Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 244 S2 (Rindu Setengah Mati)


__ADS_3

Ali berjalan dengan cepat menggendong Embun. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang tidak pernah ia harapkan kehadirannya di hadapan mereka. Ia melihat Fajar masih asyik bermain bersama Fadhil putra Ariq. Keduanya asyik menonton video game racing yang dibuka Fadhil pada tabnya.


“Aku melihat Ivan di depan,” ujar Ali saat menghempaskan tubuhnya di kursi samping Rheina.


“Apa?” Hasya terkejut mendengar ucapan Ali.


Ia menatap Khaira yang masih tampak santai menghabiskan minuman yang tersisa di hadapannya. Tanpa mempedulikan percakapan saudaranya.


“Aku yakin tak lama lagi ia akan menerobos masuk,” Ariq langsung menyimpulkan.


“Dari mana mas bisa menyimpulkan seperti itu?” Ira menatap suaminya tak percaya.


“Aku sangat mengenalnya lebih dari siapa pun,” jawab Ariq cepat.


Khaira menghabiskan minumannya. Ia sadar apa yang dikatakan Ariq benar. Ivan seorang yang keras kepala dan pemaksa. Ia menghela nafas sesaat. Tatapannya beralih pada Embun yang kini duduk di pangkuan Ali menerima suapan es krim Rheina. Kini pandangannya mengarah pada Fajar yang masih asyik menonton bersama Fadhil.


“Aku akan pulang belakangan,” Khaira tetap duduk santai.


“Kamu belum siap bertemu Ivan?” Hasya menatapnya dengan heran.


“Aku enggan bertemu dengannya,” Khaira kembali melanjutkan menikmati hidangan di hadapannya.


Di ruangan sebelah saat membahas kontrak dengan kliennya Syamsul Bahri, Ivan terlihat gelisah. Ia sangat yakin kali ini akan menemukan Khaira. Apa lagi ia melihat sekilas semuanya berkumpul di aula restoran yang luas itu.


“Anda kelihatan gelisah tuan?” Syamsul Bahri menatapnya dengan raut berkerut, “Apa proposal yang saya ajukan terlalu rumit?”


“Tidak,” Ivan menjawab seketika, “Saya sekarang kurang konsen.”


Ia berkali-kali melirik ke pintu samping mencoba melihat pergerakan tamu yang berada di dalam aula.


“Baiklah tuan Alexander, saya sangat senang dengan kerja sama ini,” Syamsul Bahri segera bangkit dari kursi.


Ivan  pun dengan sigap berdiri. Keduanya segera berjabatan tangan dengan erat karena telah berhasil membuat kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Begitu Syamsul Bahri dan asistennya berlalu dari hadapan mereka, Ivan segera berjalan dengan cepat. Ia ingin menghampiri keluarga Khaira yang belum kelihatan dari ruang tempat ia berada saat ini.


Saat Ivan melangkah menuju  aula, Ariq dan Ali sudah sampai di pintu. Keduanya memasang wajah datar. Mata Ivan terpaku pada sepasang bocah yang berada dalam gendongan Ariq dan Ali.


“Selamat siang mas,” Ivan menyapa Ariq dengan sopan.


Hening tak ada sahutan dari Ariq. Kini tatapannya beralih pada si mungil yang berada dalam gendongan Ariq yang tersenyum ramah padanya. Perasaan Ivan kembali hangat. Tanpa berkata Ariq hanya mengganggukkan kepala tetap melangkah tak berminat untuk berinteraksi dengan Ivan, begitu pun Ali yang mengendong Fajar.


Kini pandangan Ivan beralih pada bocah lelaki yang berada dalam gendongan Ali. Ia menyadari ada kemiripan antara bocah perempuan yang digendong Ariq dan bocah lelaki yang berada di gendongan Ali.


Ivan merasakan  kehangatan mengalir di hati sanubarinya saat melihat kedua bocah yang kini berlalu bersama saudara iparnya. Ia terdiam ditempat dilewati rombongan Fatih beserta istri mereka masing-masing. Ia tidak menyangka sikap ipar-iparnya begitu dingin bahkan acuh saat bertemu dengannya. Ia menyadari semua memang kesalahannya. Tapi semuanya telah berlalu bahkan  hampir tiga tahun mereka tidak pernah bertemu.


