
Jam Sembilan pagi Faiq sudah sampai di rumah. Karman belum berani membuka suara. Dia membawa travel bag yang berisi pakaian Faiq selama bepergian dan menyerahkan kepada istrinya. Suasana rumah terasa sepi. Faiq tidak mendengar celotehan Hasya yang biasa bersenandung bersama Lina. Mungkin Hani membawanya ke restoran, Faiq mencoba berpikiran positif. Ia yakin si kembar juga masih di sekolah.
Saat melangkah menuju kamarnya, Faiq merasakan ada yang hilang. Tapi ia tidak tau apa itu. Dengan pelan Faiq memasuki kamar. Ia merasa aneh, kamarnya hening seperti tak berpenghuni. Matanya terpaku melihat tidak ada lagi foto pernikahan mereka terpajang di sana. Perasaan khawatir mulai menyergapnya. Faiq membuka lemari pakaian Hani. Ia terpaku, melihat tidak ada satupun yang tertinggal di sana.
“Bi Ningsih…” teriakan Faiq menggema hingga ke lantai dasar. Tak pernah ia mengeluarkan suara seperti itu membuat Ningsih dan Karman tergopoh-gopoh naik ke lantai dua dan memasuki kamar majikan mereka.
“Ada apa, den?” Ningsih bertanya dengan raut khawatir melihat wajah Faiq yang memerah.
“Sudah berapa lama Rara meninggalkan rumah?” suaranya berpacu dengan waktu ingin mendapat jawaban secepatnya.
Ningsih memandang Faiq dengan raut sedih. Ia menunduk, “Saat aden dan nyonya Hesti pergi dari rumah, taklama kemudian den Hanif datang menjemput membawa mereka semua pergi.”
“Ya Allah, Rara. Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau berjanji untuk bertahan dan berjuang bersamaku?” Faiq terpaku dan menghenyakkan tubuhnya di lantai kamar menunduk penuh kesedihan. Setiap sudut ruangan terasa ada bayangan Hani. Kemesraan mereka masih tergambar jelas di pelupuk matanya.
Harapannya untuk menyiapkan pesta kejutan merayakan ulang tahun Hani, malah memberinya kejutan yang bertubi-tubi. Hani pergi membawa ketiganya meninggalkan ia sendiri. Faiq tidak menyangka Hani akan melakukan itu. Padahal mereka berdua sudah berjanji akan saling menguatkan dan menjalani semuanya bersama-sama. Tapi Hani mengingkari janjinya untuk bertahan di sampingnya dan tetap berada di sisinya walau apapun yang terjadi.
Faiq meremas rambutnya dengan kasar. Ia yang bersemangat sejak memasuki rumah kini hilang tak berbekas. Badannya terasa lunglai tak bertenaga. Ia benar-benar sedih dan merasa kehilangan. Bibirnya membeku, tidak tau harus berkata apa. Kepergian Hani dan ketiga anaknya membuat ia terpuruk tak berdaya.
Setelah beberapa waktu meratapi kesedihannya, Faiq melangkah dengan lunglai ke kamar mandi. Sambil mengguyur tubuhnya dengan air dingin, begitupun air mata Faiq terus mengalir terjun bebas tak terbendung. Ia menangisi nasib dirinya yang ditinggal istri dan anak-anaknya. Ia belum siap berada dalam kondisi seperti ini.
Dengan langkah lunglai Faiq duduk di meja rias. Alat-alat kosmetik yang biasanya tersusun rapi, kini bersih tak tersisa. Ia menarik laci meja rias tersebut. Keningnya berkerut, sebuah kertas putih terlipat dua tersimpan di dalam laci meja tersebut. Faiq meraih kertas tersebut, tampak tulisan Hani yang rapi terbaca dengan jelas di sana.
Maafkan aku,
karena tidak bisa menjadi bidadari seperti yang mas harapkan.
Aku bersama anak-anak akan menjauh dari Hesti sesuai keinginannmu. Jadi mas nggak perlu khawatir untuk meninggalkan Hesti di rumah.
