
Kediaman Ivan dan Khaira hari ini begitu ramai. Para pekerja EO sibuk hilir mudik membuat tenda dan menyusun kursi di halaman depan. Sore ini akan diadakan acara Aqiqahan Abi nama kesayangan untuk Abbas putra mereka yang kini berusia 7 hari.
Ivan semakin sibuk dengan aktivitas barunya yaitu momong Abi. Ia tidak mengizinkan Khaira untuk menggaji seorang babby sitter untuk putra kecil mereka. Ia sanggup untuk mengasuh dan mengikuti tumbuh kembang bayi yang semakin berisi.
“Mas gak ngantor hari ini?” Khaira yang baru selesai mandi menghampiri Ivan yang membawa Abi berjemur di halaman belakang.
“Biar Danu yang antarkan berkas,” jawab Ivan santai tanpa beban.
Khaira tersenyum tipis melihat Ivan yang tetap fokus pada Abi yang mulai merengek karena sudah waktunya mimi susu.
“Mas mandi dulu gih, biar Abi mimi dulu. Udah ngantuk juga kayaknya .... “ ujar Khaira merapat pada keduanya.
“Wah, bunda sudah wangi .... “ Ivan mengendus dan melesatkan kecupan ke pipi Khaira yang berisi, bawaan habis melahirkan satu minggu membuat bodynya masih berisi.
“Ayah yang bau .... “ Khaira manyun dengan perbuatan suaminya.
“Abisnya bunda gemesin. Seksi dan bikin sueger mandangnya .... “ bisik Ivan sambil mengedipkan mata.
Khaira mencibir dengan ucapan suaminya. Rangkulan tangan Ivan telah membuatnya menempel rapat pada suaminya.
Kini mereka telah duduk santai di gazebo menikmati suasana tenang di pagi hari itu. Sementara para pekerja sibuk dengan jobnya masing-masing dibawah kontrol Danu.
Dengan santai Khaira meng-asi-hi Abi begitu bayi mungilnya mulai mengeluarkan senandung kecilnya.
Mata Ivan tak berkedip menyaksikan pemandangan indah yang terlanjur nampak di depan mata.
“Bunda bikin ayah ngiler .... “ tanpa basa-basi Ivan menyentuh bibir mungil Abi dengan tangannya tapi jari telunjuknya mengelus-ngelus sumber kehidupan putranya.
“Ish .... “ Khaira menepis jemari Ivan dengan gemes dan menjauhkannya dari jangkauan yang suaminya kehendaki.
Melihat kelakuan istrinya, dengan cepat Ivan meraih dagu Khaira dan ******* bibirnya seketika.
Tindakan spontan Ivan membuat Khaira kelimpungan karena susah bernafas. Ia mendorong dada Ivan seketika.
“Massss .... “ Khaira mencubit lengan Ivan begitu tautan bibir mereka terlepas.
Ivan tersenyum puas setelah beberapa saat menyelami bibir ranum merah bata milik istrinya.
“Lumayanlah sarapan pembuka. Soalnya menu utama masih belum siap ya de’ .... “ ujarnya sambil mengedipkan mata pada Khaira.
“Yang sabar Ayah .... “ balas Khaira dengan mimik lucu menirukan suara bayi.
“Kapan buka puasanya?” Ivan memandang Khaira dengan tatapan memelas.
“Kasian ayah ya de... puasanya lama .... “ Khaira tertawa lirih sambil mengecup jemari mon tok jagoan kecilnya.
“Tapi ayah sabar kok,” Ivan menjawab dengan cepat, “Yang penting pas berbukanya pasti dapat menu yang sangat istimewa .... “
“Omonganmu makin ngelantur mas .... “ Khaira jadi meriang mendengar ucapan Ivan yang makin menyerempet.
“Ha ha ha .... “ Ivan tertawa puas setelah mengerjai sang istri yang kini wajahnya memerah.
Keduanya masih terlibar percakapan ringan hingga kedatangan Danu membawa beberapa berkas di tangannya menghentikan kegiatan mereka di pagi menjelang siang itu.
Khaira bangkit dari kursi dengan menggendong Abi meninggalkan Ivan dan Danu yang langsung terlibat percakapan serius. Ia meminta bi Giyem untuk menyiapkan kopi serta snack mendampingi keduanya yang sibuk membahas pekerjaan.