Ia melihat Hasya sedang menggandeng bocah perempuan yang lebih besar. Ia ingat bahwa itu adalah anak sambung kakak iparnya. Ia hanya menghela nafas ketika Hasya melewati tanpa menoleh sedikit pun padanya.


“Mas Valdo .... “ akhirnya Ivan merasa lega ketika Valdo tersenyum ramah padanya.


“Apa kabar Ivan?” Valdo yang menggandeng putranya yang berumur 5 tahun berhenti sejenak berhadapan dengannya.


“Aku masih mencari keberadaan Rara .... “ tatapan Ivan mengandung permohonan pada suami kakak iparnya itu.


“Mohon maaf, untuk yang satu itu aku tidak bisa membantumu,” Valdo memahami sorot mata Ivan, “Aku tidak ingin terbuang dari keluarga besar ini. Aku menyayangi keluargaku.”


Ivan terhenyak. Perkataan Valdo seperti pukulan telak baginya.  Ia yang telah memutuskan sepihak ikatan kekeluargaan yang terbina kini harus menanggung segala akibat perbuatannya.


“Tetap semangat ya .... “ Valdo berlalu sambil menepuk bahunya dengan cepat. Ia khawatir akan mendapat tausiyah dari sang istri tercinta karena meladeni Ivan.


Ivan menghela nafas dan menghembuskannya secara perlahan begitu Valdo dan putranya berlalu dari hadapan mereka. Perasaan kecewa tiba-tiba hinggap di benaknya menyadari apa yang ia cari tidak ada diantara rombongan keluarga besar itu. Tapi ia tak putus asa. Mungkin ada sesuatu yang bisa ia temukan.


“Bos, kita pulang sekarang?” Danu kini berada di hadapannya setelah menyelesaikan semua tagihan.

__ADS_1


Ivan mengangguk dengan cepat. Ia tidak ingin melewatkan momen ini. Mungkin saja setelah hari ini dan bertemu saudara Khaira ia mulai menemukan titik terang.


“Ikuti mobil rombongan  itu!” perintah Ivan begitu Danu mulai menyetir mobil keluar dari parkiran restoran.


Danu terkejut mendengar permintaan bosnya untuk mengikuti empat buah mobil mewah yang mulai melaju di jalan yang terpisahkan lima mobil di depan mereka.


Dari kaca spion Ivan melihat sesosok tubuh ramping keluar dari restoran berjalan dengan cepat memasuki sebuah taksi. Ia terpana, perasaannya tidak mungkin salah.


“Rara .... “ gumam Ivan.


Ia yakin itu Khaira. Tapi mobil Danu sudah terlanjur menjauh sedangkan untuk memutar kembali sudah tidak memungkinkan karena banyaknya mobilitas kendaraan yang keluar masuk restoran. Jantungnya seperti dipompa dengan cepat, menyadari bahwa sosok yang berada di dalam  taksi yang berlawanan arah dengannya adalah Khaira.


“Berlarilah sejauh yang kamu bisa. Aku tetap akan menemukanmu,” batin Ivan.


Perasaan kecewa sempat hadir  di hati Ivan karena ia tidak mengikuti nalurinya untuk memasuki aula yang kini ia yakini telah disewa Ariq untuk merayakan ulang tahun putri mereka.


Ivan terpekur mengingat sepasang bocah yang berada digendongan Ariq dan Ali.  Kenapa kedua bocah itu sangat mirip dan terasa menyentuh hatinya. Mengingat wajah keduanya terasa tidak asing bagi Ivan.


“Apakah kedua batita itu kembar? Wajahnya mirip. Putra mas Ariq atau mas Ali?” berbagai pertanyaan menggantung di benak Ivan mengingat si kembar yang kini mengganggu pikirannya.


