
Faiq merasa gusar melihat Adi yang menatapnya dengan tajam. Apalagi mereka masih mengobrol dengan ayah dan ibunya.
“Mari kita tuntaskan semuanya malam ini. Aku akan berkunjung ke rumahmu setelah pameran ini selesai.” Ujar Faiq dengan datar. “Tunggu aku di rumahmu …. “
“Baik, mas.” Hesti menjawab dengan lembut sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Ia yakin keinginannya akan segera tercapai. Dengan perasaan puas Hesti mengajak temannya untuk pulang. Ia benar-benar tak menyangka keinginannya melihat pameran perhiasan membuat ia bertemu dengan Faiq.
Faiq segera menghubungi beberapa orang terdekatnya untuk membantunya menyelesaikan sesuatu hal yang sempat tertunda. Setelah mengatakan keinginannya di telepon, Faiq merasa puas. Ia kembali menghampiri Hani yang kini berbincang dengan Linda.
“Sayang, kita pulang sekarang?” bisik Faiq lirih di telinga Hani.
Hani meliriknya sekilas, tetapi Linda tetap mengajak Hani berbicara dengan serius membahas tentang rencana mengadakan ulang tahun Hasya yang ke empat. Adi juga turut menambahkan ide untuk kemeriahan ulang tahun putrinya.
“Sayang …. “ nada Faiq mulai meninggi melihat respon Hani yang tidak menanggapinya.
Marisa melihat kekesalan di wajah putranya. Ia sempat melihat ketika seorang perempuan muda menghampiri Faiq dan Hani, tapi ia tak begitu jelas memandang wajahnya. Dan ia dapat melihat kesedihan yang tergambar di wajah Hani saat berjalan sendirian meninggalkan suaminya dan bergabung kembali bersama mereka.
“Biarkan istrimu bicara dengan eyangnya anak-anak …. “ Marisa berusaha meredam emosi Faiq.
Mendengar ucapan ibunya membuat kekesalan Faiq semakin meningkat. Ia menatap Hani dengan tajam. Melihat wajah Faiq yang menegang, akhirnya Hani memohon izin dan segera berpamitan dengan kedua mertuanya serta Linda dan Adi.
Adi tersenyum tipis melihat kecemburuan yang tergambar jelas di wajah Faiq. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala saat keduanya telah berlalu dari hadapan mereka.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil benar-benar horor. Tidak ada percakapan yang terjadi di dalamnya. Hani pun sedang memikirkan cara dan menyusun rencana untuk meminta Faiq menjelaskan semua pertanyaan yang telah membuatnya jadi tersiksa akhir-akhir ini.
Apapun yang akan terjadi ia siap menerima semua keputusan Faiq. Karena ia tidak bisa hidup dengan beban pikiran yang membelenggunya.
Dengan kasar Faiq menarik tangan Hani keluar dari mobil hingga memasuki kamar mereka. Untung saja semua bocah termasuk si kembar sudah tertidur.
“Apa kamu sengaja membuatku cemburu?” tanya Faiq dengan kesal.
Hani memandang suaminya dengan raut kecewa. Ia tidak akan menahan diri lagi. Malam ini semua harus dikupas secara tuntas segala beban pikiran yang bersarang di kepalanya.
__ADS_1
“Istri mana yang sengaja membuat suaminya cemburu?” Hani membalas tatapan Faiq. “Antara aku dan ayahnya anak-anak tidak ada hubungan apa pun. Bagaimana mungkin mas tidak memiliki kepercayaan pada istri sendiri.”
“Kamu dan Adi terlihat berbicara dengan serius, sehingga suamimu sendiri tidak kau pedulikan.”
“Apakah mas tidak memiliki kepercayaan sedikit pun padaku? Sementara aku begitu mempercayai mas Faiq. Jadi hubungan antara kita selama ini tidak berlandaskan kepercayaan, dan itu sangat menyakitkan buatku.”
Faiq terdiam. Selama ini Hani selalu diam, dan menjadi istri yang sangat penurut. Tetapi hari ini, sikap Hani benar-benar tegas dan tidak terintimidasi sama sekali.
Hani menggeleng-gelengkan kepala mendengar tuduhan Faiq. “Mungkin mas masih menganggapku amnesia, dan itu memang benar. Aku sendiri sampai bingung, dan sampai detik ini ada pertanyaan yang sangat menggangguku. Mas tentu tau apa penyebab hingga aku mengalami amnesia? Dan bagaimana mas menyembunyikan pernikahan dengan perempuan lain yang bernama Hesti?”
Faiq terperangah mendengar pertanyaan istrinya. Hal yang selama ini berusaha ia kubur, agar tidak menyebabkan perasaan Hani terluka, kini ia menuntut Faiq untuk berterus-terang, sementara ia sendiri mati-matian berusaha melupakan peristiwa kelam itu.
“Katakanlah mas, aku mohon.” Hani menatap Faiq dengan nada sendu, “Jika memang aku menjadi orang ketiga antara kalian, maka aku akan mundur.”
“Apa yang kamu katakan? Kenyataannya bukan seperti itu.” Faiq melihat wajah Hani yang tampak sedih.
“Aku ingin kejujuranmu, mas.” Hani membalas tatapan Faiq, "Aku tidak bisa hidup dalam kebimbangan."
