Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 228 S2 (Pilih Aku atau Dia)


__ADS_3

Saat Ivan menyelesaikan salat Isya, Khaira sudah merebahkan tubuhnya di pembaringan. Drama yang dibuat Claudia membuatnya merasa lelah. Ia tidak ingin terjebak dan terpancing. Ia harus membuktikan pada Claudia bahwa dirinyalah satu-satunya perempuan pilihan Ivan.


“Sayang .... “ Ivan memanggilnya pelan dan  duduk di sisi tempat tidur. Ia yakin Khaira belum terlelap.


Khaira membuka mata perlahan. Ia dapat melihat sorot kekhawatiran terpancar di mata gelap milik suaminya. Ia diam saja tidak ingin mengomentari apa pun yang terjadi di meja makan.


“Ku harap kamu tidak terpengaruh dengan perkataan Claudia,” Ivan menatapnya lekat sambil membelai rambutnya.


Khaira membalas tatapan suaminya dengan berbagai perasaan. Ia memandang mata hitam di depannya tanpa berkedip. Rasa ingin marah atas kelakuan Ivan di masa lalu sempat bergolak di dadanya.


Istri mana yang tidak emosi mendengar mantan menceritakan kemesraan mereka di masa lalu dengan bumbu-bumbunya yang membuat hati menjadi panas. Ingin ia melakban mulut ceriwis Claudia yang tanpa mempedulikan perasaannya bercerita dengan santai di hadapannya dan Ivan.


“Apa yang bisa ku lakukan. Kalian pernah menjalaninya bersama,” ujar Khaira getir.


“Itu tidak ada pengaruhnya buatku,” Ivan berkata pelan.


Jemarinya perlahan bergerak turun membelai bibir penuh istrinya. Ia memandang Khaira dengan mesra. Ia tau kekhawatiran yang terpancar di mata bening istrinya.


“Apa pun yang dikatakan Claudia tentang masa lalu kami, ku harap tidak merubah perasaanmu,” ucapan Ivan sangat lembut dan mesra, “Perasaanku tetap sama, kamulah satu-satunya yang sangat berarti dalam hidupku.”


“Walau tidak ku ungkapkan mas pasti tau perasaanku,”  Khaira menatap Ivan dengan perasaan berkecamuk.


Ia menahan tangan Ivan yang sudah mulai tak terkendali. Ia harus tegas dalam bersikap dan tidak akan menyembunyikan apa pun yang ia rasakan semenjak kehadiran Claudia.


“Ku rasa Claudia menginginkan mas kembali dalam hidupnya,” ujar  Khaira kemudian.


Ivan tersenyum santai, “Bagaimana kamu bisa menyimpulkan secepat itu?”


“Naluri perempuan itu sangat kuat mas,” Khaira menahan wajah Ivan yang sudah tidak berjarak darinya, “Apalagi ada Bryan diantara kalian berdua.”


Khaira bangun dari posisi berbaring. Malam ini ia dan Ivan harus berbicara terbuka. Ia tidak bisa menyimpannya berlarut-larut. Terus terang menghadapi kelakuan Claudia membuatnya lelah. Mengurus Bryan ia sanggup, karena konsekuensi menikah dengan Ivan membuatnya harus siap menerima semua masa lalu suaminya.


Tapi bagaimana dengan perempuan masa lalu yang juga mulai memainkan peran dalam rumah tangga mereka? Ia tidak akan mampu menghadapinya. Kesabarannya juga ada batas. Ia bukan malaikat, dirinya hanyalah perempuan biasa.


“Jangan karena kecemburuan membuatmu membuang akal sehat,” Ivan  berkata tanpa mengalihkan tatapan dari bibir Khaira yang selalu membuatnya candu untuk menikmati rasa manis di telaga madu itu.


“Aku hanya seorang perempuan biasa mas. Aku juga merasa lelah jika Claudia terus menerus bersikap tidak masuk akal.”


Mendengar curahan hati Khaira membuat Ivan tersenyum. Keisengannya untuk menggoda Khaira muncul lagi. Sudah lama ia tidak melakukannya. Ia tau, dipancing sedikit saja istrinya akan langsung bereaksi. Dan Ivan tak ingin melewatkannya.


