
“Seperti bercinta dengan anak kuliahan,” Ivan tertawa lebar setelah menyudahi aktivitas panas mereka.
Ia merasakan kebahagiaan luar biasa karena Khaira melayaninya dengan sepenuh hati dan menuruti semua keinginannya dalam memadu cinta mereka di malam yang sangat dingin ini.
Khaira merengut mendengar perkataan unfaedah suaminya. Jemarinya langsung menghadiahi cubitan di perut Ivan.
“Aduhhh .... sakit sayang,” Ivan mengelus perutnya yang memerah akibat capitan jemari lentik istrinya.
“Males dengernya,” Khaira membalikkan badan dan menutup wajahnya dengan selimut.
Hujan yang turun dengan lebat membuat keduanya enggan untuk turun ke bawah setelah salat Isya. Untung saja, sore tadi kedunya sempat menikmati oleh-oleh brownies dan coklat yang dibawa Junior saat tiba dua hari yang lalu. Tak sabar menunggu Khaira yang masih melipat mukena, Ivan langsung menggendongnya ke tempat tidur.
“Hei, siapa suruh tidur duluan?” Ivan berusaha menarik selimut yang menutupi wajah istrinya, “Maksudku penampilanmu seperti anak kuliahan dengan gaya rambut seperti ini.”
Ia merasa senang menggoda istrinya. Hal sepele yang sudah lama tidak ia lakukan. Kepergian oma sudah tiga hari, ia dan Khaira masih menginap bersama dengan iparnya yang lain. Mereka sudah menerima alasan Ivan. Dan mendukung semua keputusan yang ia dan Khaira ambil untuk merawat Bryan dan membawanya bersama mereka.
Khaira mengeratkan pegangan selimut. Ia tidak membiarkan Ivan dengan mudah membuka penutup dirinya.
Ivan berbaring menunggu Khaira membuka selimut tebal yang menutup seluruh tubuh dan wajahnya.
“Aku tidak akan pernah membayangkan jika kamu pergi dariku. Entah apa yang akan terjadi....” Ivan berkata dengan lirih, “Bersamamu banyak kejutan-kejutan manis, dan hal yang membuatku merasaka bahagia .... “
Khaira mengu*** senyum di dalam selimut yang membungkus dirinya. Ia tau\, Ivan sedang mengeluarkan rayuan mautnya.
“Kamu semakin cantik dengan rambut barumu,” Ivan kini memiringkan tubuhnya berusaha mencari celah untuk bergabung ke dalam selimut tebal yang membungkus istrinya, “Bagaimana mungkin aku memikirkan perempuan lain, sedangkan istriku adalah perempuan terbaik yang diciptakan Allah untukku. Antara aku dan Claudia itu hanyalah masa lalu. Kehadirannya tidak berarti bagiku. Hanya kamu dan Bryan yang menjadi prioritasku sekarang.”
Tangannya mulai bergerilya mencari celah yang bisa ia masuki, karena semuanya dipegang dengan kuat tak ade celah baginya untuk berbagi kehangatan bersama sang istri. Akal Ivan bekerja cepat. Tangannya meraih remote control ac yang berada di atas nakas. Ia langsung meninggikan suhu ac menjadi 350 C. Senyumnya terbit seketika melihat pergerakan dari dalam selimut.
Karena merasa panas dan pasokan oksigen yang mulai berkurang membuat Khaira membuka selimut yang menutupi wajahnya. Keringat mulai mengalir di jidat mulusnya.
“Hujan gini kok suhunya jadi panas .... “ Khaira memandang Ivan yang menahan senyum melihat kegelisahan dirinya.
“Akhirnya keluar juga .... “ dengan wajah sumringah Ivan kembali menurunkan suhu ac dan meraih tubuh Khaira hingga terjebak di atasnya.
“Massss ..... “ Khaira tidak bisa menghindar kini posisinya di atas Ivan dengan wajah yang sangat dekat.
__ADS_1
Kedua tangan Ivan memeluknya dengan erat, sehingga debaran jantung keduanya saling berpacu dengan cepat. Ivan menatap wajah ayu istrinya dengan lekat. Jemari kanannya mulai menghapus titisan keringat yang masih tampak bergelayut di pelipis Khaira.
“Penolakanmu bisa membuatku gila. Bagaimana mungkin aku bisa jauh darimu,” ujarnya sambil membelai pipi tirus istrinya.
Khaira menyatukan kedua lengannya dan menjadikan sebagai penopang dagu sambil mendengar ucapan Ivan. Kedua mata saling mengunci dan bertatapan lekat.
“Aku minta maaf karena tidak menceritakan kepergianku ke Singapura sejak awal,” Ivan mulai berkata serius, “Saat itu pikiranku kalut. George teman lamaku menceritakan tentang keberadaan Bryan. Claudia juga datang menemuiku di perusahaan.”
Khaira mulai memalingkan wajahnya mendengar Ivan menyebut nama sang mantan. Perasaannya tidak nyaman setiap mendengar nama Claudia disebut. Apa lagi perempuan itu dengan beraninya datang menemui Ivan di perusahaannya. Entah apa yang telah mereka perbuat, hanya Tuhan yang tau.
“Sayang .... “ Ivan menahan dagu Khaira dengan cepat agar tetap menatap wajahnya.
“Apa pun yang dilakukan Claudia, tidak akan merubah perasaanku padamu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Bryan. Jadi tetaplah di sampingku. Kita akan bersama menua .... “ Ivan mulai menautkan kedua jemarinya dan jemari Khaira.
Dengan cepat ia mengubah posisi, kini Khairalah yang berada di bawahnya. Hujan di luar semakin deras membuat kamar yang tadinya panas berangsur mulai dingin kembali.
