
Wajah Claudia memerah melihat Ivan yang tidak melihat keberadaannya. Matanya nyalang menatap punggung Ivan yang berjalan cepat kembali ke lantai atas. Ia tak mengalihkan tatapan hingga sosok Ivan hilang di balik pintu ruang perpustakaan.
Selama setengah jam ia melihat dari lantai bawah, tidak ada pergerakan dari ruang perpustakaan. Dengan menghentakkan kaki ia kembali ke kamar Bryan masih dengan emosi yang membakar jiwa.
Khaira merasakan kehangatan disekujur tubuhnya, membuatnya merasa enggan untuk membuka mata. Setelah seharian memeriksa laporan keuangan gerai dan kafe membuatnya merasakan kelelahan hingga tidak menyadari kehadiran sang suami.
Lama kelamaan ia merasa geli karena sentuhan-sentuhan yang mulai menjalar di bibir hingga ke leher. Aroma yang sangat ia kenal begitu memanjakan indera penciumannya. Khaira membuka mata.
Ia terpana melihat senyum menawan yang terpancar di wajah suaminya. Ia berpikir, apakah ini mimpi atau nyata, karena Ivan tidak mengabari kepulangannya. Khaira memejamkan mata beberapa detik, kemudian membukanya lagi.
Senyum semakin lebar di wajah Ivan melihat kelakuan istrinya. Dengan gemes ia menggigit bibir merah bata yang masih terkesima menatapnya.
“Masss .... “kini Khaira sadar bahwa ini bukan mimpi, suaminya langsung mengangkat tubuhnya hingga posisinya di atas.
“Kita lanjutkan permainan ini?” Ivan menatapnya penuh hasrat.
“Mas, masih sore .... “ Khaira melihat ke arah jendela.
“Aku sangat merindukanmu .... “ nafas Ivan terdengar memburu, “Sebentar saja.”
Khaira tersenyum mendengar permintaan suaminya. Keduanya menutup sore dengan saling memanjakan menumpahkan kerinduan selama dua hari tidak bertemu.
Khaira hanya menghela nafas saat ia telah selesai menyiapkan makan malam Claudia datang sambil mendorong kursi roda Bryan. Ia risih sendiri melihat tampilan Claudia memakai gaun malam seperti orang yang mau dinner romantis.
Ivan hanya menatap sekilas. Ia menyadari perubahan raut wajah istrinya. Matanya bersirobak dengan Khaira, dan ia menggelengkan kepala sambil memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Bryan ingin makan apa?” Khaira berkata dengan lembut pada Bryan yang tampak murung.
“Malam ini Bryan ingin makan steak buatan daddynya. Benarkan dear?” Claudia memandang Bryan dengan mata tajam.
“Yes dad,” Bryan menatap Ivan dengan wajah takut-takut.
Khaira menyadari bahwa itu hanya akal-akalan Claudia. Ia menatap Ivan yang kini memandang Bryan dengan senyum ramahnya.
“Benarkah Bryan ingin menikmati steak buatan daddy?” Ivan memandang Bryan dengan lekat.
Bryan mengangguk sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
“Baiklah, daddy akan membuatnya untukmu,” Ivan berkata sambil membelai rambut Bryan dengan penuh kasih.
“Daddymu sangat ahli membuat steak. Selama di apartemen mommy sering dibikinkan makanan enak,” Claudia merasa pancingannya mulai mengena.
Tatapan penuh kemenangan terbit di wajahnya saat Khaira menatapnya dengan kesal. Permainan akan segera dimulai.
Khaira bangkit dari kursi. Ia menyusul Ivan ke dapur. Sebenarnya ia merasa kasihan terhadap suaminya. Ivan baru saja kembali dari Bali, tapi Claudia bertingkah seolah Bryan yang menginginkan masakan buatannya.
“Biar aku yang siapkan mas,” Khaira segera membuka kulkas untuk mengeluarkan daging beku yang selalu ia siapkan, sewaktu-waktu Ivan kepingin membuat masakan western.
Claudia mendorong kursi roda Bryan ke dapur. Ia tidak senang melihat Ivan dan Khaira yang berbicara sambil bersenda gurau. Ia berjalan menghampiri Khaira yang berdiri di samping Ivan melihat proses pematangan steak di dalam teflon.
“Wah, aromanya masih sama seperti dahulu .... “ Claudia mengibas-ngibaskan kedua tangannya menghirup aroma wangi dari daging yang mulai matang.
Ivan tak mempedulikan perkataan Claudia. Ia menatap Bryan yang masih murung dengan wajah tetap menunduk.
“Bryan ingin menikmatinya sekarang?” Ivan langsung memindahkan steak yang sudah matang ke dalam piring.
Bryan menatap Khaira sekilas, kemudian beralih pada Claudia yang tampak puas melihat menu yang sudah tersaji di dalam piring.
Kursi yang tersedia di sana hanya ada dua. Dengan cepat Claudia duduk di samping Ivan. Tanpa rasa malu ia langsung mengambil potongan steak menggunakan garpu yang ada.
“Masakanmu tetap yang terbaik buatku,” Claudia merasa puas setelah menikmati steak yang sengaja Ivan buat untuk Bryan.