Faiq tidak tau harus berkata apa. Ia tidak ingin mengingat kecelakaan yang menimpa Hani, karena setiap mengingatnya membuatnya merasa jadi manusia paling bodoh sedunia.
“Sayang, apa yang kau katakan?” kekesalan Faiq luntur seketika mendengar ucapan Hani.
Ia tidak menyangka bahwa Hani mengingat pernikahan yang pernah terjadi antara ia dan Hesti. Faiq khawatir ada seseorang yang menceritakan hubungan di masa lalu antara ia dan Hesti dengan sengaja untuk membuat istrinya kembali terluka.
“Aku siap melepasmu demi perempuan itu, terlanjur perasaanku belum terlalu dalam padamu …. “ Hani berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah di hadapan Faiq.
Faiq tercekat. Ia menatap mata istrinya yang kini tampak berkabut. Ia membingkai wajah ayu Hani dengan kedua tangannya. Tatapan itu terlihat pasrah. Bibir Hani bergetar menahan kesedihan dan kepedihan hatinya.
“Sayang …” Faiq berpikir sejenak, ” … baiklah mas akan berterus-terang padamu tentang semua yang ingin kamu ketahui tanpa menyembunyikan sesuatu apa pun.”
Faiq menuntun Hani ke sisi tempat tidur. Keduanya duduk berhadapan. Faiq mulai menceritakan hubungan yang terjadi antara ia dan Hesti, hingga akhirnya Faiq mengakui semua kebodohan yang telah ia lakukan dengan wajah sedih.
Hani mendengarkan cerita Faiq dengan serius. Ia merasa serba salah untuk mengambil sikap. Kebohongan Faiq yang membuat ia merasa dianggap bukan siapa-siapa membuat ia merasa terluka.
__ADS_1
"Sayang, kamu percaya dengan mas kan?"Ia mengungkapkan penyesalan yang terdalam hingga menyebabkan Hani mengalami amnesia.
"Aku sedih karena mas tidak mempercayaiku, dan menyembunyikan fakta bahwa mas membantu mereka." Dalam ucapan yang ia katakan nampak Hani merasa kecewa, "Jika mas memang tetap ingin bersama Hesti bagiku tidak masalah. Kita akan membicarakan ini secara baik."
"Sayang, apa maksudmu?"
"Pernikahan jika didalamnya tidak ada unsur kepercayaan akan sulit untuk bertahan. Dan aku merasa kecewa padamu, mas .... " Hani berkata dengan getir.
“Sayang, mas akui memang sangat lemah sebagai laki-laki. Mas mudah diperdaya, tapi kamu harus tau, yang mas lakukan sekarang ini untuk kebaikan kamu dan anak-anak. Percayalah pada mas.”
Hani terperangah mendengar cerita suaminya. Haruskah ia percaya atau tidak pada Faiq, dan bagaimana ia bersikap ke depannya.
“Maafkan mas yang belum mampu menjadi suami yang sempurna untukmu.” Faiq menatap manik mata hitam sendu milik istrinya.
"Aku tidak tau harus berkata apa. Aku akan mencoba untuk memakluminya." desis Hani lirih.
Faiq terpaku melihat kependiaman Hani. ia tau sudah membuat istrinya kecewa dan terluka, tapi tidak pantaskah ia berjuang untuk anak-anak mereka.
"Sayang .... "
Hani tidak mempedulikan panggilan Faiq, Ia harus menata hatinya terlebih dahulu. Ia masih perlu proses untuk menyeimbangkan antara mulut dan hatinya.
Faiq menatap Hani yang kini berbaring membelakanginya. Dengan cepat Faiq membersihkan diri di kamar mandi. Sebelum mengerjakan PR yang sempat tertunda hampir dua tahun, ia harus mengisi staminanya dulu dengan vitamin dari tubuh Hani.
"Yang .... " Faiq mulai merapatkan tubuhnya pada Hani, "Mas tau kamu belum tidur."
Hani mulai merasa tidak nyaman karena Faiq mulai menggosok-gosokkan hidungnya ke leher jenjang milik Hani.
"Kamu cantik sekali malam ini, mas hampir tak mengenalmu .... " Faiq berkata jujur sambil senyum cengegesan mengingat ia terpana saat melihat Hani bersama ibunya tadi.
Hani melepas tangan Faiq yang membelit tubuhnya. Tetapi tangan kokoh itu malah mencengkeram semakin kuat.
"Kau tau, aku seorang lelaki pencemburu. Aku tidak suka melihat laki-laki lain memandang penuh damba pada istriku," desis Faiq lirih sambil meniup-niup telinga Hani.
__ADS_1
Hani tetap tak bergeming. Ia masih kesal dengan kebohongan suaminya. Melihat kediaman Hani, dengan sekali hentakan Faiq berhasil membuat Hani kini berbaring di atasnya. Ia menahan tengkuk istrinya dan mulai menyapu bibir mungil itu dengan mesra.
Hani jadi gelagapan. Ia berusaha menahan Faiq. Tapi kekuatan Faiq yang lebih besar membuat Hani tak berdaya, hingga akhirnya Hani terhanyut dengan permainan suaminya. Ia sudah paham dengan kemauan Faiq. Ia pun membalas senyuman suaminya dengan anggukan, dan akhirnya perselisihan antara suami istri itu bisa diselesaikan dengan menghangatkan ranjang mereka di malam yang semakin larut.