Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 267 S2 (Si Kembar Sakit)


__ADS_3

Ivan melihat mobil Anwar di parkiran rumah sakit. Dengan langkah lebar ia segera menuju ruang IGD yang berada di samping tempat ia memarkir mobil. Tampak pak Toto penjaga rumah duduk berjaga.


“Assalamu’alaikum Pak .... “ Ivan menyapanya.


“Wa’alaikumussalam tuan .... “ pak Totok memandang Ivan bingung karena tidak pernah melihat lelaki gagah itu.


“Bagaimana keadaan si kembar pak?” Ivan tidak bisa menahan diri. Ia harus mengetahui keadaan mereka secepatnya.


Suara tangisan Embun terdengar lagi dari luar ruangan. Tanpa menunggu Ivan memasuki ruangan. Ia melihat Embun yang meronta-ronta dalam pelukan Khaira, sedangkan Fajar terbaring lemah di bed.


“Ivan .... “ Anwar terkejut melihat keberadaan Ivan diantara mereka. Ia sudah mendengar cerita Khaira sekilas penyebab yang membuat Embun rewel sepanjang malam, hingga akhirnya tengah malam dibawa ke puskesmas terdekat.


“Ayah ... ayah .... “ suara Embun membuat jantung Ivan serasa diremas.


“Ra ... “ Anwar menepuk bahu Khaira yang menangis melihat kondisi buah hatinya, “Biarkan Embun bersama Ivan. Aku yakin ia akan tenang .... “


Khaira menahan isaknya. Ia sudah tidak sanggup untuk menghapus airmata yang meluncur bebas. Tanpa meminta persetujuan Khaira, Ivan meraih Embun yang terkulai lemas dalam gendongan Khaira.


Khaira tidak bisa melakukan perlawanan. Tenaganya sudah terkuras, karena menjaga Embun dan menggendongnya sepanjang malam.


“Ini ayah princess cantik .... “ suara Ivan bergetar saat mengucapkan itu.


Embun membuka matanya yang sudah bengkak karena menangis semalaman tanpa berhenti dan mencari arah suara.


“Ayah ....” tangisnya perlahan mereda. Tangannya memeluk leher Ivan dengan erat. Ia takut akan dipisahkan lagi dengan sang ayah.


Khaira menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri melihat Embun yang mulai tenang dalam pelukan Ivan.  Ia menghampiri Fajar dan memeluknya dengar erat. Kalau tidak ada orang lain, rasanya Khaira ingin menjerit tidak sanggup melihat penderitaan kedua buah hatinya.


Anwar segera mencabut termometer di ketek Fajar dan Embun. Ia melihat termometer secara bersamaan.


“Suhu tubuh si kembar masih tinggi. Tidak ada jalan lain, malam ini juga si kembar kita bawa ke rumah sakit terdekat.” Anwar  berkata cepat, “Aku khawatir jika terlalu lama menunggu.”


“Lakukan yang terbaik,” Ivan berkata dengan cepat ia tidak ingin menundanya lagi. Pengalaman  dengan kepergian Bryan membuatnya trauma.


Kini mereka sudah berada di RS. Mitra Keluarga Bekasi. Dengan cepat si kembar langsung dibawa ke ruang IGD untuk observasi selanjutnya. Setelah mendaftar akhirnya si kembar bisa menempati ruang. Ivan sengaja memilih kamar SVIP, karena itu yang terbaik di kelasnya. Ia tidak akan memikirkan pembiayaan selama si kembar ditangani dengan baik.


Bed si kembar disusun berdekatan. Rasanya tidak tega Khaira melihat jarum infus yang akan ditusukkan ke punggung tangan Fajar. Air matanya kembali berlinang saat Fajar menjerit kecil ketika jarum mulai memasuki punggung tangan mungilnya.


Perasaan Ivan terasa tercabik-cabik melihat semua yang terjadi. Ia memeluk Embun dengan erat saat jarum infus mulai ditancapkan ke punggung tangan mungil putri kecilnya.


“Ya, Allah semoga ujian ini segera Engkau angkat. Hamba ikhlas menjalani semuanya, asalkan kami tetap bersama .... “ doa Ivan dalam hati.


Fajar mulai tenang dan saat infus telah dipasang. Khaira meraba dahinya, ternyata panasnya masih tinggi. Tatapan Khaira beralih pada Embun yang tidak melepas tangannya di leher Ivan. Saat pandangannya bersirobak dengan Ivan, Khaira langsung membuang muka.


“Mas mau mimi susu?” Khaira memandang Fajar dengan lekat langsung dibalasnya dengan anggukan.


Tanpa mempedulikan tatapan Ivan yang tak bergeming darinya, Khaira terus melakukan aktivitasnya. Ia mengeluarkan perlengkapan si kembar dari travel bag yang masih berada di sofa. Setelah dua botol susu selesai ia buat, Khaira kembali mendekati bed tempat Fajar berada.

