Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 130 S2 (Ijab Qabul)


__ADS_3

Roni dan Ivan menunggu dengan perasaan tegang. Mereka  yakin dengan apa yang mereka pikirkan dan telah diskusikan tadi. Ivan sudah memantapkan diri jika Abbas memintanya untuk menggantikan dirinya menjadi mempelai pria pada saat hari H nanti.


Jika memang Abbas menginginkan ia menjadi mempelai pria, maka Ivan mendapat keberuntungan lain, yaitu ia tidak akan dikejar mamanya lagi untuk mencari menantu. Toh, mereka berdua tidak akan melibatkan perasaan satu sama lain. Senyum tipis terbit di wajah tampannya membayangkan perasaan mamanya akan senang mengetahui ia telah memiliki seorang calon istri. Mamanya tidak akan menjodohkan dia dengan perempuan lain yang tidak ia kenal.


Sambil menunggu di luar ruangan keduanya menyibukkan diri dengan ponsel masing-masing berusaha mengusir ketegangan yang masih menyelimuti perasaan mereka. Roni berulangkali mengalihkan pandangan ke pintu, melihat pergerakan kalau-kalau ada yang keluar dari ruangan ICU.


Air mata Khaira semakin deras mengalir melihat Abbas yang semakin melemah. Pak Hasan ketua RT yang sudah seperti orang tua bagi Abbas juga berada di dalam ruangan yang sama dengan mereka. Ia diberitahu bu Ila tentang keadaan Abbas yang mengalami kecelakaan.


Tatapan Abbas begitu dalam terhadap Khaira. Berat rasanya ia meninggalkan perempuan yang selama 7 tahun ini selalu berada di sisinya. Tapi takdir berkata lain. Ia ingin Khaira menemukan pasangan yang tepat dan bisa membahagiakannya seumur hidup.  Ia merasakan kehangatan dari genggaman tangan Khaira yang tak lepas dari tangannya yang terasa kaku karena dibalut perban.


“Ka … mu ha … rus men … ca … ri peng … gan … tiku…. “ Abbas berkata dengan kesusahan.


“Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun. Aku hanya mau sama aa …. “ Khaira menolak keinginan Abbas untuk melepas dirinya.


“Lu … pa … kan … a … ku. Ka … mu … ha … rus … ba … ha … gia.” Suara Abbas bergetar saat mengatakan itu. Ia pun tak sanggup untuk melepas Khaira. Perasaan sayang dan cintanya sudah terlalu dalam pada Khaira tapi Allah berkehendak lain.


“Ibu, aku ingin menikah dengan a Abbas sekarang.” Khaira berkata dengan yakin. Ia tidak ingin menundanya lagi.


Pak Hasan, bu Ila dan Junior terkejut mendengar keputusan Khaira. Dokter Iqbal sudah membisikkan pada bu Ila bahwa waktu Abbas hanya tersisa tidak sampai dua jam.


“Nak, apa kamu yakin dengan keputusanmu?” bu Ila menatap Khaira dengan lekat. Ia tidak menyangka cucu kesayangan majikannya mengambil keputusan yang benar-benar sulit.


“Saya yakin bu. A Abbas lah satu-satunya suami saya di dunia dan akhirat kelak. Dan kami akan selalu bersama hingga akhir. Saya sangat mencintai aa ….” Khaira berkata tanpa melepaskan pandangannya dari Abbas. Keduanya saling bertatapan berusaha menyalurkan kasih sayang dari pancaran mata masing-masing.


Junior tercenung melihat kondisi Abbas yang memprihatinkan. Air matanya tanpa sadar menetes melihat interaksi antara kakaknya dan Abbas. Ia tidak tau harus berkata apa melihat pemandangan di depannya yang terasa menguras emosi.


“A … aku hanya ingin menjadi istri aa, baik di dunia maupun di akhirat. Maukah aa menikahiku?” suara Khaira bergetar saat menanyakan kesediaan Abbas untuk menikahinya.


Senyum tipis tersungging di bibir Abbas. Dengan kesusahan ia menganggukkan kepala. Ia akan membuktikan cintanya sampai akhir pada perempuan yang telah mengikat hatinya.


