
Hari akan kembali ke Jakarta siang ini dan akan menjemputnya, tetapi Ivan menolak. Ia mengatakan akan menambah liburan mereka satu hari lagi. Ivan mengakhiri pembicaraannya dengan Hari, senyum lebar tercetak di wajah tampannya.
Ia memandang sekelilingnya, sudah tidak nampak bayangan sang istri. Tangannya masih memegang gaun tidur yang membuat Khaira menjauh. Senyumnya terkembang membayangkan bahwa sang istri akan memakainya malam ini.
Ivan mengalihkan pandangan ke tempat tidur. Ia melihat sosok Khaira yang terbaring dengan menggunakan mukena yang masih menutupi tubuhnya. Ivan berjalan mendekat dan duduk di pembaringan.
Ia membelai wajah ayu sang istri yang tertidur dengan nafas teratur. Dengan pelan Ivan membuka mukena yang menutup wajah Khaira. Ia tertegun, ternyata istrinya tidak memakai atasan, karena kain mukena menutup hingga ke dadanya.
Senyum terbit di wajah Ivan melihat tanda cinta yang dibuatnya tadi malam hampir memenuhi leher dan dada istrinya. Ia mencium kening Khaira dengan sepenuh hati. Tak lupa ia mendaratkan bibirnya di telaga madu yang tak bosan-bosannya untuk berenang di sana dan menghisap madu yang hanya miliknya sejak dulu hingga sekarang.
Khaira tidak terganggu dengan ulah suaminya. Ia benar-benar lelap dalam tidurnya. Tubuhnya pun selama ini memang kurang istirahat. Berbagai musibah dan kejadian membuatnya kurang tidur, dan kini ia merasakan kenyamanan begitu tubuhnya mendarat di tempat tidur.
“Kalau seperti ini diapain juga gak bakal bangun,” Ivan geleng-geleng kepala melihat Khaira yang tak bereaksi dengan ciumannya.
Kalau tidak memikirkan perutnya yang sudah meronta pingin diisi, rasanya Ivan ingin menenggelamkan diri ke dalam selimut dan memeluk Khaira sepanjang hari. Ia segera bangkit dari tempat tidur begitu terdengar ketukan di pintu.
Layanan kamar datang dengan membawa beberapa menu sarapan pagi. Ivan tersenyum melihat menu yang sangat menggugah selera. Sebelum OB berlalu dari kamar inap mereka, Ivan meminta OB untuk membawakan pakaian mereka agar dilaundry.
Ia sudah bertekad menjadikan Khaira satu-satunya ratu dalam rumah tangga mereka. Tidak akan ia biarkan Khaira mengerjakan apa pun di rumah. Ia akan membayar waktu tiga tahun dengan memanjakan Khaira dan memberikan seluruh waktu yang ia miliki untuk keluarga kecilnya.
Ivan meraih ponsel Khaira di atas nakas. Ia tidak memiliki nomor Ariq, terpaksa menggunakan ponsel sang istri. Ia akan menelpon Ariq untuk memberitahukan bahwa kepulangan mereka diundur besok pagi.
“Assalamu’alaikum,” suara Ariq langsung menyambut panggilannya, “Ada apa De?”
“Ini Ivan mas,” Ivan menjawab dengan cepat.
“Bagaimana keadaanmu?” Ariq teringat kalau kondisi adik iparnya drop.
“Alhamdulillah udah mulai fit, mas.”
“Syukurlah,” Ariq merasa lega mendengar jawaban Ivan, “Sekarang kalian udah di jalan?”
Ivan menggaruk kepala yang tidak gatal, “Sebenarnya … aku dan Rara akan pulang besok pagi mas …. “
“Rara mana?”
“Masih tidur ….”
Ariq menahan senyum. Ia sangat paham maksud pembicaraan Ivan, “Baiklah. Jangan khawatir Fajar dan Embun baik-baik saja.”
“Terima kasih mas, assalamu’alaikum …. “
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
__ADS_1
Ivan langsung menutup ponsel dengan perasaan lega. Bukannya ia egois dan memikirkan diri sendiri, tapi ia tau, si kembar berada di tangan yang tepat. Ia hanya ingin mencurahkan rasa rindu yang teramat dalam pada sang istri. Dan ia tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang telah diberikan Ariq untuk merajut kasih bersama Khaira sang bidadari tercinta.
“Yang… “ Ivan mengusap pipi Khaira untuk membangunkannya, “Kita sarapan dulu yok ….”
“Hm …. “ Khaira merasa terganggu dalam tidurnya.
