Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 283 S2 (Perhatian Kecil Yang Sangat Berarti)


__ADS_3

Ivan merasa lega setelah menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan pada Khaira sejak pertemuan awal mereka. Tapi kesempatan itu tidak pernah ada. Kini semua telah kembali dan ia  harus mengatakan kebenarannya. Ia  berharap Khaira lebih terbuka dan menerima semua ketulusan yang ia berikan.


Khaira terdiam mendengar curahan hati Ivan.  Berita kepergian Bryan cukup mengganggu pikirannya. Ia tidak menyangka Claudia tega mengorbankan darah dagingnya hanya untuk memenuhi ambisinya. Tapi ia yakin, semua sudah diatur yang Maha Kuasa. Allah lebih tau yang terbaik bagi Bryan.


“Bunda …. “


“Ayah …. “


Tanpa mereka sadari keduanya sudah terbangun dari tidurnya. Dan kini berjalan mendekat. Ivan dan Khaira kompak memandang Fajar dan Embun yang berlari kecil dan memeluk mereka masing-masing.


“Sayang ayah …. “ Ivan memeluk Embun dan menciumnya dengan lembut.


Kini tatapannya beralih pada Fajar yang memeluk erat leher Khaira yang masih menggunakan mukena. Ia mencium kepala Fajar dengan tatapan tetap pada Khaira yang memandangnya datar tanpa makna.


“Mas akan menyiapkan air hangat untuk memandikan si kembar. Mulai hari ini mas yang akan melakukan semuanya,” ujar Ivan tegas.


Ia akan menjadi ayah siaga bagi Fajar dan Embun. Ia tidak akan melewatkan tumbuh kembang kedua buah hatinya sedetik pun. Ia tidak ingin  peristiwa kelam yang terjadi pada Bryan dialami si kembar. Ia akan menjaga dan mencurahkan segenap kasih sayang yang ia miliki pada keduanya, dan tak ingin terpisah walau hanya sedetik. Ia siap melepas semua yang ia miliki selama si kembar dan Khaira selalu ada di sisinya. Ia tidak peduli.


Melihat Ivan yang antusias membawa si kembar ke dalam kamar mandi dan mulai menghidupkan keran air di dalam bathtub membuat Khaira tak bisa menahan senyum. Ia yakin bukan perkara mudah bagi Ivan memandikan keduanya.


Selama ini  ia dan bu Mila kerepotan dalam memandikan Embun dan Fajar yang selalu bermain air saat dimandikan. Tak jarang ia dan bu Mila ikut mandi karena si kembar menyipratkan air di dalam wadah besar tempat   keduanya mandi bersama.


Khaira segera menyiapkan pakaian Embun dan Fajar lengkap dengan bedak, minyak telon serta lotion untuk menjaga kelembaban kulit keduanya.


Sudah hampir setengah jam Khaira menunggu tapi belum ada pergerakan sama sekali. Ia memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Ia khawatir, si kembar tak bisa berlama-lama bermain di dalam air nanti malah masuk angin. Tanpa berpikir panjang ia menerobos masuk ke dalam. Ia terkejut melihat ketiganya bermain di dalam bathtub yang sudah dipenuhi bola-bola kecil serta bebek-bebek karet yang mengapung.


“Astaghfirullahaladjim, massss” Khaira langsung memasang suara tegas, “Si kembar nggak boleh lewat 30 menit mandi. Ntar masuk angin lagi …. “


Ivan terkejut mendengar suara Khaira, membuatnya mengangkat si kembar sekaligus dan membawanya kembali ke kamar langsung   mendudukkan keduanya di tempat tidur. Ia tidak menyadari hanya menggunakan boxer yang basah dan kini airnya bertetesan mengikuti jalannya.


“Ampuni hamba-Mu ini ya Allah …. “ Khaira menutup mukanya atas kelakuan Ivan yang kini sibuk mengelap tubuh si kembar yang tertawa senang karena bermain dan mandi bersama ayah mereka.


Ivan tidak paham atas sikap Khaira. Ia terus melakukan aktivitasnya. Kini ia memasukkan baju Fajar terlebih dahulu sebelum Embun.


“Mas, apa nggak malu seperti itu?” Khaira melengos melihat penampilan Ivan yang masih belum menyadari keadaan dirinya, “Dikasi minyak telon dulu kali baru dipasangin bajunya …. “


Ivan tersenyum mendengar ucapan Khaira setelah menyadari bahwa ia hanya menggunakan boxer bahkan masih basah hingga menetes di tempat tidur. Melihat kekehan di wajah si kembar membuatnya semakin senang.