“Bos, kita kehilangan jejak,” Danu memandang Ivan dengan perasaan tidak nyaman.


“Kita akan menunggu di suatu tempat,” Ivan segera memerintahkan Danu untuk memutar mobil dan menuju arah kediaman Ali.


Sementara itu rombongan Ariq kini telah tiba di rumahnya. Pengamanan yang berlapis di kediaman Ariq membuat siapa pun tidak mudah untuk mengakses tempat tinggalnya. Apa lagi sudah setahunan ini Ariq menempati rumah baru mereka di kawasan elit Serpong yang memang tidak mudah untuk menjadi penghuni di sana kecuali orang-orang yang memang berkantong tebal.


Kini semuanya telah tiba di rumahnya secara bersamaan.  Khaira yang paling belakangan karena dia menempuh jalur yang berbeda dengan saudaranya untuk menghindari pertemuan dengan Ivan.


“Apa selamanya kamu akan menghindar darinya?” Ariq menatap Khaira begitu mereka duduk bersama di ruang keluarga.


Para bocah yang sudah kecapaian bermain masing-masing dibawa babby sitter untuk beristirahat, karena sekarang memang jam untuk tidur siang. Si kembar yang sedang aktif-aktifnya pun sudah tertidur lelap begitu sampai di rumah.


“Lebih baik tidak bertemu sama sekali,” tandas Khaira cepat, “Aku tidak ingin mengingat semua tentangnya.”


“Artinya kamu masih cinta sama Xpander itu kalau di hatimu masih ada luka,” Hasya berkata semaunya, “Apa kamu akan tetap memupuk kebencian itu selamanya?”


Khaira tercenung. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. Perasaanya terhadap Ivan bukanlah cinta tetapi rasa kecewa atas sikap Ivan yang membuat semua rasa yang pernah ada hilang dan menyisakan  kekecewaan yang mendalam.


“Apa kamu tidak khawatir suatu saat ia mengetahui keberadaan si kembar?” kini Ali menatapnya dengan serius.


“Untuk saat ini aku tidak khawatir,” ujar Khaira cepat, “Biar waktu yang akan menjawab semuanya.”


Percakapan itu berakhir, karena masing-masing sudah merasakan kelelahan luar biasa. Apalagi mengurus para bocah yang tiada mengenal rasa lelah saat beraktivitas. Yang tersisa Ariq, Ali dan Fatih. Ketiganya masih membereskan kado-kado si kembar yang masih tersimpan di mobil.


Karena yang ditunggu tidak tampak keberadaannya, akhirnya setelah dua jam Ivan mengajak Danu kembali ke kantornya. Rasa kecewa tergambar jelas di wajah Ivan. Beberapa kali ia menghembuskan nafas dengan kuat sambil menggelengkan kepala, karena keinginannya untuk bertemu Khaira belum terlaksana.


Danu yang tidak pernah tau kehidupan pribadi bosnya hanya mengerling beberapa kali namun tidak berani berkomentar. Ia yakin banyak masalah yang dihadapi si bos. Ia hanya menunggu mungkin suatu saat bosnya akan terbuka dan bercerita masalah pribadinya.


Setelah sampai di parkiran kantornya Ivan langsung melangkah ke mushala kecil di samping studio untuk melaksanakan salat Zuhur. Danu mengikutinya. Rasa hormat sekaligus kagum terbit di hati Danu melihat sisi religius Ivan yang selalu tepat waktu dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Ternyata sudah banyak para pegawai Ivan yang sedang bersiap untuk melaksanakan salat Zuhur berjama’ah. Akhirnya mereka pun salat bersama-sama. Begitu selesai salat, para pegawai Ivan kembali ke tempat kerja masing-masing, tetapi Ivan tetap dalam kesendiriannya.


Ia duduk bersila dengan tenang sambil memejamkan mata. Sekilas bayangan si kembar yang digendong Ariq dan Ali kini bermain di benaknya. Ivan langsung membuka mata. Ia merasa heran dengan yang ia alami sekarang, kenapa wajah keduanya terasa lekat dan tidak asing, padahal baru kali ini ia melihat dan bertemu keduanya.