Mungkin kebahagiaan mas bukan bersamaku dan anak-anak.
__ADS_1
Aku lelah
Aku menyerah
Jika bahagiamu bersama Hesti, Aku akan merelakanmu.
Faiq mengepalkan jemari tangannya dan memukul meja rias tersebut dengan perasaan kecewa sekaligus marah. Keberadaan Hesti, serta kebaikan yang telah ia lakukan telah disalahgunakan Hesti dan Dewi. Ia telah menyakiti perasaan Hani dan anak-anaknya.
“Ya Allah. Kuatkan hamba-Mu dalam menjalani ujian hidup ini. Jagalah istri dan anak-anak hamba dimanapun mereka berada ya, Allah. Izinkan hamba untuk segera bertemu mereka kembali. Hamba tidak sanggup jauh dari istri dan anak-anak hamba…” kembali air mata Faiq terjun bebas di tikar sembahyang.
Tiada tempat untuk ia mengadukan segala kesedihan serta kedukaan yang kini menderanya. Bayangan kemarahannya di meja makan tergambar jelas di ingatannya. Mata bening Hani tampak berkaca-kaca saat ia dengan penuh emosi menumpahkan kekesalannya atas sikap si kembar pada Hesti.
“Seberapa dalam luka yang aku torehkan, Ra. Sehingga kau dan anak-anak tega pergi dariku. Tidak ada satupun yang mampu memberiku kebahagiaan selain dirimu dan anak-anak. Aku tidak pernah menginginkan kau dan anak-anak menjauh dariku.” Mata Faiq menatap nanar ke jam dinding yang terus berdetak menunjukkan pukul 2 dinihari.
Bayangan wajah Hani yang menginginkan nasi Padang kembali hadir di benaknya. Ia tau, malam itu Hani tidak memakan apa yang telah disediakan Dewi, karena ia sedang mengidam, tetapi Faiq kembali memarahinya. Berarti malam itu ia membiarkan Hani dan calon bayinya kelaparan.
“Ya Allah, ampuni hamba telah menjadi suami durhaka bagi istri hamba…”
Dengan lunglai Faiq melangkah ke kamar mandi. Ia langsung membasuh muka untuk mengambil wudu. Ia ingin kembali mengadu kepada Sang Maha pembolak-balik hati. Hanya kepada-Nya ia memohon untuk menguatkan dirinya hingga kembali menemukan istri dan anak-anaknya serta membawa mereka kembali ke dalam pelukannya.
Hingga fajar terbit dari ufuk timur, baru Faiq menghentikan aktivitasnya. Ia membaringkan tubuhnya di tikar sembahyang. Rasa mual karena tidak ada keinginan untuk makan membuat tubuhnya terasa lemah.
Faiq tidak menyangka perbuatannya memarahi Ariq dan Ali berdampak besar pada Hani. Ia menggenggam kertas yang berisikan tulisan tangan istrinya dengan perasaan berkecamuk. Hani dan anak-anak telah pergi meninggalkannya. Dengan langkah gontai Faiq turun ke bawah. Tidak ada satupun foto Hani dan anak-anak yang tersisa di sana.
“Begitu marahkah kau padaku, sayang.” Faiq mengusap wajahnya dengan kecewa bercampur sedih. Asisten rumah tangganya yang lain tidak ada yang berani mengeluarkan suara karena takut dengan ancaman Hesti dan Dewi.
__ADS_1
Dengan perasaan sedih Faiq melangkah menuju ruang kerjanya. Ponselnya berbunyi, Faiq melihat nama Hesti yang tertera di sana. Ia langsung meletakkan ponsel di meja kerja tanpa berniat untuk mengangkatnya. Faiq mulai menghidupkan kamera cctv dengan menghitung mundur harinya sejak 3 minggu terakhir.
Matanya meneliti tiap bagian yang terpasang cctv. Pandangannya mulai fokus dengan kedatangan Hesti ke rumah bersama ibunya. Semuanya normal tanpa ada yang mencurigakan. Untuk bagian yang tidak penting, ia memutarnya dengan cepat.
