Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 139 S2 (Rasa Apa Ini?)


__ADS_3

Teman-teman Khaira mulai menikmati hidangan yang disajikan Muti dan pegawai lainnya. Khaira tetap setia mendampingi ketiganya sambil berbicara ringan ketika Rani datang dan berbisik padanya. Khaira mengerutkan keningnya,  tapi tak ayal ia bangkit juga dari kursi.


“Silakan nikmati hidangannya  ya. Spesial hari ini aku yang traktir kalian,” ujar Khaira saat meninggalkan temannya mengikuti langkah Rani menuju ruangan samping.


“Tamu yang di dalam dari kemaren meminta mbak Rara yang melayani. Kami  jadi tidak enak hati apalagi mereka tamu VIP dan temannya mas Abbas,”  Rani mengadukan keinginan aneh dari pelanggan khusus mereka.


“Baiklah,” Khaira dengan dibantu Gita mulai membawa menu yang sudah ditata Rani dengan apik di atas meja.


Ivan menunggu dengan tidak sabar saat ketukan di pintu membuatnya menegakkan tubuh dengan sempurna. Ia mulai mengajak Arya berbicara. Tapi matanya tak berhenti menatap ketika yang ia tunggu telah tiba  dengan membawakan menu yang telah di pesan. Senyum puas terbit di wajah Ivan melihat Khaira dan Gita  mempersiapkan bermacam menu di atas meja.


Tatapan mata Gisel terus mengikuti semua aktivitas Ivan, hingga akhirnya ia jatuh pada kesimpulan bahwa kekasih masa depannya itu tertarik pada seorang pelayan. Kekesalan membuncah di hatinya. Dengan cepat Gisel bangkit dari kursi dan berpindah duduk.


Ivan merasa heran melihat kelakuan Gisel, tapi karena Arya masih mengajaknya berbicara jadi ia membiarkan perbuatan sekretarisnya itu.


Dengan cepat Gisel mengisi nasi serta menyiapkan menu lauk-pauk yang sangat menggiurkan dan mengundang selera. Ia ingat menu yang kemaren disantap Ivan saat makan bersama Peter dan Robert.


Mata Ivan masih sesekali menatap Khaira yang masih berdiri di sampingnya menyiapkan minuman segar.  Melihat jemari yang menata minuman di sampingnya menggelitik nurani Ivan ingin menggenggamnya. Kini tatapan Ivan beralih ke jemari yang  dengan lincah  menurunkan beberapa gelas air putih.


“Deg!“


Mata Ivan terpaku melihat cincin berlian yang melingkar di jari manis yang kini telah menyelesaikan tugasnya. Detakan jantung  Ivan semakin kuat. Ia jadi lupa pembicaraan yang terjadi  antara dirinya dan Arya.


“Silakan nikmati hidangan sederhana di tempat kami.”  Khaira berkata dengan santun sambil menyunggingkan senyum terbaiknya pada para tamu VIP tersebut. Sambil menganggukkan kepala, ia dan Gita langsung keluar dari ruangan.


Perasaan Ivan jadi kacau. Cincin itu telah mengingatkannya pada seseorang. Suara Arya yang masih berbicara di sampingnya telah memecah pikirannya. Ia tidak ingin mempercayai apa yang telah ia lihat. Tapi faktanya ....


“Tuan Ivan .... “ tepukan Arya di pundaknya membuat Ivan tersadar dari lamunan.


“Ya,” dengan cepat Ivan menjawab panggilan Arya.


“Darimana anda mengetahui keberadaan tempat ini? Walau pun sederhana tapi menu yang disajikan menggugah selera,” Arya berkata jujur, dan ia merasa senang atas hidangan yang tersaji di atas meja.


“Kafe restoran ini milik almarhum temanku,” ujar Ivan lirih. Pikirannya entah melayang ke mana. Melihat cincin berlian tadi membuat perasaannya jadi kacau.


Menu lengkap yang sudah ditata Gisel di dalam piringnya tidak membuat selera makan Ivan meningkat. Ia membuka galeri di ponselnya dengan cepat, dan mulai membandingkan gambar yang ada di sana dengan ingatan yang tersimpan di benaknya akan cincin yang melingkar di jari perempuan pelayan kafe Abbas.


