Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 173 S2 (Menjelang Hari H)


__ADS_3

Rheina merasa kesal melayani kecerewetan tante Indah dan Irene saat mencoba seragam keluarga yang sudah pegawainya buat untuk resepsi pernikahan Ivan dan Khaira. Hari ini ia memang menutup butik untuk  umum karena satu hari full untuk melayani keluarga.


“Masa bahannya kayak gini?” bibir tante Indah mulai mencibir sambil meraba gaun yang sudah jadi, karena dikebut pegawainya selama 3 hari ini, 3 hari lagi pernikahan akan segera dilaksanakan.


“Benar mah, bagusan punya kita diacaranya Afifah,” Irene menambahkan sambil mengepal-ngepal bahan yang berada di dalam genggamannya.


“Eh jangan salah ya. Bagusan ini lah. Harganya permeter aja lima ratus rebu,” sela Laras yang menyela pembicaraan ibu dan anak tersebut, “Belum lagi upah jahit, untung keluarga mantuku udah menanggung semua. Kita tinggal datang, duduk dan menikmati.”


Rheina merasa lega karena tante Laras langsung membantunya menutup mulut  duo racun, karena sejak kedatangan keduanya  butik yang awalnya adem ayem jadi heboh. Tidak ada sesuatu apa pun dari isi butik yang tidak dicela keduanya, ada saja yang kurang di mata mereka.


“Jangan masukin hati, mereka berdua memang seperti itu. Untung aja Ivan nggak tertarik sama si Iren, kalau nggak mati berdiri menghadapi ibu dan anak itu,” Tante Laras membisiki Rheina yang masih memilih beberapa  gaun untuk keluarga lain yang belum sempat datang mengambil.


Tiga jam berlalu, Rheina kini merasa lega, karena pihak keluarga kedua belah pihak merasa puas atas pelayanan serta baju seragam yang diberikan untuk dipakai pada hari H nanti.


Keributan sempat terjadi di depan, ketika Rheina masih berbincang dengan tante Laras, tante Indah dan Iren.


Oh ternyata ….


Kedatangan Ivan didampingi Roni ke butiq untuk mencoba baju akad membuat pegawai Rheina heboh. Mereka yang mengenal Ivan dari sosmed terkejut dan tidak menyangka siang-siang begini mendapat kunjungan pria most wanted tahun ini.


“Maafkan saya baru sempat datang,” Ivan langsung mengitari butik mencari seseorang yang sangat ia rindukan 3 hari belakangan ini.


Rheina merasa senang menyambut kedatangan calon adik iparnya. Ia langsung menghampiri Ivan untuk membawanya ke ruangan tempat penyimpanan gaun pengantin untuk kedua calon mempelai.


“Nggak nyangka ya jodoh kamu hanya seorang janda ….” terdengar  nada sindiran Iren membuat telinga Rheina berdiri.


Hatinya merasa panas. Adik ipar kesayangannya diremehkan orang lain di depan matanya sendiri, kalau tidak berpikir panjang kali lebar, rasanya ingin ia remes-remes mulut usil itu dan dilempar ke comberan.


Ivan tidak mempedulikan ucapan Iren, ia menatap Rheina yang sudah mulai tegang. Senyum Ivan membuat Rheina menahan diri.


“Rheina Permata kan?” Ivan menatap Rheina dengan wajah berusaha mengingat.


Senyum langsung tersungging mengetahui Ivan masih ingat dengan dirinya. Padahal mereka hanya bersama di kampus selama satu semester, karena Ivan pindah mmelanjutkan ke luar negeri.


“Benar. Terima kasih masih mengingat saya,” Rheina merasa tersanjung.


“Salah satu temanku yang  bernama Ricky sering melihatmu saat itu,” Ivan berkata santai.

__ADS_1


Matanya kembali memandang setiap sudut, masih mencari sesuatu yang membuatnya penasaran. Ia ingin memandangnya walau sebentar untuk menghilangkan dahaga ibarat setitik air di padang gersang.