Ivan menarik nafas, aroma wangi lembut bayi terasa masih segar dalam penciumannya. Ivan tak habis pikir dengan apa yang ia alami sekarang.


Ia mengingat kembali perempuan yang melintas dan keluar dari restoran di saat ia sudah berada di dalam mobil. Ia yakin bahwa itu memang Khaira istrinya. Rasa rindunya terlalu dalam sehingga sulit baginya memikirkan hal lain. Tetapi wajah si kembar juga mendominasi di ruang rindu yang hanya ia miliki untuk sang istri.


Ivan menangkupkan kedua tangannya ke muka berusaha mengurai benang kusut yang ada dalam pemikirannya. Keinginannya untuk menemukan Khaira semakin besar. Ia harus berupaya lebih keras agar sang bidadari kembali dalam pelukan. Ia akan meminta bantuan beberapa pegawainya dan rekannya untuk menemukan Khaira dan membawanya kembali besama.


Setelah rasa gundah dan kerinduannya terobati karena telah mengadukan semua permasalahan yang ia hadapi pada Sang Pemilik Hati, akhinya Ivan bangkit untuk kembali ke ruangannya.


Saat melewati meja Baron  operator merangkap editor di studionya, telinga Ivan samar-samar menangkap alunan lagu yang tepat menggambarkan suasana hatinya. Ia duduk di kursi berhadapan dengan Baron yang masih tampak serius mengedit foto-foto yang akan diambil untuk iklan di media cetak.

__ADS_1


Ivan begitu serius mendengarkan kata demi kata dalam alunan lagu yang begitu melow membuat perasaannya semakin galau. Ia menyandarkan diri di kursi sambil memejamkan mata.


Aku ingin engkau ada di sini


Menemaniku saat sepi, menemaniku saat gundah


Berat hidup ini tanpa dirimu


'Ku hanya mencintai kamu, 'ku hanya memiliki kamu, oh


Aku rindu setengah mati kepadamu


Sungguh 'ku ingin kau tahu


Aku rindu setengah mati


Meski telah lama kita tak bertemu


'Ku selalu memimpikan kamu, 'ku tak bisa hidup tanpamu, oh


Aku rindu setengah mati kepadamu


Sungguh 'ku ingin kau tahu


Aku rindu setengah mati


Aku rindu


Aku rindu, hey


Aku rindu (setengah mati kepadamu)


(Sungguh 'ku ingin kau tahu)


(Aku rindu) Setengah mati, oh


Aku rindu setengah mati kepadamu


Sungguh 'ku ingin kau tahu


Aku rindu setengah mati


Aku rindu setengah mati kepadamu


Sungguh 'ku ingin kau tahu


Aku rindu setengah mati


Aku rindu


“Bosss .... “ Baron terkejut melihat Ivan yang menyandar di hadapannya dengan mata terpejam.


Tak ada pergerakan berarti dari Ivan yang masih menikmati alunan lagu yang begitu menggambarkan perasaannya. Ingin rasanya saat ini juga ia terbang untuk mencari keberadaan Khaira.


“Bosss .... “


Ivan membuka mata begitu tak ada terdengar musik yang mengalun dari speaker yang telah di-off-kan Baron. Ia menegakkan posisi tubuh dan menghadap Baron dengan serius.


“Apa ada masalah Bos?” Baron menatap Ivan dengan perasaan khawatir.


Selama hampir tujuh tahun ia bekerja bersama Ivan, baru kali ini ia melihat bosnya duduk di hadapannya. Dan itu membuatnya bingung sekaligus heran. Walau pun sedikit sekali yang ia ketahui tentang kehidupan pribadi bosnya, tapi Baron tidak ingin ikut campur dan ghibah masalah keluarga bosnya.


Ivan tersenyum dan bangkit dari kursi. Ia menggelengkan kepala dan segera berlalu dari hadapan Baron dengan penuh semangat, karena ia akan lebih optimal untuk melakukan pencarian menemukan istri tercinta.

__ADS_1


__ADS_2