
Siang itu Hani baru pulang bersama Mawar, setelah menemui klien mereka yang ingin melaksanakan pesta pertunangan, dan menggunakan jasa WO A2H untuk menangani acara mereka. Setelah mengantarkan Mawar sampai ke rumah, Hani kembali memutar mobilnya. Ia teringat susu si kembar dan Hasya sudah habis. Sementara yang lain masih banyak job, akhirnya dengan terpaksa Hani memasuki pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan yang sudah ia catat. Padahal setiap berbelanja ia selalu dibantu Mawar atau Wulan.
Sambil mendorong troly belanja, Hani melihat-lihat promo besar-besaran yang diadakan mall tersebut. Hani hanya tersenyum. Ia pernah merasakan saat rebutan barang promo, karena kondisi finansialnya yang saat itu kurang memadai. Tapi alhamdulillah, sekarang ia banyak bersyukur, Allah telah mengganti kedukaannya dengan kebahagiaan walaupun hanya bersama anak-anaknya.
Melihat ketiganya sehat, sudah merupakan kebahagiaan terbesar yang ia rasakan. Merekalah semangat hidupnya sekarang ini, sehingga ia tidak memerlukan hal lain. Selain itu dukungan teman terdekat adalah penguatnya dalam menjalani kehidupan.
Hani berjinjit berusaha meraih kaleng susu yang di luar jangkauannya. Belum sempat tangannya menggapai kaleng tersebut, sepasang tangan kekar mengambil kaleng susu formula itu beberapa buah, dan langsung memasukkannya ke troly Hani.
Ia menoleh ke samping, Adi berdiri dengan santai di sampingnya, sambil memasukkan tangan di saku celananya. Hani melangkah dengan cepat sambil mendorong troly. Ia malas jika harus bertemu dan berbicara dengan mantan suaminya itu.
Sebenarnya pertemuan ini di luar keinginan Adi. Ia baru selesai meeting dengan kliennya yang berasal dari Semarang. Saat keluar dari private room ia melihat Hani menaiki eskalator menuju pusat perbelanjaan di lantai dua. Karena penasaran, Adi menyusul langkah Hani dan mengikutinya dari belakang. Di sinilah kini ia berada memandang Hani yang kesusahan mengambil susu formula.
“Penampilanmu sangat berubah.” Suara Adi mengejutkan Hani yang berusaha menghindarinya.
Hani tak peduli. Ia malas meladeni Adi dan bergeser memasuki area sayur dan buah. Tapi dengan santai Adi mengekor di belakangnya. Entah kenapa ia kini penasaran dengan sang mantan yang kini tampak mempesona.
Adi tak melepaskan sedikitpun pemandangan di depannya. Hani begitu serius saat memilih sayuran dan buah. Matanya yang dulu selalu sendu, kini tampak bercahaya membuat kecantikannya semakin bertambah. Melihat sikap Hani yang acuh, akhirnya Adi menariknya memasuki sebuah café di mall tersebut.
Dengan pelan Hani melepaskan tangan Adi yang mencengkeram jemarinya. “Maafkan saya, tuan. Tolong kondisikan tangan anda.” Hani berkata dengan datar, saat mereka berdua sudah berada di dalam café yang menjual aneka makanan dan minuman.
Adi tersenyum tipis, “Entah kenapa akhir-akhir ini aku merindukan kehadiranmu dan anak-anak di rumah.” Ia menatap Hani dengan lekat. “Sejak pertemuan pertama kemaren, wajahmu terus menggangguku.”
“Anda tidak perlu mengenang masa lalu, seperti saya yang sudah membuangnya di tempat sampah.” Ujar Hani tanpa basa-basi.
“Aku tau kedekatanmu dengan putra om Darmawan, kamu sangat pandai mencari penggantiku…” sindir Adi. Tatapannya tak bisa lepas memandang Hani, matanya memang mengandung magnet.
Tanpa senyum Hani membalas tatapan Adi, “Anda tidak perlu mencampuri urusan saya. Diantara kita bukanlah siapa-siapa. Kita berdua hanya orang asing yang tak saling mengenal.”
Seorang pelayan menghentikan percakapan yang terjadi. Adi memesan Thai Tea dan Egg Cheesetart untuk menemani obrolan mereka di siang itu.