Rheina senyum sendiri. Ia tau apa yang dicari calon adik iparnya itu. Kebetulan hari ini ia dan Ira memaksa Khaira melakukan perawatan pra pernikahan. Karena kondisi Khaira yang dalam keadaan hamil, mereka hanya memilih perawatan yang ringan saja, karena khawatir akan mengganggu kondisi janin di perut Khaira.


Iren merasa kesal karena perkataannya tidak diindahkan Ivan yang malah berbincang serius dengan Rheina.


“Pulang yok ma. Males aku kelamaan di butik ini. Mendingan butik sebelah, kualitasnya lebih bagus dan pelayanannya lebih memuaskan,” Iren menghentakkan kakinya melihat Ivan yang tidak mempedulikan keberadaannya.


Indah memandang Iren sambil menggelengkan kepala, ada sesuatu di otaknya yang sedang bermain.


“Apa kamu nggak ingin melihat gaun yang akan dipakai janda itu dipernikahannya nanti. Mama jadi penasaran, seperti apa modelnya apa lebih bagus dari pernikahan adikmu?” walau di bibirnya penuh celaan, tapi di hati kecilnya Indah mengakui bahwa kualitas barang yang dijual butik Rheina sangat bagus.


Sebelum acara pernikahan Afifah, Rheina sempat menawarkan butiknya untuk mendrop semua keperluan keluarga mempelai, tapi dengan sombongnya Indah menolak. Ia mempunyai teman yang juga seorang desainer dan memiliki butik cukup terkenal di kota.


Tapi kini ia menyesali penolakannya kemarin. Dapat ia lihat jejeran baju akad serta resepsi yang harganya bukan kaleng-kaleng, udah sekelas rancangan desainer dunia dengan bahan yang sangat berkualitas.


“Maksud mama?” Iren menatap Indah tak mengerti.


“Mama jadi penasaran mau lihat gaun pengantin,” Indah menatap Iren dengan rasa penasaran yang tinggi.


Laras tersenyum melihat Ivan yang tampak bersemangat mengikuti langkah Rheina untuk melihat gaun pengantin yang akan dipakai saat akad dan resepsinya yang akan berlangsung satu hari di the Grand Horisson.


Ivan tersenyum melihat baju akad yang kini ada di hadapannya. Ia sudah tidak sabar ingin memakainya dan segera menghalalkan perempuan yang telah menjadi targetnya. Jemarinya membelai gaun putih tulang yang sangat indah.


“Apa nggak dicoba dulu?” tawar Rheina, kini ia dapat melihat ada cinta di mata Ivan saat memandang gaun pengantin yang kini ada di hadapannya.


Senyum tak bisa Rheina sembunyikan saat Ivan menyentuh gaun yang akan dikenakan Khaira di hari bersejarah mereka nanti. Dari apa yang ia lihat, ia bisa merasakan bahwa Ivan sangat serius dengan adik ipar kesayangannya.


Walau pun bukan dirinya, tapi kebahagiaan tak bisa disembunyikan Rheina mengetahui ada cinta yang teramat besar dari lelaki tegap di hadapannya pada adik iparnya. Ia bersyukur karena  laki-laki itulah yang bakal mengisi hari Khaira di masa depan, terlepas dulu ia kurang respek atas hubungan Khaira dan Abbas. Harus ia akui kadar ketampanan Abbas di atas rata-rata, tapi dibandingkan dengan Ivan, Abbas bukanlah siapa-siapa.


Senyum tipis terbit di wajah Khaira mengingat keinginannya agar adik ipar kesayangannya mendapatkan laki-laki yang tepat menurut versinya akhirnya kesampaian.


“Tidak perlu,” tolak Ivan membuat Rheina kelabakan karena asyik bermain dengan lamunannya sendiri.


Ivan mengerutkan jidatnya melihat tingkah aneh calon iparnya. Ia yakin saat melihat baju beskap untuk mempelai laki-laki yang dipasangkan dengan gaun pengantin perempuan itu pas di tubuhnya, sehingga ia tidak merasa perlu untuk mencobanya.


“Baiklah,” akhirnya Rheina berusaha tersenyum kembali, agar tidak kelihatan  bahwa ia sedang melamunkan Khaira dan kenangan masa lalunya.

