
“Nggak bisa. Nggak boleh!” Rheina tak berhenti ngomel saat Khaira terus menolak untuk memakai seragam couple untuk acara lamaran nanti malam.
Bukannya Khaira menolak, tapi ia teringat dengan malam lamaran yang terjadi antara ia dan Abbas. Kini ia kembali di situasi yang sama tetapi dengan orang yang berbeda. Bagaimana mungkin ia tidak merasa dejavu.
“Nakk …. “ bu Ila muncul di hadapannya, “ Bukankah kita sudah membahas ini. Jika kamu bahagia Abbas pun sama. Jangan bersedih lagi. Kasian janin yang berada dalam kandunganmu. Sekarang pikirkan kondisi mereka, jika bundanya bahagia mereka akan lebih bahagia lagi.”
Khaira terdiam. Dengan wajah murung terpaksa ia menuruti keinginan Rheina untuk menggunakan brokat yang sudah dibuat seragam dengan Ivan.
“Nggak usah dirias mbak,” Khaira kembali menolak saat dua orang MUA datang ke kamar untuk meriasnya.
“Dek, nggak boleh seperti itu. Hargailah niat baik saudara-saudaramu,” Ira menepuk bahunya lembut, “Sekarang saatnya kamu membuka hati. Bu Ila benar, Abbas bahagia jika kamu berbahagia.”
Tak terasa air mata Khaira menetes membasahi pipinya. Sampai kapan ia menutup diri. Bukankah ia sudah bertekad untuk bangkit. Dan sekarang ia tidak boleh egois hanya memikirkan diri sendiri, ada nyawa lain di dalam dirinya yang telah dititipkan Allah. Ia harus berbesar hati menerima semua takdir Allah yang telah digariskan padanya. Bukankah ia sudah berjanji pada bu Ila dan oma bahwa ia tidak akan menangis lagi.
Rheina dan Ira tersenyum melihat Khaira yang akhirnya duduk menerima semua yang dilakukan MUA pada wajahnya.
“Eh, rombongan udah pada datang lho.” Azkia menghampiri keduanya yang masih menunggu Khaira selesai dirias.
Ivan yang didampingi keluarga besarnya tampak gagah memakai baju batik bercorak kuning emas. Ia terus diledek Hendri sepupunya dari sebelah almarhum papanya yang kebetulan datang bersama istrinya Maura.
Kini Hanif yang mewakili pihak perempuan dalam menyambut keluarga laki-laki, kebetulan mertua Ariq ada dinas di luar kota.
“Aku jadi penasaran seperti apa perempuan yang membuat mas Denis dan mas Fahri patah hati,” Hendri berkata semaunya tanpa memikirkan perasaan Denis yang dongkol setengah mati pada Ivan.
Apalagi ia teringat pernah berjanji akan membiayai pesta hingga bulan madu kemana pun Ivan dan pasangannya pergi.
Fahri hanya diam mendengar perkataan Hendri. Walau pun merasa kecewa, tapi ia yakin semua sudah menjadi ketetapan Allah. Saat mendengar Afifah menceritakan Khaira padanya, walau belum pernah bertemu hatinya sudah merasa tergetar. Tapi takdir berkata lain.
“Tenang saja, aku tidak akan menagih janjimu,” Ivan tersenyum melihat Denis yang termenung memikirkan nasib percintaannya.
“Kau pikir aku kere, sebutkan saja nominal yang harus ku keluarkan,” Denis berkata dengan setengah hati.
“Tante Har sempat bilang gini lho, kalau sampai Denis mendapatkan perempuan idamannya, dia akan menggelar pesta di tiga kota.” Hendri masih saja melanjutkan ledekannya.
Dia paling senang kalau melihat saudara yang terdzolimi, apalagi sekelas Denis mantan playboy di eranya. Hendri merasakan kepuasan batin karena berhasil membuat Denis semakin kesal dengan wajahnya yang kini memerah.
“Tampaknya aku harus ganti haluan,” sekarang Denis mulai membalas Hendri.
“Maksudmu?” Hendri mengerutkan keningnya sambil memandang Denis yang kini tampak serius.
“Sekarang aku lebih senang melihat istri orang. Ku lihat istrimu lumayan seksi, apalagi dengan gaun yang ia pakai sekarang,” Denis menaik-naikkan alisnya saat pandangannya mengarah pada Maura yang menggunakan dress tanggung yang menampakkan sebagian lengannya yang putih.
__ADS_1
“Kurang ajar!” sontak Hendri memaki Denis.
