
Senyum bahagia tergambar di wajah Faiq setelah serangkaian acara aqiqahan telah berakhir. Astri dan Siska sibuk membagikan souvenir kepada para tamu undangan. Marisa benar-benar mempersiapkan dengan seksama souvenir yang ia belikan untuk sepasang cucu kembarnya, yaitu mug cantik, sajadah serta tas serba guna.
Adi dan Linda turut hadir diantara para tamu undangan. Saat sesi foto keluarga antara Faiq dan Hani serta si kembar Fatih dan Khaira, Adi memalingkan mukanya menahan kesedihan. 3 tahun perpisahan mereka belum mampu mengubur semua kenangan yang ia miliki bersama Hani.
Faiq melihat raut kesedihan yang terpancar di wajah Adi. Ia berbisik pada Andi untuk mengumpulkan anak-anaknya yang sedang bermain. Dengan pelan Faiq berjalan menghampiri Adi dan duduk di sampingnya.
“Foto yuk, kebetulan bang Tama datang kemari bersama tante…” Faiq memberi isyarat pada Andi untuk memanggil fotografer yang sengaja ia datangkan untuk mendokumentasikan acara aqiqahan bayi kembarnya.
“Nggak usah.” Tolak Adi tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Ia merasa tidak nyaman dengan keluarga besar Faiq yang lain. Sebenarnya Adi enggan untuk datang memenuhi undangan dari Faiq, tapi mengingat anak-anaknya dan Linda yang sudah sangat merindukan cucu-cucunya, dengan berat hati Adi datang pada acara aqiqahan putra-putri Faiq dan Hani.
“Bang Tama nggak punya foto sama anak-anak kan? Jadi sekaranglah saatnya bikin foto keluarga.”
Akhirnya Adi tak bisa menolak. Kebahagiaan kini terbit di wajahnya saat sang fotografer mulai membidikkan kameranya. Hasya anteng di pangkuan Adi yang duduk berdampingan dengan Linda, sedangkan Ariq dan Ali tampak tenang di sisi kiri dan kanan keduanya.
Faiq tak ingin kehilangan momen, ia meminta si kembar Fatih dan Khaira yang berada di gendongan Darmawan dan Marisa. Dengan santainya ia meminta Adi menggendong salah satunya. Kemudian ia mengajak Adi dan Linda beserta ketiga anaknya untuk berfoto bersama, tapi tanpa Hani di dalamnya.
Faiq tau bahwa Adi masih memiliki rasa terhadap sang istri, tapi ia tidak membiarkan sedetik pun Hani jauh dari jangkauannya. Kemana Hani melangkah dengan serta merta ia mengikuti di belakangnya. Ia tau masih ada kebimbangan yang tergambar di wajah Hani saat melihat perubahan sikap Adi dan ibunya. Dan ia tak ingin perasaan Hani berubah terhadapnya.
Adi pun tau diri. Ia bukan lah perusak rumah tangga orang, apalagi Faiq dan keluarganya yang telah berbesar hati berbagi kebahagiaan dengan mereka. Melihat tumbuh kembang putra-putrinya serta bermain bersama ketiganya adalah kebahagiaan yang tak terlukiskan bagi Adi.
“Maaf saya terlambat.” Ucapan Hanif mengejutkan semuanya.
Ia menggandeng tangan Wulan yang kini perutnya sudah mulai kelihatan. Fandi serta Mawar dan Sari turut hadir bersamanya.
Melihat kehadiran Hanif dan yang lain membuat Faiq merasa tenang. Kini ia bisa melepaskan Hani untuk bercengkrama dengan keluarganya. Akhirnya Faiq kembali duduk di sofa keluarga menemani Adi yang masih memangku Fatih.
__ADS_1
Linda mengobrol santai bersama Marisa dengan Hasya yang asyik memainkan barbie terbaru yang dibawakan Adi.
“Ku harap dengan kejadian ini kau lebih berhati-hati menjaga istri dan anak-anakmu.” Ujar Adi pelan. Tatapan matanya sekali-kali memandang Hani yang tampak semakin bersinar.
“Apa bang Tama nggak bisa move on dari istriku? Ayolah bang, kalian sudah hampir 4 tahun berpisah.”
