Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 260 S2 (Sehari Bersama Si Kembar)


__ADS_3

Pagi itu Khaira baru selesai memandikan si kembar yang kini sudah didandani Mila dan Nuri. Ia sengaja agak siang ke pondok. Jam mengajarnya mulai pukul 8. Masih ada waktu setengah jam untuk beberes rumah.


“Mbak Ais, nanti malam kita diundang tetangga baru syukuran pindahan rumah di samping,” bu Mila menggandeng Embun yang sudah tampak cantik dengan jilbab mungil yang menutup kepalanya.


Khaira menatap bu Mila sesaat. Ia tersenyum, dalam tempo hanya dua bulan rumah besar di sampingnya telah selesai dibangun. Ia yakin pemiliknya pasti bukan orang biasa. Dilihat dari luar saja sudah tampak kemegahan, apalagi dari dalam.


Ia heran karena sampai saat ini belum pernah bertemu sang empunya rumah yang lain kecuali Danu. Kalau dilihat dari rumahnya, pembatas pagar hanya sebatas dada. Yang membuat Khaira tak habis pikir area yang berbatasan langsung dengan rumahnya dibuat taman bermain anak yang sangat lengkap.


Tak ingin larut dalam pikiran yang tidak ada hubungan dengan dirinya, Khaira segera bergegas membuat sarapan bagi si kembar.


“Bu, kalau saya pulang dari pondok pas Zuhur dan belum sempat bikin makanan buat si kembar, Ibu masakin sayur bening aja ya ....”


“Baik Mbak,” bu Mila menganggukkan kepala dengan cepat.


Ia segera bergegas mengambilkan sarapan si kembar.  Embun yang sudah tidak sabar pengen main di luar,  apalagi ia melihat rumah samping memiliki ayunan kecil untuk anak-anak seusianya.


“Mbah, dede mau main situ .... “ jemari mungilnya menunjuk samping.


Mila menatap Khaira yang mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepala. Ia belum mengenal tetangga sebelah, bagaimana kalau mereka tidak ramah ....


“Main di rumah aja ya sayang .... atau ke pondok tempat umi .... “ Khaira menawarkan pada Embun untuk bermain di rumah ustadzah Fatimah.


“Ndak mahu .... “ Embun cemberut karena keinginannya tidak dituruti sang bunda.


“Bu, kita belum kenal dengan nyonya rumah. Aku nggak ingin kehadiran anak-anak mengganggu mereka,” Khaira berkata pelan pada Mila. Ia tidak ingin tetangga baru terganggu ulah si kembar, apalagi Embun yang super aktif pingin tau segala sesuatu yang baru pertama ia lihat.


“Baik Mbak,” Mila menjawab dengan penuh pengertian.


Khaira tersenyum dan segera kembali ke kamar untuk berganti pakaian seragam batik untuk mengajar santri di ponpes al-Ijtihad.


Dari lantai dua kamar kerjanya tatapan Ivan mengarah ke bawah. Semalaman ia sudah menginap di rumah barunya. Ia sudah meminta Danu untuk membawa kedua orangtuanya yang sepuh untuk tinggal bersamanya  paling tidak selama tiga bulan sebelum pindah ke rumah lamanya di Serpong. Keduanya sudah dua hari berada di rumah baru miliknya.


Melihat ibu Danu mengingatkan Ivan pada almarhumah Marisa. Perempuan yang baik hati dan sangat menyayangi dirinya tanpa membedakan perlakuan seperti cucu-cucunya yang lain. Ivan meminta Danu tidak menceritakan rencananya pada kedua orang tua Danu. Anggap saja mereka menginap sementara.


Danu masih membawa kedua orang tuanya berjalan mengelilingi rumah megah Ivan yang ia akui sebagai kantor mereka. Sebenarnya Danu merasa kesal dengan Ivan, karena ia harus membohongi banyak pihak atas kepemilikan rumah. Tapi mau bagaimana lagi, kunci rumah di Gading Serpong sudah di tangannya. Jadi terpaksa ia menjalankan sandiwara entah sampai kapan semua ini berakhir.


Saat  sampai di samping rumah yang berbatasan langsung dengan rumah Khaira, Danu melihat bundanya si kembar sedang berjalan menuju pintu keluar pagar rumahnya.


