Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 26


__ADS_3

Mereka kini duduk berhadapan di kafetaria rumah sakit itu. Tatapan keduanya saling menghujam  berusaha mencari titik kelemahan masing-masing. Namun tidak ada yang mau mengalah. Adi akan memulai perjuangannya kembali.


Hanif menghela nafas, “Bagaimana kabarmu, mantan abang ipar. Ku dengar perusahaanmu menjadi yang terbaik di negara ini.” ujar Hanif setelah terdiam beberapa saat. Ia tak ingin membuang waktu. Kedatangannya kali ini karena Faiq yang menghubungi langsung untuk mendampingi Hani yang menjaga Hasya.


“Bantulah aku untuk kembali bersama Hani dan anak-anak.” Adi tak bisa menahan perasaannya lebih lama. Ia harus memulainya sekarang.


“Ha ha ha…” Hanif tak bisa menahan tawa sinisnya  mendengar ucapan Adi, “Apa anda lupa tuan Aditama. Bagaimana pengacaramu menguliti mbak Hani dipersidangan. Kau tampaknya tidak mengenal watak mantan istrimu.”


“Tapi aku membutuhkan anak-anakku. Aku yakin jika aku bisa mengambil hati anak-anakku, Hani akan menerimaku kembali.”


“Anda tau, tuan Aditama. Tidak mudah melembutkan hati kakakku.”


Adi tercekat mendengar ucapan Hanif.  “Bagaimana cara aku kembali bersama mereka? Aku akan menceraikan Helen.”


Hanif  mengernyitkan dahi mendengar ucapan Adi yang terakhir, “Aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan, Tuan. Mbak Hani juga akan segera menikah dengan mas Faiq. Dan aku merestui hubungan mereka. Bukankah anda tau, mereka sudah bertunangan. Aku mengharapkan kebahagiaan buat mereka yang selama ini telah kau rampas.”


“Aku tidak akan membiarkan lelaki itu merampas anak-anakku.” Adi mulai terpancing mendengar perkataan Hanif. “Aku akan memperjuangkan anak-anakku dan membawa mereka untuk kembali bersama.”


Hanif tersenyum, ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi diantara Adi dan Helen, sehingga Adi bersikeras ingin kembali pada Hani. “Bagaimana dengan nyonya Linda. Dia tidak akan senang mendengar keinginan anda, tuan. Dan anda tidak usah berharap akan melakukan semua itu dengan mudah.”

__ADS_1


“Helen tidak akan bisa melahirkan anak-anakku. Rahimnya rusak.” Adi tak ingin menyimpan rahasia ini terlalu lama. Ia berharap Hanif mengerti, karena ponakan Hanif adalah darah dagingnya.


Hanif menjadi emosi mendengar perkataan Adi, “Anda pikir mudah untuk mengambil hak asuh mereka, setelah apa yang dilakukan pengacara serta istri anda Helen?”


“Aku menyesali semua yang terjadi. Mohon bantulah aku. Jangan biarkan lelaki lain merampas harta berhargaku…” Adi memohon dengan penuh harap.


Hanif terpekur, “Begitu mudahnya anda mengatakan itu, tuan Adi. Setelah membuang anak dan istrimu kini mau anda pungut kembali. Walaupun uang anda segunung, tidak akan mudah bagi anda mengambil hak yang telah anda lepas.”


Adi menatap Hanif dengan wajah sedih. Ia merasa frustrasi mendengar jawaban mantan iparnya yang tidak mendukung keinginannya. “Jika kau tidak menolongku, aku akan berjuang sendiri untuk mengambil semua milikku.”


“Anda jangan serakah. Perjuangan anda akan sulit, karena mas Faiq telah memegang semua kartu kalian. Dia tidak akan melepaskan mbak Hani, apalagi anak-anak tidak bisa lepas darinya.” Hanif berusaha mengingatkan Adi, “Jangan membuang uang anda untuk sesuatu yang tak bisa anda menangkan. Saya akan kembali ke ruangan. Dan pembicaraan ini tidak akan berdampak dengan hubungan kalian yang telah berpisah.”  tanpa mengharap persetujuan Adi, Hanif langsung melangkah pergi. Ia bertekad akan membicarakan masalah ini dengan Faiq, karena ia yakin Faiq akan memutuskan yang terbaik untuk mereka.