Ivan tak bisa berbuat apa pun melihat Claudia yang mulai menikmati potongan demi potongan steak hingga menyisakan sebagian.
“Dimana pun aku menikmati steak, selalu mengingatkan aku padamu. Kebersamaan kita adalah saat-saat terbaik,” Claudia mulai mengenang kembali masa lalu mereka.
Khaira melongo melihat perbuatan Claudia. Ia tidak menyangka perempuan itu benar-benar musang berbulu domba. Kelakuannya benar-benar licik. Ia tetap dengan kepala dingin menghadapi tingkah Claudia. Tidak mungkin ia melabraknya di depan Bryan dan Ivan. Ia akan menghadapinya secara elegan.
“Cukup omong kosongmu Claudia,” Ivan merasa terganggu mendengar perkataan Claudia. Ia khawatir Khaira akan terprovokasi mendengar Claudia mengungkit kisah mereka.
“Bryan ingin makan yang lain?” Khaira mengalihkan tatapannya pada Bryan yang masih menunduk sedih. Ia tidak menghiraukan pembicaraan antara Ivan dan Claudia.
Bryan mengangkat wajahnya, “Aku ingin makan omelet saja aunty.”
“Baiklah, aunty akan segera membuatnya,” Khaira membuka kulkas dan mengeluarkan dua butir telur lengkap dengan wortel serta bumbu lainnya.
__ADS_1
Tatapan Ivan tak bergeming memandang Khaira yang menyibukkan diri memotong dan mengiris wortel kemudian mengaduknya bersama bumbu lain. Kalau menurutkan emosi rasanya ia tidak ingin berada di situasi seperti ini. Tapi inilah konsekuensi yang harus ia hadapi dengan masa lalu Ivan yang kini mulai menjadi bumerang dalam rumah tangga mereka.
Drama makan malam itu berakhir. Khaira terlebih dahulu meninggalkan ruang makan. Ia tidak ingin mendengar omongan receh Claudia yang terus memuji masakan sang suami yang selalu memanjakan lidahnya saat kebersamaan terjadi antara mereka.
“Nona Mercy, bawalah Bryan kembali ke kamar. Sudah waktunya ia beristirahat. Jangan lupa vitamin dan obat yang harus ia minum,” ujar Ivan memberi isyarat pada Mercy yang berdiri di belakang Bryan.
Ivan meminta Mercy membawa Bryan kembali ke kamar karena ia perlu berbicara pada Claudia. Ia harus segera memberi batasan pada Claudia. Ia tidak ingin membuat Khaira bersedih atas sikap dan perkataan Claudia yang selalu mengungkit hubungan mereka di masa lalu.
Claudia merasa puas ketika tinggal dirinya dan Ivan di meja makan. Ia masih berusaha menarik perhatian Ivan.
“Steak buatanmu tetap yang terbaik. Terima kasih telah membuatnya untukku,” Claudia berkata sambil memamerkan senyum dari bibirnya yang merah merona.
Ivan menatapnya datar, “Aku membuatnya untuk Bryan. Ku harap kamu bisa menjaga sikapmu selama menjadi tamu di rumah ini.”
Claudia menatap Ivan tak senang. Ia bangkit dari kursi dan pindah duduk di samping Ivan. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berdua dengan Ivan di malam ini.
“Aku bukan tamu. Aku juga berhak tinggal di rumah putra kita. Bukankah Bryan yang akan menjadi satu-satunya ahli warismu?”
“Clo, aku sudah memberikan hartaku padamu. Aku ingin kamu segera menjauh dari kehidupan kami.”
“Bagaimana aku bisa menjauh? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Bryan?” Claudia langsung menunjukkan wajah sedihnya.
“Khaira bisa menjadi ibu yang baik bagi Bryan. Ku harap kamu segera melepas Bryan pada kami.”
Claudia terkejut mendengar perkataan Ivan. Mana mungkin ia keluar dari rumah ini sebelum menjalankan misinya.
“Kau tau Alex, Bryan yang memintaku untuk tetap di sini,” Claudia mulai menjalankan rencananya, “Bagaimana mungkin kamu memisahkan aku dan Bryan apalagi dalam kondisinya yang belum stabil.”
Ivan terdiam. Perkataan Claudia cukup masuk akal. Bryan memang belum bisa menerima Khaira sepenuhnya. Tapi bagaimana mungkin ia membiarkan Claudia menginap di rumahnya. Apa kata saudara Khaira nanti? Bisa-bisa mereka akan memintanya untuk melepas Khaira, jika istrinya sudah tidak mampu menghadapi kelakuan Claudia.
“Aku sudah mengantuk. Pembicaraan ini kita lanjutkan lagi nanti .... “ dengan langkah gemulai Claudia meninggalkan meja makan sambil tersenyum puas karena Ivan masih bersikap datar tidak memintanya untuk meninggalkan kediaman mereka secepatnya.
Saat Ivan kembali ke kamar, ia melihat Khaira baru selesai melaksanakan salat. Ivan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan salat Isya. Ia harus membicarakan masalah Claudia dengan istrinya agar tidak terjadi kesalah pahaman yang akan mengganggu ketenteraman rumah tangga mereka.
__ADS_1