Salah ia juga sih, saat mau berangkat tidak memperhatikan penampilan istrinya yang masih belum menutup aurat, sedangkan mamanya dan sepupunya yang lain sudah konsisten dengan hijabnya masing-masing.
Kini Fahri dan Ivan tersenyum sambil berpandangan. Mereka yakin Denis hanya bercanda, tetapi tidak kuat melayani ledekan Hendri. Percakapan unfaedah itu terus berlangsung karena acara lamaran masih belum dimulai.
Mata Indah terus mengitari ruang tamu yang kini telah didekor sedemikian rupa menjadi tempat lamaran yang sangat indah. Ia geleng-geleng kepala menyadari bahwa dekorasi di rumahnya pun belum sebanding dengan yang ia saksikan sekarang.
Laras senyam-senyum melihat tingkah Indah yang terus berbicara mengagumi apa yang ia lihat sambil membandingkan dengan beberapa tempat yang sempat ia datangi. Padahal kalau mau jujur acara lamaran yang digelar di rumahnya masih kalah dengan dekorasi yang sekarang di acara lamaran Ivan dan Khaira.
Indah mencibir saat Laras menunjukkan cincin berlian sebagai pengikat antara Ivan dan Khaira saat mereka masih berada di rumah Laras siang tadi.
“Bagus nggak?” Laras meminta pendapatnya.
“Jadi Ivan menyiapkan dua cincin berlian untuk janda kakaknya Junior itu?” Indah berkata dengan cibiran di bibirnya.
“Tentu dong. Acaranya kan beda. Yang ini untuk lamaran, yang satunya lagi untuk pernikahan,” dengan bahagia Laras meletakkan kedua cincin yang hampir sama bentuk dan modelnya tetapi dengan kadar yang berbeda.
Indah tersenyum nyinyir, “Sungguh beruntung kakaknya Junior, padahal sudah janda tapi bisa mendapat barang hantaran serta cincin yang sangat mewah, “Semoga Irene mendapatkan jodoh yang lebih baik. Janda saja dapat yang tajir, apalagi perawan.”
“Malu juga kali, masa Ivan melamar pemilik gerai Kara Jewellery hanya membawa barang tidak berkelas. Mau ku taroh di mana mukaku,” potong Laras cepat.
Akhirnya percakapan keduanya berhenti ketika dari arah tangga tampak Khaira didampingi Rheina dan Ira berjalan menuju tempat yang dipersiapkan untuk lamaran.
Dunia Ivan serasa berhenti, setelah sosok yang ia tunggu berjalan dengan anggun mendekat ke arah mereka. Ia memandang tanpa berkedip saat bidadari masa depannya kini telah duduk di hadapannya, ada meja tempat beberapa seserahan yang menjadi penghalang antara ia dan Khaira.
Senyum mengembang di wajah Ivan melihat lukisan indah yang terpampang di depan mata. Bidadari surga dalam wujud seorang perempuan sederhana yang tinggal menghitung hari akan segera menjadi miliknya.
“Kalau seperti itu mah, aku juga mauuu …. “ suara Hendri yang duduk di kursi belakangnya tertangkap di telinga Ivan, “Bening banget eui.”
Ingin rasanya Ivan melakban mulut sepupunya yang tak berhenti ngoceh dari tadi, dan sekarang setelah melihat calonnya malah tidak semakin jadi membuat telinga Ivan merasa panas, tapi ia berusaha menahan diri dan mendinginkannya dengan pemandangan teduh di hadapannya.
Khaira menundukkan muka semakin dalam menyadari tatapan horor di depannya dari beberapa pasang mata yang ia rasakan sejak mulai turun dari tangga. Perasaannya berdebar tak menentu.
Fatih yang bertindak sebagai MC segera memulai acara, karena yang dinantikan telah tiba. Setelah memberikan salam pembuka dan mengucap syukur atas anugerah yang Maha Kuasa karena telah memberikan kemudahan bagi mereka untuk dapat hadir di kediaman oma Marisa dalam rangka acara lamaran, dan bla bla ….
Sesekali tatapan keduanya bertemu. Dengan cepat Ivan melempar senyumnya yang dibalas Khaira dengan anggukkan pelan dan segera memusatkan perhatian pada Fatih yang masih menyampaikan sepatah dua kata.
Walau pun belum ada senyum yang tergambar di wajah ayu tersebut, tapi melihat tatapan teduhnya telah memberikan kehangatan di hati sanubari Ivan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, seperti perkataan mamanya harus menjadi pribadi yang lebih baik, karena dirinya akan mulai memikul tanggung jawab yang besar.
