Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 266 S2 (Penolakan Khaira)


__ADS_3

Khaira memasuki rumah. Suasana terasa sepi. Ia belum mendengar dan melihat si kembar berada di rumah. Khaira menuju kamar, mungkin saja keduanya sudah tidur siang. Lagi-lagi ia  tidak menemukan keduanya.


“Si kembar mana Bu?” Khaira merasa heran melihat bu Giyem yang kini sedang memasak di dapur.


“Tadi ndak mau ikut pulang,” bu Giyem memandang Khaira dengan perasaan tidak nyaman, ia merasa khawatir Khaira akan memarahinya.


“Saya akan menyusulnya sekarang,” Khaira melirik jam di pergelangan tangannya,” Sudah waktunya makan siang dan tidur.”


Dengan santai ia membuka pintu pagar pembatas rumah menuju kediaman Danu. Ia pun sudah bertekad untuk berbicara dengan Danu.


“Assalamu’alaikum .... “ suara lembut Khaira sayup-sayup sampai di telinga Danu yang duduk memeriksa email di ruang tengah.


Dengan cepat ia bangkit dari kursi dan membukakan pintu samping.  Senyum Khaira sudah tersungging melihat kemunculannya.


“Maaf mas, saya mau jemput si kembar.  Terima kasih ya sudah banyak membantu saya.”


“Nggak apa-apa. Saya senang karena kehadiran si kembar dapat menghibur ibu dan bapak,” jawab Danu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Saya panggil si kembar dulu ....”


Khaira menunggu di beranda samping rumah. Tatapan matanya mengitari pekarangan luas yang teduh dan dipenuhi bermacam main kegemaran anak-anak. Ada ayunan, perosotan dan lainnya seperti  taman kanak-kanak yang berpindah ke rumah Danu.


Khaira mendengar suara Embun yang menolak ajakan Danu yang terdengar berusaha keras membujuknya.


“Bunda sudah di depan. Pulang yok, mau diajak jalan sama masnya .... “Danu membujuk Embun yang masih dalam gendongan Ivan, “Bos, nyonya di depan.”


Dengan perasaan berat Ivan menurunkan Embun. Keduanya gantian main pesawat terbang dengan diputar Ivan di udara membuat keduanya keringatan.


“Pulang dulu ya princes cantik ayah dan pangeran tampan ayah .... “ Ivan mengecup keduanya bergantian.


“Ndak mahu .... “ Embun tetap menolak.


Danu jadi iba menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dengan perasaan sedih Ivan menggendong Embun dan memberikannya pada Danu.


“Main tama ayah .... “ Embun berusaha menolak, dengan terpaksa Danu membawanya keluar dari ruangan dengan dikuti Fajar yang berjalan di belakangnya.


Khaira merasa heran melihat Embun yang bersikap aneh hari ini. Biasanya ia tidak pernah menolak jika diajak pulang.


“Ayo pulang. Ade dan mas harus istirahat. Besok kita pulang dan main sama mbak Khansa dan mas Fadhil ya .... “ Khaira berusaha membujuk Embun saat meraihnya dari gendongan Danu.


“Mau main tama ayah .... “ Embun masih bersikeras dan berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Khaira.


“Ade ... “ Khaira masih berusaha membujuknya, “Kasian mas udah ngantuk.”


Khaira melihat Fajar yang sudah tampak lelah. Ia memang bermain perosotan dan mobil remote tapi tetap dalam pengawasan Ivan.


“Dak mahu pulang. Mau di cini tama ayah .... “ Embun tetap tidak mau mendengar perkataan Khaira.


“Adee ...  Bunda bilang apa!” suara Khaira mulai keras hingga terdengar di telinga Ivan.


Embun langsung terdiam mendengar suara bundanya. Mata bulatnya berkaca-kaca. Baru kali ini ia mendengar suara nyaring bundanya.


“Hu uhuuuk ... uhuk ...  hu ... hu ... hu .... “ tangisnya langsung pecah.

__ADS_1


Melihat kembarannya yang menangis Fajar langsung memeluk lutut Khaira. Ia terdiam ketakutan. Air matanya langsung keluar mengalir dengan sendirinya.


Khaira  merasa sedih karena mengeluarkan nada tinggi saat berbicara sama  Embun yang selama ini belum pernah ia lakukan.


