
Ia bangkit untuk membereskan meja makan serta menyimpan semua yang kotor ke dalam wastafel, dan ingin membersihkan segera. Matanya masih segar untuk sekedar beberes setelah makan bersama suaminya.
“Biarin aja,” Ivan berkata dengan cepat, “Besok ada yang mengerjakan ini semua.”
Terpaksa Khaira membatalkan keinginannya untuk beberes, karena bahunya sudah berada di dalam rangkulan Ivan untuk kembali ke kamar.
“Mas, kasian si kembar hujan deras begini .... “
Khaira berdiri dekat jendela kamar memandang ke atas tepatnya kamar di mana si kembar berada ketika Ivan mengunci pintu kamar. Ia memandang curah hujan yang begitu deras. Ia mengkhawatirkan si kembar terbangun.
“Jangan khawatir, Ayah sudah memberitahu bu Mila untuk menemani si kembar. Pak Toto dan Dipo juga di sebelah,” Ivan berkata santai sambil berjalan mendekati Khaira yang berdiri tegak dengan pandangan mengarah ke kamar atas.
Tangan kokohnya sudah memeluk Khaira dari belakang, menghirup aroma wangi lembut yang begitu menenangkan. Ia memejamkan mata menikmati momen yang membuatnya selalu ingin dekat dengan san istri.
“Mas sudah mengantuk?” Khaira melirik suaminya yang terpejam dengan kepala bersandar di bahunya.
“Momen seperti inilah yang selalu Ayah bayangkan saat pertama mendirikan rumah sebelah .... “ Ivan berkata dengan lirih mengingat saat pertama kali mulai membangun rumah dan akan menjadi tetangga bagi keluarga kecilnya sendiri.
Khaira tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia mengusap kepala Ivan dengan penuh kasih. Ingatan akan rumah mewah yang dibangun dengan waktu relatif singkat mulai kembali dalam benaknya. Apalagi godaan ustadzah Fatimah yang menceritakan bahwa pemiliknya seorang lelaki lajang.
“Kami juga heran, siapa sih bangun rumah megah di komplek pondok, bahkan menjadi tetangga ... ?” suara Khaira terdengar dengar senyum yang menghias wajah, “ ... bahkan belum empat bulan rumah sudah berdiri dengan megah .... “
Ivan tertawa lirih mendengar ucapan istrinya. Ia membelai rambut Khaira dan mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan.
“Bunda tau, setiap malam Ayah selalu berdiri di ruang kerja untuk memantau bunda dan si kembar, walau terhalang dinding.”
Khaira membalik badan hingga tubuhnya menempel rapat dan wajahnya begitu dekat. Ia mendongakkan wajah untuk memandang suaminya yang kini menatapnya dengan lekat. Keduanya saling memandang dengan tatapan tercurah penuh cinta.
“Pantas saja bu Nuri dan bu Mila merasa ada yang mengawasi ... “ Khaira berkata sambil menggelengkan kepala setelah menyadari bahwa semua adalah perbuatan Ivan. “Herannya pak Toto dan Dipo gak pernah komentar jika bu Nuri dan bu Mila merasa khawatir .... “
“Ayah merasa tidak tenang jika melihat lampu rumah masih menyala,” Ivan berkata sambil menghela nafas.
__ADS_1
Khaira mengikuti langkah Ivan yang merangkulnya menuju peraduan. Ivan segera berbaring dan merentangkan tangan agar Khaira berbantalkan lengannya. Tanpa penolakan Khaira mengikuti keinginan suaminya. Keduanya berbaring berhadapan.
“Saat rumah sudah berdiri, setiap malam Ayah selalu datang untuk melihat aktivitas bunda dan si kembar,” Ivan mengingat kembali semua usahanya dalam mendekati Khaira dan anak-anaknya.
Tatapan matanya begitu teduh saat memandang. Khaira membelai rahang suaminya yang dipenuhi jambang tipis yang tertata rapi. Ia mendengarkan semua ucapan Ivan dengan antusias. Jemarinya mulai menyusuri mata, hidung dan pipi suaminya membuat nafas Ivan mulai tak beraturan.
“Jadi bayangan hitam yang muncul saat malam hari di kamar atas itu .... ?” Khaira memandang Ivan tanpa berkedip, dengan pikiran mengelana mengingat sosok yang berdiri tegak di lantai rumah kosong di samping mereka.
Ivan mengangguk cepat. Nafasnya semakin memburu ketika jemari lentik Khaira mulai bermain di bibirnya. Ia masih membiarkan jemari lentik itu bermain-main di atas bibirnya hingga dengan gemas Ivan menggigit jemari Khaira. Tangannya menangkap dan menautkan jarinya pada jemari Khaira yang kini berada dalam genggamannya.
“Masss .... “ Khaira terkejut dengan keisengan sang suami. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Jemarinya kini sudah menyatu dengan jemari Ivan.
“Sudah lama Ayah membayangkan menikmati malam bersama Bunda di sini ... “ tatapan Ivan semakin dalam.
“Hmm .... “ Khaira berdehem mulai memahami pertanda yang diberikan suaminya, “Besok kita akan mengundang warga pondok ke rumah. Sebaiknya kita segera tidur untuk beberes pagi-pagi.”
“Danu dan staf sudah mempersiapkan semuanya termasuk berbagi sembako untuk warga tidak mampu di sekitar pondok. Bunda gak usah khawatir .... “ Ivan memahami kegundahan yang terpancar di raut sang istri.