“Dia memang perempuan tercantik di kampus saat itu,” Ivan berkata santai menatap mata bening di depannya yang mulai membulat, “Siapa pun yang melihatnya langsung jatuh hati padanya.”


Khaira berusaha menahan kekesalan di hatinya. Rasanya ia ingin menutup telinga mendengar Ivan menceritakan masa lalu Claudia.


“Ya, mas Ivan berhasil mendapatkannya dengan bonus Bryan,” Khaira berkata dengan sinis, “Teruslah kalian bernostalgia.”


Ivan masih dengan gaya santainya sambil mengu*** senyum melihat Khaira yang mulai terpancing.


“Banyak lelaki yang mengejar Claudia .... “  Ivan berkata dengan pandangan yang tak  beralih dari wajah istrinya yang mulai memerah.


“Terlalu banyak kisah antara mas dan Claudia. Kalian berdua sama-sama masih terikat. Mas bisa memutuskan sekarang  pilih aku atau dia,” Khaira berkata dengan suara bergetar. Mendung semakin tergambar dengan jelas di wajahnya.


Ivan terus menatap wajah istrinya yang hampir jebol, dengan kabut yang mulai menghiasi mata bening Khaira.


“Mas menginginkan anak yang aku sendiri tidak bisa memberikannya,” Khaira berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Ivan.


Ia menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Ia yakin, lama kelamaan sikap Ivan akan berubah terhadap Claudia. Bryan bisa menjadi alasan bagi Ivan untuk kembali. Apa lagi mereka pernah menghabiskan waktu bersama.


Ooh .... ia tidak ingin membayangkan seperti apa kebersamaan mereka di masa lalu.


Mendengar cerita Claudia atas perlakuan Ivan padanya di masa lalu membuat hatinya panas. Ditambah lagi foto-foto serta video mereka yang masih disimpan Claudia membuat otaknya mendidih.


“Jika ini demi kesembuhan Bryan, aku akan mengalah.” Khaira berkata dengan getir, “Lakukanlah demi kebahagiaan Bryan.”


“Sayang .... “  Ivan terkejut mendengar perkataan Khaira.


“Kita berdua hanya terikat pernikahan. Ada Bryan yang mengikat hubungan mas dan Claudia,” kini Khaira berusaha menegarkan dirinya, “Walau pun aku berusaha dekat dengan Bryan, tidak akan mampu mengalahkan Claudia. Dia adalah ibunya.”

__ADS_1


Ia tidak menyangka Khaira kini mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya dengan keberadaan Claudia di rumah mereka. Walau pun ia menganggap kedatangan Claudia di rumah mereka hanya kunjungan biasa, tapi dampaknya sangat besar bagi Khaira.


“Aku memberikan mas kebebasan untuk memilih. Aku bisa kembali pada keluargaku. Mas bisa meneruskan kehidupan bersama Claudia dan Bryan. Memberikan keluarga yang utuh pada Bryan. Mungkin dengan begitu akan mempercepat proses kesembuhannya.”


“Kenapa kamu berkata seperti itu?” Ivan tidak senang dengan perkataan Khaira yang sedikitpun tak pernah terlintas di benaknya.


“Aku hanya berpikir  tentang masa depan yang bakal kita hadapi,” Khaira menatap Ivan tanpa berkedip. Kini ia dapat  menetralisir perasaannya.


“Apakah semua ini karena Claudia yang ada dan menginap di sini?”


“Mas tentu tau apa yang ada di hatiku,” Khaira enggan menjawab pertanyaan Ivan.


“Sayang, aku tidak ingin kamu terpancing dengan sikap Claudia. Dia perempuan egois yang pernah ku kenal. Yang penting aku dan kamu saling percaya. Aku tidak akan membiarkan Claudia mengacaukan rumah tangga kita,” Ivan berkata dengan tegas sambil memandang lekat Khaira.


Ivan merasa khawatir mendengar ucapan Khaira.  Bagaimana mungkin ia membiarkan istrinya kembali pada keluarganya dan meninggalkannya sendiri untuk bersama dengan Bryan dan Claudia. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan keinginannya.