“Maafkan bunda sayang .... “ buru-buru Khaira meraih Embun ke dalam pelukannya. Airmatanya langsung mengalir menganak sungai, “Sayang bunda maafin bunda ya .... “


“Mbak Aisya .... “ Danu merasa tidak nyaman melihat pemandangan yang terjadi di hadapannya.


“Tolong mas Danu, mulai sekarang jangan mendekati anak-anak saya lagi. Saya tidak ingin mas Danu memberi harapan pada si kembar yang tidak tau apa-apa. Jadi saya mohon ..... “


Ivan menepuk dadanya yang terasa sesak.  Ia sudah tidak bisa menahan diri. Pintu ruang bermain terbuka.


“Kenapa kamu membuat anak-anakku menangis?” suara Ivan menghentikan perkataan  Khaira.


Danu tidak menyangka bosnya akan keluar dari persembunyian yang selama ini menjadi tempat teraman untuk ia mendekatkan diri serta  menemani buah hatinya bermain.


Khaira terkejut dengan keberadaan Ivan di dalam rumah megah itu. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Berarti selama ini yang dipanggil ayah sama si kembar bukan Danu tetapi ....


“Ayah ... tama ayah .... “ melihat kemunculan Ivan membuat Embun mengulurkan tangannya agar Ivan mengambilnya dari pelukan Khaira.


“Maaf tuan, anda tidak berhak mengatakan itu,” Khaira menatap Ivan dengan tajam, “Mereka adalah anak-anakku.”


“Bagaimana kau bisa sekejam itu Rara?” Ivan menggelengkan kepala tak percaya mendengar perkataan Khaira, “Aku adalah ayah biologis si kembar. Dan aku mempunyai hak atas mereka.”


Danu tidak nyaman mendengar percakapan antara si bos dan bundanya si kembar. Ia merasa sedih melihat si kembar menyaksikan perseteruan yang terjadi.


“Ayo mas, biar om antar pulang,” Danu menghampiri Fajar yang masih memeluk lutut Khaira.


Ia segera menggendong Fajar dan mengantarkannya pulang ke rumah. Ia yakin art di rumah Khaira bisa menenangkan Fajar. Bocah lelaki itu menurut semua perkataan Danu. Ia jadi takut melihat bundanya yang tampak marah sehingga membuat Embun menangis kencang.


Dengan tergesa-gesa Khaira keluar dari rumah Ivan. Ia berharap semua hanya mimpi dan segera terbangun dari mimpi buruk yang hanya membawanya kembali ke masa-masa suram yang telah ia lupakan.


Ivan menekan dadanya yang terasa sakit. Suara Embun yang terus memanggilnya membuat hatinya terasa diiris sembilu.  Inilah yang paling ia takuti. Khaira telah menolaknya dan tidak menerima kehadirannya. Air mata Ivan terjun meluncur tak dapat ia hindari.


Azan Zuhur terdengar dari masjid pondok. Ivan menyeka wajahnya berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir tak terkendali. Danu kembali ke rumah dengan wajah sedih. Ia tidak berani berbicara pada Ivan. Ia dapat merasakan kesedihan yang terjadi pada bosnya. Ia pun prihatin dengan keadaan si kembar, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Ia hanya berdoa yang terbaik untuk semua.


Beberapa saat kemudian Danu keluar dari kamar sudah memakai koko dan kain sarung untuk melaksanakan salat Zuhur berjama’ah di masjid.


“Dan, tolong ambilkan cek di ruang kerjaku.”


“Baik Bos.”


Tanpa bertanya sepatah kata pun Danu menjalankan semua perintah Ivan. Ia datang dengan membawa sehelai cek kosong lengkap dengan pulpennya.


Secepat kilat Ivan menulis angka di cek tersebut, kemudian menyerahkan kembali pada Danu.


“Tolong sampaikan pada ustadz Hanan.”


“Baik Bos. Saya permisi, assalamu’alaikum ....”


“Wa’alaikumussalam,” Ivan menjawab dengan pelan sambil mengusap wajahnya dengan tangan kanan.

__ADS_1


Suasana masjid sudah sepi. Ustadz Hanan masih berbincang-bincang dengan para ustadz  serta kyai sepuh yang masih duduk bersama. Ia terkejut saat Danu mengantarkan cek langsung ke rumahnya sebelum ia turun ke masjid.


