Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 319 S2 (Abbas Putra Alexander)


__ADS_3

Khaira begitu enjoy menikmati kehamilannya kali ini. Semua terasa menyenangkan dan membawa keberkahan baginya. Ia tidak merasakan mual, susah makan serta keriweuhan lainnya, karena semua sudah diborong Ivan.


Semua saudara Khaira merasa senang, khususnya Hasya. Sekarang ia tidak perlu overprotektif dalam menjaga proses kehamilan seperti saat mengandung si kembar.


Pagi ini Khaira sudah bersiap untuk ke pondok. Ia ada jadwal mengajar pukul sembilan. Si kembar sudah berangkat terlebih dahulu diantar bu Nuri dan bu Mila.


Khaira masih menemani Ivan yang belum bergerak dari meja makan. Permintaannya untuk sarapan kali ini benar-benar membuat bi Giyem mengurut dada.


Sedari Subuh  sudah tersedia nasi goreng yang sudah diracik bumbunya, tinggal Khaira mengeksekusi sesuai keinginan Ivan. Begitu keduanya duduk di ruang makan, si kembar sudah menikmati sarapan masing-masing yang telah disediakan bu Giyem.


Mencium aroma bawang goreng membuat rasa mual menyerangnya kembali. Belum ada satupun yang masuk ke pencernaan, ia sudah berjalan cepat ke wastafel.


Khaira dengan sabar mengikuti langkah Ivan dan memijit tengkuknya dengan perlahan. Ia turut prihatin dengan hamil simpatik yang menimpa suaminya. Untung saja Fajar dan Embun sudah tidak tergantung pada keduanya, membuat Khaira bisa fokus pada Ivan.


Dasar Ivan memang eyel-eyelan, walau pun dari kunjungan ke rumah mbak Hasya dan langsung kontrol ke dokter kandungan sahabat nya, ia sudah dibekali obat anti mual, tapi ia tidak mau meminumnya. Ia ingin menikmati rasa ngidam yang dialami sang istri.


Tapi hal tersebut membuat orang serumah bahkan Danu jadi kerepotan atas tingkahnya.


“Kasian ayah .... “ Fajar berkata lirih melihat Ivan yang dibimbing Khaira kembali ke kursi makan.


“Ayah gak minum obat?” Kini Embun yang bersuara, “Saat dede flu dan masuk angin, bunda kasi dede minum obat biar sembuh sakitnya.”


Mendengar ucapan Embun, tak ayal bi Giyem dan Khaira saling melempar senyum.  Wajah keduanya langsung mode serius begitu Ivan menatap istrinya.


“Ayah gak bisa minum obat .... “ ujar Ivan dengan wajah memelas.


“Ih, ayah manja amat. Kita aja mau minum obat,” Embun berkata lagi dengan wajah serius.


“Kalau mas dan ade  gak minum obat, kasian bunda .... “ sela Fajar  sambil menatap wajah Khaira yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepala pada kedua buah hatinya.


“Sakitnya ayah beda sayang .... “ akhirnya Khaira menengahi.


Ia tau, Ivan memang sengaja tidak menuruti anjuran dokter kandungan yang telah memberinya obat dan vitamin. Dan ia pun tidak bisa menyalahkan ucapan Fajar dan Embun yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya.


“Bunda bilang kalo gak minum obat artinya gak sayang sama bunda .... “ Fajar berdiri dan mendekati Ivan yang masih menyandar lemes di kursi.


“Ntar bilangin mimi kalo ayah bandel gak mau minum obat .... “ Embun kembali menyela sambil berdiri karena sudah bersiap untuk ke sekolah.


“Justru karena ayah sayang bunda, makanya ayah gak mau minum obat. Di rahim bunda kan sudah ada dedenya .... “ Khaira kembali berkata untuk menghentikan perdebatan kecil diantara si kembar.


Begitulah drama setiap pagi saat sarapan di meja makan. Untung saja ngidamnya Ivan tidak minta yang aneh-aneh. Ia hanya mau menikmati makanan yang dimasak sang istri. Dan tidak akan mau makan sendiri kalau tidak ditemani dan disuapi sang istri.


Telpon terus berdering dari saku Khaira ketika ia kembali ke ruang guru setelah mengajar di kelas VIII. Ia tau, hari ini akan ada meeting di perusahaan properti milik suaminya.


Padahal ia sudah mengingatkan Ivan bahwa ia akan datang menyusul, tapi kembali Ivan menolak tidak akan pergi jika tidak bersamanya.


