Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 191 S2 (Kembali ke Rumah)


__ADS_3

“De, kapan kamu kembali ke rumah suamimu?” Hasya bertanya pada Khaira saat mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi.


Hasya baru pulang tugas malam, sedangkan Valdo bertugas di siang hari. Ia berusaha membujuk Khaira untuk kembali ke rumah suaminya setelah tiga hari keluar dari rumah sakit. Kini sudah empat hari Khaira menginap di rumahnya. Terus terang ia tidak nyaman sama tante Laras dan Ivan, tapi mau bagaimana lagi.


Ariq, Ali dan saudara yang lain tidak banyak membantu. Mereka tau kekerasan hati Khaira, sangat sulit untuk mengubah keinginannya. Ia merasa kasian sama Ivan yang selalu menanyakan keadaan istrinya, sudah makan atau belum, apakah istirahatnya cukup, dan tete* bengek lainnya yang tak luput dari pertanyaan Ivan.


“Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Melihat wajahnya saja buat aku muak,” jawab Khaira seketika.


“Nggak boleh seperti itu lho dek. Ntar kualat, dosa meninggalkan rumah suami tanpa izin.”


“Hatiku masih sakit mbak.”


“Itu artinya kamu mencintai suamimu,” tebak Hasya, “Apa kamu telah jatuh cinta pada Ivan? Tapi wajar sih, suamimu itu kan tampan. Bodynya euy ….”


“Mbak …. “ Khaira melotot mendengar ucapan Hasya.


“Emang bener kamu udah cinta sama suamimu?” Hasya jadi penasaran dengan pelototan Khaira.


“Istri mana sih yang nggak sedih liat perempuan lain sekamar dengan suaminya. Aku merasa kesal, apalagi melihat keduanya berpelukan.”


“Cemburu tho …. “ Hasya semakin semangat untuk mengetahui sejauh mana perasaan adiknya terhadap Ivan.


“Nggaklah, hanya kesel aja,” jawab Khaira cepat.


Hasya terdiam. Ia belum berhasil mengorek perasaan Khaira yang sesungguhnya terhadap Ivan. Walau ia yakin mungkin sedikit rasa telah ada di hati adiknya, hanya memang perlu waktu yang lebih untuk membuktikan semua.


Om Sadewo dan istrinya merasa malu saat Ivan datang ke rumah mereka. Ivan mengingatkan Irene untuk menjaga kelakuannya. Apa lagi ia seorang dosen. Ivan akan menuntut ke pihak berwajib serta pihak kampus untuk menon aktifkan Irene jika melakukan pelanggaran yang membahayakan nyawa orang lain.


Irene menangis di depan keluarga besarnya, dan minta maaf atas keisengan yang ia lakukan. Ia berjanji tidak akan mengulangi semua perbuatan buruknya. Ia siap dipidana jika terbukti melakukan pelanggaran lagi.


Walau pun tidak puas dengan keputusan yang diambil mamanya dan pihak oma Darwis, terpaksa Ivan menyetujuinya. Dan ia berharap jika suatu saat ada pertemuan keluarga, ia harap Irene menjaga jarak darinya. Dengan terpaksa Irene menandatangi perjanjian dengan saksi semua saudaranya termasuk kedua orang tuanya. Ia masih menyintai profesinya sebagai dosen.


Ivan merasa sedih, karena semenjak keluar dari rumah sakit Khaira di bawa Hasya mengingap di rumahnya. Otomatis sudah seminggu ia tidak melihat wajah ayu istrinya. Rasa kerinduan hampir menyesakkan dada. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang dapat ia lakukan hanya berdoa memohon kepada Sang  pemilik hati untuk membuat hati istrinya tersentuh dan kembali ke pelukannya.


Selama seminggu ini ia tidak pulang ke rumah. Terus bekerja tanpa ingat waktu, untung lah Roni selalu mendampingi dan mengingatkannya agar tidak putus-putusnya berdoa agar hati istrinya bisa tersentuh.


