Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 252 S2 (Reunian Para Mantan)


__ADS_3

Dengan santai Ivan memasuki mobil Edward yang telah menunggunya di bandara Changi Singapura. Beberapa saat kemudian  ia telah tiba di hotel Marina Bay Sands.  Perasaan hangat hadir di hatinya menyadari bahwa kini ia berada di dalam bangunan yang sama dengan istri dan anak-anaknya.


Di lobby hotel Edward sudah menunggunya sambil mengulurkan kartu kamar hotel yang telah ia reservasi atas nama Ivan. Keduanya langsung berpelukan begitu sudah saling berhadapan.


“Thanks Bro. Kamu telah memberikan informasi yang sangat valid bagiku,” Ivan  merasa senang saat keduanya duduk bersantai di sofa lobby hotel.


“Sudah berapa lama kamu berada di sini?” Ivan memandang Edward dengan seksama karena sudah lama mereka tidak saling berkomunikasi.


“Tiga hari. Aku ada pertemuan bisnis dengan rekanku yang kebetulan tinggal di Singapura ini,” jawab Edward santai.


Kini tatapannya mulai serius. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Ivan karena  tanpa sengaja ia melihat Khaira bersama dua orang lelaki dewasa dengan dua bocah kembar memasuki lokasi yang sama dengannya ketika ia sedang menikmati sarapan pagi di restoran hotel.


Pertama melihatnya, Edward tidak yakin  bahwa perempuan yang berpakaian tertutup itu adalah Khaira. Tetapi ia mengenal Ariq, karena ia turut hadir di pernikahan dan resepsi Ivan.  Tetapi lelaki satunya ia tidak mengenalnya.


"Mr. Ariq  Prayoga .... " Edward langsung berdiri  begitu rombongan ipar temannya melewati dirinya.


"Mr.  Edward Fernandez," Ariq membalas sapaan Edward dan menerima uluran tangannya, keduanya bersalaman dengan erat.


Ia memandang perempuan yang berdiri di samping Ariq  yang juga sedang menatapnya, sambil menganggukkan kepala, begitupun lelaki  yang tidak asing  ada diantara mereka.


"Mas, kami mencari tempat .... " Khaira berkata pelan pada Ariq yang masih terlibat percakapan dengan Edward.


Edward terpaku, ia mengenal suara bening dan sangat familiar itu.


"Miss Rara .... " Edward langsung menyapanya karena tak ingin salah  dengan apa yang ia lihat.


"Mr. Fernandez," Khaira menganggukkan kepala.


Lamunan Edward terputus mengingat pertemua mereka dua hari yang lalu.


“Apakah Rara telah menikah semenjak berpisah denganmu,” Edward menatap Ivan dengan serius, “Ku lihat dia bersama dua anak kecil dan  teman laki-lakinya yang selalu bersamanya."


“Mereka anakku,” jawab Ivan seketika.


“What? Are you sure?” mata Edward membulat tak percaya mendengar ucapan Ivan, “Bagaimana kalau tebakanmu salah, dan Rara telah menikah lagi.”


“Aku sangat mengenal Rara. Dia bukan perempuan yang mudah menjatuhkan hatinya,” ujar Ivan dengan pandangan menerawang jauh, “Perjuanganku akan lebih berat untuk membuka hatinya kali ini.”


“Apa maksudmu?” Edward menatapnya tak mengerti.


“Aku baru mengetahui bahwa si kembar ternyata darah dagingku,” Ivan berkata dengan nada penuh kesedihan, “Dan itu  terjadi dua hari yang lalu karena ada kecelakaan kecil.”


Edward menatap sahabatnya dengan wajah berkerut. Ia belum memahami cerita sebenarnya. Walau harus ia akui, saat memandang putri kecil yang bersama Khaira mengingatkannya sosok Bryan, putra Ivan yang telah meninggal dunia.


“Mereka telah menyembunyikan kebenaran ini .... “ kata-kata Ivan nyaris tak terdengar, “Bahkan Rara telah berganti identitas.”


Ivan tersadar. Kini ia telah menemukan titik terang. Wajar ia tidak bisa mengetahui keberadaan Khaira karena identitasnya berbeda.

__ADS_1


“Hampir tiga tahun aku mencari keberadaan Rara, bahkan aku mengira si kembar anak adopsinya,” Ivan menggelengkan kepala menyadari kebodohannya.


