurus dan menjaga Bryan membuatnya tidak memikirkan gejala yang terjadi pada dirinya.


Ia telah menjual separo saham perusahaan yang ia tinggalkan kepada Ardi. Kini ia tinggal memiliki studio mini serta advertising agency yang bergerak dibidang pembuatan iklan. Ia yakin, uang yang ia miliki cukup untuk bertahan selama lima tahun dalam upaya proses penyembuhan Bryan yang diperkirakan memakan waktu tiga tahunan lagi.


Mereka menyewa apartemen mewah dekat kawasan rumah sakit Helios yang telah terkenal menangani para pasien yang mengidap kanker. Ivan meminta jasa pembantu asisten rumah tangga untuk mengurus segala keperluan mereka selama di sana. Ia tidak ingin Claudia mengeluh karena tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Dari uang cash yang didapat, Ivan menggunakan seperempatnya untuk berinvestasi di bursa saham. Ia mempercayakan semuanya pada Edward yang sampai saat ini masih tetap berhubungan baik dengannya.


Claudia merasa kesal karena Ivan memilih untuk sekamar dengan Bryan. Sedikit pun ia tidak ingin melewatkan waktu untuk  meraih  hati Ivan  kembali, karena ia yakin begitu jauh dari Khaira semua akan mudah ia kendalikan.


Hari baru menunjukkan jam delapan pagi. Karena musim semi udara sangat segar. Ivan masih di kamar mandi. Semalaman ia berbicara dengan Edward yang telah memulai mendaftarkan dirinya sebagai pemain baru di bisnis permodalan.


Saat ia terbangun, Bryan masih terlelap di sampingnya. Ivan memandang Bryan dengan  lekat. Bayangan wajah Khaira tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Ia menggelengkan kepala berusaha melupakan wajah ayu bermata bening yang selalu membuatnya merindu. Entah apa yang kini diperbuat Khaira di seberang sana.


“Kenapa aku tidak bisa menghapus bayangmu dari pikiranku?” desah Ivan bermonolog di dalam hati.


Ketika  ia mulai membaringkan tubuh dan memejamkan mata, saat itu juga  bayangan Khaira muncul dengan senyum manis dan lesung di pipinya. Tatapan mata beningnya tak bisa begitu saja ia lupakan.


“Ah, sudahlah,” Ivan bergegas menuju kamar mandi. Ia tidak ingin kembali terhanyut dengan semua kenangan bersama Khaira. Ia telah memutuskan untuk melepas. Tidak mungkin ia menjilat kembali ludah yang telah dibuang.


Ivan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Ia tidak ingin bayangan Khaira membuat suasana hatinya buruk. Siang ini ia sudah berjanji untuk membawa Bryan berjalan ke taman bunga di kota Berlin.


Tiba-tiba sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang dan mulai membelainya dengan lembut. Ivan terdiam sejenak.  Ia yakin Claudia lah yang melakukannya. Sebagai lelaki normal yang sudah beberapa waktu tidak merasakan kehangatan berhubungan dengan istrinya, sentuhan itu membangkitkan gairah Ivan.


Ia membalik tubuhnya dan melihat Claudia yang sudah dalam keadaan polos menatapnya penuh damba. Keduanya saling bertatapan.


Melihat Ivan yang diam tak bergeming menatapnya membuat Claudia semakin bersemangat. Ia mengagumi sosok kekar dengan tubuh menjulang itu. Ia sudah lama merindukan saat-saat seperti ini. Kini kesempatan itu telah datang. Claudia semakin memajukan wajahnya untuk mendaratkan bibirnya. Ia yakin Ivan tak mungkin menolak.


Wajah keduanya semakin dekat. Ivan menghirup aroma wewangian yang menguar dari tubuh Claudia. Bibir keduanya segera bertaut dan mulai melu*** dan meli*** satu sama lain\, hingga ....


“Aught .... “ Claudia menjerit tiba-tiba ketika dorongan tiba-tiba membuatnya jatuh terduduk.


“Hoek, hoek .... “ Ivan tiba-tiba tak bisa menahan  mual yang membuat perutnya terasa bergolak.


Ia berjalan menuju wastafel dan langsung  mengeluarkan semua isi perutnya. Kepalanya terasa berdenyut membuatnya merasa lemas tak berdaya.


