
Usia kehamilan Khaira sudah memasuki 9 bulan. Ustadzah Fatimah sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Mereka berdua sering menghabiskan waktu berdua sekedar sharing ilmu agama atau pun perbincangan ringan seputar kehidupan di pondok.
Khaira mengetahui dari ustadz Taufik adiknya ustadz Hanan bahwa di pondok masih kekurangan tenaga pengajar IPS dan Bahasa Arab untuk tingkat SMP/MTs. Beliau adalah kepala SMP Al-Ijtihad yang berada di bawah dinas pendidikan kota Bekasi tetapi di bawah yayasan Al-Ijtihad tempat Khaira menetap sekarang ini.
Karena mempunyai basic ekonomi dan Bahasa Inggris yang baik, Khaira tidak keberatan membantu mengajar anak pondok setingkat SMP/MTs yang kebetulan memang belum ada ustadz/ustadzah yang dengan latar belakang pendidikan yang linier untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut.
Khaira sangat menyenangi dunia baru yang kini ia jalani. Karena dalam kondisi hamil, memang berat baginya untuk melakukan segala aktifitas sehari-hari. Untung saja ia tidak mengalami morning sickness, hanya badannya saja yang mudah merasa lelah.
Saat ini Khaira duduk dengan nafas ngos-ngosan di rumah ustadz Hanan. Ustadzah Fatimah istrinya mendampingi Khaira dengan penuh perhatian.
“Apa sekarang sudah saatnya kamu melahirkan dek?” ustadzah Fatimah bertanya dengan hati-hati.
“Perasaanku belum saatnya mbak. Tapi sepagi ini perutku rasanya tidak nyaman.” Khaira mengelus perutnya yang sudah membulat.
“Bagaimana saudaramu apa sudah tau?” ustadzah Fatimah memandangnya dengan prihatin.
“Saya sudah men-chat mas Ariq untuk menjemput,” ujar Khaira lirih sambil mengelus perutnya yang mulasnya hilang datang.
Tak lama kemudian dua buah mobil BMW memasuki pekarangan rumah yang bersatu dengan kawasan pondok pesantren.
Khaira merasa lega, ia yakin saudaranya telah datang menjemputnya, karena sudah waktunya ia mengambil cuti melahirkan.
Ali yang semobil dengan Hasya segera turun dari mobil. Keduanya menunggu Ariq dan Fatih yang baru tiba untuk bersama menuju rumah ustadz Hanan menjemput Khaira. Mereka merasa terkejut karena dalam hitungan Hasya kemungkinan satu minggu lagi Khaira melahirkan.
“Assalamu’alaikum …. “ keempatnya kompak memberi salam begitu sampai di depan pintu dan melihat keberadaan dua perempuan di ruang tamu keluarga yang sangat sederhana itu.
“Waa’laikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” Khaira menjawab serentak dengan ustadzah Fatimah.
Tanpa menunda waktu setelah berpamitan pada ustadzah Fatimah, mereka langsung berangkat ke bandara. Pesawat jet pribadi telah menunggu yang akan menerbangkan Khaira. Mereka sudah sepakat untuk memberikan perawatan yang terbaik bagi Khaira dan dua calon buah hatinya.
Di Singapura saat ini, tepatnya di rumah sakit Queen Elisabeth, Khaira berjuang melahirkan sepasang bayi kembar tanpa pendampingan seorang suami kecuali saudara-saudara yang selalu siaga mendampinginya.
__ADS_1
Ariq, Ali bersama Fatih, Hasya dan Valdo menunggu dengan tegang ketika Khaira mulai memasuki ruang operasi. Karena kondisi fisiknya yang lemah, saudaranya memutuskan agar Khaira melahirkan dengan sesar.
“Siapa nama suami nyonya?” seorang dokter bedah menghampiri mereka berlima dengan membawa rekam medik pasien.
“Saya saudaranya yang bertanggung jawab menjadi walinya,” dengan cepat Ariq berdiri dan berjalan mengikuti dokter ke ruang prakteknya.
Mereka menanti dengan perasaan cemas melihat perjuangan adik kesayangan mereka yang akan melahirkan dengan bantuan medis. Hasya tak henti-hentinya mencengkeram tangan suaminya. Ia benar-benar cemas akan kesehatan Khaira.
Selama 9 bulan mengandung memang sangat berat bagi Khaira. Ia yang seharusnya dimanja dan dilimpahi kasih sayang, tapi suaminya entah berada di mana. Ia sudah pasrah. Dan tidak mengharapkan apa pun lagi.
Sekarang ia hanya memikirkan kesehatan bayi kembar yang kini akan ia lahirkan. Khaira sudah bertekad tidak akan melibatkan Ivan dalam pengurusan kedua bayinya. Ia meminta seluruh saudaranya untuk menutupi kebenaran bahwa ia telah melahirkan sepasang bayi Ivan.
Kecemasan kelima saudara semakin menjadi begitu Khaira dibawa memasuki ruang operasi. Hampir setengah jam mereka menunggu dengan perasaan cemas dan khawatir bercampur aduk jadi satu.