“Semenjak kepergianmu dan anak-anak dari rumah, aku merasakan kesepian. Bagaimana kabar si kembar. Dan …” seketika Adi menghentikan perkataannya. Kesedihan merayap di hatinya mengingat ia menceraikan Hani karena perselingkuhan yang ia tuduhkan. Teringat ucapan Fery tentang kedekatan Hani dan Ammar membuatnya merasa bersalah.
Hani tersenyum tipis, “Anda tidak usah khawatir. Almarhum papa anda telah mencukupi semuanya. Terima kasih atas waktu yang pernah anda berikan kepada kami. Saya masih mengingat pesan pengacara keluarga anda, kalau diantara kita tidak pernah ada hubungan apapun. Dan jika bertemu di luar kita hanyalah orang asing.”
Adi tercekat mendengar perkataan Hani. Ia menatap Hani dengan lekat. Wajah sang mantan semakin cantik. Mata beningnya benar-benar menenggelamkan.
Hani membuang muka, malas membalas tatapan Adi. Ia tak ingin membuka luka lama yang pernah menggores di hati, hingga membuatnya terpuruk ke jurang yang terdalam. “Apa yang anda inginkan tuan Aditama?” Hani merasa tidak enak hanya berdua dengan Adi di café itu.
Adi menghela nafas, “Sejak bertemu denganmu, aku jadi merindukan kamu dan anak-anak. Kamu berubah sekarang, semakin cantik.” Adi tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Hani tersenyum tipis, “Terimakasih atas pujian anda, tuan. Berkat almarhum ayah anda, anak-anakku tidak kekurangan apapun.”
Adi tersenyum, “Kau benar. Papa telah memberikan warisan yang sangat banyak untukmu dan anak-anak. Jadi aku tak perlu khawatir dengan kehidupan kalian.”
Hani tersenyum sinis mendengar ucapan Adi yang selalu mengutamakan harta di atas segalanya, “Terima kasih atas waktunya, tuan Aditama Prayoga.” Tanpa mengharapkan jawaban Adi, Hani melangkah keluar dari café itu meninggalkan Adi dalam keterpakuannya.
Adi masih membayangkan sorot dingin Hani, tiada lagi kehangatan yang pernah ia lihat dan rasakan seperti di awal-awal pernikahan mereka. Ia menghela nafas, dadanya terasa nyeri. Kemana perasaan bahagia yang pernah ia rasa saat melihat kelahiran si kembar. Walaupun saat itu ia belum memiliki perasaan terhadap Hani, tapi melihat darah dagingnya yang begitu lucu, membuat kehangatan mengalir di hatinya.
Tapi sekarang, ia sudah lupa seperti apa rasa bahagia. Setiap pulang ke rumah, terasa sangat sepi dan itu sangat menyiksa Adi. Kebahagiaan yang ia harapkan dengan menikahi Helen cinta pertamanya, ternyata hanya berujung kehampaan. Adi menghela nafas dengan berat menikmati kesendiriannya di café itu.
Hani ingin secepatnya kembali ke rumah. Pertemuan dengan Adi hanya dianggapnya angin lalu. Sesampainya di taman samping rumah Hani terkejut melihat si kembar dan si mungil sedang bermain bola bersama dengan pasangan parobaya.
__ADS_1
“Ayah, ibu….” Hani terpana melihat Darmawan dan Marisa mengawasi ketiga anaknya dengan raut bahagia.
“Maafkan kami, Ra. Tidak memberitahukan kedatangan kami. Ibu merindukan mereka.” Marisa berterus terang dengan wajah memelas. “Si opa udah nggak tahan pengen main sama si kembar. Hingga dibelain nggak datang ke kantor.”
Hani hanya tersenyum mendengar ucapan Marisa, “Saya yang nggak enak karena merepotkan ayah dan ibu.” Ia segera duduk di samping Marisa yang tak henti-hentinya menertawakan Darmawan yang kesulitan menangkap bola yang ditendang Ariq maupun Ali. Sesekali terdengar tawa Darmawan melihat pertengkaran si kembar yang rebutan bola.
Seharian itu mereka bercengkrama bersama. Hani menjamu mereka untuk makan siang bersama, dan Marisa merasa bahagia karena Hani memperbolehkan ia membantu membuat makan siang dengan berbagai menu.