“Hati manusia itu bisa dengan mudah berbolak-balik.”


“Apakah kamu tidak terima dengan masa laluku?” mendengar jawaban Khaira yang tenang membuat Ivan yang kini terpancing.


Khaira tersenyum kecut, “Setiap orang mempunyai masa lalu. Bagaimana mungkin aku tidak menerima masa lalu mas Ivan.  Aku menerima semua kekurangan dan kelebihan yang ada pada lelaki terbaik yang dipilihkan Allah menjadi suamiku.”


“Seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu sebelum Claudia, tentu ceritanya tidak akan seperti ini,” Ivan merasa masa lalunya telah membuat hubungannya dan Khaira terganggu.


“Jangan pernah menyalahkan masa lalu,” kini Khaira melembutkan suaranya.


Ia menyadari semenjak kehadiran Bryan dan Claudia, ketenangan yang mulai nampak dalam keseharian Ivan perlahan memudar.


“Kalau kehadiran Bryan mengganggu ketenteraman dalam rumah tangga kita, aku akan mengirimnya bersama Claudia kembali ke tempat asalnya,” Ivan memandang Khaira dengan wajah tegang.


“Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi, nanti  mas akan menyesalinya,” Khaira mulai mengelus dada Ivan yang kini  tersulut emosi, “Aku menyayangi Bryan, apalagi dengan kondisi kesehatannya yang terganggu.”


“Jangan pernah mencoba untuk pergi dariku,” Ivan menahan tangan Khaira yang kini mulai mengelus rahangnya perlahan, “Apa pun yang dilakukan Claudia tidak akan membuatku kembali padanya.”


Tak ada pilihan lain bagi Khaira untuk menurunkan tensi Ivan yang mulai naik. Ia langsung menyatukan wajahnya dan menautkan bibirnya pada bibir Ivan yang masih tegang dengan pembicaraan yang terjadi antara mereka.


Ivan tidak bisa berpikir lagi setelah mendapat serangan mendadak dari sang istri. Otaknya langsung beku menerima semua sentuhan-sentuhan yang memanjakan dirinya atas perlakuan Khaira.


Ia telah mengetahui kelemahan sang suami. Semarah apa pun, Ivan tidak akan pernah melewatkan saat memadu kasih dengannya. Kartu As Ivan telah ia pegang. Dengan menahan senyum,  Khaira memeluk tubuh Ivan dengan erat.


Ia mengikuti ritme permainan sang suami seperti tidak ada lelahnya dalam mendayung bahtera asmara dalam pusaran gelombang cinta yang begitu hangat membara.


Ivan menumpahkan semua kekesalan dan kerinduan yang tersimpan di dalam dada dengan tempo permainan yang sangat cepat. Ia tidak ingin menyudahinya begitu saja sebelum ia sampai di titik lemah  hingga semuanya tercurah bersama keringat yang membanjiri tubuhnya.


Sementara itu di luar pintu kamar mereka, Claudia menggeram menahan kesal atas perkataan Ivan. Ia sengaja membuntuti langkah Ivan saat kembali ke kamar. Ia merasa senang karena pintu tidak tertutup dengan rapat sehingga semua pembicaraan Ivan dan Khaira dapat ia dengar keseluruhannya. Walau pun ia tidak dapat melihat secara jelas, tapi ia tau apa yang dilakukan sepasang manusia di tempat tidur dengan ditutupi selimut.


“Aku akan melakukan apa pun untuk membuat Alex berpaling darimu,” dengan menghentakkan kaki Claudia melangkah pergi menjauh dari kedua pasangan yang saling mencurahkan perasaan cinta kasih mereka di malam yang semakin larut.


Malam ini Khaira dan saudaranya sudah berkumpul di kediaman oma yang sekarang ditempati Fatih dan Azkia. Mereka berkumpul untuk mengadakan tahlilan dengan mengundang beberapa pesantren untuk berbagi rezeki dan bersama mendo’akan almarhumah oma Marisa.


Setelah acara selesai, Ivan masih belum kelihatan.  Khaira berusaha menjawab pertanyaan saudara-saudaranya yang merasa heran karena ia datang sendiri.


