
Dengan santai Ivan mengikuti langkah mamanya yang berjalan berbarengan dengan tante Bella dan Manda. Melihat sikap Manda yang memandangnya dengan rona takut membuat Ivan merasa lega. Ia sudah bertekad tidak akan bermain-main lagi. Keinginannya hanya satu menemukan Khaira dan membawanya ke pelaminan entah secara sukarela maupun secara paksa akan ia lakukan.
“Tante Bella, Manda ?” Denis yang berjalan bersama mamanya tersenyum melihat sepupu jauhnya yang sudah lama tidak bertemu.
“Eh nak Dennis, mbak Har, kirain udah gandeng pasangan, kok masih gandengan mamanya sih?” Bella tertawa melihat Denis yang menyapa mereka berempat.
“Masih OTW tante. Setelah Ivan barusan saya nyusul,” jawabnya santai. Tangan Denis terulur pada Manda, “Wah, Manda semakin dewasa sekarang. Kapan nyusul Afifah?”
Manda tersenyum kecut mendengar pertanyaan Denis. Tapi ia berusaha bersikap ramah. Ia mulai memikirkan perkataan mamanya semalaman. Dan ia ingin mulai serius untuk menjalani hubungan, tidak ingin bermain-main yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
“Seperti mas Denis, masih OTW mencari yang terbaik,”jawabnya datar. Karena melihat wajah Ivan yang kaku dan datar membuatnya jadi tidak nyaman.
“Baguslah. Sekarang kita harus lebih selektif untuk mencari pasangan. Karena umur kita semakin hari semakin bertambah. Ketenangan hidup itu penting.” Denis mulai mengeluarkan pilosofi hidup yang baru ia rasakan akhir-akhir ini.
Akhirnya yang perempuan mulai berbaur dengan sesamanya. Tinggalah Ivan dan Denis yang masih melanjutkan pembicaraannya.
“Ku harap bertemu permata yang ku cari,” ujar Denis dengan mata jelalatan mengitari antero ballroom yang luas.
Ivan tersenyum tipis. Ia tidak menanggapi perkataan Denis, karena pikirannya sibuk dengan hal lain yang akan dilaporkan Hari sore nanti di apartemennya. Keduanya belum bisa memberikan selamat pada kedua mempelai di pelaminan, karena masih banyak tamu lain yang ingin melakukan hal yang sama.
“Alhamdulillah,” Denis berseru dengan penuh semangat, saat matanya tertumbuk pada satu sosok yang duduk dengan seorang laki-laki dan tampak berbicara dengan serius, “Dia perempuan yang ku ceritakan.”
Saat keduanya masih berbincang dengan rekan Denis yang diundang Valdo, tatapan mata Ivan mengarah pada Denis yang memberi tanda dengan lirikan matanya.
Mata Ivan membulat saat melihat Rara sedang duduk bersama Fahri, tetapi tidak hanya mereka berdua, Valdo, Hasya serta oma dan bu Ila juga berada di sana.
“Rara?” bibir Ivan langsung menyebut nama itu membuat Denis keheranan, karena tidak menyangka Ivan mengenal perempuan yang berusaha ia dekati, “Dari mana kau mengenalnya?”
“Dia lah perempuan yang ku ceritakan. Saudari perempuannya istri temanku, dr. Valdo.” Dengan penuh semangat Denis menceritakan bagaimana ia mengenal Khaira dan mengetahui kisah hidupnya dari Valdo yang membuatnya semakin tertarik untuk mendekatinya.
__ADS_1
Jari Ivan mengepal mendengar Denis yang secara terus terang mengakui perasaannya pada Khaira, perempuan yang telah menjadi targetnya di masa depan.
“Kau tau, Fahri berusaha mendekatinya,” Denis menunjuk laki-laki yang berusaha mengakrabkan diri dengan Khaira, “Saat malam lamaran sebulan yang lalu aku hadir di sana, dan melihatnya selalu memandang Rara.”
Mata Ivan berkilat menahan amarah. Ia juga mengenal Fahri karena mereka sepupu jauh. Penampilan Fahri begitu santun karena dia seorang alumni Mesir, tak heran jika banyak perempuan yang tertarik padanya. Tetapi seingat Ivan mamanya pernah bercerita bahwa Fahri telah menikah. Saat itu Ivan tidak menghadirinya karena sedang perjalanan bisnis ke luar negeri.