Dering bell di depan rumah menghentikan kegiatan mereka. Hani terkejut, karena ia merasa tidak ada janji dengan siapapun. Gigi dan Fery sedang perjalanan ke Jepang mengunjungi kedua orangtuanya yang kini bermukim di sana, dan semua kegiatan WO serta yang lainnya sudah ia limpahkan pada Mawar dan Fandi suaminya.
“Assalamu’alaikum…” suara bariton itu mengejutkan Hani.
“Waalaikumussalam …” jawab mereka kompak. Hani tersenyum bahagia melihat Hanif yang mengambil cuti untuk pulang tanpa memberitahukan padanya. Seharusnya bulan depan jadwal cuti Hanif, entah angina pa yang membuatnya datang lebih cepat.
“Paman…” Ariq dan Ali rebutan melompat ke gendongan Hanif membuat Hani geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
“Dasar saudara nakal.” Hani mencubit Hanif dengan gemes. Ia merangkul adiknya dan membawanya duduk di kursi yang masih kosong di meja makan.
“Kalau nggak calon iparku yang menelpon, nggak mungkin aku cuti dadakan.” Guman Hanif sambil mencium ketiga ponakannya bergantian. “Selamat siang ayah, ibu…” sapanya pada Darmawan dan Marisa yang dibalas keduanya dengan anggukkan.
Mendengar ucapan Hanif, membuat kening Hani berkerut, “Apa maksudmu?” Ia tidak mengerti arah pembicaraan adiknya.
“Wah, lagi makan enak ni…” suara lain mengejutkan mereka. Semua kompak menoleh memandang asal suara.
“Papa…” Hasya langsung berlari menghampiri Faiq yang kini berdiri di antara mereka. Ia tak mempedulikan peringatan bundanya yang melarang ia berlari karena khawatir jatuh. Ia begitu senang melihat kedatangan Faiq.
Faiq menggendong Hasya dan menaikkan ke pundaknya membuat Marisa dan Darmawan geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka.
Perasaan hangat menjalar di hati Faiq melihat Hani yang menyiapkan nasi serta lauk di piringnya. Pengen saat itu juga ia menggenggam tangan Hani dan memeluknya erat untuk menyalurkan kerinduan yang telah ia simpan selama ini. Tapi ia harus bersabar, karena tidak mudah untuk menaklukkan hati janda muda itu.
Marisa dan Darmawan saling melempar senyum melihat pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Kebersamaan inilah yang mereka harapkan. Dengan suara riuh rendah bocah-bocah yang meramaikan rumah mereka. Marisa sudah membayangkan bahwa rumah besar mereka tidak akan sepi lagi, dengan hadirnya ketiga malaikat kecil itu.
Sesudah makan siang, kini mereka duduk santai di sofa ruang tamu. Lina dan Sari sudah membawa si kembar dan si mungil untuk tidur siang. Hani membawa teh hangat beserta cemilan untuk menemani santai siang mereka.
Kebahagiaan melingkupi hati Darmawan dan Marisa, mereka memang sudah sepakat untuk melamar Hani melalui Hanif, saudara laki-laki satunya. Karena menurut Faiq, Hani selalu menolak lamarannya, jadi ia minta Hanif turun gunung untuk melancarkan niatnya.
“Ehm.” Darmawan mulai mengambil nafas. Ia menatap Hani yang kini duduk di hadapannya berdampingan dengan Hanif. “Nak Rara, kedatangan ayah dan ibu kali ini, karena ada maksud, dan hal itu sudah kami pertimbangkan dengan matang.”
Hani terdiam mendengar ucapan Darmawan, jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Ia memandang Marisa yang tersenyum lembut. Tatapannya beralih pada Faiq yang juga menatapnya dengan sorot yang susah diartikan.
“Ayah selaku orang tua Faiq Al Fareza, ingin melamar ananda Hanifah Az-Zahra untuk menjadi menantu kami. Oleh karena itu ayah memintamu langsung dengan saudaramu sekaligus walimu Hanif Az-Zaidan.”
Hani menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tau harus berkata apa. Ia belum siap dengan situasi seperti ini. Memang ia akui, kehadiran Faiq telah memberikan warna baru dalam kehidupannya, terutama anak-anaknya. Selama ini mereka tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, tapi dengan keberadaan Faiq yang selalu menyempatkan diri untuk menemani mereka, membuat mereka menemukan figur ayah pada diri Faiq.