Setelah kata sambutan dari pihak keluarga perempuan yang diwakili paman Hanif, kini om Sadewo dari pihak laki-laki menyampaikan maksud kedatangannya.
__ADS_1
Tatapan Ivan tak bisa teralihkan dari pemandangan menyejukkan di depannya. Hingga saat Fatih memintanya menyampaikan niatnya untuk melamar Khaira Ivan tidak mendengar, karena pikirannya sudah melayang ke udara membawa Khaira dalam lamunan indah bersamanya.
“Mas Ivan, hm … hm ….. “ Fatih berdehem untuk menyadarkan Ivan yang masih asyik di dunia khayalnya.
“Van …. “ tepukan om Sadewo yang duduk di sebelah kanannya menghempaskan Ivan membawanya kembali ke dunia nyata.
Ia merasa kikuk, menyadari semua mata tertuju padanya, termasuk mata bening di depannya yang memandang penuh tanya.
“Yaa …. “ Ivan gelagapan memandang om Sadewo yang memandangnya heran.
Baru kali ini dalam sejarahnya sebagai seorang Ceo perusahaan ternama yang sudah malang melintang di berbagai negara, Ivan merasakan nervous karena melamar perempuan yang sudah ia tergetkan menjadi ratu dalam rumah tangganya.
“Sampaikan sepatah dua patah kata niat dan keinginanmu untuk meminang Rara,” bisik om Sadewo yang sudah merasa tidak nyaman melihat semua mata keluarga Khaira tertuju padanya dan Ivan.
Ivan menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. Tatapannya kini fokus memandang Khaira dan menguncinya dengan kuat. Ia tersenyum tipis melihat Khaira yang mulai kembali menundukkan wajah.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…. “ Ivan mulai berkata dengan pelan. Tanpa membawa konsep Ivan langsung menyampaikan isi hatinya.
“Saya memang bukan orang yang baik. Tapi dengan setulus hati izinkan saya menyampaikan keinginan untuk melamar Khaira Althafunnisa untuk menjadi pendamping saya dan ibu bagi anak-anak saya di masa yang akan datang.” Ivan menghentikan kata-katanya sementara sambil memandang Ariq dan paman Hanif yang duduk di sebelah kanan Khaira.
Tatapannya kembali pada Khaira, ia melihat secara perlahan Khaira mulai menatapnya kembali. Dapat ia lihat mata bening itu memancarkan binar-binar kejora membuatnya semakin sempurna di mata Ivan.
“Berikan aku kesempatan untuk membuktikan diri menjadi lebih baik. Aku yakin bersamamu semua akan menjadi lebih baik. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi perasaanku benar-benar tulus padamu. Mohon terimalah lelaki yang tidak sempurna ini untuk menjadi pendampingmu. Bersamamulah yang akan menyempurnakan hidupku ….” Ivan menutup perkataannya dengan perasaan lega.
“So sweet …. “ Rheina yang duduk di belakang Khaira berbisik lirih dengan mata berkaca-kaca, langsung saja ia mendapat cubitan dari Ira.
“Alamak …. Romantis kali kau …. “ suara Hendri kembali membuat suasana romantis yang tercipta langsung ambyar.
Dada Khaira berdetak keras. Kini ia melihat sosok Abbaslah yang duduk di hadapannya dengan senyum teduhnya yang selalu menyejukkan, sehingga Khaira tidak mampu memalingkan wajah dari pemandangan di depannya.
“Bagaimana Ra, apa kamu bersedia?” kembali Fatih melayangkan pertanyaan pada saudari kembarnya itu.
Dengan cepat Khaira mengangguk, ia tak ingin melewatkan kebersamaannya dengan Abbas malam ini, walaupun hanya saling memandang dan melempar senyum. itu sudah sangat cukup baginya.
Perasaan Ivan merasa lega mendengar jawaban dari sang pemilik hatinya. Ia berjanji akan memberikan kebahagiaan pada Rara dan calon anaknya yang kini semakin bertumbuh. Dapat ia lihat saat Khaira berjalan ke arahnya tadi bahwa tubuhnya mulai berisi. Dan ia tersenyum tipis mengingat apa yang pernah mereka lakukan, sehingga semua yang tidak mungkin telah terjadi di malam ini. Pintu pembuka untuk ke jenjang yang lebih baik.
Yang mau ikut menghadiri resepsi Khaira dan Ivan kita janjian ya.
He he .... dukung terus author yak. Sayang untuk semua ....
__ADS_1