Oma Marisa dan bu Ila datang mengunjungi Khaira setelah seminggu ia menginap di rumah Hasya. Keduanya merasa tidak nyaman dengan besan mereka yaitu Laras, mereka pun kasian dengan Ivan yang selalu menanyakan keadaan istrinya.


Oma merasa lega melihat Khaira yang sudah tampak sehat sedang bermain bersama Babby A di ruang keluarga.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu sayang?” oma Marisa bertanya penuh perhatian sambil memeluk cucu kesayangannya tersebut.


“Alhamdulillah oma, sudah lumayan,” Khaira tersenyum manis sambil memeluk oma dengan hangat kemudian memeluk bu Ila yang juga menatapnya dengan penuh kasih.


Suasana hening sejenak. Hasya segera mengambil Babby A. Ia khawatir rengekan si bocah akan mengganggu percakapan yang terjadi antara ketiganya.


“Nak, apa kamu tidak ingin pulang ke rumah suamimu?” oma bertanya dengan hati-hati. Ia tau pertanyaan  itu sangat sensitif.


Khaira tercenung. Ia menatap oma dengan hati sedih. Kembali ke rumah itu hanya mengingatkan ia tentang kehilangan yang ia alami.


“Ingat nak, kamu telah memiliki suami. Kamu pasti tau, semua yang terjadi itu sudah takdir Allah. Apalagi ini bukan kesalahan Ivan,” oma Marisa menatap cucunya dengan lekat, “Irene mohon maaf dengan tulus padamu. Ia tau, kesalahannya sangat fatal.”


Khaira terdiam. Ia tau, Hasya pun sudah bercerita banyak padanya. Tapi ia tidak punya alasan yang tepat untuk kembali bersama Ivan. Perasaannya hampa, jiwanya kosong.


“Jika kamu belum mempunyai perasaan padanya, ingatlah Allah Maha pembolak balik hati. Kamu masih tanggung jawab suamimu. Ivan sudah membuktikan pada keluarga kita bahwa dia adalah lelaki yang bertanggung jawab.” Oma menatapnya dengan mata berkaca-kaca, “Dia selalu datang untuk melihat keadaanmu.. Jika kamu sudah tidur baru ia kembali ke rumah. Ivan sangat mengkhawatirkanmu… Tidakkah kau memikirkan perasaannya.”


 


 


“Aku  sedih karena  kehilangan bayiku oma. Mereka telah membunuhnya,” ujar Khaira lirih.


Khaira mulai terisak-isak mendengar perkataan oma. Ia menangis memeluk oma dengan erat. Perkataan oma cukup menyentuh perasaannya.


“Ivan lelaki yang baik. Oma melihat sosok almarhum Abbas pada dirinya. Kalian berdua masih sama-sama muda. Masih banyak waktu untuk memiliki seorang anak. Yang penting bukalah hatimu. Kamu akan melihat kebaikan pada diri Ivan.”


Air mata Khaira tak berhenti menetes mendengar perkataan oma Marisa. Ia berusaha menghapus air mata yang mengalir, tapi tetap saja isaknya tak berhenti.


“Jadilah istri yang berbakti pada suami. Jadikan rumahmu sebagai surga di dunia dimana  tempat teraman dan ternyaman untuk kembali. Ingatlah bundamu, seorang perempuan yang patuh pada suami, surga-lah tempat untuk kembali.”


Bu Ila turut meneteskan air mata mendengar pembicaraan keduanya.


Entah kenapa malam ini Ivan merasakan kerinduan untuk kembali ke rumah setelah seminggu lebih ia menginap di kantor tanpa memberi kabar pada Laras yang mengkhawatirkan keadaan dirinya.


Roni lah yang mengurus segala  keperluannya sehari-hari. Ia tidak pernah mengeluh melayani bosnya. Ia pun merasa berduka saat mendengar cerita Ivan tentang keguguran yang dialami Khaira.