“Saya tidak bisa menolak ataupun menerima. Semua tergantung pada mbak Hani.” Hanif berkata dengan lugas. “Karena mbak Hani sendiri yang akan menjalani. Untuk saya pribadi sangat senang karena ibu dan ayah sudah sangat baik terhadap kakak dan ponakan saya.”
Ruangan itu mendadak sepi. Kelima orang dewasa itu sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hanya bunyi jam besar yang berdetak, mengiringi waktu yang terus berjalan. Hani menghela nafas dengan berat. Ia merasa tidak percaya diri jika harus menikah lagi. Perlakuan Adi serta perkataan Helen sampai saat ini masih mengganggu pikirannya.
“Rara sayang. Ibu yakin, traumamu masih kuat atas kegagalan rumah tanggamu yang dulu. Tapi kamu harus memikirkan anak-anakmu. Dan lagi kamu masih muda, akan semakin berat kamu melalui perjalanan ke depannya...” Marisa memberikan pandangannya untuk membuka pikiran Hani.
“Apa yang dikatakan ibu benar.” Faiq membenarkan perkataan ibunya, “Yang ku pikirkan adalah pengasuhan si kembar. Bisa saja suatu saat keluarga Aditama menuntut hak asuh atas mereka.”
__ADS_1
Hani terkejut mendengar ucapan Faiq, “Tidak mungkin mereka mengambil hak asuh si kembar. Bukankah nyonya Linda tidak mengakui keberadaan mereka?” Hani masih mencoba berdalih untuk menolak keinginan Faiq yang berniat memperistrinya, “Dan lagi nyonya Helen juga sedang hamil…”
“Nak, setiap orang bisa berubah. Mungkin sekarang mereka tidak menuntut hak asuh untuk si kembar, tapi dua tahun, 3 tahun ke depan, apa kita bisa menjamin. Kamu tidak akan bisa berjuang sendirian. Izinkan kami membantumu, kami akan melindungimu dan anak-anak…” Darmawan berkata dengan bijak.
Faiq bangkit dari duduknya dan berpindah di sisi Hani. “Ra, aku tau kamu tidak percaya diri dengan status jandamu. Tapi yakinlah aku tulus mencintaimu dan anak-anak. Jadi jangan pernah menyamakan aku dengan mantan suamimu.”
Mata Hani berkaca-kaca mendengar ucapan Faiq yang membuat hatinya tersentuh. Ia menutup muka dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar, ia berusaha menahan airmata agar tidak tumpah. Ia berusaha kuat, tapi tidak mampu. Akhirnya jebol sudah pertahanannya. Air matanya mengalir tak terbendung.
Ia teringat bagaimana si kembar menanyakan keberadaan ayah mereka, karena teman-teman di sekolah mereka begitu bangga menceritakan tentang ayah masing-masing, serta si mungil Hasya yang tidak bisa jauh dari Faiq. Sementara ayah kandung mereka sendiri lebih peduli dengan keluarga barunya. Jika si kembar menanyakan keberadaan ayahnya, ia terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa ayah mereka telah berada di surga.
“Mbak, sebagai saudaramu satu-satunya aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan anak-anak. Terus-terang, aku nggak selalu ada untuk kalian berempat. Ayah dan ibu di sana pasti akan berbahagia jika mbak telah menemukan seseorang yang bisa mendampingimu serta menyayangi anak-anakmu.” Hanif berusaha membujuk Hani. Ia tau penderitaan saudara kembarnya itu. Dan ia yakin Faiq adalah orang yang tepat untuk mendampingi Hani.
Tangis Hani semakin kuat mendengar perkataan Hanif. Selama ini ia memang berat menjalani semua sendirian, hanya Yang Kuasa tempat ia mencurahkan segala kepedihan yang ia hadapi. Apakah ia harus menerima uluran tangan Faiq dan kedua orangtuanya?
Hanif memeluk bahu Hani dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia paling paham tentang kesedihan kembarannya itu, walau Hani tak pernah mengungkapkan tapi ikatan batin mereka terlalu kuat, hingga ia tau apa yang dirasakan Hani.
