
Malam itu ballroom hotel telah disulap menjadi tempat pagelaran yang indah. Model-model cantik dari berbagai negara memakai gaun rancangan desainer terkenal kelas dunia. Perhiasan berlian juga turut dipamerkan membuat penampilan model begitu gemerlap.
Ivan berdiri berdampingan dengan Edward tetapi matanya fokus pada satu titik. Ia tidak mengomentari percakapan Edward yang mulai memilih model yang akan menemaninya malam ini.
Dari awal ia sudah melihat Khaira memasuki ballroom bersama dengan lelaki yang menemaninya siang tadi saat mereka bertemu di lobby. Tatapannya tajam memandang Khaira yang berjalan menghampiri mereka, karena kebetulan Peter juga bersamanya.
“Selamat malam Mr. Edmond,” Khaira hanya menyapa Peter, tersenyum sekilas padanya dan Edward.
“Anda sangat cantik sekali malam ini Mrs. Setyawan.” Peter memujinya saat Khaira sudah berada di hadapan mereka, “Wah, pasangan anda?”
“Teman kuliah, kebetulan masih di sini.” Khaira tersenyum pada Anwar yang tampak santai di hadapan para pengusaha terkenal itu.
“Dasar munafik,” batin Ivan kesal.
Ia sempat tidak menyangka Khaira menggunakan nama belakang Abbas pada namanya. Kekesalannya semakin meningkat saat Peter dan Khaira berbicara disertai candaan ringan yang ditimpali Anwar.
“Tampaknya Peter sudah bisa melupakan tunangannya,” perkataan Edward membuat kekesalan Ivan semakin meningkat, “Apa kamu mengaku kalah sebelum bertanding. Perempuan itu memang sangat menarik. Ku akui itu.”
Sebuah keberuntungan atau malah kutukan yang membuat Ivan duduk berdampingan dengan Khaira di meja VVIP. Ia tersenyum puas saat melihat Anwar kebingungan mencari Khaira di tengah para model yang memenuhi ballroom yang kemaren digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan, dan sekarang telah berubah menjadi tempat pagelaran busana serta perhiasan berlian tingkat internasional.
Sandra dan Anastasia seorang model internasional juga duduk diantara mereka bersama Edward. Kursi VVIP itu berisikan 6 orang. Melihat keakraban yang terjadi antara Peter dan Khaira membuat hati Ivan merasa panas. Ia tidak tau harus memulai berbicara apa. Sementara Peter begitu santai berbicara disertai candaan yang membuat Khaira tersenyum.
Edward meladeni percakapan antara Sandra dan Anastasia yang tidak bisa mengalihkan perhatian Ivan yang kelihatan datar di sampingnya.
Tatapan penuh makna terpancar di mata Peter. Ia mengulurkan sebuah kado kecil pada Khaira yang duduk di sampingnya.
“Apa ini?” Khaira terkejut saat melihat kotak kecil berhias indah yang diulurkan Peter padanya.
“Bukalah,” Peter tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
Khaira membuka kotak yang diulurkan Peter. Ia terpana memandangnya, sebuah bros berlian yang sangat indah membuat Sandra dan Anastasia memandangnya dengan raut tidak senang.
__ADS_1
“Hadiah ini terlalu mewah untukku,” Khaira menatap bros itu dengan perasaan tak nyaman. Ia yakin bros berlian yang diberikan Peter harga harganya pasti mahal.
“Berlian istimewa untuk perempuan istimewa.” Peter meraih tangan Khaira membuatnya terkejut.
Tak disangka Khaira Peter mengecup jemarinya dengan cepat. Tindakan yang dilakukan Peter membuat pipi Khaira memerah.
“Jangan menyalah artikan pemberianku. Ini hanya hadiah kecil dari seorang teman.” Peter berkata dengan santai, “Terima kasih atas kepercayaan yang telah kamu berikan pada perusahaan kami. Pagelaran malam ini sangat menakjubkan. Banyak rekanan yang tertarik dengan sample perhiasan yang kamu bawa.”
“Baiklah Mr. Edmond. Saya menghargai niat baik anda.”
Amarah Ivan memuncak. Ia berusaha menahan diri. Tangannnya meraih anggur yang terhidang di atas meja. Entah sudah berapa seloki yang ia nikmati.
Percakapan ringan yang terjadi antara Peter dan Khaira membuat Ivan terus menerus meminum anggur yang tersaji di atas meja.
Khaira memandang minuman yang tersaji di atas meja. Ia tidak berani menyentuhnya, semua mengandung alkohol, dan ia tidak ingin terjebak dalam kubangan dosa karena meminum sesuatu yang dilarang dalam kepercayaan yang ia anut.
“Sebelum pagelaran berakhir, Peter sebagai ketua penyelenggara Paris Fashion Week kali ini menyampaikan orasi penutupnya, dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya pagelaran dengan sukses.
