Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 275 S2 (Bicara Dari Hati ke Hati)


__ADS_3

Karena kecapean menemani si kembar bermain, selepas salat Isya Ivan sudah tidak bisa menahan kantuk. Begitu si kembar tertidur ia pun ikut tidur di samping keduanya.


Khaira masih membereskan semua mainan si kembar yang berantakan setelah keduanya bermain bersama sang ayah. Ia merasa lega, besok sore si kembar akan kembali ke rumah. Ia pun membongkar pakaian di dalam lemari dan mulai memasukkan ke dalam tas, supaya besok tidak repot beberes lagi dan mengeluarkan pakaian yang akan digunakan si kembar untuk pulang.


“Tante belum tidur?”  Khaira melihat Laras masih duduk di kursi samping bed mengamati anak dan cucu-cucunya yang tidur dengan tenang.


Tidak tega dirinya jika harus melihat Ivan terpisah dari si kembar yang besok akan kembali ke rumahnya. Malam ini ia harus berbicara dari hati ke hati dengan Khaira. Ia sadar, trauma dan kekecewaan di masa lalu masih membayangi mantan menantunya itu sehingga tidak ingin memulai kembali bersama Ivan.


“Tante gak bisa tidur,” ujar Laras menatap lekat wajah Khaira yang kini mulai menyelimuti ketiganya.


Malam ini terasa dingin karena hujan sangat deras di luar disertai angin yang berhembus kencang. Petir dan kilat bersahutan di luar.


Khaira menggelar karpet di bawah bed si kembar untuknya dan Laras. Kemudian mengambil bantal dan selimut yang bersusun di dalam lemari.


“Istirahatlah tante,” Khaira berkata sambil menghempaskan tubuhnya di karpet dan mulai berbaring.


“Nak, ada yang ingin mama katakan padamu …. “ Laras mulai berkata dengan serius.


Mendengar ucapan Laras   membuat  Khaira bangkit dari tidurnya. Ia menyandarkan tubuhnya di bed si kembar dan menghadap Laras.


“Apa yang ingin tante sampaikan?”


Laras menghela nafas sesaat. Ia tidak bisa menunda-nundanya lagi. Malam ini ia harus mengungkapkan semua yang ada di benaknya pada Khaira. Ia menginginkan yang terbaik untuk anak dan keduanya cucunya.


“Mama menginginkan kalian bersama seperti dulu …. “


Khaira terhenyak mendengar perkataan Laras. Ia bisa mengabulkan apa pun keinginan mereka, kecuali untuk bersama Ivan. Sampai kapan pun ia tidak akan melakukannya.


“Tante … aku mohon jangan memintaku untuk kembali. Terlalu banyak kesedihan di masa lalu. Aku tidak ingin semuanya terulang kembali,” Khaira berkata dengan getir.


“Nak, apa kamu tidak memikirkan kebahagiaan si kembar,”  tatapan Laras beralih ke tempat tidur, “Lihatlah … apa kamu tega memisahkan si kembar dan ayahnya?”


Khaira tersenyum lirih, “Tante … aku tidak akan memisahkan si kembar dengan ayahnya. Kami sudah berjanji untuk membesarkan mereka bersama walau tidak harus terikat pernikahan. Kami akan jadi tim yang solid bagi tumbuh kembang  Fajar dan Embun.”

__ADS_1


“Apakah perbuatan Ivan dan tante di masa lalu membuatmu dendam dan sakit hati hingga tidak ingin menerima uluran tangan kami?”


Khaira menggelengkan kepala dengan cepat, “Tidak tante. Aku sudah melupakan semuanya. Tidak ada lagi rasa kecewa. Aku sudah mengikhlaskan dan menerima takdir dari Yang kuasa. Mungkin ini bagian dari kehidupan yang harus ku jalani.”


“Tidakkah kau berpikir bagaimana Fajar dan Embun di masa pertumbuhannya mereka akan ditanya kenapa orangtuanya berpisah atau kenapa kedua orangtuanya tidak hidup serumah?” Laras terus berupaya melunakkan hati Khaira.


“Aku akan memberikan pengertian pada si kembar, bahwa ada hal-hal yang di luar jangkauan dan pikiran mereka yang membuat kami tidak bisa bersama,” ujar Khaira pelan, “Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia mereka, saya yakin Fajar dan Embun akan mengerti.”


“Nak, kamu masih sangat muda, begitu pun Ivan. Cobalah buka hatimu kembali padanya. Tidak mungkin kamu selamanya sendirian merawat dan membesarkan Fajar dan Embun …. “


Ivan yang merasa kedinginan membuka matanya. Sayup-sayup ia mendengar percakapan di bawah. Ia menajamkan pendengarannya. Suara mamanya dan Khaira terdengar pelan berbicara. Ia mulai memasang telinga untuk mendengar pembicaraan yang terjadi.


“Tante, terlalu banyak kesedihan yang ku alami di masa lalu. Pernikahanku dan ayahnya si kembar juga telah dibatalkan karena kesalahpahaman yang terjadi. Aku tidak berharap untuk memulai kembali. Kebahagiaanku adalah bersama anak-anakku. Dan aku tidak ingin memikirkan hal yang lain,” Khaira berkata dengan lirih, “Semua yang pernah terjadi dalam rumah tangga kami membuatku berpikir untuk memulai kembali. Dan bagiku itu cukup sekali ….”


Sebenarnya ia tidak ingin mengingat semua yang pernah terjadi, tetapi karena Laras memaksa, ia akan mengungkapkan semua yang ia simpan di dalam hati.