Ruangan menjadi hening, turut merasakan kesedihan yang melingkupi hati tuan rumah. Marisa mengusap airmatanya yang juga menetes melihat kesedihan Hani. Darmawan mengelus bahu istrinya, sementara Faiq masih menunggu dengan perasaan tak menentu.
Hani melepaskan rangkulan Hanif. Ia menghapus airmata yang masih menetes dipipi tirusnya, “Baiklah saya menerima lamaran mas Faiq…”
“Alhamdulillah.” Ucapan syukur bersamaan dari mereka mendengar jawaban Hani. Marisa memeluk Darmawan dengan erat, dan tangisnya semakin menjadi saking terharunya atas jawaban Hani yang telah mereka tunggu selama ini.
Faiq merasakan sebongkah batu berat telah terangkat dari pundaknya. Ia menutup muka dengan kedua tangan tak lupa ucapan syukur teramat dalam ia panjatkan di lubuk hatinya. Tak sia-sia penantiannya selama dua tahun lebih, untuk menunggu jawaban dari seorang perempuan yang ia harapkan menjadi bagian dari masa depan hingga menjadi bidadari surganya di akhirat kelak.
“Ayah dan ibu akan mengurus proses pertunangan hingga pernikahan kalian.” Ujar Darmawan penuh semangat. “Tak perlu menunda terlalu lama, setelah bertunangan, ayah ingin kalian langsung menikah.”
“Untuk WO nya biar saya yang urus.” Balas Hanif, ia yang kini dekat dengan salah satu karyawan Hani yang bernama Wulan akan mempersiapkan seluruh prosesi acara pertunangan.
“Ibu harapkan setelah lamaran resmi, satu bulan kemudian kalian akan langsung menikah.” Marisa berkata dengan perasaan bahagia. “Sesuatu yang baik tidak boleh ditunda-tunda. Apalagi ibu dan ayah sudah tidak muda lagi.”
Darmawan menatap Faiq dengan senyum lebar, “Jika kamu sudah menikahi Rara, ayah harap kamu memenuhi janji yang telah ayah tunggu sejak lama. Karena ayah ingin segera bermain dengan cucu-cucu ayah yang menggemaskan ini.”
Sontak Hani dan Hanif terpaku mendengar perkataan Darmawan yang bernada ancaman. Faiq hanya tersenyum tipis mendengar Darmawan yang kembali mengingatkannya. Ia sudah memikirkan semua secara matang. Dan setelah menikah ia akan menuruti keinginan ayahnya. Dan ia akan mundur secara terhormat dari pekerjaannya sebagai ASN untuk melanjutkan usaha sang ayah yang ingin segera pensiun untuk menikmati hari tuanya.
“Janji apa, mas?” Hanif mencerca Faiq dengan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban secepatnya. Ia tidak ingin perjanjian itu akan mendatangkan masalah baru bagi kakak dan ponakannya kelak.
“Tenang saja, nak. Ini demi saudaramu dan ponakanmu di masa depan.” Jawab Darmawan lugas sambil tersenyum lebar. Ia ingin segera pensiun dan menikmati masa tuanya dengan bermain dengan si kembar dan si mungil yang telah mendatangkan kebahagiaan padanya.
Hanif semakin tidak mengerti, “Sebaiknya mas Faiq ceritakan, biar aku bisa memberikan restu atas hubungan kalian.”
Mendengar perkataan Hanif membuat ketiganya senyum lebar. Hani dan Hanif memandang ketiganya dengan kening berkerut.
“Ayah minta Faiq mengakhiri karirnya sebagai ASN, karena ayah ingin dia mengelola perusahaan yang selama ini dipegang oleh orang kepercayaan ayah.”
Hanif melongo tak percaya mendengar ucapan Darmawan tentang beberapa perusahaan yang dimilikinya namun Faiq sebagai satu-satunya putranya tidak pernah mau bersinggungan apalagi belajar untuk memimpin perusahaan ayahnya. Ia lebih enjoy menjadi pegawai negeri.
Hani hanya mendengarkan perbincangan mereka bertiga seputar pekerjaan dan bisnis. Akhirnya ia dan Marisa mulai berbicara tentang topik lamaran hingga pernikahan seperti apa yang akan dilaksanakan nanti. Hari ini benar-benar membahagiakan bagi semua.
__ADS_1