Adi tersenyum tipis, “Aku sadar perasaanku. Tapi melihat kebahagiaan Hani dan anak-anak itu yang terpenting dalam hidupku. Allah terlalu sayang padamu, hingga kamu diberi kesempatan kedua untuk bersama Hani bahkan kamu mempunyai anak bersamanya.”
“Apa bang Tama tidak tau tersiksanya aku karena Rara tidak mengenaliku?” terdengar ungkapan sedih dari perkataan Faiq. Ia sekarang lebih nyaman curhat pada Adi, karena ia tau Aditama seorang lelaki gentleman.
“Itu ujian buatmu bagaimana menaklukkan hatinya. Sedangkan aku, walau pun aku mau dan mungkin bisa membuat ia kembali di sisiku, tapi aku tak akan melakukannya.” Ujar Adi lirih.
Tatapan Adi begitu dalam memandang Hani yang tampak tersenyum mendengar candaan Mawar dan Sari. Pemandangan yang sudah lama tak ia lihat. Faiq pun sontak memandang istrinya yang tidak melihat keberadaan keduanya.
“Lihatlah bayi kembarmu.” Adi berkata pelan.
“Aku pernah merasakan kebahagiaan saat menggendong si kembar untuk pertama kalinya begitu Hani melahirkan mereka.” Mata Adi berkabut dengan tatapan menerawang jauh.
Faiq mendengarkan cerita Adi dengan serius. Ia ikut merasakan kesedihan dari nada suara Adi yang tampak bergetar saat berbicara.
“Tapi keadaan begitu kejam mempermainkanku.” Adi berkata lirih.
Tatapannya memandang Fatih yang terlelap dengan tenang di pangkuannya. Ia membelai kepala bayi mungil itu dengan lembut. Jemarinya mengelus pipi chubby nan putih bersih. Tatapannya beralih pada Khaira yang tertidur pulas dalam pangkuan Faiq. Jemarinya membelai pipi merah sang bayi.
“Mulai sekarang tanggung jawabmu semakin besar.” Adi berkata dengan penuh penekanan.
“Apa maksud bang Tama?” Faiq bertanya dengan raut keheranan.
__ADS_1
“Selain istrimu, kamu harus memberikan pengawasan yang ekstra untuk putra-putrimu.”
“Aku paham, bang.”
“Jangan sampai perempuan itu membahayakan Hani dan putra-putriku.” Adi berkata dengan serius, “Ingat aku selalu memantaumu.”
“Bagaimana kabar Helen?” Faiq tidak senang mendengar ucapan Adi, “Apa bang Tama tidak ingin mengetahui keadaannya?”
“Aku tidak pernah melibatkan diri dengan orang yang tidak ada hubungan denganku. Apa lagi yang membuat keluargaku terancam. Aku akan menjauhinya, kalau perlu mengirimnya ke penjara.” Jawab Adi tegas.
Faiq merasa tersindir. Bayi Khaira yang berada dalam gendongannya mulai merasa kelaparan.
“Oek, oek….” Suara tangisnya mulai membuat Faiq kalang-kabut.
Mendengar suara kembarannya, Fatih pun membuka mata. Suara tangisnya lebih melengking dari pada Khaira.
Mendengar suara tangis Fatih dan Khaira yang bersahutan membuat Hani berjalan menghampiri keduanya.
“Sayang, mungkin keduanya lapar…” Faiq segera memberikan Khaira padanya.
Adi pun melihat bagaimana Hani tampak khawatir mendengar kedua bayinya yang menangis bersamaan. Faiq segera menggendong bayi yang diberikan Adi.
“Mari kita bawa ke kamar…” Faiq mendorong Hani yang masih mengayun bayi Khaira dalam gendongannya.
Semua perlakuan Faiq terhadap Hani tak luput dari pandangan Adi. Ia melihat Faiq begitu antusias dalam membantu Hani mengurus kedua bayi kecilnya. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama kebersamaan yang terjadi antara ia dan Hani dalam 4 tahun mengarungi bahtera rumah tangga.
“Kita pulang sekarang?” Linda sudah berdiri di samping Adi yang tidak melepaskan pandangan dari Faiq dan Hani yang berjalan berbarengan menuju kamar mereka.
__ADS_1
Adi mengangguk dengan lemah. Ia dan ibunya berjalan beriringan menghampiri Marisa yang kini asyik berbincang dengan Hanif dan Wulan.