Setelah acara Aqiqahan Abi yang dihadiri keluarga besarnya, Ivan memohon kepada Ariq untuk mengembalikan haknya sebagai ayah biologis si kembar pada dokumen keluarga.
Ariq menyerahkan semua pada Ivan untuk melakukan pengurusan perubahan dokumen yang menyebabkan terjadinya persidangan kembali di pengadilan negeri.
__ADS_1
Bagi Ivan tidak masalah. Ia mengikuti proses dan alurnya sesuai dengan prosedur kenegaraan. Dengan didampingi pengacara serta pihak keluarga Khaira sebagai saksi, akhirnya Ivan merasa lega.
Fajar dan Embun kini kembali memiliki nama dirinya di belakang nama keduanya dengan menghapus nama akhir Setiawan menjadi Alexander. Karena dokumennya lengkap dan tidak ada keberatan dari pihak saksi, persidangan perubahan identitas berjalan dengan lancar.
Tak terasa satu bulan telah berlalu dengan segala dinamika kehidupan yang terus berjalan. Ivan sangat menikmati hari-hari melihat tumbuh kembang Abi yang semakin pandai dan mulai bisa diajak berkomunikasi.
Rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan, karena Allah masih memberinya kesempatan untuk menjadi suami dan ayah siaga dalam proses kelahiran dan tumbuh kembang sang anak.
Merasakan proses ngidam hingga mendampingi Khaira melahirkan secara normal, membuat rasa cinta dan sayangnya semakin besar terhadap sang istri. Tak pernah ia melewatkan waktu sedetikpun untuk meninggalkan keluarga kecilnya, kecuali ada keperluan mendesak.
Itu pun jika memungkinkan dan tidak riskan ia akan membawa Khaira dan Abi ikut bersamanya. Embun dan Fajar telah mempunyai dunianya sendiri. Kesibukan belajar serta mengikuti aktivitas pondok dibawah asuhan ustadz Hanan membuat keduanya aktif apalagi banyaknya teman sebaya mereka yang tinggal dan berasrama di pondok, membuat mereka jarang menghabiskan waktu di rumah.
Di pagi yang tenang, Ivan menyempatkan diri berziarah ke makam Abbas sahabat lamanya. Ia duduk terpekur, memanjatkan doa yang terbaik buat Abbas kepada Yang Kuasa sang pemilik alam semesta.
“Assalamu’alaikum saudaraku .... “ Ivan berkata lirih setelah memanjatkan doa terbaik dari dalam hati.
Semilir angin menyapu dedaunan menjadi alunan melodi alam yang membuat suasana di pemakaman begitu hening.
“Maafkan aku, karena baru kali ini datang berkunjung setelah sekian lama kepergianmu .... “
Mata Ivan terpejam, berusaha menghadirkan kembali wajah Abbas yang pernah begitu dekat dengannya. Lelaki sederhana dan bersahaja yang mengenalkan tentang ketulusan.
“Terima kasih atas waktu yang pernah kau bagi denganku,” Ivan menghentikan ucapannya dan menghela nafas perlahan.
“Dan terima kasih pula, berkatmu aku telah memiliki keluarga yang sempurna.”
Perjalanan hidup dan cintanya bersama Khaira kembali bergulir di benaknya. Awal pertemuan, hingga ajal menjemput Abbas membuat ia berasumsi sendiri tentang gadis sederhana pilihan Abbas.
“Rara bidadari terbaik milikmu, tapi Allah telah menganugerahkan padaku.... “ suara Ivan lirih bersama dengan gerimis yang mulai turun di pagi menjelang siang.
“Rara telah memberikan kesempurnaan dalam hidupku. Perlu kamu tau, aku telah menjadi seorang ayah dari tiga anak yang lucu dan menggemaskan,” senyum tipis muncul di sudut bibir Ivan. “Dan putra kami yang masih kecil, namamu ku sematkan padanya. Aku ingin kamu selalu hidup dalam setiap helaan nafas kami .... “
“Rara mengajarkanku banyak hal .... “ wajah ayu dan tatapan bening Khaira begitu lekat dalam pandangannya, “Segala kenyamanan dan ketenangan telah aku dapatkan darinya. Bersamanya, aku ingin sehidup sesurga. Tiada lagi yang ku inginkan selain dengannya untuk membesarkan putra-putri kami hingga saatnya Allah mengambil kembali ke haribaan-Nya....”
