Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 113


__ADS_3

Hari ini rapat besar para pemegang saham hotel Horisson  dipimpin oleh Faiq. Ia sudah dua tahun yang lalu menyampaikan ide ingin mengelola hotel secara syariah, walaupun dari awal ia berkecimpung di dunia perhotelan sudah memiliki angan-angan untuk ke arah sana. Hal ini ia lakukan mengingat tingkat religius sebagian mayoritas penduduk Indonesia  semakin meningkat di tambah industri pariwisata syariah khususnya mulai berkembang tidak hanya di Indonesia bahkan di manca negara termasuk Jepang dan negeri Ginseng yang jadi kiblatnya musik masa kini.


Pariwisata syariah  bukan  hanya  wisata  religi  saja seperti  tempat-tempat   ibadah,  makanan,   maupun  peninggalan   sejarah,  melainkan  rnencakup  hal  lain  yang lebih  luas  dengan  rnelibatkan  banyak  industri  di  dalamnya  seperti,  restoran, spa, sauna, biro perjalanan  wisata syariah serta hotel syariah. Hal ini telah menandakan  bahwa  sistem ekonomi syariah telah berkembang  cukup luas dari awalnya hanya meliputi perdagangan produk halal, berkembang ke industri keuangan   dan   sekarang   berkembang   ke   gaya   hidup   yang   dapat   berupa keramah-tamahan, rekreasi, perawatan,  kesehatan  dan lain sebagainya.


Sebagai hotel berlabel syariah  dalam  menyediakan  jasa  pelayanan  penginapannya,  hotel  ini  tidak hanya rnenerapkan  aturan dan prosedur  sesuai dengan ketentuan  pernerintah dan  industri  saja,  tapi juga  ketentuan  syariah  turut  menjadi  pertimbangan


Semua mata merasa kagum atas presentasi yang disampaikan Latifa saat rapat dengan direksi hotel Horisson menuju pengelolaan secara syariah. Masing-masing dari peserta rapat membaca brosur yang telah dibagikan Latifa pada peserta yang hadir dalam rapat sebanyak 12 orang.


“Saya sangat tertarik dengan konsep yang ditawarkan. Secara jangka panjang memang menjanjikan, tetapi yang perlu dipikirkan budget yang harus dikeluarkan untuk merubah total  konsep yang telah berjalan selama ini.”  Gordani yang merupakan salah satu pemegang saham terbesar sebanyak 20% agak keberatan dengan perubahan yang bakal dilakukan secara besar-besaran dalam pengelolaan hotel.


“Siapa yang merasa keberatan boleh menyampaikan pendapatnya.” Faiq berkata tegas.


“Saya tidak masalah dengan perubahan yang ingin dilakukan kalau kita memang sepakat. Tetapi perlu kita sadari, dengan pengelolaan secara syariah sudah selayaknya kita perlu suntikan dana segar ….” Sudarto menyampaikan pendapatnya mengimbangi perkataan Gordani yang terkesan meremehkan.


“Menurut saya kita tidak akan merombak secara drastis, tetapi secara bertahap.” Arman memberikan penjelasan yang cukup menenangkan bagi para pemegang saham.


Rapat berjalan cukup alot, tetapi hasil akhirnya membuat Faiq bisa bernafas dengan lega. Akhirnya semua pemegang saham setuju untuk perubahan manajemen hotel menuju syariah, dengan catatan mereka harus bekerja lebih giat untuk menarik para pemodal yang ingin menanamkan modal mereka hingga semua dapat terwujud.


Pagi itu semua penghuni rumah sedang menikmati sarapan pagi. Hani melayani Faiq dan ketiga anaknya yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Suara bell mengganggu aktivitas mereka.


“Biar ayah saja yang ke depan,” ujar Darmawan.


Ia dapat melihat kerepotan Hani yang melayani suami dan anak-anaknya, sedangkan Faiq memang harus ke kantor sepagi ini karena akan bertemu dengan beberapa investor yang tertarik untuk bergabung.


“Ayah ….” Ariq berlari ke ruang tamu, saat melihat sesosok tegap sedang berbincang dengan Darmawan.


Ia merasa familiar dengan suara yang sedang berbicara dengan kakeknya. Suara yang begitu ia rindukan akhir-akhir ini.


Faiq dan Hani yang sedang sarapan pagi terkejut melihat kelakuan Ariq yang menyusul Darmawan ke ruang tamu.


“Deg.”  Jantung Hani berdegub cepat.

__ADS_1


Ia dan Faiq langsung bertatapan. Keduanya belum sempat memberitahu kepergian Adi pada anak-anaknya.


“Mas Ariq ….”  Hani bangkit dari kursi dan mengikuti Ariq.


Ariq terpaku begitu melihat sosok yang ia kira ayahnya berbalik memandangnya tanpa berkedip.


“Maafkan putra saya pak Bimo,” Hani berkata dengan kaku sambil memeluk Ariq yang terpaku memandang Bimo.