“Lantas apa yang akan kau lakukan sekarang?” Edward menatap Ivan penasaran, “Apa menurutmu keluarga Rara bisa memaafkanmu kembali?”


“Aku akan mencoba melakukan dengan caraku sendiri,”


“Apa perlu kita culik mereka bertiga dan kita bawa pergi ke pulau terpencil?”


Ivan tersenyum tipis mendengar ucapan Edward. Ia tau, sahabatnya ini memang memiliki jiwa petualang yang bebas dan  selalu melakukan apa pun yang ia suka dan menurutnya benar tanpa mempedulikan perasaan orang lain.


“Tidaklah. Aku sudah menjadi seorang ayah dari seorang putra dan seorang putri. Aku akan menjaga nama baikku, agar anak-anakku mengenang ayahnya sebagai seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab,” ujar Ivan pelan.


Kini matanya terpaku pada  sosok Khaira yang berjalan bersama dua orang babby sitternya yang membawa si kembar berjalan-jalan di siang yang hawanya cukup hangat dan tidak terlalu panas. Tetapi ia tidak sendiri ada dua orang body guard yang mengiringi mereka dalam jarak dua meter.


Khaira tidak menyadari bahwa  Ivan telah mengetahui keberadaan dirinya. Saat ini ia bersama  babby sitter dan dua orang body guard yang diperintahkan Ariq untuk mengikuti kemana pun ia membawa si kembar yang tidak bisa diam dan sedang aktif-aktifnya.


Ariq membawa mereka ke Singapura, ingin memastikan bahwa kondisi Fajar tidak parah. Kebetulan ia pun ada pertemuan bisnis dengan rekannya dari Singapura. Ia memberikan kebebasan pada Khaira jika ingin bepergian membawa si kembar.


“Dia selalu cantik,” Edward langsung memuji Khaira yang melewati mereka dengan santainya, “Aku heran kamu bisa menahan diri untuk tidak bersamanya.”


Ia tak menyadari perubahan wajah Ivan mendengar pujiannya pada sang istri. Keduanya tak melepaskan pandangan.


“Aku menyadari kesalahan yang ku perbuat. Aku tidak peduli, sampai kapan pun aku akan selalu menunggu kata maafnya buatku.” Ivan berkata dengan lirih.


“Apa kamu telah menceraikannya?” Edward menatap Ivan  dengan kening berkerut.


Ivan menggelengkan kepala. Ia bersyukur karena belum melakukan apa yang dikatakan Edward. Jika itu terjadi, maka perjuangannya akan semakin sulit. Tapi sesulit apa pun Ivan tidak akan goyah, ia telah belajar dari pengalaman lalu. Dan ia akan bertahan demi mendapat kata maaf Khaira, apalagi ada si kembar yang menjadi pengikat mereka.


“Bunda, atu mau tana .... “ Embun berlari kecil menuju pintu keluar.


Air mancur yang berada di taman hotel membuat Embun dan Fajar begitu bersemangat. Kedua baaby sitter bahkan Khaira sendiri merasa  lelah mengikuti aktifitas keduanya.


Mata Ivan melotot ketika ia melihat bayangan Anwar dan Ariq yang berjalan berbarengan menghampiri Khaira dan kedua bocah yang kini tampak kelelahan duduk di bangku taman. Ia tak bisa berbuat apa pun ketika Ariq, Anwar bersama  Khaira dan si kembar memasuki mobil.


“Kau hanya menjadi penonton?” Edward mengejek  Ivan yang tidak bergeming dari kursinya.


“Aku akan bergerak jika waktunya memungkinkan,” Ivan berkata dengan  menekan emosinya. Ia tidak ingin terpancing dengan provokasi Edward.


“Kau ingin tau kamar berapa istri dan  anakmu menginap?” Edward memandang Ivan dengan menahan senyumnya.


“Kau lebih tau segalanya.” Ivan tersenyum tipis, “Aku tidak perlu hal lain. Cukup berada di dekat mereka dan melihat mereka bersama sudah membuatku bahagia.”


“Tidak ku sangka kau sudah berubah,” Edward memandang Ivan dengan heran melihat perubahan sikap yang terjadi. Biasanya Ivan selalu meminta pendapatnya dalam memutuskan apa pun, tapi tidak kali ini.


“Aku berusaha berubah untuk istri dan anak-anakku,” jawab Ivan dengan pasti.