“Assalamu’alaikum Ustadzah .... “ dengan cepat Danu menyapa Khaira.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” Khaira menjawab sambil mengulas senyum.


Ia menghentikan langkah dan menghampiri  Danu serta kedua orangtunya yang berdiri tepat di depan pintu pagar pembatas rumah mereka. Khaira segera  menganggukkan kepala dengan sopan melihat pasangan parobaya yang berdiri di samping Danu.


“Kenalkan ini kedua orangtua saya dari Semarang Ustadzah .... “ Danu mengacungkan jempol pada kedua orangtuanya.


“Alhamdulillah ya, orangtua mas Danu masih segar dan tampak sehat,” Khaira merasa terharu sambil mengulurkan tangannya pada ibu Danu, sedangkan pada ayah Danu ia menangkupkan kedua tangan sambil menganggukkan kepala.


Semua kejadian itu tak luput dari perhatian Ivan. Ia menghela nafas berat, dadanya terasa sesak menahan kerinduan pada sang istri yang kini telah terlepas dari pelukan. Kesabarannya benar-benar diuji. Dalam sujud panjangnya ia tak pernah lepas melangitkan doa untuk Khaira dan anak-anaknya agar segera kembali bersama.


“Istrinya dan anaknya mana Mas? Selama ini saya belum pernah bertemu mereka?”  Khaira berusaha mengakrabkan diri di depan kedua orangtua Danu.


Sebagai tetangga yang baik sudah sewajarnya ia berlaku ramah, apalagi ada kedua orangtua yang sudah seharusnya ia hormati, dan Khaira merasa senang karena hal itu.


“Saya masih lajang Ustadzah,” dengan cepat Danu menjawab.


“Tolong  Ndok, dicarikan jodoh masmu iki ....” Bu Warti menatap Khaira dengan lekat.


Danu tersentak mendengar permintaan ibunya pada Khaira. Padahal baru bertemu pagi ini, tapi keduanya sudah saling mengakrabkan diri.


Percakapan mereka samar-samar sampai di telinga Ivan. Ia tidak mengalihkan tatapan pada Khaira yang tampak antusias berbicara dengan bu Warti. Senyum bahagia terbit di sudut bibirnya. Ia merasa bu Warti akan mempermudah semuanya.  Ia berharap semoga rencananya dan keinginannya segera terwujud.


“Itut Bunda .... “ suara kenes Embun menghentikan percakapan yang terjadi.


Ia berlari-lari kecil meninggalkan Mila yang berjalan cepat di belakangnya.

__ADS_1


“Jangan Dede nanti jatuh, kotor lagi,” Mila tiba dengan tas punggung kecil yang berisi mainan serta botol susu milik Embun.


“Atu itut Bunda,” Fajar pun kini tiba di hadapan mereka dengan Nuri yang sigap mengikutinya.


“Aduh ... cah ayu dan cah bagus .... “ bu Warti terpana melihat si kembar yang kini mulai menarik-narik ujung baju batik bundanya.


Perasaan Ivan menghangat melihat ketiganya yang kini dalam pantauannya. Ia tetap tegak mengamati semua yang terjadi di hadapannya. Pesona Khaira tidak pernah luntur di matanya bahkan kelembutannya dan segala perilakunya pada si kembar membuat Ivan semakin tak bisa menjauh.


“Ya Allah permudahlah kami untuk segera bersatu dalam ikatan sunah-Mu .... “ lirih Ivan.


“Salim gih!” Khaira berjongkok di depan si kembar sambil mengacungkan jempol pada bu Warti dan pak Marno yang memandang kedua bocah dengan penuh kekaguman.


“Kapan Le, kami punya cucu koyo ngene?” pak Marno  mengalihkan pandangan pada Danu yang kini  tersenyum tidak nyaman.


“Sabar Pak, akan ada waktunya,” Danu menjawab dengan senyum langsung buyar saat matanya memandang ke atas melihat  sekelibat sosok  yang berdiri tegak di balik tirai jendela kaca.


“Ayo sini salim sama Mbah Kakung dan Mbah Putri .... “  Bu Warti  ikut berjongkok di hadapan si kembar.


Embun dan Fajar langsung mendekat menyalami kedua parobaya yang memandang mereka dengan penuh kasih.


“Mbah Putri disayang ya .... “ Khaira memberi tanda pada Embun  sambil meletakkan telunjuk di pipinya.