“Pak … Ha … san, i … bu … sa … ya … i … ngin … me … ni … kah … se … ka … rang ….”  Abbas berkata dengan lirih.


Bu Ila mengangguk tak mampu berkata-kata. Air mata mulai terjun bebas di pipi tirusnya yang mulai keriput di usia senja. Pak Hasan segera menghubungi pak Sugandi penghulu sepuh yang kebetulan tinggal di RT yang ia ketuai. Ia tersenyum puas setelah pak Sugandi menyanggupi untuk datang ke rumah sakit yang ia ceritakan.


Ivan dan Roni heran ketika melihat dua orang lelaki berpakaian safari dengan kopiah lengkap datang terburu-buru memasuki kamar ICU tempat Abbas dirawat.

__ADS_1


“Siapa mereka?” Ivan segera bangkit dari duduknya melihat kedua lelaki yang memasuki ruangan tempat Abbas dirawat.


“Mana saya tau bos.” Roni menggelengkan kepala dengan cepat, “Lebih baik  saya ke dalam  untuk melihat kondisi di dalam.” Roni minta izin pada Ivan untuk ke dalam ruangan ICU  mengetahui situasi terkini di dalam ruangan Abbas, langsung dibalas Ivan dengan anggukkan.


Ia terpaku melihat dua orang yang baru masuk sudah duduk di kursi di samping tempat tidur Abbas. Beberapa kursi juga di susun berjejer di samping tempat tidur Abbas. Di hadapan keduanya sudah ada meja lengkap dengan beberapa berkas yang tersedia di atas meja.


“Siapa yang akan menjadi wali dari pihak mempelai perempuan?” pak Sugandi memandang Khaira yang tak bergeming di samping Abbas.


“Saya adik kandungnya pak,” dengan cepat Junior menjawab. Ia sudah tidak sempat untuk memberitahu saudaranya yang lain. Mereka semakin dikejar waktu dan ia siap pasang badan jika saudaranya yang lain akan mengadili Khaira.


“Mas kawin apa yang telah disiapkan untuk calon mempelai perempuan dalam  pernikahan ini?” pak Asep asistennya pak Sugandi langsung menatap bu Ila yang masih terpaku menatap wajah Abbas yang semakin memucat.


Mereka saling berpandangan tidak bisa memutuskan, karena semua serba dadakan. Junior terpaku, begitupun  bu Ila. Mereka memang belum mempersiapkan mas kawin untuk pernikahan Abbas dan Khaira.


“Apa ada masalah?” tanya Roni cepat. Ia tidak ingin terombang-ambing dalam rasa penasaran yang tak pasti.  Menunggu di luar hanya membuatnya bosan, keputusan untuk masuk ke dalam ruangan membuat ia mendapat informasi penting yang tak pernah ia bayangkan.


“Keduanya akan segera menikah,” jawab pak Hasan cepat tidak ingin membuang waktu, “Ibu tidak memiliki barang berharga yang dipakai?”


Bu Ila menggelengkan kepala dengan cepat mendengar pertanyaan pak Hasan. Ia tidak pernah menggunakan perhiasan emas  karena riwayat alergi yang ia alami jika menggunakan perhiasan di tubuhnya.


“Biar saya yang akan pergi ke toko mas yang terdekat,” dengan cepat Roni  mengambil keputusan. Ia benar-benar tak menyangka apa yang ia dan Ivan pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Roni segera keluar dari ruangan. Bayangan toko perhiasan yang berada di mall depan rumah sakit  tergambar jelas di kepalanya. Di depan pintu Ivan menghadangnya karena melihat Roni yang tampak terburu-buru.


“Apa yang terjadi?” kejar Ivan cepat. Ia jadi penasaran karena tidak mengetahui apa yang berlangsung di dalam ruangan.


“Keduanya akan segera menikah. Aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi tidak ada mas kawin yang tersedia. Aku akan keluar mencarikan cincin buat mas kawin calon pengantin perempuan.”