Mata Ivan terasa mengabur. Tak terasa setitik air mata jatuh mengalir di pipinya. Dengan cepat Ivan menghapusnya.
“Aku yakin, kau pun telah mendapatkan bidadarimu sendiri. Yang bersamanya kamu telah merasakan ketenangan dan kenyamanan .... “ senyum tipis terbit di wajah Ivan. “Kamu sahabat bahkan saudara terbaik yang pernah ku miliki.”
Ivan menghela nafas dengan perasaan lega, karena telah mengunjungi Abbas dan bercerita banyak hal tentang kehidupannya. Kini hatinya merasa lebih tenang setelah mengungkapkan semua perasaannya pada Abbas.
“Aku pamit pulang. Sekali lagi terima kasih untuk semua yang pernah kita jalani bersama. Semoga kehidupan kami ke depannya akan selalu dalam lindungan Allah dan di surga Allah kita dipertemukan kembali. Aamiin .... “
Langkah Ivan terasa ringan saat keluar dari kompleks pemakaman. Sengaja ia meluangkan waktu mengunjungi makam Abbas. Di parkiran ia melihat Danu masih menunggu dengan santai.
“Kita pulang sekarang,” tegas Ivan sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah beranjak pukul sepuluh.
Hari ini jadwal Ivan benar-benar padat. Begitu pulang dari makam, ia harus singgah ke rumah sakit miliknya, karena ada meeting bulanan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Pukul empat sore, baru ia dapat kembali ke rumah. Perasaannya benar-benar lega, saat di rumah disambut si kembar yang baru pulang mengaji dari masjid.
“Mandi dulu mas .... “ Khaira menjauhkan dirinya dan Abi yang kini semakin mengenal aroma ayahnya begitu Ivan menghampiri keduanya yang duduk santai di teras rumah.
Melihat sosok sang ayah, Abi langsung bersemangat dan mengulurkan tangan minta digendong.
Ivan hanya terkekeh karena tidak bisa mencuri ciuman pada sang istri yang hafal dengan tingkah isengnya.
“Ya bundaku sayang. Malam ini ayah udah menyiapkan stamina untuk berbuka dengan yang manis-manis ..... “ kedipan mata nakal Ivan membuat Khaira mencubit lengan Ivan dengan gemes.
Ia tinggal mencibirkan bibir setelah berhasil mendaratkan capitannya membuat kulit lengan Ivan yang hanya terbungkus kemeja pendek memerah.
__ADS_1
“Awas tuh bibir .... “ Ivan berkata lirih sambil melewati Khaira.
Semakin bertambahnya usia dan anak membuat Khaira sadar, bahwa sifat pendiam dan jarang berbicara Ivan telah lenyap dengan omongannya yang kadang membuat polusi pendengaran bagi krucil mereka, dan Khaira harus bisa mengimbangi jika Fajar dan Embun penasaran dengan pembicaraan menyerempet ayah mereka.
Khaira tinggal geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang kini telah lenyap memasuki kamar mereka, dengan suara tawanya yang bergema karena berhasil menggoda istrinya.
Malam semakin larut dengan hujan rintik-rintik yang mulai turun membasahi bumi di kegelapannya dengan sesekali sambaran kilat yang datang beriringan.
Ivan baru saja keluar dari kamar si kembar menemani keduanya belajar. Setelah sempat membacakan buku cerita sesuai permintaan Embun hingga keduanya kini terlelap dalam tidur.
Ia mencium kening Fajar dan Embun bergantian, dan menutupi selimut karena yakin akan dinginnya cuaca malam ini. Tak lupa merendahkan suhu AC agar si kembar tetap merasa hangat.
Setelah puas memandangi kedua buah hatinya yang kini semakin besar, perasaan Ivan menghangat. Betapa murah hatinya Allah telah memberikan karunia tak terhingga padanya. Dan Ivan akan selalu bersyukur dan berbagi atas segala karunia yang diberikan Allah bagi keluarga kecilnya.
Saat kembali ke kamar, ia melihat ruangan sudah gelap. Menyisakan lampu tidur yang tersisa dengan keheningan yang terjadi. Ivan melangkah menuju box bayi.