__ADS_1


“Nggak pa-pa ya De. Kan di  kamar hanya ada kita sama bunda.  Buat apa malu, bunda pun sudah terbiasa liat ayah,  polos malah …. “ Ivan memandang Khaira yang  langsung mendelik padanya.


“Ucapanmu itu ngawur mas. Polusi buat pendengaran si kembar,” Khaira mencibir malas sambil mengambil handuk untuk mengeringkan Embun kemudian memberikan minyak telon


Ivan merasa kebahagiaan perlahan-lahan menghinggapi hatinya melihat komunikasi yang terjalin antara ia dan Khaira semakin baik. Walau pun tatapannya masih dingin, setidaknya bahasa yang digunakan lebih manusiawi. Keberadaan si kembar memang memberikan jalan kemudahan baginya untuk memperbaiki semua dari awal.


“Maafin ayah ya Bunda …. “ Ivan mengangkat jari tengah dan telunjuknya dengan senyum lebar dan buru-buru kembali ke kamar mandi untuk segera mengeringkan badan. Entah kenapa hatinya merasa senang seolah bulan jatuh ke pangkuan saat Khaira berkata padanya.


Keluar dari kamar mandi Ivan melihat si kembar sudah cantik, ganteng serta wangi membuatnya tak tahan berbelok untuk menciumi keduanya. Khaira memprotes kelakuan Ivan lewat sorot matanya. Tapi mau bagaimana lagi. Setiap perkataannya tidak akan didengar Ivan.


“Tunggu ayah ganti pakaian dulu ya. Setelah itu mari kita lanjutkan permainan,” Ivan berkata dengan penuh semangat sambil mencuri ciuman di pipi Khaira yang kini menurunkan Embun dan Fajar dari tempat tidur.


Dengan santai ia berjalan melewati Khaira yang melotot tak senang melihat keisengannya. Senyum lebar memenuhi wajah Ivan sambil berjalan menuju walk-in closed. Dengan bersiul kecil ia memilih pakaian santai yang akan ia gunakan pagi ini untuk menemani si kembar bermain. Begitu selesai Ivan kembali ke kamar.


Khaira melihat Ivan hanya menggunakan kaos oblong dan celana selutut. Ia mengernyitkan dahi. Terpaksa ia mengomentari penampilan Ivan.


“Kenapa mas Ivan mengenakan baju itu?”


Ivan tak menyangka Khaira akan memprotesnya. Ia duduk di samping Khaira yang masih membereskan perlengkapan si kembar.


“Jelek ya?” pancing Ivan. Terus terang ia merasa senang karena Khaira mulai memperhatikan hal-hal kecil yang ia kenakan.


“Benar,” Ivan menyadari apa yang dikatakan Khaira masuk akal, “Baiklah ayah akan ganti baju dulu ya ….”


Setengah jam berlalu,  Khaira merasa lega karena si kembar sudah dibawa Ivan ke bawah. Ia  kini mematut diri di depan meja rias. Tidak mungkin ia berpenampilan pucat jika ada tamu berdatangan di kediaman mereka.


Dengan riasan seadanya Khaira turun ke bawah. Ia pun belum menyiapkan sarapan pagi. Di ruang keluarga ia melihat Ivan dan Danu sedang membuat tenda untuk si kembar. Khaira tersenyum tipis melihat kelakuan Ivan dan Danu yang begitu serius menyusun pernak-pernik penunjang tenda bagi Embun dan Fajar yang berdiri mengawasi pekerjaan ayahnya dan asistennya.


“Taraaa ….. “ Ivan tersenyum puas sambil merentangkan kedua tangannya pada Embun dan Fajar.


Keduanya berebutan masuk dalam pelukan Ivan ketika melihat tenda telah berdiri kokoh di tengah ruang keluarga seperti yang ada di rumah Ivan di kawasan pondok.


Khaira menghampiri  bu Risma yang sedang menyiapkan menu sarapan pagi. Ia merasa lega karena sudah sebagian dimasak tinggal dihidangkan.


“Nyonya duduk saja, biar saya yang membereskan semua,” bu Risma merasa senang karena Khaira telah kembali bersama Ivan.


Terus terang ia tidak menyenangi sosok Laura yang sering diajak almarhumah Laras bertamu. Ia  dapat melihat  sifat angkuh yang ada dalam diri Laura yang memandang sebelah mata para art yang bekerja di rumah Laras. Ia tetap berharap dalam doanya bahwa suatu saat Khaira-lah yang akan kembali mendampingi Ivan, dan tidak perempuan lain.