__ADS_1


“Ini sayang .... “ Khaira mengulurkan botol susu yang langsung disambut Fajar. Ia membelai kepala putranya dengan segenap perasaan.


Khaira mendekati Embun yang masih berada dalam gendongan Ivan. Ia meraba dahinya, masih hangat.


“Ade mau mimi susu sekarang?” Khaira membelai punggung putrinya dengan perasaan sedih, “Bobo ya sayang bunda ...”


Embun menoleh ke arah bundanya. Tatapan matanya tampak sayu dan kelihatan bengkak. Ia mengangguk.


“Sama Bunda ya .... “ Khaira berusaha membujuk dengan lemah lembut mengulurkan tangan untuk mengambilnya dari gendongan Ivan.


“Tama ayah .... “ Embun menggelengkan kepala dan kembali mengeratkan tangannya di leher Ivan.


“Istirahatlah. Biar aku yang menjaga Embun,” Ivan berkata dengan lembut. Tatapannya dengan lekat memandang Khaira yang memalingkan wajah darinya.


Penolakan Khaira siang tadi telah membuatnya hancur tak bersisa. Tetapi setelah berbicara dengan ustadz Hanan, ia merasa mendapat energi baru untuk tetap bertahan di samping mereka. Ia akan berjuang demi si kembar.


Walau pun ia berduka atas sakitnya si kembar, tetapi ia merasa bersyukur karena Embun membuat ia bisa dekat dengan Khaira, walaupun belum bisa meraih hatinya. Ia yakin musibah sakitnya si kembar akan menjadi jalan baginya untuk memperbaiki segala kerusakan yang telah ia buat. Dan ia berharap bisa meraih simpati saudara Khaira yang lain.


Dari tempatnya berdiri, Ivan dapat melihat raut kelelahan yang terpancar di wajah Khaira yang masih memegang susu buat Embun. Ia mengulurkan tangan agar Khaira memberikan botol susu  yang telah dibuat.


Khaira tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ternyata Embun lebih memilih Ivan ketimbang dirinya. Kalau saja ia tau dari awal bahwa tetangga baru mereka adalah Ivan, tentu ia tidak akan sembarangan membiarkan si kembar bermain di sana.


Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Semua tidak mungkin diulang dari awal. Kehidupan manusia tetap harus berjalan mengikuti qudrat ilahi. Seharusnya ia telah mempersiapkan diri dari awal untuk berjaga jika Ivan mengetahui keberadaan si kembar.


Pikirannya tidak bisa bekerja saat ini. Otaknya buntu untuk memikirkan langkah selanjutnya. Membawa si kembar pergi menjauh sudah tidak mungkin, apalagi Embun sudah terlalu lengket bahkan tidak ingin lepas dari ayahnya.


Ivan melirik jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 3 pagi. Embun tampak nyenyak dalam dekapannya. Ia memandang Khaira yang tidur dalam posisi duduk membelakanginya dengan tangannya yang menggenggam tangan  putra mereka.


Ia segera meletakkan Embun dengan perlahan di tempat tidur. Berjalan pelan Ivan mendekati Khaira. Dengan perlahan ia menggeser tubuh mungil Fajar. Setelah melihat putranya dalam posisi nyaman, ia mengangkat tubuh Khaira dan membaringkannya di samping Fajar. Selimut yang masih terlipat rapi segera ia lebarkan untuk menyelimuti Khaira dan Fajar.


Tatapannya lekat memandang wajah tirus yang selalu memancarkan keanggunan dan kecantikan alami yang membuatnya tak pernah bisa berpaling. Ia dapat melihat sorot tajam yang ditunjukkan Khaira saat berbicara dengannya siang tadi. Tatapan seperti pertama kali mereka bertemu. Ivan tak akan menyerah untuk meraih hatinya kembali. Apa pun yang dikatakan Khaira tidak akan membuatnya mundur, hatinya semakin terikat dengan adanya si kembar.


Bahkan malam ini, ia merasa Khaira tidak ingin memandang wajahnya. Jemari Ivan menyentuh wajah ayu itu dengan sejuta perasaan. Kerinduannya dapat terobati walaupun hanya lewat sentuhan, yang mungkin tak dapat ia lakukan jika si pemilik wajah ayu itu dalam kondisi terbangun.


Tapi Ivan tak berkecil hati. Dua buah hatinya akan menjadi jembatan yang akan merekatkan hubungan mereka yang telah terputus. Dan ia yakin, bahwa Allah akan mempermudah jalannya.


“Ayah .... “ suara rengekan Embun tertangkap telinga Ivan.