“Apakah dia istri Abbas?” batin Ivan bergolak mengingatnya.


Bagaimana bisa ia tidak mengenal istri Abbas yang ia akui sebagai teman sejatinya. Sampai detik ini pun ia belum sanggup untuk menemui ibu almarhum serta istri Abbas yang ia yakini sedang mengandung keturunan Abbas dan mungkin anak Abbas sudah terlahir ke dunia.

__ADS_1


“Anda tidak makan?” pertanyaan Arya kembali menghempas lamunan Ivan yang sudah melanglang buana.


Ivan menatap ketiga orang yang kini memandangnya dengan raut penuh tanya. Pandangan Ivan jatuh pada piring yang terhidang di depannya. Ia melirik Gisel yang hanya meminum jus semangka. Dengan cepat Ivan menggeser piring dan mengambil sop iga yang masih mengeluarkan asap.


“Hari ini aku hanya pingin makan ini,” ujarnya santai.


Tanpa menghiraukan pelototan Gisel yang tidak terima dengan perbuatannya dengan cepat Ivan menikmati sop iga yang sama sekali belum pernah ia cicipi seumur hidupnya.


Sejenak kegundahan Ivan teralihkan dengan makanan yang baru ia nikmati. Tanpa terasa sop itu telah habis bersamaan dengan selesainya Arya dan asistennya makan. Mereka masih terlibat percakapan santai sambil menunggu Gisel yang kesusahan menghabiskan menu yang telah ia siapkan  sendiri.


Dari ruangan yang berdinding kaca dengan tirai tipis sebagai penutup, Ivan dapat melihat aktivitas di dalam kafe tersebut. Tatapannya terpaku pada sosok Khaira yang kini masih terlibat obrolan santai dengan teman-temannya.


Terdengar samar-samar tawa mereka hingga ke ruangan di mana Ivan dan ketiganya berada. Khaira tampak antusias mendengar cerita Anwar yang sekarang berprofesi sebagai dokter dan melanjutkan spesialis jantung di Amerika.


Sedangkan Beno dan Agnes mengambil profesi yang sama yaitu dokter bedah. Kini keduanya bekerja di salah satu rumah sakit kota di Paris. Khaira tak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar Agnes dan Beno yang berusaha menyatukannya dengan Anwar yang baru putus dari tunangannya karena terlalu lama ditinggal sekolah, sehingga tekdung dengan rekan kerjanya di perusahaan otomotif.


“Nggaklah.” Dengan cepat Khaira menggelengkan kepala. Ia belum siap melepas bayangan Abbas dari kehidupannya.


“Buat apa juga kamu menyesali yang telah pergi. Kamu harus berbahagia lho, Ra ….” Agnes berkata dengan penuh semangat, “Abbas juga nggak ingin lihat kamu begini.”


Ivan merasa penasaran melihat Khaira yang tak melepaskan senyum dari bibirnya sambil sesekali menjawab perkataan Agnes dan Beno yang bersemangat menyatukan mereka.


Ivan yang berpura-pura merokok dan keluar dari ruangannya untuk mendengar percakapan mereka merasa kesal. Jemarinya mengepal kuat. Ia memandang salah satu lelaki yang berpenampilan mirip Abbas memandang Khaira dengan lekat.


Anwar tersenyum tipis sambil menatap cincin yang melingkar di jemari Khaira yang tangannya masih terlipat di atas meja.


“Lo harus siapin mas kawin lebih dari ini,” dengan santai Beno menjawil cincin Khaira, “Aku nggak bisa kasi kamu mas kawin seperti punyanya Abbas, beb. Kamu nggak pa-pa kan?”


Agnes cemberut mendengar ucapan Beno. Ia tau Beno hanya bergurau, dan ia pun tak mempermasalahkan itu.


“Yang penting kamu sehat lahir dan batin aja, aku udah senang kok,” Agnes menjawab sambil mencibir membuat Beno tertawa lebar yan


“Aku tidak memaksa seperti kroco berdua ini Ra. Jika jodoh pasti bertemu,” ujar Anwar dengan bijak.


Ia tau, sakitnya kehilangan walau pun dengan cara berbeda. Perlu proses untuk penyembuhan, dan waktu yang diperlukan setiap orang tidaklah sama.