Sesampainya di ruangan Helen, Adi melihat mamanya sudah berada di sana. Ia tau, walaupun mamanya sering bertengkar dengan Helen, tetapi rasa sayangnya masih ada untuk menantu kebanggaannya itu.


“Bagaimana keadaanmu?” Adi berdiri di samping tempat tidur Helen, memandang wajahnya yang pucat timbul rasa iba di hati Adi.


“Maafkan aku, karena tidak bisa menjaga janin ini.” Mata Helen mulai berkaca-kaca. Ia tau, setelah kejadian ini entah apa lagi masalah yang akan ia hadapi. Dan ketakutan terbesarnya adalah Adi mengetahui rahasia yang ia tutupi selama ini.


Linda menatap Helen dengan raut penuh kekecewaan, “Mama sudah mengingatkanmu sejak awal. Di usiamu akan rawan untuk hamil dan mempunyai anak.”

__ADS_1


Adi menghela nafas berat. Ia ingin  Helen berterus terang akan masa lalunya, sehingga tidak ada kebohongan lagi yang akan ia dengar. Tetapi untuk menanyakan hal itu sekarang, rasanya masih tidak tepat. Ia menghenyakkan tubuhnya di sofa, membuka ponselnya untuk memberitahu Johan bahwa ia tidak akan kembali ke kantor.


“Bagaimana dengan program bayi tabung? Mama masih berharap Helen mengandung anakmu. Banyak kok yang berhasil mempunyai anak lewat bayi tabung.” Linda memandang Adi dan Helen bergantian.


“Mama sebaiknya kita membicarakan hal ini di luar.” Tanpa meminta pendapat Helen, Adi mengajak Linda ke luar ruangan. Ia tidak ingin Helen mendengar apa yang telah ia ketahui dari dr. Sarinah. Karena sampai saat ini Adi masih merasakan kekecewaan yang luar biasa atas kebohongan yang dilakukan Helen. Jika ia tau sejak awal, tentu ceritanya akan berbeda, dan seharusnya ia tak bertanggung jawab atas kejadian lalu, karena bukan ia lelaki pertama yang ada di hati Helen.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Linda jadi penasaran atas sikap Adi yang berubah dingin terhadap Helen, tiada lagi kemesraan serta kelembutan yang ia tampakkan saat bersama Helen. Keduanya mencari tempat yang agak jauh dari ruangan dimana Helen berada, khawatir pembicaraan mereka masih bisa didengar.


Adi memandang mamanya dengan lekat. Ia tau kekecewaan yang dirasakan Linda juga sama seperti yang ia rasakan. “Helen tidak akan bisa melahirkan anakku. Rahimnya cacat, walaupun ia hamil, tetapi janin yang dikandungnya tidak akan bertahan lama.”


“Astagfirullahaladjim…” Linda menutup mulutnya tak percaya. “Jadi selamanya aku tidak akan memiliki cucu?” rasa kebanggaan dan percaya diri Linda seolah terhempas ke dasar bumi mendengar ucapan Adi. Menantu yang ia banggakan karena berasal dari keluarga yang sederajat dengan mereka dan ia harapkan akan melahirkan cucu masa depan menjadi penerus kejayaan dan kebanggaan keluarga , hingga ia mengusir menantunya sendiri serta cucu-cucu yang telah ia miliki hanya karena mereka dari keluarga sederhana. Linda merasakan tubuhnya lemah tak berdaya. Ia menepuk dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


Adi menganggukkan kepala lirih, hanya itu yang ingin ia sampaikan pada Linda. Untuk rahasia yang lain Adi akan menyembunyikannya sementara waktu. Keduanya larut dalam  keheningan. Tanpa terasa air mata Linda mengalir menetes menyusuri pipi tirusnya yang kini semakin kurus. Ia tidak tau apa yang harus ia berbuat sekarang ini, pikirannya benar-benar buntu, tak bisa diajak berpikir.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2