Dengan cepat ia berpindah ke bed tempat Embun berbaring. Ia duduk di kursi samping bed, dan mulai membelai kepala putrinya dengan penuh kasih. Perasaan hangat menjalari segenap hatinya merasakan satu ruangan yang sama dengan orang-orang yang ia kasihi dan sedang ia perjuangkan dalam doa dan ikhtiarnya kepada sang Penguasa alam semesta.


Jam setengah empat subuh, Anwar masuk ke dalam ruangan. Ia terkejut melihat Ivan yang masih siaga menjaga ketiganya.


“Syukurlah anda datang tepat waktu,” Anwar berkata dengan sungguh-sungguh padanya.


Tatapannya  beralih pada Khaira yang masih terlelap sambil memeluk Fajar. Ia meraba dahi Fajar.  Ia merasa iba dengan kondisi sahabatnya. Tatapan lekatnya pada Khaira terlihat Ivan.


“Aku akan pulang,” pandangan  Anwar beralih padanya, “Aku titip Rara dan si kembar padamu.”

__ADS_1


“Terima kasih,” Ivan menjawab singkat, “Aku akan memenuhi tanggung jawabku.”


Anwar tersenyum mendengar jawaban Ivan yang memiliki sejuta makna.


Saat Anwar berjalan ke luar ruangan, Ariq, Ali bersama Fatih sudah berada di depan pintu. Keduanya sejak dini hari sudah diberitahu pak Totok.


“Bagaimana kondisi si kembar?” Ariq langsung menghadang langkah Anwar.


“Belum stabil,” Anwar menjawab singkat, “Analisis dr. Manuel indikasi demam berdarah. Kita lihat HB keduanya pagi ini hingga tiga hari ke depan.”


“Apa penyebab si kembar sampai opname?” Ali tidak sabar mendengar percakapan keduanya. Ia ingin tau semuanya.


Anwar segera menceritakan kronologis yang ia ketahui dari Khaira hingga mereka bermalam di rumah sakit Mitra Keluarga.


“Jadi Xpander itu ada di dalam?” Ali tidak percaya mendengar cerita Anwar.


“Kita lihat perkembangannya. Aku yakin dia tidak akan berani berbuat nekad,” Ariq berkata dengan bijaksana.


Ia menepuk bahu Anwar, “Terima kasih atas bantuanmu, dan kesigapanmu menangani Fajar dan Embun.”


“Sama-sama Mas,” Anwar membalas senyuman Ariq, “Apalagi Rara dan mas semua sudah seperti keluarga bagi saya.”


Ketiganya menatap kepergian Anwar dengan pikiran yang berbeda.


Saat memasuki ruangan tempat si kembar di rawat, tatapan Ariq langsung terfokus pada Ivan yang menggendong Embun yang terbangun karena kehausan dan ingin minum susu. Ia memandang ke  bed satunya,  Khaira masih terlelap memeluk Fajar.


“Assalamu’alaikum ... “ Ariq memberi salam.


“Wa’alaikumussalam,” dengan cepat Ivan menjawab.


Ia terkejut melihat ketiga malaikat  pelindung sang bidadari  yang menatapnya dengan pandangan berbeda.


“Silakan duduk mas,” Ivan bermaksud membaringkan Embun yang mulai terlelap dalam gendongannya.


“Dak mahu. Mahu tama ayah .... “ suara Embun terdengar serak saat mengatakannya. Jemari montoknya menggenggam kaos Ivan dengan kuat.


Ariq yang hendak memulai pembicaraan langsung berhenti. Naluri sebagai ayah di dalam dirinya merasa sedih menyaksikan pemandangan di depannya. Ia melihat keterikatan yang kuat antara Embun dan Ivan.


Ali hanya mencibir malas. Sedikitpun tidak ada rasa simpatik di hatinya dengan perlakuan Ivan pada ponakannya. Ia berjalan mendekati Embun dan membelai rambutnya.


“Cepat sembuh princess papi,” tanpa mempedulikan Ivan yang menggendong Embun, ia tersenyum lembut pada Embun, “Kita kan mau liburan ke tempat uncle Junior dan aunty Afifah. Sama papi ya ....”


Embun membalik badan dan memandang Ali yang menatapnya penuh harap. Tatapannya kembali pada Ivan.


“Tama ayah,” jawaban Embun membuat ketiganya tersentak.


Ketiganya saling mencuri pandang. Ariq menggelengkan kepala melihat Ali yang mulai bereaksi atas penolakan ponakannya. Ariq sadar, cepat atau lambat semua  ini pasti akan terjadi. Tapi yang tak ia duga ikatan batin antara ponakannya begitu kuat dengan ayah kandung mereka. Padahal selama ini  mereka selalu membagi kasih sayang yang sama untuk keduanya.

__ADS_1


“Ternyata darah lebih kental dari pada air,” monolog Ariq dalam hati, “Entah bagaimana Ivan bisa meraih hati putrinya secepat ini .... “


__ADS_2