“Bukankah Fahri sudah menikah?” Rasa penasaran Ivan membuatnya bertanya pada Denis, tanpa mengalihkan tatapan pada Khaira yang hanya sesekali melayani obrolan Fahri, “Mama sempat cerita kalau ia dan istrinya menanti kelahiran anak pertama mereka.”
“Ia kini telah menduda, karena istrinya meninggal dunia dengan anak yang berada di dalam rahimnya yang tidak bisa diselamatkan.” Denis memandang Fahri yang tersenyum saat menanggapi pembicaraan Khaira, “Dia mengungkapkan perasaannya padaku saat malam itu aku dan mama hadir di rumahnya pada acara lamaran Afifih. Aku juga ketemu tante Laras. Malah tante Laras tampak akrab berbicara dengan Rara …. “
Ivan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya mendengar cerita Denis. Belum selesai perkara dengan Denis kini timbul lagi rivalnya untuk mendapatkan Rara. Walau harus ia akui sampai kapan pun dialah sang pemilik utama dan terutama.
Yang membuatnya lebih heran, kenapa mamanya bisa bertemu dan mengobrol dengan Rara? Lalu apa yang mereka bicarakan?
“Mendapatkan Rara tidaklah mudah. Dia telah membentengi diri dengan begitu kokoh. Semua saudaranya menginginkan dia untuk memulai hidup baru. Tapi semuanya tidak mudah. Rasa cintanya pada almarhum suaminya terlalu dalam.” Denis menatap Rara dari kejauhan dengan lekat, “Dialah permata langka yang ku katakan padamu dulu.”
“Valdo menceritakan kisah Rara padaku,” akhirnya Denis menceritakan semua yang pernah dikatakan Valdo padanya tanpa mengurangi sedikitpun, serta perasaannya yang saat ini masih bertepuk sebelah tangan karena Rara mengunci hatinya begitu rapat hanya untuk seseorang yang tak mungkin tergantikan dengan siapa pun.
Sejenak perasaan Ivan menjadi larut dalam kesedihan sesaat. Tapi ia cepat mengusirnya dari pikiran. Kini ia sadar, pantas sulit bagi Yoga dan Hari mengakses kehidupan Rara, karena dia adalah putri kesayangan dua nama besar, apalagi semua orang tau Ariq kakak tertuanya adalah orang yang memiliki tim IT yang terbaik di negeri ini. Bagaimana mungkin timnya mampu mengalahkan ahli IT kepunyaan saudara Khaira.
Ivan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya menyadari bahwa sudah terlalu jauh ia meremehkan Rara, perempuan muda yang kini telah bertahta di jiwanya. Pantas saja Abbas tidak pernah mau menerima semua uluran tangannya, karena calon istrinya adalah putri kesayangan dua keluarga pemilik perusahaan terbesar yang tak bisa ia pandang sebelah mata.
“Kamu tertarik padanya?” Kini Denis mengalihkan pandangan pada Ivan yang tak berkedip saat memandang Khaira.
Ivan tidak menjawab pertanyaan Denis. Matanya kini bertatapan dengan Khaira dari jarak lima meter. Tanpa mempedulikan keheranan Denis kini Ivan berjalan menghampiri Khaira yang kini duduk tinggal berdua dengan Fahri, karena Hasya akan ke kamar untuk membawa Babby A yang mulai rewel pingin mimi dan tidur.
Khaira terkejut melihat sosol yang mengamatinya dari kejauhan dengan mata tajam seperti elang hendak menangkap buruan. Ia segera pamit dari Fahri yang sejak awal berusaha mendekatinya.
Sambil menunduk Khaira berusaha menyembunyikan dirinya di belakang para tamu yang masih berdatangan serta yang terlibat obrolan dengan Ariq, Ali atau pun Fatih.. Ia ingin pulang sekarang. Tak ingin bertemu dengan sosok tegap itu Khaira mempercepat langkahnya. Ia merasa lega saat dirinya sudah memasuki lift yang akan membawanya ke lantai bawah.