“Semoga dengan bantuan ini, Allah memudahkan jalan bagi bos saya,” hanya itu yang diucapkan Danu saat memberikan amplop berisi cek padanya, “Mohon diterima Ustadz.”


Kening ustadz Hanan berkerut saat memandang  nominal yang tertera dengan angka nol sebanyak 10 buah dibelakang angka satu.


Saat para kyai dan ustadz sudah kembali ke rumah masing-masing, ustadz Hanan melihat sosok Ivan yang masih tertunduk  menekuri lantai masjid.


“Assalamu’alaikum,” ustadz Hanan duduk di samping Ivan.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Ivan singkat.


Ustadz Hanan melihat wajah Ivan yang tampak muram. Matanya memerah. Ia yakin pasti telah terjadi sesuatu.


“Mungkin ini ujian terbesar yang Allah timpakan padamu. Yakinlah, Allah tidak akan menguji diluar kesanggupan hamba-Nya,” ustadz Hanan berkata sambil menepuk pundak Ivan untuk menyemangatinya, “Jika kamu berhasil menjalani dengan sabar, maka Allah akan segera memberikan karunia yang lebih besar.”


“Terima kasih,” senyum terbalut duka nampak di wajah Ivan.


“Semoga dukungan materi yang kau berikan bermanfaat untuk pondok serta wilayah sekitar sini,” tak lupa ustadz Hanan mengucapkan terima kasihnya, “Para kyai serta sesepuh desa turut mendo’akan yang terbaik untuk keutuhan keluargamu.”


Langkah Ivan terasa ringan saat kembali ke rumah. Baru kali ini ia turut melaksanakan salat Zuhur di masjid.  Ia khawatir kehadirannya di siang hari akan mengejutkan Khaira. Tapi hal itu kini tidak berarti lagi. Khaira sudah mengetahuinya. Tinggal Ivan melanjutkan rencana C untuk mengembalikan keutuhan rumah tangganya.


Ivan bangkit dari zikir panjangnya saat melihat lampu di rumah Khaira terang benderang. Ia terus mengamati dari kamarnya di lantai dua. Sebuah mobil memasuki halaman rumah Khaira.  Taklama kemudian terdengar suara tangis Embun.


Ivan menajamkan penglihatannya. Ia melihat sosok Anwar menggendong Embun serta pak Totok yang menggendong Fajar memasuki mobil, disusul Khaira yang membawa tas travel dengan tergesa-gesa.


Ivan berjalan tergesa-gesa turun ke bawah. Dengan cepat ia membuka pintu samping. Ia terlambat mobil sudah bergerak.


“Apa yang terjadi Bu?” Ivan langsung bertanya pada bu Giyem yang hendak menutup pintu rumah.


“Dede Embun badannya panas tinggi. Semalaman nggak bisa tidur. Begitupun mas Fajar.”


“Ya, Allah,” jantung Ivan serasa copot mendengar ucapan bu Giyem, “Kemana mereka membawa si kembar Bu?”


“Ke tempatnya dokter Anwar.”


“Terima kasih Bu,” Ivan segera pamit pada bu Giyem.


Saat tiba di rumah, tanpa berpikir panjang Ivan langsung mengambil kunci mobil di atas bufet kaca. Ia akan menyusul si kembar. Ia tidak ingin terjadi apapun pada keduanya.


Mendengar langkah kaki yang berjalan cepat, membuat Danu yang baru tertidur, terbangun lagi. Ia keluar dari kamar.


“Mau kemana Bos?’


“Aku akan menyusul si kembar. Mereka dibawa Anwar ke puskesmas. Embun panasnya tinggi.”


“Astaghfirullahal’adjim .... “ Danu terperangah mendengar ucapan Ivan, “Saya ikut Bos.”


“Tidak usah. Besok kamu ada kunjungan ke proyek.”


“Ya Bos,” Danu mengalah mendengar ucapan Ivan, “Semoga si kembar tidak apa-apa Bos.”

__ADS_1


“Aku juga berharap demikian.”


Danu memandang kepergian Ivan dengan perasaan berkecamuk.  Ia tidak tau mesti berbuat apa. Semua diluar kendalinya.  Setelah mobil yang dikendarai Ivan keluar dari pekarangan rumah, Danu segera menutup pintu kembali.


__ADS_2