“Yang, kalo gak bangun …..” Ivan langsung tersenyum melihat Khaira membuka mata dengan enggan, “Sandaran aja di sini.”
Ia langsung menyusun bantal agar Khaira tetap di tempat tidur. Ia melihat mata istrinya masih berat untuk membuka. Dengan telaten ia mulai menyuapi Khaira yang masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
“Sarapan dulu, mas gak mau kamu masuk angin,” Ivan mengulurkan sendok yang berisi nasi goreng ke bibir istrinya. Senyumnya langsung mengembang melihat Khaira menerima suapannya dengan mata yang menatapnya sayu, “Capek ya …. “
Mata Khaira yang tadinya masih terasa berat langsung mendelik mendengar godaan suaminya. Tapi ia tetap menerima suapan demi suapan yang Ivan berikan tanpa menjawab perkataan Ivan, hingga nasi goreng bersih tak bersisa.
“Alhamdulillah habis juga. Lumayan nambah energi balapan siang ini,” Ivan tersenyum sambil mengedipkan mata pada istrinya yang kembali cemberut.
Khaira menarik selimut hingga ke leher menyadari maksud terselubung dari perkataan suaminya. Ia baru sadar kalau mukenanya sudah terlepas entah di mana.
“Jangan manyun, itu bibir mau disedot ya?”
Khaira langsung menenggelamkan dirinya ke dalam selimut dan melanjutkan istirahatnya yang terganggu dengan ulah suaminya.
Ivan mengecup kepala istrinya yang sudah tertutup selimut tebal. Ia merasa lega karena Khaira telah sarapan bersamanya. Ia segera menghabiskan beberapa potong roti serta segelas kopi hangat yang turut tersaji di troli.
“Istirahatlah sayang, masih banyak PR yang akan kita kerjakan nanti malam,” ujarnya sambil tersenyum membayangkan rencana yang sudah ia susun untuk menutup malam.
“Selamat siang Tuan …. “ seorang OB datang sambil membawa sebuah memo di tangannya, “Maaf ada seseorang yang ingin bertemu anda. Katanya penting Tuan.”
Ivan menyambut kertas kecil yang diulurkan OB tersebut. Ia membacanya sekilas. Tampak tulisan tangan yang menunjukkan sebuah kamar di dalam hotel yang sama dengannya.
“Perempuan atau laki-laki?” Ivan menatap OB itu dengan tajam.
“Maaf, gak tau Tuan. Saya hanya dititipi ini dari resepsionis.”
Ivan melihat kepergian OB sambil berpikir keras berusaha mengingat mungkin ia ada janji temu. Tapi pikiran Ivan buntu. Ia melihat Khaira yang masih lelap dalam tidurnya. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Ivan melangkah keluar dari kamarnya.
Sebelum menuju kamar seperti yang tertera dalam catatan kecil di tangannya Ivan menemui satpam hotel. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan ia harus antisipasi sedini mungkin.
Dengan didampingi satpam Ivan mengetuk pintu kamar nomor 16 yang berada di bangunan yang berbeda dengan kamar tempat inapnya dan Khaira.
Pintu kamar terbuka. Ivan melihat Sandra hanya menggunakan gaun tipis dan menonjolkan perutnya yang besar. Ivan menatap Sandra dengan tajam.
“Akhirnya kau datang juga,” senyum cerah terbit di wajah Sandra, “Masuklah ….”
__ADS_1
“Tidak perlu,” jawab Ivan cepat, “Kita sudah tidak ada hubungan apa pun Sandra. Jangan pernah mengusik kehidupan kami.”
“Van …. “ Sandra berusaha meraih tangan Ivan.
Ia terkejut ketika membuka pintu dengan lebar melihat satpam yang berdiri di samping Ivan. Ia tak menyangka Ivan benar-benar tidak mempedulikan keberadaan dirinya.
“Kenapa ada satpam di sini?” Sandra tidak senang melihat Ivan tidak datang sendiri karena ada petugas pengaman yang mengikutinya.
Sepulangnya mereka tadi malam, Sandra memisahkan diri dari rombongan Roni dan istrinya. Ia nekat membawa mobil sendiri untuk kembali ke hotel. Ia belum menyerah untuk mendapatkan perhatian Ivan kembali.
“Tidak adakah sedikitpun ingatanmu tentang masa lalu kita?” Sandra tidak peduli walaupun ada satpam diantara mereka.