Agnes merangkul bahu Khaira sambil tertawa, “Terima aja, neng. Lo nggak bisa selamanya mengubur diri di kafe ini. Lo perlu melihat dunia luar juga. Kami selalu mendukungmu.”


“Tuan Ivan, kita kembali sekarang?” suara bass Arya membuat semuanya menoleh ke belakang.

__ADS_1


Gisel dan asisten Arya mengikuti di belakangnya dengan tatapan bingung melihat sikap Ivan tidak peduli dengan keberadaan mereka bertiga saat keluar untuk merokok dan seolah-olah melupakan kehadiran mereka.


“Hm.” Dengan  santai Ivan berjalan melewati keempatnya yang terkejut  karena tidak melihat keberadaannya.


“Siapa laki-laki itu?” Agnes merasa kepo melihat Ivan yang berjalan dengan gaya cool-nya di depan mereka yang membuat orang jadi penasaran dengan sikapnya.


Khaira menggelengkan kepala dengan cepat, “Aku tidak mengenalnya.”


Beno memandang Ivan yang berjalan semakin menjauh, hingga menghilang di balik pintu keluar. Ia mengernyitkan dahi berusaha mengingat sesuatu.


“Aku tau.” Beno berkata dengan serius, “Dia pengusaha pemilik New Star Corp, yang kekasihnya seorang model terkenal itu.”


“Wah, nggak nyangka  lo update infotainmen.” Anwar menatap Beno sambil  mencibir.


“Nggak juga, sih.  Tapi dia kan memang orang terkenal yang biasa menangani para artis. Usahanya kan memang bergerak di bidang itu. Malahan ku dengar yang nomor satu.”


“Lho, kok jadi ngebahas orang itu sih beb?” Agnes menatap Beno dengan raut tak suka.


“Benar juga ya. Kalian ke mari kan pengen reunian. Udah ganti topik lain.” Khaira segera mengalihkan perhatian Agnes yang masih tampak cemberut.


Akhirnya keempat sahabat dekat itu kembali bercerita tentang pencapaian masing-masing dan membahas pernikahan Agnes dan Beno yang akan diselenggarakan bulan depan di Paris.


******************************************************************


Sesampai di ruangannya Ivan membuka jas yang melekat di tubuhnya dan melemparnya dengan kasar. Mendengar perbincangan  yang terjadi antara Khaira dan teman-temannya membuatnya merasa kesal.


Ia berkacak pinggang menghadap ke jendela besar menatap jalanan yang kini  padat merayap di jam istirahat. Menghembuskan nafas dengan kasar. Ia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia harus merasa kesal mendengar obrolan mereka? Dan istri Abbas tidak pernah memandangnya seperti yang biasa dilakukan perempuan lain yang bekerja bahkan mengenalnya. Bahkan istri Abbas tidak mengenalnya.


Ivan menggelengkan kepala berusaha menghilangkan bayangan wajah ayu yang terus merasuk pikirannya. Kenapa ia tak bisa melepaskan bahkan menghilangkan bayangan wajah itu dari pikirannya? Semakin ia berusaha, sorot tajam bahkan senyumnya makin melekat di pikirannya.


“Astaga, perasaan apa ini?” Ivan merutuk dirinya sendiri berusaha menolak dengan logika akal sehatnya.


Ia yang selama ini meremehkan dan menganggap bahwa istri Abbas perempuan biasa, dan bukan kriteria yang memenuhi ekspektasinya sebagai seorang lelaki, tapi mata dan senyum itu begitu sempurna meracuni pikirannya  membuatnya merasa penasaran.


“Dia janda Abbas, bahkan sudah melahirkan keturunan Abbas. Aku tidak pernah menerima barang bekas.” batinnya berusaha mengenyahkan wajah ayu nan teduh dari pikirannya, “Masih banyak perempuan di luaran sana yang lebih baik dari dirinya.


Ivan berjalan menuju ruang pribadinya dan mencuci wajahnya di wastafel berusaha untuk fokus menghadapi pekerjaan serta berkas  yang harus ia tandatangani  yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.


Dukung terus ya, kritik, saran dan votenya selalu saya tunggu.

__ADS_1


__ADS_2