Bimo tersentuh melihat anak laki-laki yang memiliki sorot mata tajam Adi yang memandangnya tanpa berkedip. Tapi ia tidak tau harus berbuat apa. Selama ini ia tidak pernah bersinggungan dengan anak kecil, apalagi memiliki keluarga adalah sesuatu yang sangat ia hindari.


Faiq yang berjalan menyusul Hani dan Ariq terkejut melihat Bimo sudah datang ke rumahnya sepagi ini. Ia menatap Bimo dengan tajam, tak ingin kalah dengan sosok yang tampak arogan itu.


“Ada keperluan apa sepagi ini anda bertamu ke rumah kami?” Faiq menanyakan langsung maksud kedatangan Bimo yang masih berdiri tegap di tengah-tengah mereka.


Bimo mengalihkan pandangan pada Hani yang kini memeluk pundak Ariq yang masih menatapnya tak berkedip. Ia menghela nafas.


“Berdasarkan hasil rapat para direksi kemaren, mereka meminta agar pemilik perusahaan yang baru untuk datang dan memperkenalkan diri,” jawab Bimo dengan tegas.


“Para direksi tidak ingin menunggu terlalu lama. Mereka ingin mengadakan rapat pemegang saham untuk memperlebar jaringan usaha yang telah ada,” tandas Bimo.


“Kenapa harus anda yang repot menjemput istri saya, bukankah bisa komunikasi lewat telpon?” Faiq bertanya dengan cepat.


“Saya sekalian mampir karena ingin melihat ponakan-ponakan saya,” Bimo mulai mengalihkan tatapan pada Ariq yang masih tak mengalihkan tatapan darinya, “Almarhum juga mengamanahkan putra-putrinya pada saya.”


Faiq tersenyum sinis, “Terima kasih atas perhatian anda tuan Bimo. Saya hargai itu.”


Faiq tak ingin berkata kasar pada Bimo. Ia tidak nyaman akan pandangan ayahnya dan Hani yang masih tegak berdiri di antara mereka.


“Apa tamunya tidak di suruh duduk dulu?” Darmawan menyela karena melihat suasana berubah tidak nyaman.


Bimo akhirnya tersenyum pada Darmawan. Ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut Darmawan dengan cepat.

__ADS_1


“Maafkan saya belum memperkenalkan diri. Saya Bimo sepupu almarhum Tama.”


“Bunda …” Ariq membalikkan badannya menatap Hani yang terpaku mendengar perkataan Bimo, “Ayah ….”


Hani langsung memeluk Ariq dengan perasaan sedih yang kembali hadir menyelimuti dirinya. Ia tidak menyadari bahwa Marisa telah membawa Ali dan Hasya yang kini telah bersiap untuk berangkat ke sekolah.


“Bunda, benarkah ayah telah meninggal?” Kini Ali yang langsung bertanya padanya membuat jantung Hani terasa ditusuk sembilu.


“Maafkan bunda sayang belum sempat menceritakan pada kalian.”  Air mata Hani kembali menetes membasahi pipinya, “Ayah telah pergi mendahului kita semua.”


Hani merengkuh ketiganya dalam pelukan membuat kesedihan kembali hadir di pagi yang juga tampak sendu, karena sang mentari menyembunyikan diri di balik awan putih.


Suasana sejenak hening.  Bimo hanya menggelengkan kepala melihat drama yang terjadi di hadapannya.


“Kalian benar-benar membuang  waktuku yang berharga,” ujarnya terdengar sinis.


Ia berjalan menghampiri Hani yang masih memeluk ketiga anaknya. Kini ia berdiri di samping Hani. Tatapannya mengarah pada ketiga putra-putri Tama.


“Kenapa ayah meninggal bunda? Apakah ayah tidak sayang pada kami sehingga pergi tanpa meninggalkan pesan….?” Pertanyaan Ariq membuat jantung Hani serasa mengalirkan darah yang membuatnya merasa sesak.


Pertanyaan yang diajukan Ariq membuat Bimo mengurungkan niatnya untuk memperkenalkan diri pada ketiga anak Tama yang tak lain adalah ponakannya. Hatinya merasa tersentuh akan kasih sayang yang dimiliki putra-putri Tama pada ayahnya yang kini telah meninggal.


“Ternyata saya datang di waktu yang tidak tepat,” ujar Bimo datar, “Saya minta jika kamu telah siap segera beritahu agar kami mempersiapkan diri di perusahaan. Saya pamit sekarang.”


Darmawan menganggukkan kepala begitu Bimo pamit undur diri meninggalkan rumah. Hingga suara mobil berlalu dari pekarangan rumah, suasana masih terasa haru dan pilu. Darmawan segera berinisiatif untuk menelpon sekolah cucunya dan mengabarkan bahwa ketiganya tidak bisa datang ke sekolah karena ada urusan keluarga.


Faiq merangkul istri dan ketiga anaknya berusaha menguatkan mereka, walau tak ayal ia turut menitikkan air mata melihat kesedihan yang kini mendera dalam keluarganya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2