“Jangan mendekat!” Ivan melarang Claudia mendekatinya. Ia tidak tau kenapa tubuhnya tiba-tiba bereaksi seperti ini.


Claudia  merasa prihatin dengan kondisi Ivan. Ia tidak mengindahkan perkataan Ivan. Ia merasa Ivan hanya kecapaian setelah menempuh perjalanan selama satu minggu, karena mereka transit dan menginap di beberapa kota yang berbeda hingga akhirnya  kini menetap di Jerman karena telah menemukan rumah sakit untuk rujukan Bryan.

__ADS_1


“Hoek ... hoek .... “ Ivan kembali memuntahkan apa yang ada di perutnya begitu Claudia mendekat padanya.


Claudia memandang Ivan dengan perasaan iba. Ia hanya memandang dari jarak 3 meter. Jika ia mendekat Ivan kembali bereaksi dengan memuntahkan apa pun yang bisa ia keluarkan dari perutnya.


Ivan membatalkan keinginannya untuk berjalan menemani Bryan ke taman kota. Ia hanya membuka email sambil berbaring di tempat tidur. Kepalanya terasa berat, dan ia malas menikmati makanan western yang disediakan koki ternama yang ia pekerjakan di apartemen mereka.


Sudah satu bulan Khaira bedrest di rumah Ariq. Ira menajaganya dengan telaten. Mereka memperlakukannya bagai seorang putri, karena khawatir kandungannya yang lemah. Dua hari sekali semua saudaranya berkumpul untuk menemani dan menghibur Khaira hingga ia melupakan segala kesedihan yang ia rasakan.


Malam itu saudara-saudara Khaira sudah berkumpul di rumah Ariq. Mereka dikumpulkan karena Khaira ingin menyampaikan keinginannya untuk mengabdi di ponpes Al-Ijtihad.


“Apa kamu yakin akan tinggal di sana de?” Hasya menatapnya seksama.


“Kami tidak ingin kamu capek karena melakukan aktivitas yang tidak penting,” Rheina juga menyampaikan pendapatnya.


“Insya Allah aku akan baik-baik saja,” Khaira berusaha meyakinkan saudara dan iparnya, “Tempatnya  sangat tenang dan nyaman.”


“Besok aku akan mengantarmu ke sana,” ujar Ariq memutuskan, “Kalau tempatnya sesuai yang kamu katakan, kami akan mengizinkanmu menetap di sana. Tapi kalau tidak  .... “


“Baik mas,” Khaira merasa senang, “Besok aku akan membawa semua sumbangan yang telah kalian kumpulkan untuk membantu ponpes tempatku  akan menetap.”


Ariq dan Khaira ditemani sopirnya tiba dengan membawa enam buah mobil box yang berisi semua belanjaan yang telah dipersiapkan Khaira sejak sebulan yang lalu.  Ariq turun dari mobil untuk melihat lokasi ponpes. Ia tersenyum menyadari apa yang dikatakan Khaira benar. Tempatnya memang lumayan jauh dari keramaian dan pasar.


“Titip ini untuk pimpinan pondok, semoga dapat membantu segala keperluan di pondok. Aku  siap untuk jadi donatur tetap di pondok ini.”


“Alhamdulillah, terima kasih mas,” Khaira merasa senang karena Ariq kini mendukung semua keinginannya.


Begitu Ariq berlalu ustadz Hanan dan  ustadzah Fatimah menghampiri Khaira yang masih melepas kepergian Ariq dan sopirnya.


“Assalamu’alaikum .... “ sapaan lembut itu kembali hadir menyapa Khaira.


“Wa’alaikumussalam,” dengan cepat Khaira menjawab dan langsung membalik badannya.


Khaira terkejut begitu melihat ustadzah Fatimah tidak sendirian, tetapi dengan suaminya serta beberapa ustadz lain yang mengikuti mereka.


“Ada apa ini dek?” ustadzah Fatimah menatapnya dengan bingung melihat mobil box yang masih parkir di halaman pondok yang sangat luas.


“Alhamdulillah ustadzah, saudara saya memberikan bantuan yang mungkin bisa dimanfaatkan santri dan ustadzah di pondok ini,” ujar Khaira sopan.


“Mari kita ke rumah dulu, sekalian silaturahmi dengan pengurus pondok sini,” ustadzah Fatimah menggandeng tangannya segera membawa Khaira berlalu.