Perlahan Khaira berjalan menuju aula sekolah. Di depan aula mobil suaminya sudah terparkir dengan mesin yang masih hidup.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum Bu .... “ Danu memberi salam dengan hormat.


“Wa’alaikumussalam pak Danu,” Khaira membalas dengan sopan.


Ia langsung memasuki  mobil yang pintunya sudah dibukakan Danu untuknya. Di dalam mobil Ivan bersandar sambil memejamkan mata.


Karena sudah hapal dengan perubahan mood suaminya, Khaira langsung meraih jemari Ivan dan menciumnya dengan hangat.


Tanpa membuka mata Ivan langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan Khaira dan menggenggam jemari istrinya untuk ia letakkan di dada. Berdekatan dengan istrinya memberikan ketenangan padanya.


Sepuluh menit kemudian mereka  telah sampai di gedung properti  yang lokasinya berada di pinggir jalan raya. Ivan langsung menggandeng tangan istrinya memasuki ruang meeting.


Para investor serta pihak bank yang menjadi pihak ketiga telah datang satu jam yang lalu. Ivan merasa lega, karena ia kini tak perlu berjumpa Intan lagi. Keluhannya telah ditindaklanjuti pihak bank, Intan telah dimutasi ke daerah lain.


Berli dan Laura hanya terdiam, karena yang memberikan paparan adalah ustadz Hanan dan ustadz Helmi.  Mereka tidak berani memprotes keterlambatan Ivan sebagai direktur utama sekaligus komisaris pemilik perusahaan.


Dua jam berlalu, meeting telah berakhir. Dan investor tertarik untuk menyuplai material bangunan yang diperlukan dalam rangka menambah puluhan unit perumahan yang akan dibangun sesuai permintaan konsumen.


Kini di ruangan menyisakan Berli, ustadz Hanan, Ivan dan Khaira. Ustadz Hanan berbagi cerita kebahagiaannya karena setelah 22 tahun menikah dengan istrinya, akhirnya Allah berkenan memberikan keduanya cahaya mata dengan kelahiran seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Oemar Sayyid Ibnu Farouq.


Berli serta Ivan dan Khaira langsung mengucapkan selamat atas kehadiran putra pertama mereka. Ustadz Hanan tersenyum bahagia menceritakan aktivitasnya sekarang yang semakin padat, selain mengisi kajian-kajian ditambah mengasuh dan menemani sang istri berjaga di malam hari jika putra mereka rewel.


Sepeninggal Berli dan ustadz Hanan tinggal Khaira dan Ivan yang masih menghadapi setumpuk dokumen. Dengan seksama Ivan memeriksa berkas MOU  yang telah ditandatangani pihak suplier. Khaira dengan telaten mengelus punggung Ivan yang mengaku pegal-pegal.


Danu datang membawakan makan siang untuk keduanya. Tanpa bantuan Khaira ia menyusun beberapa menu yang telah dipilih Ivan untuk menu makan siangnya kali ini.


“Makan di sini aja pak Danu, sekalian .... “ Khaira menawari Danu yang telah menyiapkan semua dengan rapi di ujung meja tempat Ivan dan Khaira berada saat ini.


“Ya Bos,” jawab Danu cepat, “Saya juga mau Zuhur-an di masjid, udah masuk waktunya juga ...”


“Ya udah,” Khaira menjawab pelan.


Ia mengelus lengan suaminya yang kini mulai menyelesaikan pekerjaan dan sudah menandatangani semua dokumen yang berada di meja.


“Sekarang semua sudah beres. Sebelum kamu pergi, simpan di atas meja kerjaku,” ucapan Ivan tegas tak ingin dibantah.


Ia tidak suka melihat ada orang lain diantara keberadaannya dan Khaira, kecuali si kembar dan keluarga saja.


Danu sudah paham tingkah bosnya yang jadi arogan semenjak kehamilan sang nyonya. Kalau sudah maunya tidak dituruti, bisa-bisa bonus Danu langsung dipotong tanpa kompromi, dan Danu tidak ingin kejadian pemotongan terulang. Jadi apa pun keinginan sang bos dengan senang hati ia turuti.


“Yang .... “ keduanya baru saja selesai melaksanakan salat Zuhur ketika genggaman tangan Ivan begitu erat pada jemari istrinya.


“Kita makan sekarang?” Khaira memandang suaminya yang menatap dengan lekat.


Ivan menggelengkan kepala dengan cepat, “Mau ya .... “ pintanya menampilkan sorot memelas.