“Mas Ivan mengantar Bryan ke dr. Farel,” jawab Khaira santai karena tidak nyaman dengan posisi duduknya yang dikelilingi saudara lelakinya.


Saudari iparnya yang lain sedang beberes membantu para art yang berbenah mengembalikan ruangan seperti sedia kala.


“Aku bertemu mereka sore tadi,” Valdo menjawab cepat.


“Apa mereka pergi hanya bertiga?” pertanyaan Hasya membuat Ali merasa tidak senang.


“Mas Ivan sudah mengatakannya padaku,” Khaira mengedikkan bahunya berusaha berpikir positif.


“Aku tidak akan pernah memaafkan Ivan jika dia menyakitimu,” tegas Ali dengan kesal.


Ia sudah mengetahui alasan keterlambatan Ivan, karena orang-orangnya selalu mematai-matai Ivan. Ia tidak mungkin membiarkan orang luar mengacaukan kehidupan rumah tangga adik kesayangan mereka.


“Kita lihat saja nanti,” Ariq berkata pelan.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu dek?” Hasya menatap lekat Khaira yang  masih dalam posisi diam mendengar perkataan saudaranya.


“Maafkan aku, karena terlambat,”  Ivan tiba-tiba hadir menghentikan percakapan mereka. Senyumnya mengembang melihat keberadaan Khaira diantara saudara iparnya.


Ia memang sudah terlambat untuk mengikuti acara tahlilan yang diadakan setelah salat Magrib.  Ia sudah memberitahu Khaira bahwa ia akan menyempatkan diri begitu urusannya selesai, dan akan langsung menjemput Khaira.


“Apa sampai jam segini ke dokternya?” Hasya menyindir Ivan yang duduk tepat di samping Khaira.


Ivan menatap Hasya dengan perasaan tidak nyaman. Tatapan para iparnya begitu tajam seperti menguliti dirinya yang terjebak dalam kebohongan. Ia melirik Khaira yang tersenyum menenangkan.


“Mas Ivan sudah memberitahuku bahwa sehabis Magrib akan bertemu kliennya,” ujar Khaira dengan tenang.


Ivan merasa tidak nyaman karena kebohongannya membuat Khaira harus membelanya di depan saudaranya yang lain.


“Dek, sekali kita berbohong, maka kebohongan lain akan terus mengikuti,” Hasya berkata pelan, tapi matanya tajam memandang Ivan, “Mbak minta kamu lebih berhati-hati dalam menjaga keutuhan rumah tanggamu. Jangan biarkan pelakor merusak rumah tanggamu dengan dalih apa pun. Mereka akan menjalankan semua cara untuk melancarkan akal bulusnya, demi mencapai semua keinginannya.”


Ivan menahan diri untuk tidak menjawab karena Khaira menggelengkan kepala membuatnya menghela nafas dan membuangnya secara perlahan.


“Aku dan mas Ivan sudah membicarakan semuanya secara terbuka. Aku akan membantu mas Ivan demi kesembuhan Bryan.”


“Bagaimana dengan mantanmu yang selalu membayangi rumah tangga kalian. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Rara?” Ali sudah tidak bisa menahan emosinya.


Ia baru saja menerima kiriman foto-foto kebersamaan Ivan dan Claudia yang membawa Bryan ke pusat permainan anak. Bagaimana ia tidak emosi, sementara mereka sedang berkumpul untuk berdoa bersama bagi oma yang telah meninggal.


“Kalian tidak perlu mencampuri urusan rumah tangga kami,” Ivan merasa kesal atas perkataan Ali, “Kami berdua baik-baik saja. Tidak ada siapa pun yang mampu menggoyahkan rumah tangga kami.”


Khaira meraih tangan Ivan dan menggenggamnya dengan erat. Ia tidak ingin terjadi keributan antara suami dan saudaranya karena kehadiran Bryan.


“Kami pegang omonganmu,” kembali Ariq berkata dengan tegas, “Kami tidak akan mencampuri kesepakatanmu dan Rara. Selama kalian masih saling terbuka dan saling percaya. Aku menghormati keputusan kalian berdua.”