“Akhirnya impian Ayah untuk menikmati malam bersama bunda terlaksana juga di sini. Walau pun hanya satu kali .... “
“Maksudnya .... “ Khaira menatap wajah Ivan yang kini telah diselimuti kabut gair*h yang telah menguasai dirinya.
“Mulai besok rumah ini bukan milik bunda lagi. Ayah ingin kita membuat kenangan yang istimewa yang akan selalu kita ingat berdua tentang rumah ini ....”
Khaira meringis mendengar ucapan suaminya. Ia yakin, raganya akan bekerja keras malam ini memenuhi keinginan Ivan untuk membuat kenangan penuh romantisme di malam terakhir di rumahnya.
Suara azan Subuh bergema membuat Khaira membuka mata secara perlahan. Suasana hening begitu terasa meliputi suasana kamar. Ia memandang sekeliling berusaha mencari, tetapi suaminya sudah tidak tampak di kamar.
Khaira merentangkan kedua belah tangannya untuk melakukan peregangan. Perasaan baru beberapa saat yang lalu ia memejamkan mata setelah memanjakan sang suami dengan segala keinginannya untuk menciptakan moment manis di kamar yang akan segera mereka tinggalkan. Senyum tipis menghiasi wajahnya mengingat kemesraan yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Bersama Ivan membuatnya tidak bisa berkutik. Suaminya sangat pandai dalam memanjakan dirinya sehingga ia tidak mampu menolak apa pun keinginan Ivan, selama ia masih mampu dan sanggup melayani. Entah kenapa suaminya itu memiliki stamina yang selalu full power tanpa pernah terlilhat lelah. Untung saja resep mbak Hasya membuatnya mampu mengimbangi sang suami.
__ADS_1
Walau dengan raga yang terasa remuk, Khaira bergegas menuju kamar mandi untuk bersuci dan segera menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Ia tidak ingin terlambat dalam mengerjakan salat. Sudah terlalu banyak kenikmatan dan keberkahan Yang Kuasa anugerahkan kepadanya dan keluarga kecilnya. Jadi sudah selayaknya ia harus lebih banyak bersyukur dan berbagi.
Setelah menjalankan salat Subuh Khaira tidak beranjak, ia sudah tidak mampu mengangkat mata dan raganya. Ia ingin mengistirahatkan jiwa sejenak untuk menghadapi kesibukan hari esok. Untung saja ia sudah izin untuk tidak mengajar di pondok karena akan mengadakan syukuran di rumahnya.
“Bunda ... bunda .... “ samar-samar suara terdengar di telinga Khaira.
Ia membuka mata dengan cepat. Ivan dan si kembar sudah duduk dengan manis di hadapannya dengan tangan Ivan yang membawa nampan berisi sarapan lengkap serta segelas susu coklat hangat.
“Bunda nampak lelah sekali. Maafkan Ayah ya .... “ Ivan memandang Khaira dengan penuh arti.
Ia melihat sorot mata istrinya yang nampak sayu sehingga membuatnya merasa bersalah. Tapi setiap berdekatan dengan sang istri ia tidak mampu menahan keinginannya untuk bermanja. Dan kini ia siap untuk meringankan tugas sang istri dalam segala hal khususnya mengurus segala keperluan si kembar.
“Sini Ayah bantu sarapan,” Ivan segera mengulurkan segelas coklat hangat yang langsung disambut Khaira dengan cepat.
“Bunda balu bangun bobo ya ... ?” Fajar beralih ke dalam pangkuan Khaira.
“Ya sayang, bunda ketiduran,” ujar Khaira tersenyum sambil mengelus puncak kepala Fajar.
“Dede cama mas udah mandi tama ayah ... “ giliran Embun yang tidak mau kalah segera berpindah dari pangkuan Ivan, “Cudah wangi .... “
“Sayang, dede sama ayah saja. Kasian bunda .... “ Ivan berusaha menahan langkah kecil putrinya yang kini sudah terlepas dari jangkauannya.
“Iya, dede wangi banget ... “ Khaira mencium pucuk kepala putrinya, “Mas juga wangi sekali .... “
“Sekarang bunda sarapan dulu. Sebentar lagi mbak Hasya dan keluarga yang lain akan datang,” Ivan berkata pelan melihat aktivitas si kembar yang berebut perhatian sang bunda.
“Benarkah?” Khaira tak percaya mendengar ucapan suaminya.
Ia memang sempat berbicara dengan Hasya via telpon, tapi tidak mengkonfirmasi akan datang berkunjung dalam waktu dekat. Jika memang keluarga besarnya akan datang, tentu ini hal yang sangat menggembirakan baginya dan anak-anak. Mereka akan berkumpul bersama lagi.
Ba’da Magrib rumah kediaman Ivan dan keluarga kecilnya sudah dipenuhi dengan warga pondok dan lingkungan sekitar yang telah diundang. Empat tenda besar yang dipasang sudah dipenuhi warga yang sangat antusias memenuhi undangan yang disampaikan ustadz Hanan setelah salat Zuhur siang tadi.
__ADS_1
Khaira, Ivan dan si kembar menggunakan pakaian serba putih yang dibawakan Rheina dan dibuat khusus oleh desainer di butiknya. Senyum kebahagiaan tidak terlepas dari wajah keluarga kecil Ivan karena dikelilingi keluarga besar dan di tengah-tengah para ulama dan kyai yang telah mendoakan segala kebaikan untuk keluarga besarnya.