Ivan meraba saku celananya. Senyum tercetak di wajah tampannya begitu yang ia cari sudah berada dalam genggaman. Ia ingat, cincin yang telah dibeli Roni untuk melamar Sandra beserta kotak kecilnya langsung ia simpan di saku celana saat mengunjungi Sandra siang tadi.


Roni terkejut  melihat kotak kecil beludru yang berisi cincin berlian diulurkan  Ivan padanya. Ia tau, harganya bukan kaleng-kaleng.


“Berikan ini pada Abbas. Ini hadiah untuk pernikahannya.”


Dengan cepat Roni menyambut kotak beludru itu dan kembali ke dalam ruangan. Semua yang berada di dalam ruangan sudah dalam keadaan tegang.

__ADS_1


Roni segera mengulurkan kotak beludru pada pak Hasan yang duduk di samping pembaringan Abbas. Ia menatap Khaira dengan prihatin. Dapat ia lihat wajah ayu yang kini sembab penuh air mata. Rasanya Roni tidak tega berada di dalam ruangan itu. Ingin rasanya ia menggantikan posisi Abbas  untuk menikahi perempuan yang telah membuat hatinya berdetak untuk pertama kali.


Pak Hasan segera memberikan kotak beludru pada bu Ila yang berdiri di samping Khaira yang tidak melepaskan genggamannya pada jemari Abbas.


“Sekarang kita akan langsung menikahkan keduanya,” pak Sugandi mengalihkan pandangan pada Junior yang tak kalah tegangnya duduk di samping Khaira.


Tidak banyak pesan disampaikan pak Sugandi karena dokter Iqbal sudah berkali-kali memberi isyarat untuk segera melangsungkan pernikahan berdasarkan permintaan kedua calon mempelai.


“Wali nikah silahkan membacakan ijab terlebih dulu sebagai tanda penyerahan dan langsung dijawab  oleh calon mempelai laki-laki menjawab qabulnya sebagai tanda penerimaan,” pak Sugandi mengalihkan pandangannya pada Abbas dengan perasaan sedih.


Junior menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya dengan pelan. Tangannya segera terulur menggenggam jemari tangan Abbas yang dibalut perban. Ia menguatkan hatinya agar bisa menjadi wali bagi kakak perempuannya yang kini menantikan dengan wajah tegang.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Abbas Setyawan bin Hasan Al Basri, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan kakak kandung saya Khaira Althafunnissa binti Faiq Al Fareza   dengan mas kawin sebentuk cincin berlian dibayar tunai.” Junior merasa pergerakan tangan Abbas yang berusaha menggenggamnya dengan kuat.


“Saya … terima …nikah dan kawinnya … Khaira Althafunnisa binti Faiq Al Fareza … dengan mas kawin tersebut … dibayar tunaii …. “ suara Abbas tersengal-sengal saat mengatakan itu.


“Bagaimana sah?” Pak Sugandi menatap saksi dokter Iqbal, Roni serta pak Hasan yang semakin tegang.


“Sah.” Roni dan Junior menjawab serentak.


“Tit … tit …. “ bunyi monitor semakin melemah.


Wajah Abbas semakin memucat. Tatapannya lurus memandang Khaira yang kini mulai mendekatkan wajahnya.


“A … aku mencintaimu. Terima kasih atas waktu berharga yang selama ini telah kita lalui bersama ….” ujar Khaira lirih.


Tanpa mempedulikan pandangan keprihatinan dari semua yang berada di dalam ruangan ICU tersebut, Khaira mulai mengecup bibir, pipi kiri dan kanan hingga terakhir di kening Abbas.


“Aku merelakan aa … tunggulah aku di pintu surga …” Khaira berusaha menahan air mata yang sudah siap terjun bebas.


Bibirnya dengan bergetar mulai membimbing suaminya membaca talkin yang diikuti Abbas dengan suara lirih. Akhirnya Khaira tak mampu menahan air mata begitu genggaman di tangan Abbas terlepas, dan mata Abbas tertutup sempurna dengan wajah mengulas senyum tipis.


“Innalillahi wa innailaihi roji’un ….” dokter Iqbal segera menutup wajah Abbas dengan kain putih yang tersedia di samping tempat tidurnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2