__ADS_1


Ustadzah Fatimah segera memperkenalkan dirinya pada para kyai yang sudah sepuh serta beberapa ustadz yang berada di dalam rumah yang lumayan besar itu.


“Alhamdulillah saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah membukakan hati saudari kita untuk sampai ke mari dan memberikan sumbangan yang memang sangat diperlukan di ponpes yang kita bina sekarang ini .... “


Ustadzah Fatimah menyampaikan rasa syukurnya karena Khaira telah membuktikan perkataannya kemaren. Walau ada keraguan di hati ustadzah yang umurnya tidak berbeda jauh dengannya karena Khaira tidak memperkenalkan nama serta meninggalkan nomor ponsel saat ia pergi dari ponpes sebulan yang lalu.


Khaira mengucapkan terima kasih kepada para kyai serta pengurus pondok yang telah menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Ia pun segera menyampaikan amplop yang diberikan Ariq serta keinginan saudaranya menjadi donatur tetap di ponpes yang sudah beroperasi hampir sepuluh tahun tersebut.


Khaira segera mengeluarkan identitas dirinya dan menyerahkan pada ustadzah Fatimah, karena mulai saat ini ia resmi tinggal di pondok dan akan menjadi warga pondok selama yang ia inginkan.


“Ini data-data pribadi saya ustadzah .... “


Ustadzah Fatimah tertegun saat membaca KTP serta kartu keluarga yang diletakkan Khaira di hadapannya. Ia memandang Khaira dengan perasaan tak menentu. Ia mengalihkan tatapan pada suaminya ustadz Hanan yang  meliriknya tak mengerti dengan perubahan wajah istrinya.


Ketika para kyai dan pengurus pondok berlalu dari kediaman ustadz Hanan, ustadzah Fatimah dan Khaira segera terlibat percakapan santai.


“Maafkan saya dek, dan saya turut prihatin atas musibah yang menimpa adek .... “


“Mungkin ini memang  suratan saya yang sudah diatur Allah, ustadzah .... “ Khaira tersenyum tipis mendengar ucapan ustadzah Fatimah.


“Apa sekarang kamu sedang hamil?” ustadzah Fatimah memandangnya lekat.


Khaira terkejut, “Bagaimana ustadzah bisa tau?”


“Sebelum saya menikah dan membantu pak ustadz mengelola pondok ini profesi saya seorang bidan,” ustadzah Fatimah mengenang kembali masa mudanya, “Kami menikah muda, dek. Begitu selesai sekolah kebidanan, saya sempat bekerja di klinik Kasih Ibu. Bagaimana adek sendiri?”


“Kedua orangtua saya sudah meninggal,” Khaira mulai menceritakan silsilah keluarganya, “Kami enam bersaudara. Saya kuliah ekonomi. Saya sangat berterima kasih ustadzah dan keluarga besar menerima kehadiran saya.”


“Kita sesama muslim adalah saudara. Membantu saudara yang tertimpa musibah adalah kewajiban bagi kita,” ujar ustadzah Fatimah sambil mengulas senyum ramahnya, “Sudah berapa bulan hamilnya?”


“Hampir 8 minggu ustadzah,”  ujar Khaira  sambil membelai perutnya yang masih rata.


“Alhamdulillah dek,” ustadzah Fatimah menatapnya dengan takjub, “Terkadang Allah memberikan kita ujian yang menurut kita sangat berat. Tetapi yakinlah jika kita mampu melewatinya dengan tetap bersabar dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka karunia Allah akan sangat luas. Allah akan mengganti kesedihan dengan kebahagiaan.”


“Aamiin ya Rabbal’alaamiin .... “


“Kami sudah 10 tahun menikah, tetapi sampai saat ini Allah belum mempercayakan keturunan pada kami .... “ suara ustadzah Fatimah terdengar sendu saat mengatakannya, “Tapi saya percaya Allah mempunyai rencana lain buat kami.”


Khaira merasa senang saat berbincang bersama ustadzah Fatimah. Ia seperti mendapat kekuatan baru dalam menjalani hidup dan menata masa depannya. Yang harus ia jaga sekarang adalah janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya. Karena itulah kekuatan terbesarnya dalam menjalani kehidupan demi masa depan yang lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2