“Dingin-dingin empuk .... “ Ivan mulai melanjutkan permainannya.
Khaira hanya pasrah dalam kuasa suaminya. Tiada lagi kekhawatiran yang ada di hatinya. Ia mempercayai semua perkataan Ivan. Tinggal ia pasrahkan semua kepada Allah, dan berdoa untuk selalu menjaga keutuhan keluarga mereka.
Mereka merasakan kesedihan saat bu Ila pamit ingin kembali ke kampung halamannya. Ia merasa tidak nyaman tinggal bersama karena tidak ada ikatan darah diantara mereka.
“Ibu adalah keluarga kami, kenapa harus kembali ke kampung?” Khaira tak kuasa menahan air mata saat memeluk mantan mertuanya.
“Tidak nak,” Bu Ila mengelus pundak mantan menantunya yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri, “Ibu ingin merawat mertua ibu yang sudah sepuh. Kapan-kapan mainlah ke kampung ibu di Tangerang.”
Ivan akhirnya memeluk istrinya yang masih sesengukan ketika saudara jauh bu Ila datang menjemputnya malam itu. Suasana kembali hening, karena masing-masing mulai meninggalkan rumah besar itu. Tinggal Ivan dan Khaira yang bertahan, karena besok siang mereka akan kembali ke rumah.
Jam satu siang keduanya kembali ke rumah yang sudah satu minggu mereka tinggalkan. Saat memasuki pekarangan rumah sebuah mobil asing sudah terparkir di halaman rumah mereka.
“Kita kedatangan tamu,” ujar Ivan begitu membukakan pintu untuk istrinya.
Khaira hanya memandang sekilas tanpa berkomentar apa pun. Begitu memasuki rumah mereka dikejutkan dengan kedatangan George, Claudia dan Bryan yang duduk di kursi roda.
“Daddy .... “ suara pelan Bryan yang memanggilnya membuat Ivan tersenyum dan berjalan ke arahnya dengan cepat.
__ADS_1
“Bryan .... “ Ivan menghentikan langkahnya dan berbalik, ia merangkul pinggang Khaira dan berjalan menghampiri Bryan, “Kenalkan aunty Rara .... “
Khaira tersenyum lembut saat tangannya bersalaman dengan Bryan. Melihat wajah pucat bocah lelaki tampan itu timbul rasa iba di hatinya.
“Hallo Bryan,” Khaira menggenggam hangat tangan Bryan, “Aunty senang bertemu denganmu.”
Bryan memandang Claudia sekilas. Ia dapat melihat ketulusan yang terpancar di wajah perempuan yang diakui daddynya sebagai istri. Bertolak belakang dengan perkataan mommynya yang mengatakan bahwa istri daddynya perempuan muda yang sombong.
Claudia melihat pemandangan di hadapannya dengan raut tidak senang. Ia ingin mendekat, George memberikan isyarat agar membiarkan saja apa yang terjadi. Claudia merasa kesal.
“Maafkan daddy karena tidak sempat mengunjungi Bryan. Keluarga kami sedang berduka cita,” Ivan memulai percakapan sambil mempersilakan George dan Claudia untuk duduk.
Claudia dapat melihat bagaimana perlakuan Ivan terhadap istrinya. Ia tidak membiarkan saat Khaira ingin beranjak untuk memanggil art agar menyiapkan minuman bagi tamu mereka.
“Aku dan Claudia akan bepergian ke Hongkong selama tiga minggu,” George berkata langsung, “Kami pikir lebih baik menitipkan Bryan padamu.”
Khaira menatap wajah Bryan yang tampak lesu tak bersemangat. Ia merasa kasihan melihatnya. Tapi ia belum mempunyai keberanian untuk mendekat.
“Aku senang jika Bryan tinggal bersama kami,” wajah bahagia Ivan tak bisa ia sembunyikan, “Aku sudah berbicara dengan iparku, dia mengenal dokter di Jakarta yang biasa menangani keluhan anak seusia Bryan.”
“Kami akan berangkat sore ini,” ujar Claudia cepat, “Apa aku bisa mempercayakan Bryan pada kalian?”
Khaira menatap Claudia dengan santai. Melihat tatapan meremehkan yang terpancar di sorot tajam Claudia tak membuatnya gentar. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepala melihat tatapan permusuhan yang tergambar di wajah Claudia.
“Aku akan menganggap Bryan sebagai putraku sendiri. Miss Claudia tak perlu khawatir,” jawab Khaira sopan.
Mendengar jawaban istrinya membuat Ivan merasa bangga. Ia yakin Khaira akan melakukan yang terbaik untuk Bryan seperti dirinya. Ia mengelus pundak Khaira dengan lembut.
Walau pun tatapan Claudia seperti pisau tajam menusuk Khaira tak peduli. Ia akan menjaga keutuhan rumah tanggannya, apalagi Ivan telah mengakui semuanya. Tidak ada lagi keraguan dalam dirinya untuk bertindak. Ia akan bertahan sampai akhir.
Dalam hati melihat gerak-gerik Claudia yang mengamati seisi rumahnya membuat Khaira yakin apa yang ada dipikiran perempuan bule tersebut. Tapi ia tidak gentar. Ia akan terus berjuang di sisi Ivan dan mendukung serta mendoakan yang terbaik untuk keluarga mereka.
***Dukung terus ya. Jangan lupa kritik\, saran dan komentarnya\, serta vote di hari Senin. Author akan lebih semangat up jika banyak komentar yang masuk. Sayang untuk reader semua .... ***
__ADS_1