“Pinternya cah Ayu iki .... “ bu Warti merasa senang saat Embun mencium pipinya.


Percakapan penuh kehangatan terjadi diantara mereka. Tak terasa bunyi bel menghentikan suasana penuh keakraban itu.


“Bunda berangkat dulu ya .... “ Khaira mulai mencium si kembar bergantian.


“Ndok, cah Ayu dan cah Bagus main di rumah saja ya,” bu Warti memandang Khaira penuh harap, “Ibu dan Bapak kesepian di rumah.”


Khaira berpikir sesaat. Ia ingin menolak karena khawatir dengan si kembar yang super aktif. Tetapi ia tidak ingin mengecewakan keduanya.


“Baik Bu,” Khaira mengangguk kemudian, “Semoga si kembar tidak menyusahkan Ibu dan Bapak. Saya permisi, assalamu’alaikum .... “


“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” semua menjawab kompak.


Nuri dan Mila kewalahan begitu Fajar dan Embun memasuki pekarangan rumah Ivan. Keduanya bersemangat mencoba mainan yang tersedia di pekarangan yang sengaja ditata untuk tempat bermain anak tersebut.


“Bundanya bocah sangat cantik dan baik. Ibu seneng jika kamu mendapat istri seperti dia,” bu Warti mulai menceramahi Danu yang cengar-cengir mendengar perkataannya.


“Bojone kerjo nengdi Le?” kini giliran pak Marno yang bertanya pada Danu.


Danu terdiam tidak berani menjawab. Kini mereka bertiga kembali ke dalam rumah. Beberapa orang lelaki masih berbenah merapikan rumah yang nanti malam akan dilaksanakan syukuran pindahan rumah.


Nuri dan Mila merasa tidak nyaman melihat aktivitas di dalam rumah yang melibatkan beberapa perempuan parobaya yang sengaja dikoordinir Danu dari  kampung tempat kedua orangtuanya tinggal selama ini untuk membantu menyiapkan segala keperluan demi lancarnya acara syukuran.


“Fajar dan Embun biar saya yang jaga Bu,” Danu menawarkan diri melihat Nuri dan Mila yang gelisah karena ingin membantu para pekerja yang tampak sibuk lalu lalang.


Padahal  Danu  sudah memesan katering dari kota untuk menjamu tamu yang akan diundang nanti malam. Tapi dasarnya orang tua, mereka ingin memasak sendiri sesuai selera. Akhirnya Danu mengalah. Sebagian menu sudah ia pesan untuk jam 5 sore, sedangkan sisanya bu Warti  dan teman sekampungnya yang akan memasak sendiri.


Kini di dalam sebuah kamar besar, Embun dan Fajar sedang asyik bermain.  Danu yang sengaja membawa keduanya, karena Ivan memang sudah menyiapkan kamar khusus jika si kembar akan datang ke rumahnya.


“Salim dulu sini .... “ Ivan yang duduk di sofa panjang melambai keduanya untuk mendekat.


Dengan memegang mainan masing-masing keduanya berjalan mendekati Ivan dan Danu yang duduk sambil mengamati tingkah mereka.


Embun segera meraih tangan Ivan dan menciumnya begitupun Fajar. Keduanya merasa senang saat memasuki ruang bermain dengan segala jenis mainan memanjakan mata mereka.


“Bilang makasih dulu dong sama Ayah .... “ Ivan berkata dengan perasaan bahagia melihat si kembar yang  tampak antusias dengan semua yang ada.


“Ayah .... “ Danu menatap Ivan dengan kening berkerut.


“Ya dong,” Ivan tersenyum melihat Danu yang bingung, “Memangnya kamu mau merebut posisiku?”


“He he he ... maaf  Bos,” Danu menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Telima kacih  Yayah .... “ Embun sambil tertawa meraih tangan Ivan.


Perasaan bahagia membuncah di hati Ivan. Ia langsung memeluk Embun dengan erat. Fajar menatap keduanya dengan bingung. Aroma wangi bayi menyergap penciuman Ivan. Ia menghirupnya dengan segenap perasaan.


“Sini Mas, sama ayah .... “ Ivan mengulurkan tangan ke arah Fajar yang akhirnya mendekat padanya.


Ivan memeluk keduanya dengan sepenuh hati. Tak terasa air matanya menetes mengalir di pipinya. Perasaan bahagia langsung menyelimuti hatinya karena si kembar kini sudah berada dalam pelukan. Ia mencium keduanya bergantian.