Begitu lampur merah di depan ruang operasi padam, Ariq dan Fatih beserta Ali langsung bangkit dari kursi. Dr. Abraham yang menangani tindakan medis pada Khaira, mengatakan bahwa Khaira mengalami pendarahan saat melahirkan hingga dan tidak sadarkan diri.
Ali sampai meninju dinding rumah sakit untuk meluapkan perasaan sedih dan kesalnya. Ia benar-benar mengutuk keras perbuatan Ivan yang membuat Khaira jadi seperti ini.
Lima belas menit kemudian Khaira keluar dari ruang operasi untuk kembali ke kamar inap. Hasya dan Valdo terus mendampingi Khaira yang sudah dipindah ke kamar inap. Sedangkan Ariq dan Fatih langsung mengikuti dokter anak yang membawa mereka melihat keberadaan si kembar.
Keduanya saling melemparkan senyum terharu begitu Fatih telah selesai mengumandangkan azan. Tatapan Ariq dan Fatih tak terlepas dari wajah kedua malaikat mungil yang telah hadir di dunia fana ini.
Kini kelimanya duduk menunggu Khaira yang masih dalam keadaan kritis. Fatih yang kebetulan golongan darahnya sama dengan kembarannya sudah mendonorkan darah sebanyak 2 kantong demi kesembuhan saudaranya. Do’a dan zikir mereka kumandangkan agar adik kesayangan mereka dan kedua anggota baru keluarga selalu dilindungi Allah dan diberikan kesehatan.
Sementara itu Khaira merasa berada di suatu tempat yang sangat indah. Ia duduk sendirian menghadap taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga dengan aneka keharuman yang berbeda.
Ia merasa tenang dan nyaman, beban pikiran serta kesedihan yang selama ini mengiringi hari-harinya serasa lepas. Perasaannya sangat damai dan tenteram. Ia menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.
“Kenapa duduk sendirian?” sebuah suara yang sudah tidak asing mengejutkannya yang menikmati ketenangan di pagi nan damai.
“Oma …. ?” Khaira terkejut melihat omanya tampak cantik dan segar walau pun diusianya yang sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
Khaira memeluk Marisa dengan perasaan haru. Ia sangat merindukan oma yang sudah lama tidak pernah ia temui karena dunia mereka sudah berbeda.
“Apa yang kamu pikirkan nak?” Marisa menatapnya dengan penuh perhatian.
Khaira tersenyum tipis, “Di sini rasanya nyaman oma. Tenang .... “
Marisa mengelus tangan Khaira dengan lembut. Ia menatap cucu kesayangannya dengan lekat. Ia yakin, banyak beban yang berada di pundak Khaira. Tapi ia yakin, cucunya adalah perempuan yang kuat. Ia akan sanggup menjalani ujian hidup yang telah digariskan Yang Maha Kuasa dalam kehidupannya.
Keduanya bertukar cerita dan saling menumpahkan kerinduan yang tersimpan di dalam dada masing-masing, hingga akhirnya Marisa pamit undur diri.
“Oma, ajak aku bersamamu .... “ Khaira memandang Marisa penuh harap.
Marisa menggelengkan kepala dengan cepat. Ia memeluk Khaira dengan erat berusaha memberikan kekuatan pada cucu perempuan kesayangannya.
“Tidak nak. Belum saatnya kamu ikut bersama oma. Perjalanan hidupmu masih panjang,” Marisa menatapnya lekat, “Jika kamu sabar menjalani, insya Allah kebahagiaan dan ketenangan hidup akan segera kamu raih.”
Marisa bangkit dari kursi yang ia duduki bersama Khaira. Kembali ia memeluk cucu perempuan kesayangannya dengan erat.
“Oma ... oma .... “ Khaira terus memanggil Marisa hingga ia merasa tepukan lembut di punggung tangannya membuat ia membuka mata.
“Ade .... “ Hasya memanggilnya dengan pelan
Khaira menatap wajah Hasya dengan tatapan bingung. Ia seperti baru habis melakukan perjalanan jauh dengan pikiran yang masih melayang.
“Selamat ya, anakmu kembar. Mereka terlahir dengan sempurna, cantik dan tampan,” suara Ali mengembalikan ingatan Khaira akan kondisinya saat ini.
Khaira mengelus perutnya yang kini rata. Air mata tanpa ia sadari menetes membasahi pipinya. Ia tidak tau bagaimana perasaannya saat ini. Bahagia, nestapa semua bercampur aduk dalam batinnya.
“Kita akan bersama membesarkan si kembar. Kamu tidak usah khawatir. Semua akan baik-baik saja,” Ariq menatapnya sambil tersenyum menenangkan.
“Terima kasih atas dukungan kalian .... “ Khaira berkata lirih sambil menghapus butiran air mata yang terus menerus mengalir di pipi.
__ADS_1
Ia sangat bersyukur Allah kini telah memberikan karuania dua malaikat kembar yang akan menguatkannya menjalani hari serta memberikan keluarga yang selalu ada dan mendukungnya.
Dengan keberadaan saudara disisinya membuat Khaira merasa kuat. Ia tidak sendiri, ada keluarga yang selalu mendampinginya dalam menjalani semua. Ia akan merawat si kembar, hingga keduanya tidak kehilangan kasih sayang orang tua, apa lagi ada saudara yang selalu mendukungnya membuat Khaira merasa tenang.