“Tenang aja bos. Kan masih bisa bikin lagi kapan-kapan,” jawabnya santai saat Ivan menceritakan kesedihan yang sedang ia alami, “Bos masih muda, nyonya pun sama. Yang penting rajin aja bercocok tanam.”


Ivan hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Roni. Padahal ia sedang bersedih, tapi mendengar jawaban absurd Roni membuat senyum tipis muncul dari sudut bibirnya.

__ADS_1


“Lagakmu Ron, seperti orang yang sudah pengalaman saja.”


“Ya lah bos, gini-gini saya kan suka baca buku agama dan dengar ceramah ustadz. Yang penting jangan lupa berdoa saat bercocok tanam, biar hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan,” ujar Roni sok tau.


Senyum Ivan terkembang, “Doakan yang terbaik untuk hubunganku dan Rara ya, Ron. Mungkin doamu lebih cepat terkabul. Karena Allah kasian dengan wajahmu yang sangat memelas dan memprihatinkan,” ujar Ivan seraya menyambar jasnya.


Sontak Roni terkejut mendengar perkataan Ivan yang menyanjungnya tapi langsung menghempaskan kembali ke dasar bumi.


“Bos mau kemana?” Roni merasa heran, karena jam segini biasanya Ivan masih berjibaku dengan tumpukan berkas di atas mejanya.


“Aku rindu dengan kasur di rumah,” jawab Ivan santai, “Kau tak perlu mengantarku pulang. Aku akan menyetir sendiri. Kau bawalah mobil perusahaan.”


“Siap bos. Semoga tidurnya nyenyak malam ini.”


Ivan hanya tersenyum mendengar ucapan Roni, asistennya yang terlalu polos dalam urusan percintaan berbeda dengan Hari yang seorang player diantara asisten yang ia miliki.


Saat Ivan kembali ke rumah ia merasakan suasana yang berbeda. Rasanya rumah begitu tenang dan nyaman. Ia mengerutkan kening berusaha memikirkannya. Atau mungkin saja karena seminggu tidak kembali suasana sudah berubah.


Wajah-wajah art yang menyambut kedatangannya juga lebih cerah dari biasa. Senyum hangat terpancar di wajah masing-masing.


“Tuan ingin makan malam sekarang?” bi Risma dengan cekatan menghampiri majikannya yang baru melangkah menuju kamar.


“Tidak udah bi. Tadi sore saya sudah makan dengan klien.”


“Baiklah tuan. Saya permisi dulu, selamat malam.”


Ivan menganggukkan kepala dengan santai. Saat memasuki kamar, ia melihat hanya lampu tidur yang masih menyala.


“Ah, mungkin bi Risma lupa menghidupkan lampu,” monolognya dalam hati.


Ivan langsung melangkah ke kamar mandi  membersihkan diri, tidak lupa ia mengambil wudu karena belum melaksanakan salat Isya.


Setelah melaksanakan salat Isya, Ivan langsung membaringkan diri di tempat tidur. Ia terkejut saat merasakan sesuatu yang hangat di pembaringan. Dengan cepat Ivan meraih remote untuk menyalakan lampu kamar.


Kamar langsung terang benderang. Ivan menyingkap selimut. Ia terkejut sekaligus terpana menyadari sosok yang ia rindukan tertidur dengan tenang di pembaringan. Rasa bahagia langsung memenuhi segenap hatinya mengetahui sang bidadari kembali ke pelukan.


Ivan kembali mematikan lampu dan langsung menggulung dirinya di dalam selimut untuk merasakan kehangatan dan kelembutan yang sudah ia rindukan seminggu terakhir ini.


*** Author  lagi balas dendam\, seharian nggak up di tanggal 1\, kena batuk dan kepala pusing.  Dukung terus ya. ..***

__ADS_1


__ADS_2