__ADS_1


Dan bu Risma sangat bersyukur sebelum  jenazah Laras tiba untuk disemayamkan di rumah beberapa jam sebelumnya ia melihat kedatangan saudara perempuan Khaira serta iparnya yang sempat menceritakan pernikahan yang terjadi di rumah sakit atas permintaan terakhir Laras.


Rasanya saat itu juga ia ingin melakukan sujud syukur karena Yang Kuasa telah menjawab doa-doanya untuk mengembalikan keutuhan keluarga Ivan seperti dulu. Dengan senang hati ia mengerjakan semua tugas rumah tanpa merasa lelah. Dan kebahagiaan bu Risma  semakin bertambah ketika mengetahui bahwa Ivan telah memiliki si kembar bersama Khaira.


Air mata bahagia berlompatan keluar dari matanya saat melihat  Ira dan Rheina menggendong Fajar dan Embun memasuki rumah. Ia berjanji dalam hati akan menjaga keduanya seperti Ivan di waktu kecil. Ia dapat melihat kemiripan wajah dan perpaduan yang sempurna  pada majikan kecilnya yang begitu sehat dan menggemaskan.


“Nggak pa-pa Bu …. “ ucapan Khaira memangkas lamunan bu Risma, “Biar saya yang menata di meja. Ibu bisa istirahat. Saya akan menelpon mbak Ira untuk mengirim makanan siang ini. Saya yakin tamu-tamu masih akan ramai berkunjung.”


“Baik Nya.” bu Risma  memandang Khaira dengan lekat.


“Kenapa Bu?”  Khaira merasa heran melihat bu Risma yang tak beranjak dari ujung meja masih menatapnya tak berkedip.


“Saya terharu Nyonya kembali ke rumah ini. Saya sangat merindukan nyonya …. “  bu Risma  tak bisa menyembunyikan apa yang ada di hatinya.


Khaira langsung memeluk perempuan parobaya itu dengan sepenuh hati. Ia pun turut merasakan yang sama. Ia tidak pernah menganggap bu Risma sebagai art tapi sudah seperti orang tua sendiri yang selalu membantunya mengurus rumah tangga selama ia hidup bersama Ivan.


“Saya juga merindukan Ibu. Saya bersyukur Allah memberikan kesehatan pada ibu sehingga kita dapat bersama lagi.”


Air mata bu Risma kembali menetesi pipinya yang semakin keriput di makan usia. Ia memeluk erat perempuan muda di hadapannya dengan sepenuh hati.


“Mulai sekarang ibu tinggal mengawasi art yang bekerja ya. Aku gak mau ibu terlalu capek,” Khaira berkata lembut sambil menepuk punggungnya pelan.


“Terima kasih Nya,” bu Risma mengelap air matanya dengan ujung bajunya.


“Panggil nama saja Bu. Toh ibu bukan orang lain, saya sudah menganggap ibu seperti orang tua sendiri. Apalagi ibu sudah lama mengabdi sama mama.”


Khaira segera mengumpulkan enam orang art yang bekerja di rumah Laras. Mulai hari ini ia akan memegang kendali di rumah Laras. Ia pun mulai menedelegasikan semua pekerjaan yang selama ini menjadi tanggung jawab bu Risma untuk di kerjakan bu Sati yang usianya lebih muda dan lebih enerjik. Khaira berjanji akan menambah gaji para art yang selama ini telah mengabdi di rumah Laras.


Mendengar keputusan Khaira para art merasa senang. Mereka pun sudah lama tidak mendapat kenaikan gaji, bisa jadi karena kesibukan Laras semasa ia masih hidup sehingga belum sempat memikirkan kesejahteraan para art yang bekerja untuknya.


Setelah semua tersaji dengan sempurna, dan makanan si kembar pun telah terhidang di atas meja, Khaira segera membawa makanan si kembar dan  menghampiri Ivan serta si kembar yang kini berada di dalam tenda. Ia melihat Danu serius menghadapi laptop.


“Mas, sarapan dulu biar si kembar bersamaku. Mas Danu diajak sekalian …. “  Khaira menongolkan kepalanya ke dalam tenda.


Ia tak bisa menahan senyum melihat Ivan berbaring sambil membaca buku cerita dengan Fajar dan Embun yang berbaring di sisi kiri dan kanannya mendengarkan dengan seksama.


“Bunda ikut sini yuk …. “ Ivan melambaikan tangan agar Khaira ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


Khaira menggelengkan kepala, “Sudah hampir jam tujuh. Si kembar harus sarapan dulu. Mereka baru saja pulih.”


“Baiklah,” Ivan akhirnya bangkit dan membawa si kembar keluar dari tenda mereka.


__ADS_2