“Geyi ayah .... “ Embun mendorong wajah Ivan yang dipenuhi kumis dan jenggot.


Ivan tertawa mendengar ucapan Embun. Ia membelai kepala putri kecilnya dengan perasaan haru. Hari ini adalah hari terindah  yang ia rasakan selama bertahun-tahun terpisah dari Khaira. Kedua buah hatinya menjadi obat pelipur lara disaat sang ratu belum bisa ia  rengkuh.


Ketukan di pintu kamar membuat Ivan dan Danu berpandangan.


“Tuan Danu, mas Fajar dan dede Embun  sudah waktunya makan siang .... “ suara Mila terdengar pelan dari luar ruangan.


“Apa si kembar kita kembalikan pada pengasuhnya Bos?” Danu menatap Ivan dengan bingung, “Kasian ini sudah jam makan keduanya.”


“Jangan,” Ivan menjawab cepat, “Bawa sini makanannya.”


“Maksud Bos?”


Mata Ivan tajam menatap Danu. Dengan cepat Danu bangkit dari kursi dan berjalan pelan membuka pintu.


“Biar saya Bu .... “ Danu mengulurkan tangan meraih piring di tangan Mila.


“Tidak usah Tuan. Biar si kembar sama saya,” Mila tidak enak hati  dengan lelaki yang baru ia kenal itu.


“Nggak apa-apa, Bu. Biar mereka terbiasa sama saya,” Danu meraih piring serta air putih dari tangan Mila, “Ibu boleh kembali ke belakang.”


“Tapi Tuan .... “ Mila masih berdiri mematung.


Ia melongokkan kepala melihat ke dalam ruangan. Tampak Fajar asyik menyetir mobil mini, sedangkan Embun duduk manis menghadapi mainan kitchen set sambil berceloteh riang.


“Saya bisa menanganinya,” Danu berkata dengan yakin.


“Baik Tuan,” dengan perasaan lega Mila kembali ke belakang membantu para perempuan paro baya yang berada di sana.


Ivan meraih piring  di tangan Danu dan mendekati si kembar. Ia kini duduk di samping Embun yang masih asyik dengan alat masaknya.


“Ayo princess ayah, makan dulu .... “ Ivan mengulurkan sendok yang telah berisi nasi.


“Baca doa dulu Ayah .... “ Fajar kini berdiri di samping Danu.


“Anak pintar,” Ivan mengelus kepala Fajar dan mulai menyuapinya.


Kini Ivan merasakan kebahagiaan menjadi orang tua seutuhnya. Dengan telaten, ia menyuapi si kembar makan hingga nasi yang berada habis tak tersisa.


“Dede dan mas mau tambah lagi?” Ivan memandang keduanya dengan lekat.


Keduanya segera menggelengkan kepala dengan cepat, dan melanjutkan permainannya. Ivan mengulurkan piring yang telah kosong pada Danu.


Kembali ketukan di pintu kamar terdengar.


“Le, temennya diajak makan dulu,”  suara bu Warti mengejutkan keduanya.


Danu merasa tidak nyaman pada Ivan mendengar perkataan ibunya. Tapi mau bagaimana lagi, ia terlanjur mengenalkan Ivan sebagai rekan kerja saat tadi malam Ivan tiba di rumah yang kini mereka tempati untuk menginap.


“Bos .... “ Danu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kamu makan saja, aku akan menemani si kembar,”  Ivan berkata dengan santai, “Tolong antarkan kopi hangat kemari.”


“Baik Bos,” Danu bangkit dari kursi sofa sambil membawa piring serta gelas yang sudah kosong.


Ivan  tak bosan menemani si kembar bermain. Tiada kebahagiaan seperti yang ia rasakan saat ini. Ia bersyukur doanya mulai terjawab. Dan ia tidak akan bosan untuk melangitkan doa dan membumikan ikhtiar untuk menyatukan keluarga yang sampai saat ini masih tercerai berai.

__ADS_1


***Terima kasih atas kritik sarannya yang sangat membantu Author dalam melanjutkan kisah perjuangan Ivan untuk mengembalikan keutuhan keluarganya. Sayang selalu pada reader yang sampai saat ini masih setia mendukung karya saya ....***


__ADS_2