__ADS_1


“Apa ada masalah?” kini Ivan menatapnya dengan curiga, ia yakin ada sesuatu yang dipikirkan calon iparnya itu.


“Nggak masalah,” Rheina menjawab dengan cepat. Ia yakin baju akad dan resepsi yang ia buat untuk Ivan sudah pas di tubuhnya.


Tiba-tiba Ivan tertarik untuk bertanya sesuatu hal yang ia penasaran dari awal saat melihat baju pernikahan yang kini ada di hadapannya.


“Apakah ini baju yang telah disiapkan untuk pernikahan Rara dan Abbas?” tembak Ivan langsung.


Rheina menggelengkan kepala dengan cepat. Semua baju persiapan pesta untuk Khaira dan Abbas telah ia singkirkan sejak lama. Begitu pihak keluarga memintanya untuk mempersiapkan baju pengantin untuk Khaira dan Ivan ia sangat bersemangat. Walaupun tidak mengukur secara langsung ia yakin ukuran baju Abbas dan Ivan hampir sama, hanya Ivan posturnya lebih tinggi dari almarhum Abbas.


“Semua ini khusus untuk kalian berdua. Saya senang Rara telah membuka hati padamu. Saya harap pernikahan kalian bisa langgeng,” Rheina berkata dengan tulus.


Ivan tersenyum mendengar ucapan calon iparnya. Ia yakin, semua saudara Khaira sangat baik. Hal itu lah yang membuatnya merasa lega.


“Bagaimana menurutmu nak?” tiba-tiba Laras hadir mengejutkan keduanya yang masih terlibat obrolan ringan.


“Aku yakin, Rheina telah melakukan tugasnya dengan baik,” Ivan mengacungkan jempol pada Laras yang kini berdiri di hadapan baju pengantin.


“Syukurlah, mama juga puas melihat hasilnya,” Laras tersenyum lega, “Semoga dilancarkan hingga sampai di hari H.”


Ia tau, Ivan sudah terbiasa dengan produk berkualitas, dan ia berhasil meyakinkan diri bahwa keluarga calon menantunya bisa membuatnya merasa senang dan puas atas hasil kerja mereka.


Sementara itu di sebuah apartemen mewah, tampak seorang perempuan muda mengamuk menghancurkan segala macam benda yang ia pegang. Ia baru saja mendapat chat dari teman terdekatnya yang memotokan undangan pernikahan sang mantan.


“Kurang a***. Aku tidak akan membiarkan kalian berbahagia. Lihat saja apa yang akan ku lakukan untuk menghancurkan pernikahan kalian! Jangan sebut namaku Sandra kalau tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.”


Ya …


Perempuan itu adalah Sandra. Ia merasa tidak terima kalau Ivan telah melupakannya, bahkan akan segera menikah dengan perempuan yang hanya seorang pelayan kafe. Ia sangat terkejut saat membaca chat Chilla ketika baru tiba di apartemen dari Yogya, setelah mengikuti syutting film terbarunya selama satu minggu di sana.


Setelah puas menghancurkan segala pernak-pernik yang ada dalam apartemennya Sandra merasa kelelahan. Ia duduk termangu memikirkan tindakan yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia tidak mungkin membatalkan pernikahan yang akan terjadi, tetapi ia akan membuat perempuan kafe yang akan menjadi istri sang mantan menolak Ivan menjadi suaminya.


Senyum misterius terbit di wajah Sandra. Ia yakin apa yang ia rencanakan pasti berhasil. Tidak masalah jika harus membayar mahal, siapa pun tidak berhak memiliki Ivan kecuali dirinya sendiri.


***Wah pemirsah apa yang terjadi. Tolong yang kenal dengan Satpol PP mohon pengamanan hingga hari H.***


Salam Jum'at berkah. Alhamdulillah ketemu lagi kita. Dukung terus ya... Semoga Author hari ini khilaf karena kemaren kecapean menghadapi tugas negara. Semoga readerku tersayang selalu dalam keadaan sehat.

__ADS_1


__ADS_2