“Gak di sini juga kali, “ Khaira paham keinginan suaminya, “Kita makan dulu ya. Ntar di rumah kita eksekusi ....”

__ADS_1


Ia memandang sekelilingnya. Memang di ruang kerja Ivan ada kamar yang bisa digunakan untuk beristirahat dengan bed tunggal  yang tersedia, dan bisa juga digunakan untuk  tempat salat.


“Tadi udah makan, maunya kamu sekarang .... “


Khaira tak bisa menahan senyum dengan ngidam aneh suaminya. Untung saja setiap jam ia mengisi perut dengan berbagai camilan, sehingga tak merasakan lapar walaupun udah masuk jam makan siang.


Satu jam berlalu. Khaira sedang mengeringkan rambutnya di kamar mandi setelah membuat badai di kamar ruang kerja suaminya.


Wajah Ivan terlihat cerah saat menikmati makan siang yang tertata sejak tadi. Karena perasaannya senang, ia tak merasa mual sedikitpun saat menghabiskan makanan yang tersedia.


Baru kali ini Khaira melihat suaminya makan dengan bersemangat. Ia yakin trimester awal telah berlalu. Kini kehamilannya telah memasuki trimester ke dua.


Sembilan bulan telah berlalu. Dengan drama ngidam luar biasa yang dilalui Ivan. Ia tak pernah melewatkan waktu untuk membawa Khaira kontrol ke dokter kandungan demi sang buah hati yang sangat mereka nanti.


Pagi itu di sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta Timur, keluarga Khaira sudah berkumpul untuk menyambut keluarga kecil mereka. Anak-anak di rumah Hasya ditemani om Sadewo dan istrinya.


Ivan tak melepaskan genggaman jemarinya pada tangan Khaira saat keduanya telah memasuki ruang persalinan. Sudah satu minggu Khaira merasakan mulas dan ia siaga sepanjang malam, jika sang istri sudah waktunya untuk dibawa ke rumah sakit.


Dan sejak habis salat Subuh rasa mulas semakin menjadi, hingga Ivan memutuskan langsung membawa Khaira ke rumah sakit dan mengabari saudaranya kemudian.


“Ya Allah .... “ Khaira mulai merasakan mulas dan ngilu hingga ke punggungnya.


“Mana yang sakit sayang .... ?” Ivan jadi cemas melihat wajah pucat istrinya dengan keringat sebesar biji jagung mulai mengalir di wajah bening Khaira.


“Allahu akbar .... “ takbir dan zikir tak berhenti mengalir dari bibir Khaira saat rasa mulas semakin rancak menyerangnya.


“Sesar aja ya .... “ Ivan berusaha membujuk Khaira, karena berdasarkan cerita Valdo, jika melahirkan secara sesar apalagi dengan metode ERACS tidak akan mengalami rasa sakit.


“Hus kamu ini,” Hasya menginterupsinya, “Ini udah nampak kepala debaynya. Yang sabar ade, sedikit lagi .... “


Khaira menganggukkan kepala mengikuti intruksi Hasya. Ia merasakan semangat luar biasa, karena didampingi orang-orang tercinta yang selalu melindungi dan menyayanginya.


“Oek, oek .... “ tangis bayi laki-laki melengking nyaring.


“Subhanallah, alhamdulillah ya Allah .... “ Ivan bersyukur dan langsung sujud di lantai  ketika tangisan bayi memecahkan keheningan di ruang bersalin itu.


Ia segera mencium kening Khaira sepenuh hati dan cintanya karena telah memberikannya kembali seorang putra. Dengan jemarinya ia menghapus keringat yang masih menganak sungai di peipis istrinya.


“Terima kasih sayang. Semua ini sangat berarti bagiku .... “


Khaira tersenyum membalas raut kebahagiaan yang tergambar nyata di wajah suaminya.


Tangan Ivan bergetar dan tangisnya tumpah begitu Hasya mengulurkan bayi lelaki tampan dengan rambut hitam lebat ke dalam gendonganya.


“Cemen amat .... “ Hasya menahan senyum melihat tingkah Ivan yang baru pertama kali menggendong bayi yang baru lahir dan darah dagingnya sendiri.


“Boleh diazanin .... “ Ariq yang baru masuk ruang bersalin segera meminta Ivan untuk mengazan-kan putranya.

__ADS_1


Dengan suara bergetar Ivan melantunkan azan untuk pertama kali bagi buah hatinya yang telah ia nantikan walau pun bukan yang pertama.


“Abbas Putra Alexander .... “ guman Ivan di dalam hati dengan penuh keyakinan.


__ADS_2