Faiq memandang saat ia menggendong Hesti yang baru keluar dari rumah sakit karena tersenggol motor di depan rumahnya. Semuanya tampak baik-baik saja. Hesti yang dirawat Dewi tampak santai di kursi roda.
Faiq mulai merasakan kejanggalan saat melihat Dewi dan Hesti mencampurkan sesuatu pada makanan dan minuman Faiq yang terletak di atas meja makan. Ia mengernyitkan dahinya. Faiq terus mengamati perbuatan keduanya, hal itu terus berlangsung setiap pagi dan saat makan malam. Hari selanjutnya, saat semua sudah pergi bekerja yang tertinggal hanya Hasya bersama Lina.
Tampak Hesti memukul tangan Hasya yang ingin meminta sesuatu padanya. Dan tanpa rasa iba Hesti mendorong Hasya yang ingin bermain dengannya. Faiq menggenggam jemarinya dengan kesal melihat perlakuan Hesti pada putri kesayangannya. Matanya nanar melihat Dewi dan Hesti kembali membubuhkan sesuatu pada makanan dan minumannya.
Faiq melihat cctv hari terakhir sebelum kepergian Hani. Si kembar baru pulang sekolah. Tampak bola terlepas dari tangan Ali menggelinding di dalam ruangan. Ariq berusaha menangkap bola di ruang keluarga. Tiba-tiba Hesti berjalan santai membawa cemilan dan minuman tanpa menggunakan kursi roda.
Ia hendak menghampiri ibunya yang sedang asyik menonton sinetron ikan terbang di ruang keluarga. Mereka tidak melihat bahwa si kembar sudah pulang dari sekolah. Tanpa sengaja tubuh Hesti disenggol Ariq yang berusaha menangkap bola, sehingga gelas yang ia pegang jatuh menimpa vas bunga.
Dengan kasar Hesti menampar Ariq, Dewi langsung menjewernya hingga Ariq meringis kesakitan. Melihat saudaranya diperlakukan kasar Ali langsung mendorong Hesti. Dengan kesal Hesti menjambak rambut Ali.
Taklama kemudian Hani datang dan melerai pertikaian mereka. Dewi langsung menunjuk Hani dan berkata kasar padanya. Faiq melihat bagaimana Hani memeluk dan melindungi kedua putranya. Sementara Hesti dan ibunya terus menerus memaki Hani.
“Ya, Allah. Apa yang telah ku lakukan. Aku telah membawa monster ke dalam rumah tanggaku, sehingga tidak ada kenyamanan untuk anak-anak dan istriku.” Faiq menelan ludah dengan getir setelah mengetahui kebenarannya.
Kini ia percaya dengan ucapan kiai Solehuddin. Dan ia yakin Dewi dan Hestilah yang ingin menghancurkan rumah tangganya. Mata Faiq berkabut saat ia melihat Hani berdiri di depan kamar Hesti dengan menahan air mata ketika Hesti menariknya dan mereka berciuman di atas tempat tidur Hesti, walaupun itu tidak berlangsung lama, tapi Hani pasti berpikiran negatif tentangnya.
Air mata Faiq sudah tidak terbendung ketika ia melihat cctv di kamarnya saat Hani dengan berurai air mata memasukkan pakaian ke dalam travel bag. Tak lama kemudian muncul Hanif dan Wulan. Ia melihat Hanif yang memukul pintu kamar mereka sambil memakinya dengan marah.
Baru kali ini Faiq mengeluarkan air mata dengan sangat deras. Ia tak sanggup ketika melihat Hani bersama ketiga buah hatinya memasuki mobil Hanif dan menghilang bersama iringan mobil box yang membawa barang-barang mereka.
“Maafkan aku sayang. Telah diperdaya oleh Hesti dan ibunya. Mereka telah membohongiku hingga berbuat kasar padamu dan anak-anak.” Faiq terus menyesali dirinya yang begitu mudah ditipu Hesti dan Dewi.
__ADS_1