“Bagaimana kondisi Bryan?” Valdo berusaha mengalihkan pembicaraan menghindari perdebatan yang bakal tidak ada akhirnya.


Ivan langsung terdiam mendengar pertanyaan Valdo. Dari percakapannya dengan dr. Farel memang perlu proses yang lama untuk kesembuhan Bryan.  Mereka harus mencari orang yang bisa mendonorkan sum-sum tulang belakangnya pada Bryan.


Ia dan Claudia telah diambil sampel darah mereka serta cairan sum-sum tulang belakang, tapi hasilnya nihil, tidak ada kecocokan untuk menjadi donor bagi Bryan.


“Semua perlu waktu mas. Aku sudah berusaha mencari orang yang bisa mendonorkan sum-sum tulang belakangnya bagi kesembuhan Bryan.”


Sejenak ruangan menjadi hening. Hanya desauan angin malam membuat udara bertambah dingin di malam yang semakin larut.


“Menurut dr. Farel  jika Bryan mempunyai saudara kandung, kemungkinan besar lebih cocok untuk tranplantasi sum-sum tulang belakang dari pada orang tua,” suara Ivan terdengar lesu.


Ia menutup wajah dengan kedua tangannya mengingat kondisi Bryan yang belum stabil, hingga ia memutuskan menuruti keingan Claudia untuk membawa Bryan ke arena bermain anak.


Khaira merasa sedih melihat wajah suaminya yang berubah murung. Harapan Ivan begitu besar pada Bryan. Sementara ia sendiri sampai saat ini belum dipercayai lagi untuk memiliki momongan.


“Yang sabar ya mas. Kita akan melalui ini bersama,” ujar Khaira pelan sambil mengelus pundak Ivan berusaha menguatkannya.


“Semoga ada keajaiban buat putramu,” akhirnya Fatih mengeluarkan pendapatnya melihat keheningan yang terjadi diantara mereka.


Ia pun turut merasakan kesedihan yang menimpa kehidupan rumah tangga saudara kembarnya. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin Allah sedang menghukum Ivan atas semua kelakuannya di masa lalu.


Khaira berusaha menguatkan hatinya. Sudah beberapa kali Ivan membawa Bryan kontrol  ke dr. Farel dengan Claudia yang selalu mengikutinya sehingga ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengenal lebih dekat Bryan selama dua bulan belakangan ini.


Ia tidak ingin mengeluh pada Ivan, karena aktivitasnya itu membuat mereka beberapa kali melewatkan undangan resepsi pernikahan dari beberapa kerabat  dekat. Terpaksa Khaira  pergi sendiri dengan menyiapkan alasan-alasan tentang pekerjaan suaminya yang tidak bisa ditinggal.


“De, kamu sudah siap?”  panggilan ponsel Hasya membuat Khaira menghentikan memoles wajahnya di cermin.


“Aku masih menunggu mas Ivan mba,” ujar Khaira pelan.


“Apa Ivan lupa kalo malam ini kita diundang tante Indah .... “ omelan Hasya mulai berkepanjangan membuat Khaira tersenyum tipis.


Malam ini mereka memang akan menghadiri resepsi pernikahan Irene putri tante Indah yang dinikahi Rama mantannya dulu saat masih kuliah.  Rama seorang pengusaha properti yang masih keturunan India, sehingga mereka mengusung pernikahan ala Bolywood dengan dress codenya pakaian sari India. Ia sekaligus berprofesi sebagai dokter yang bertugas di rumah sakit Queen Elizabeth di Singapura.


Usaha properti yang ia miliki adalah warisan orang tuanya yang kini sudah pensiun. Rama menjalankan usaha itu bekerja sama dengan adiknya Juna. Jadi ia bisa fokus dengan profesi yang sangat ia cintai.


Sejak empat hari yang lalu Hasya dan iparnya yang lain sudah berburu baju pesta sesuai dress code yang telah ditetapkan. Khaira tinggal geleng kepala begitu paket ia terima. Sepasang gaun pesta untuknya dan Ivan begitu menyegarkan mata dengan warna  coklat bata berlapis benang emas.  Dari tampilannya saja Khaira yakin harganya pasti selangit.

__ADS_1


__ADS_2