__ADS_1
Rasa lega di wajah Khaira lenyap seketika saat pintu lift terbuka dan masuklah sosok tegap itu dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Ia mundur saat Ivan mulai mendekat ke arahnya, hingga akhrnya tubuhnya menabrak dinding karena sudah tidak ada tempat baginya untuk menghindari sosok tegap yang kini telah mengurung dirinya. Khaira menoleh ke kiri dan ke kanan mengharapkan ada orang lain yang berada di dalam lift itu.
Tatapan Ivan beralih pada bibir yang kini berwarna merah hati dengan dandanan full membuatnya tampak beda dari hari lain, apalagi gaun yang ia pakai, membuat Khaira tampil cantik dan anggun. Penampilan yang sangat sempurna di mata Alexander Ivandra.
Dengan cepat Ivan meraup bibir di depannya dengan penuh kelembutan. Tangannya meraih tengkuk Khaira yang otomatis tak bisa membuang muka dari hadapan Ivan.
Pukulan Khaira di dadanya tak Ivan rasakan. Ia berusaha menyalurkan segenap kerinduan yang sangat menyesakkan dada. Walau pun Khaira pasif tidak membalas semua yang ia lakukan malah berusaha melepaskan diri dari sergapannya Ivan tak peduli. Ia tetap menghisap manisnya madu dari telaga yang sangat memabukkan saat ia memandangnya.
Khaira terkejut mendapat serangan mendadak Ivan. Ia tidak menyangka lelaki itu akan mengikutinya yang telah berusaha menyembunyikan diri di tengah keramaian. Khaira berusaha mendorong tubuh Ivan agar segera melepaskan diri darinya, tapi malahan tangan kokoh itu menahan tengkuknya dengan cepat sehingga ia tidak bisa berkutik dan hanya terdiam merasakan bibir kokoh yang bermain di bibirnya dan mengobrak-abrik semua yang ada di dalam mulutnya hingga Khaira tak bisa bernafas.
Bukannya Ivan tak merasakan pukulan di dadanya. Tapi perasaan senang dan bahagia karena telah melampiaskan hasrat kerinduan melalui pertemuan kedua bibir membuat Ivan membiarkan pukulan itu dengan santai.
Setelah puas menumpahkan segala rasa yang tersimpan di dadanya. Ivan mengakhiri ciuman penuh hasrat itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Hingga ia tak menyadari empat pasang mata melihat perbuatan yang ia lakukan terhadap Khaira.
Perasaan malu kembali menghampiri Khaira saat Ivan melepaskan dirinya bersamaan dengan pertanyaan yang membuatnya ingin menenggelamkan diri ke dalam laut.
“Apa yang kalian lakukan?” Denis terkejut melihat Ivan dan Khaira berciuman di dalam lift di saat dirinya dan Fahri akan memasuki lift yang sama.
Bukan maksud mereka untuk mengikuti keduanya, kebetulan Fahri ingin pulang karena akan bertemu dengan teman lamanya yang berkunjung ke lokasi yang ingin ia bangun pesantren. Sedangkan Denis sudah merasa lelah dan ingin beristirahat di apartemennya, karena sedari tadi menunggu untuk mendekati Khaira tapi tidak memiliki kesempatan itu.
Dengan cepat Khaira meninggalkan ketiga lelaki di depannya dengan perasaan campur aduk tak menentu, terutama rasa malu teramat dalam. Sedangkan Ivan tersenyum puas karena rasa rindunya telah terobati walau pun rasa kesal sempat hadir akan keberadaan dua begundal yang tidak ia harapkan.
“Kau berhutang informasi padaku,” Denis memandang Ivan yang kini bersandar di lift dengan kedua tangan di saku celana dengan mata terpejam dan senyum mengembang penuh kepuasan.
Fahri menatap Ivan dengan raut kesal. Ia tidak menyangka bahwa perempuan yang telah ia bidik menjadi ratu di masa depannya telah memiliki pria lain di hatinya, dan itu dibuktikan dengan mata kepalanya sendiri.
“Jangan ganggu Rara, dia milikku karena telah kutandai,” ujar Ivan tegas.
Dukung author terus ya, sekarang author sedang happy dan update gila-gilaan untuk memenuhi dahaga reader yang penasaran dengan pertemuan Khaira dan Ivan. Moga nanti malam nambah lagi. Kritik, saran, like dan komennya selalu ....
__ADS_1