“Jika ayahnya si kembar telah menemukan perempuan yang tepat, silakan untuk memulai kembali. Terus terang aku bukan perempuan terbaik untuknya. Banyak kekurangan yang ku miliki selama kami hidup berumah tangga.”


“Nak, setiap orang memiliki masa lalu, dan setiap orang pasti akan berubah. Ivan telah menyesali kesalahan yang ia lakukan padamu dan keluargamu. Berilah ia kesempatan untuk memulai kembali bersamamu.”


“Maafkan saya tante …. “


“Kamu mungkin sanggup selamanya sendiri. Coba kamu pikirkan si kembar. Mereka masih polos dan tidak tau apa yang terjadi di masa lalu orangtuanya. Berpikirlah dari sudut pandang si kembar …. “


“Tante, ku mohon jangan meminta sesuatu yang tak bisa aku kabulkan,” ujar Khaira pelan.


Ia teringat dengan perempuan yang siang tadi mengunjungi si kembar. Perkataannya yang dulu pernah terucap kembali melintas di benak Khaira.


“Bagiku pernikahan yang terjadi telah usai,” Khaira tersenyum dengan tabah, “Aku tau, ayahnya si kembar banyak memiliki relasi perempuan yang salah satunya mungkin mampu menjadi pendamping yang sempurna untuknya.”


Laras teringat dengan Laura. Sikap Laura untuk mendapatkan perhatian Ivan memang terlalu nyata sehingga siapa pun bisa melihatnya.


“Maksudmu Laura?”  Laras langsung  mengajukan pertanyaan pada Khaira. Ia yakin Khaira mengatakan itu karena sudah beberapa kali mereka bertemu disaat Laras membawa Laura dan Bobby bersamanya.

__ADS_1


Khaira terdiam. Ia tidak ingin menanggapi pertanyaan Laras. Baginya tidak mungkin ada tempat untuk siapa pun yang ingin membuka hatinya yang telah ia kunci dengan rapat.


“Laura perempuan yang baik. Dia seorang single parent yang mempunyai satu orang putra. Tante cukup dekat dengannya karena mamanya teman sekolah tante dulu,” Laras tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia memang berusaha mendekatkan Laura dan Ivan.


Walau kini rencananya telah berubah haluan setelah mengetahui bahwa ia mempunyai cucu keturunan darah dagingnya sendiri.


“Apa kamu rela jika si kembar memiliki saudara tiri, dan ayahnya harus membagi kasih sayang dengan keluarganya yang lain?”


Khaira tersenyum tipis, “Suatu saat si kembar akan paham, bahwa kedua orangtuanya memiliki pandangan hidup yang berbeda. Aku akan membesarkan mereka dengan segala kasih sayang yang ku punya. Aku tidak akan mengikat ayahnya si kembar. Dia mempunyai kehidupan sendiri. Dan dia bebas menentukan pilihan sendiri …. “


Ivan tercekat mendengar perkataan Khaira. Entah bagaimana caranya untuk membuka hati Khaira kembali. Ia sadar tidak ada satu pun perempuan di dunia ini yang ia inginkan selain bundanya si kembar. Walau harus menunggu seribu tahun akan ia lakukan yang penting mereka bisa bersama di akhirnya.


Laras tau sulit baginya untuk membujuk Khaira agar menerima Ivan kembali dan membina rumah tangga demi kebahagiaan si kembar seutuhnya.


“Bagaimana dengan kepulangan kalian besok. Dimana kamu dan kembar akan tinggal?” Laras mulai mengalihkan topik pembicaraan.


“Kami bertiga akan tinggal di rumah almarhum oma, sebelum kembali ke pondok.”


“Apakah mama boleh bermain ke rumah kalian?”


“Tentu saja. Tante adalah eyangnya anak-anak. Aku gak mungkin memutuskan tali silaturahmi antara si kembar dan eyangnya.”


“Baiklah sayang, mama menghormati keputusanmu,” Laras berkata dengan perasaan kecewa karena keinginannya tidak terwujud.


Tetapi teringat ucapan Ivan, mereka tinggal berserah kepada Allah yang Maha membolak-balik hati manusia. Semoga saja suatu saat  hati Khaira tersentuh dan menerima dirinya kembali untuk bersama membina rumah tangga.


Cukup lama Ivan tertegun mendengar pembicaraan dua perempuan yang paling berarti dalam hidupnya. Setelah tidak terdengar pembicaraan, ia bangkit dan turun dari bed. Laras dan Khaira telah tenggelam dalam dinginnya malam.


Ivan memasuki kamar mandi danmengambil wudhu untuk melaksanakan salat malam. Hanya kepada sang Penggenggam hati ia dapat mengadukan segala beban yang ada. Tak bosan-bosannya ia meminta di sujud terakhirnya disepertiga malam agar  Yang Kuasa segera memberikan keajaiban bagi kehidupannya di masa yang akan datang bersama Khaira dan anak-anaknya.


Setelah beban di dada telah tertumpah kepada Sang Pemilik, Ivan mengkahiri khalwatnya dan merapikan kembali tempat salatnya. Ia tak tega membiarkan Khaira tertidur di bawah, dengan pelan ia mengangkat  tubuh ramping itu naik ke peraduan.


Ivan menatap wajah ayu yang sangat ia rindukan. Jemarinya membelai pipi tirus yang sampai saat ini masih memasang wajah datar padanya. Ingin ia menyentuhnya, menciumnya untuk menghilangkan rasa rindu yang hampir memecahkan kepala. Tapi sampai saat ini masa itu belum datang.

__ADS_1


__ADS_2