“Selamat telah menemukan keluargamu kembali,” Edward menepuk bahunya, “Apa kau tidak ingin bergabung dengan istri dan anak-anakmu?”

__ADS_1


“Belum waktunya,” jawab Ivan serius, “Aku akan selalu membayangi di manapun mereka berada.”


“Aku permisi dulu,” Edward bangkit dari kursi, “Jam 11 ini ada  janji temu dengan klien.”


“Terima kasih atas bantuanmu,” Ivan memeluk Edward mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikannya.


Seperti seorang detektif Ivan mengikuti setiap pergerakan Khaira dan si kembar. Setelah melaksanakan salat Magrib, ia mendapat  undangan dari Edward  untuk bertemu  dengan kliennya dan makan malam bersama.


Karena tak ingin dicurigai saudara Khaira, Ivan memenuhi undangan Edward. Ia menerimanya karena Edward telah memposting foto Khaira bersama si kembar, Ariq dan dua orang laki-laki baru saja memasuki restoran di dalam bangunan yang sama.


Ivan  bergegas menuju restoran tempat yang telah ditentukan Edward dan rekannya. Ivan tersenyum datar saat mendekati Edward, ia melihat dua perempuan yang pernah mengisi masa lalunya.


“Alex .... “ Claudia menyapanya dengan perasaan tidak nyaman.


Ivan memasang wajah datarnya. Ia tidak menyangka bahwa Edward bertemu dengan George dan Claudia dan membuat janji makan malam bersama.


Edward mengerling Ivan yang tanpa senyum menghenyakkan tubuhnya di sampingnya tanpa berkata sepatah pun.


“Sebentar lagi kita bertemu klien yang akan bekerja sama denganku dan juga George,” Edward berkata dengan santai.


Edward dapat melihat kegelisahan Claudia yang merasa tidak nyaman saat bertemu Ivan. George berusaha bersikap ramah melihat kehadiran Ivan.


“Bagaimana kabarmu?” George menyapa Ivan yang tetap tak bergeming dengan wajah datarnya.


“Baik,” Ivan menjawab pendek. Ia malas berbasa-basi dengan George.


“Tamu yang ditunggu sudah datang,” Edward langsung berdiri menyambut seorang peranakan dengan usia yang jauh di atas mereka.


“Ivan .... “ suara perempuan yang pernah dekat dengannya membuat Ivan mendongakkan wajah.


Ia tersenyum kecut melihat Sandra menggandeng lelaki peranakan parobaya dengan penampilannya yang selalu seksi.


“Wah, seperti reunian dengan para mantan,” Edward berbisik dengan senyum kecilnya.


“Kau sengaja melibatkanku dengan semua ini,” Ivan membalas Edward, “Tapi sudah tidak ada pengaruhnya.”


“Aku tau,” Edward tertawa kecil.


Mengingat percakapan Sandra dan Claudia di dalam ponsel Khaira yang sengaja ditinggal, membuat Ivan muak berada di tempat yang sama dengan keduanya. Hanya untuk menghargai Edward dan menanti yang ia cari membuat Ivan tetap bertahan di tempat yang sama.


Restoran kelihatan ramai pengunjung, apalagi ia mulai memasuki akhir pekan. Ivan berkali-kali mengedarkan pemandangan berusaha mencari sosok Khaira dan si kembar. Tapi jangankan orangnya, bayangannya saja tidak kelihatan.


Ia  tidak mengikuti perbincangan yang terjadi antara  Edward, George dan  laki-laki yang bernama Michael Chang.  Ia malas mengomentari ketika George berusaha melibatkannya dalam pembicaraan  yang terjadi.


“Mr. Alexander .... “ Edward memperkenalkan Ivan saat tatapan Michael tertuju padanya, “Dia sahabat saya.”


Terpaksa Ivan menerima uluran tangan Michael yang sudah terulur padanya dengan senyum tipis untuk menghormati kliennya Edward.

__ADS_1


Ia tak menghiraukan pandangan Claudia dan Sandra yang sering kali tertuju padanya. Ia masih asyik membalas email Danu serta beberapa email lain yang masuk.


Ketika perbincangan bisnis telah selesai diantara ketiganya, menu makan malam telah terhidang di meja.  Ivan tidak begitu menikmati menu yang ada, pikirannya masih berkelana berusaha mencari keberadaan Khaira dan si kembar di ruangan yang sangat luas itu.


__ADS_2