Sandra dapat melihat tatapan Ivan yang berkali-kali tertuju pada gadis yang berpakaian tertutup di sampingnya. Ia berusaha mengingat, bahwa ia pernah melihat perempuan yang kini menjadi pusat perhatian Ivan.
“Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Ivan hanya milikku.” Batinnya cepat.
Setelah pagelaran berakhir, dengan segera Khaira berdiri. Ia ingin menghampiri Anwar yang tertahan berbincang dengan body guard yang menunggunya di depan pintu.
“Rara .... “ Ivan menahan Khaira yang hendak melangkah.
Khaira terkejut. Baru kali ini lelaki itu menyebut namanya. Ia menghentikan langkahnya menunggu apa yang ingin dikatakan lelaki dingin itu.
“Aku tidak menyangka sepeninggal Abbas kamu menjadi perempuan murahan, dan mudah dibuai dengan kemewahan.”
Khaira mengerutkan kening mendengar ucapan Ivan. Tatapannya tajam memandang Ivan dengan perasaan kesal.
__ADS_1
“Jika kamu mau aku bisa memenuhi segala kemewahan yang tidak bisa diberikan almarhum Abbas padamu,” Ivan berkata dengan raut datar.
Kemarahan menyeruak di benak Khaira. Ia merasa tersinggung mendengar perkataan Ivan. Ia tidak pernah memanfaatkan siapapun, kenapa lelaki di hadapannya menuduhnya gampangan dan mudah dibuai kemewahan.
“Saya tidak mengerti apa yang anda katakan tuan. Mohon maafkan saya jika pernah membuat anda tersinggung.” Khaira berusaha menahan emosinya.
“Perempuan di mana saja sama, silau dengan kemewahan. Aku merasa kasihan dengan Abbas begitu mudahnya dilupakan. Ternyata mantan istrinya sama saja dengan perempuan lain. Munafik!”
“Anda salah alamat.” Khaira masih berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak nyaman dengan dua perempuan beserta laki-laki yang kini memandangnya dan Ivan secara intens.
“Huh!” Ivan menatapnya dengan sinis, “Aku merasa kasian dengan Abbas. Banyak lelaki yang berada di kehidupan jandanya. Abbas tidak ada artinya, dia telah dilupakan.”
Tanpa sadar jemari Khaira meraih minuman yang berada di atas meja di hadapan Ivan, dan langsung menyiramkannya pada wajah lelaki sombong yang berbicara seenaknya di hadapannya, tanpa memikirkan kesedihan yang ia rasakan akibat perkataannya.
Ivan terkejut, tidak menyangka janda Abbas berani melakukan itu. Matanya memerah memandang Khaira dengan penuh kemarahan. Ia tidak pernah menyangka perempuan muda itu akan melakukan tindakan sefrontal itu padanya. Ia menyeka pipinya yang basah. Mata bening itu memandangnya dengan tajam menyiratkan raut permusuhan yang begitu nyata.”
“Setiap orang tidaklah sama. Simpan itu untuk diri anda sendiri.” Khaira menatap Ivan tanpa merasa gentar sedikitpun.
Ivan tersenyum sinis melihat Khaira yang berlalu meninggalkannya. Dengan cepat Sandra mengulurkan sapu tangan dari dalam tasnya. Ia merasa kesal rencananya tidak berjalan. Minuman yang disiramkan perempuan muda itu sengaja ia pesan khusus buat Ivan. Ia ingin menikmati malam ini bersama sang mantan dan berharap nasibnya akan kembali seperti semula keesokan paginya.
Tapi perempuan bodoh itu telah mengacaukan rencananya. Sandra mengumpat di dalam hati. Dan ia berusaha mengambil hati Ivan, tapi Ivan tidak peduli. Ia meninggalkan ballroom dengan perasaan kesal karena telah dipermalukan.
Edward mengejar langkahnya. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya melalui hal seperti ini seorang diri. Keduanya berjalan berdampingan memasuki ruang kerja Edward.
“Perempuan yang sangat menarik. Apa yang akan kau lakukan?” Edward memandang Ivan yang berdiri di balkon dengan berjuta perasaan bergolak di dadanya.
“Aku akan membuat perhitungan padanya. Aku akan membuatnya bertekuk lutut padaku.”
Edward tersenyum menanggapi kemarahan sahabatnya. Ia menepuk pundak Ivan berusaha menenangkan.
“Dia pikir setelah mempermalukanku akan ku lepas begitu saja. Tunggu saja pembalasanku yang akan selalu ia ingat seumur hidup.”
__ADS_1
“Malam yang istimewa untuk seorang Alexander Ivandra …. “ tawa Edward menggema.
Dukung aku ya... Like, kritik, saran dan vote untuk kebahagiaan bersama Khaira dan Ivan. Aku padamu reader semua ...