Ia berjalan mendekati Ivan yang tetap tegak di luar kamarnya. Diluar dugaan Ivan, Sandra langsung memeluknya, membuat satpam yang berdiri di sampingnya membuang muka dan hendak melangkah karena merasa tidak nyaman dengan pemandangan di hadapannya.
“Jangan pergi,” Ivan berkata pada satpam untuk tetap menunggunya. Ia tak ingin terjebak dengan permainan Sandra.
Ia mencekal tangan Sandra dengan kuat. Membuat Sandra terpaksa melepaskan tangannya yang terlanjur memeluk tubuh kokoh yang selalu ia bayangkan di kesunyian malam. Kalau saja tidak memikirkan kehamilan Sandra, Ivan akan mendorongnya.
“Aku selalu mencintaimu …. “ Sandra berkata dengan lirih menahan nyeri akibat cekalan Ivan sehingga membuat tangannya kemerahan, “Jadikan aku yang kedua. Aku akan melahirkan keturunan untukmu.”
“Jangan pernah bermimpi Sandra. Aku tidak pernah memungut barang bekas,” Ivan menatap Sandra dengan kesal, “Dan aku sudah melupakan semua masa lalu. Semua tidak ada artinya buatku.”
“Perempuan itu tidak akan bisa memberikan keturunan padamu,” Sandra berkata penuh percaya diri, “Ayolah Van, kita bisa memulainya dari awal.”
“Kau tau Sandra, siapa pun yang merendahkan Rara akan ku kirim ke penjara. Apa kau ingin bernasib sama dengan Claudia? Selamanya akan membusuk di penjara.”
Sandra terdiam mendengar perkataan Ivan. Ia tak percaya Claudia yang telah membanggakan dirinya karena melahirkan Bryan satu-satunya penerus Ivan telah dipenjara. Sebelum pertemuan mereka di Singapura, Claudia biasa memposting kebersamaan ketiganya di medsos membuat Sandra merasa cemburu dan menyesali perselingkuhan yang membuat Ivan menjauh darinya.
Dari postingan Claudia ia melihat bahwa Ivan sering membawa Claudia dan putranya makan dan berbelanja di tempat-tempat mewah di luar negeri. Ia benar-benar termakan omongan Claudia yang mengatakan bahwa Ivan memanjakan dirinya dan Bryan dengan segala kemewahan yang dimiliki lelaki tajir itu. Ia tidak mengetahui bahwa Bryan telah meninggal.
Ketika bertemu Claudia bersama George di Singapura, dan melihat Ivan yang hanya berdua Edward membuatnya yakin kalau keduanya telah berpisah. Ia tidak tau penyebab perpisahan yang terjadi, karena sikap Ivan begitu dingin bahkan tidak menyapa Claudia sama sekali.
“Jika tidak ingin bernasib sama dengan Claudia, jangan pernah muncul dihadapanku. Aku tidak akan segan untuk mengirimmu ke penjara,” tegas Ivan.
Sandra tak berani untuk berbicara lagi. Ternyata ia salah. Ivan bukan lagi lelaki idaman yang membuatnya melayang seperti masa lalu.
“Siapa pun yang mencoba untuk mengganggu ketenteraman rumah tanggaku, ku jamin hidupnya tidak akan tenang. Camkan itu!”
Tatapan Sandra nanar mengikuti langkah Ivan yang berjalan menjauh dengan satpam yang setia mengawalnya hingga keduanya menghilang dari pandangannya. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya yang membuat Ivan meninggalkannya. Kalau saja ia bisa menahan nafsu sesaat, saat ini dialah perempuan paling beruntung yang mendapatkan semuanya dari Ivan.
“Terima kasih pak,” Ivan menyalami satpam dan memberikan beberapa lembar pecahan ratusan ribu sebagai tips karena telah menemaninya menemui tamu yang tak ia harapkan.
“Sama-sama Tuan,” Satpam yang bernama Budi merasa bahagia sekali atas tips yang diberikan Ivan padanya, “Jika ada yang dibutuhkan saya siap membantu.”
__ADS_1
Ivan menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia berjalan kembali menuju kamar inapnya berharap Khaira masih bergelung di dalam selimut. Ia sudah membayangkan akan menghabiskan waktu seharian ini di kamar tanpa gangguan siapa pun. Ia benar-benar akan memanfaatkan waktu siang ini hingga malam nanti, sebelum kepulangan mereka esok hari.
***Seneng dengan komentar para kesayangan yang merasa puas dan ikut berbahagia karena babang Ivan dan akak Rara sudah ea ea ..... Happy weekend buat reader yang selalu menunggu. Salam sehat untuk kita semua...***