Bocah kecilnya sudah terlelap dengan nyaman dengan memeluk guling kecil di sisi kanannya. Ia membelai rambut lembut Abi yang kini mulai tumbuh setelah dicukur gundul kemaren. Memastikan Abi tak terganggu dengan sentuhannya, Ivan pun meninggalkan box bayi untuk melangkah ke tempat tidur.
Perlahan ia membaringkan tubuhnya di sisi Khaira yang sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu. Aroma wangi sampo dan parfum lembut Khaira mulai mengganggu ketenangannya.
Tangannya mulai merangkul pinggang istrinya yang kini mulai ramping ke bentuk semula. Nafas Ivan mulai memburu. Harusnya saat ini adalah yang paling ia tunggu. Tapi melihat Khaira yang begitu tenang dalam tidur membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.
Ia tau, istrinya kelelahan. Walau pun usia Abi baru menginjak enam mingguan, tapi bobotnya serta keaktifannya mampu membuat lelah yang menggendong. Dan Ivan sangat sadar akan hal itu. Apalagi Khaira telah memberikan ASI eksklusif, tentu hal itu akan membuatnya mudah lelah dan harus selalu menutrisi tubuhnya untuk memenuhi kualitas dan kuantitas ASI bagi Abi.
Saat jemarinya pindah ke sesuatu yang kenyal dan lembut, nafas Ivan semakin menghangat. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Khaira terbangun setelah menyadari gerakan tangan Ivan yang aktif.
“Mas .... “ suara Khaira yang terbangun karena ulahnya membuat jemari Ivan semakin lincah.
Khaira membalik badan, ia pun sangat menginginkan sentuhan sang suami yang begitu memanjakan dan memabukkan. Jemarinya a menyentuh wajah Ivan dan bermain di hidung mancung sang suami.
Tatapan keduanya bertaut dengan sejuta rasa yang saling mencurahkan segenap asa di raga. Wajah Ivan menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Khaira.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu .... “ suara Ivan begitu lembut dan mesra.
Khaira tak kuasa menjawab. Ia hanya mengganggukkan kepala dengan pasrah dan langsung menyatukan bibirnya pada bibir tebal milik sang suami.
Melihat perlakuan istrinya membuat Ivan bersemangat. Ia merengkuh Khaira dengan erat membalas perlakuan Khaira dengan semangat empat lima. Ia tidak akan melewatkan malam ini setelah sekian lama berpuasa demi menyehatkan fisik dan mental sang istri yang telah melahirkan anak-anaknya.
“Kita bikin bayi la kan?” canda Ivan di sela aktivitas panas mereka.
“Ampun mas, Abi masih kecil .... “ Khaira merasa pias mendengar ucapan suaminya.
“Tenang aja, ayah hanya bercanda,” jawab Ivan cepat, “Ayah tersiksa juga dengan puasanya. Tapi alhamdulillah berbuka kali ini sesuai dengan ekspektasi ayah. Bunda telah memberikan menu terbaiknya.”
Wajah Khaira bersemu merah dengan acungan dua jempol suaminya. Ia langsung memeluk tubuh kekar Ivan dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya dengan perasaan bahagia.
“Terima kasih bunda .... “ Ivan mencium kening Khaira dengan sepenuh hati begitu pertempuran telah usai yang menyisakan kebahagiaan dan kelegaan di hatinya.
Ia telah berjanji di makam Abbas dan pada dirinya sendiri, akan menjaga keluarga kecilnya dan tetap kokoh berjuang demi kebahagiaan keluarga mereka hingga akhir hayat.
Tamat.
***Terima kasih buat reader tercinta yang sampai saat ini masih setia dengan babang Ivan dan akan Rara. Berat hati Author tuk mengakhiri kisah mereka. Tapi terpaksa cerita mereka harus selesai\, karena memang sudah saatnya berakhir.
Tapi tetap dukung ya, karena Author akan fokus kembali dengan kisah "MERAJUT SERPIHAN CINTA' yang udah lama hiatus tanpa kabar. Dan sesudahnya masih banyak kisah-kisah lain yang tak kalah serunya dari romansa Ivan dan Rara.
Salam sayang dan cinta, semoga kita semua selalu diberi kesehatan untuk tetap berkarya .... "
__ADS_1